
"Uang sekolah mah gampang. Cerai dulu baru uang sekolah dihitung" jawab Danu sambil melihat ke arah Frans. Danu mengedip ngedipkan matanya kepada Frans.
Frans yang melihat gaya Danu mendadak menjadi sangat infill dan langsung memegang pundaknya yang bulu bulu halus di sana sudah berdiri saat melihat apa yang dilakukan oleh Danu kepada dirinya.
"Danu, jijik gue nengok gaya loe" ujar Frans yang akhirnya menyuarakan rasa jijiknya melihat gaya Danu yang mengedip ngedipkan matanya ke arah Frans saat ngomong tentang masalah uang sekolah alias pembayaran jasa Frans sebagai pengacara Danu.
"Ayolah Frans, masak loe jijik dengan gaya gue yang kayak gini." ujar Danu mulai lagi menggoda Frans.
Iwan yang melihat tingkah Danu hanya bisa tertawa. Sedangkan Frans sudah mau muntah melihat tingkah Danu yang benar benar sangat menjijikkan itu.
"Danu gue mohon ke elo, jijik gue Dan" teriak Frans sambil berlari mencari pot bunga.
"Danu" ujar Iwan yang sudah mulai jengkel dengan ulah Danu yang sudah keterlaluan mengganggu Frans.
Danu sadar kalau dia sudah kelewatan menggoda Frans dengan ulahnya itu. Danu kemudian diam. Dia tidak mengganggu Frans lagi.
"Maafin gue Frans" ujar Danu kepada Frans.
Danu sangat kasihan melihat wajah Frans yang sudah pucat pasi itu, Danu tidak menyangka Frans masih suka jijik terhadap sesuatu seperti yang dikatakan oleh Danu tadi.
"Oke gue maafin" jawab Frans yang memang sebenarnya sengaja juga mengerjai Danu.
Frans ingin membalas perlakuan Danu kepada dirinya dan juga kepada Iwan. Sebenarnya tadi Frans tidak ada jijik sedikitpun dengan apa yang diceritakan oleh Danu. Cuma Frans ingin melihat bagaimana reaksi Danu terhadap apa yang diceritakan oleh Frans kepada dirinya.
"Jadi gimana dengan uang sekolah gue?" ujar Frans kembali menanyakan hal yang sama kepada Danu.
"Mulai lagi. Danu udah diam Frans lagi yang mulai" kata Iwan sambil memandang kepada kedua sahabatnya itu.
"Batal, nggak ada pake uang sekolah. Kita sahabat bagai kepompong" jawab Danu sambil tersenyum kepada Frans.
"Ye mau menang sendiri aja" jawab Frans.
__ADS_1
"Loe kayak nggak tau Danu aja Frans. Hitung hitungannya keren. Sekeren orangnya" jawab Iwan sambil melihat ke dua sahabatnya yang duduk di depan.
"Sepertinya Wan." jawab Frans.
Tak terasa saat mobil yang dikemudikan oleh Frans telah memasuki halaman kantor pengacara pengacara terkenal di ibu kota. Siapapun yang masuk ke dalam kantor itu sudah bisa dipastikan kalau mereka akan memilih seorang pengacara yang sukses di bidang tersebut.
"Ayo turun" ujar Frans meminta kedua sahabatnya untuk turun dari dalam mobil.
Mereka kemudian turun, saat Frans telah memarkirkan mobil di tempat khusus untuk parkiran para pengacara yang bekerja di sana.
"Kami nggak boleh ya Frans, parkir mobil di sini?" ujar Iwan bertanya saat mereka sudah berada di luar mobil Frans.
"Bisa" jawab Danu sambil melihat ke arah Iwan yang mengeluarkan pertanyaan tidak bermutu sama sekali kepada Frans.
"Serius? Gue pindahin mobil loe dulu Dan. Kasihan itu panas panas di sana" ujar Iwan sambil menunjuk mobil Danu yang memang sedang berpanas panas di bawah terik matahari yang lumayan menyengit itu.
"Bisa loe pindahin, tapi loe harus jadi pengacara dulu di sini." ujar Danu sambil melihat ke arah sahabatnya yang satu itu.
"Hehehe hehe. Gue kira karena kita sahabat Frans jadi bisa parkir di situ" jawab Iwan yang sama sekali tidak mau disalahkan oleh Danu karena tidak menyimak apa yang dituliskan di papan yang ada di parkiran itu.
