Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Belanja Lagi


__ADS_3

Mereka berlima akhirnya selesai juga menikmati jenang lezat itu. Ivan sedang melakukan transaksi pembayaran dengan penjual jenang. Vina dan yang lainnya menunggu di tempat yang agak lapang. Setelah selesai membayar semua tagihan, Ivan mendatangi sahabat sahabatnya itu.


"Kemana lagi?" tanya Ivan kepada keempat sahabatnya terutama kepada Maya kekasihnya yang memiliki agenda paling besar hari ini.


"Ke tempat beli aksesoris dan perlengkapan kemaren aja sayang." ujar Maya yang sudah gatal ingin melihat, memilih aksesoris dan perlengkapan untuk kafe yang masih dibutuhkan oleh kafe mereka di negara U.


"Oke. Mari jalan" jawab Ivan memberi komando agar mereka semua mulai berjalan keluar dari gang penjual jenang.


Iwan yang sudah hafal tempat toko yang akan mereka tuju memutuskan untuk memimpin jalan di depan. Jalanan yang mereka lalui masih gank sempit di mana kiri kanan jalan banyak orang orang yang berjualan pakaian khas dari kota J. Pakaian yang kemaren di beli oleh Sari untuk jalan jalan di pantai yang akhirnya batal dilakukan.


"Loe masih hafal tempatnya kan Bang?" tanya Ivan kepada Iwan yang berjalan paling depan. Ivan tidak mau mereka harus berputar ulang ke belakang lagi, karena kelalaian Iwan yang sok tau tempat yang akan mereka tuju.


"Masih." jawab Iwan dengan nada pasti. Dia memang masih hafal betul dimana posisi toko yang akan mereka tuju sekarang.


"Masih banyak yang mau dibeli sayang?" tanya Ivan kepada Maya yang sekarang sedang digandengnya itu. Mereka