"Udah udah mari masuk. Kita akan mulai menyusun strategi untuk bercerai. Kalau ribut terus kapan mulai mulainya ini" kata Frans mengajak kedua sahabatnya untuk masuk ke dalam gedung tinggi itu dan menghentikan keributan yang memang tidak berguna sama sekali yang memang sering terjadi di antara mereka bertiga semenjak mereka bersahabat waktu kuliah.
"Hahaha, pengacara udah mulai mendiamkan kita berdua Dan." ujar Iwan sambil melihat ke arah Frans.
Frans menatap tajam ke arah Danu dan juga Iwan. Apalagi tadi Frans mendengar apa yang diucapkan oleh Iwan. Hal itu semakin membuat Frans menjadi merasa kalau persahabatan mereka memang sudah lebih dari hanya sekedar persahabatan. Antara mereka bertiga sudah tidak ada lagi batasan sama sekali.
"Selamat siang pak Frans. Ini ada surat untuk Pak Frans dari pengadilan" ujar resepsionis yang sangat cantik itu kepada Frans.
"Terimakasih" jawab Frans dengan nada dingin dan tajam setajam silet.
Nada suara yang sama sekali tidak pernah ditujukan oleh Frans kepada sahabat sahabatnya. Nada suara yang memang hanya ditunjukan oleh Frans kepada wanita wanita genit yang berusaha merayu Frans.
__ADS_1
"Kejam juga nada suara loe tadi Frans" ujar Danu kepada Frans saat mereka sudah berada di dalam lift yang akan membawa mereka ke lantai tempat ruangan Frans berada.
"Kesal gue sama orang tu. Udah gue bilang gue ada istri dan anak, tetap aja natap gue dengan tatapan seperti tidak bisa menahan hati dan pikirannya ke gue." ujar Frans menceritakan kenapa tanggapan dirinya seperti itu kepada resepsionist tadi.
"Kenapa tidak di pecat?" ujar Iwan menanggapi perkataan dari Frans
"Mana bisa di pecat, yang ada gue di pecat dari ne kantor" jawab Frans yang kalau menuruti keinginannya pasti dia sudah akan memecat orang tersebut. Tetapi karena bukan dia pemilik perusahaan itu, makanya dia tidak bisa main pecat resepsionist tersebut.
"Kok? Jangan loe bilang kalau dia adalah simpenan dari pemilik ne kantor" ujar Iwan menebak isi kepala dari Frans sebelum Frans menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.
"Yup memang bener. Dia adalah simpenan dari ne pemilik kantor" jawab Frans sambil membuka pintu ruang kerjanya.
"Keren tu cewek, jadi simpenan yang nggak kaleng kaleng sugar daddynya" ujar Iwan berkata sambil dengan nada mengejek, bukan nada kagum, nada yang seharusnya dipakai oleh Iwan kalau Iwan benar benar mau memuji wanita itu.
Mereka kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan Frans. Frans menuju mini bar yang ada di ruangannya. Dia berencana mau mengambil air minum di sana terlebih dahulu sebelum mereka bertiga berdiskusi tentang perceraian Danu dan Ranti.
"Wan, ini seandainya ya, seandainya" ujar Danu mengatakan kata seandainya berkali kali kepada Iwan.
"Iya Iya seandainya. Seandainya apa?" tanya Iwan kepada Danu.
"Seandainya loe kaya, terus ada wanita yang mau jadi simpenan loe, apa loe mau?" ujar Danu bertanya kepada Iwan
"Ais gila loe, nggak mau lah gue. mending juga ndak. masak iya gue mau pake simpenan. sedangkan ndak pake simpanan aja ndak cukup cukup juga" jawab Iwan yang merembet kemana mana.
"Emang loe mau Dan? Itung itung balas dendam" ujar Frans yang ternyata mendengar apa yang ditanyakan oleh Danu kepada Iwan.
"Ogah gue mah. Banyak modalnya" ujar Danu menjawab dengan cepat pertanyaan yang diajukan oleh Frans kepada dirinya.
"Ha gimana kalau loe aja yang jadi simpenan. Kan nggak pake modal" ujar Iwan yang mendapat dukungan dari pertanyaan yang diajukan Frans.
"Ogah gue. Gue hanya mau Vina doan. Nggak ada yang lain" ujar Frans menjawab sambil menatap ke arah kedua sahabatnya itu.
__ADS_1
"Hahaha hahaha, kami kira loe mau. Itung itung balas dendam" ujar Frans mengulang alasannya kembali.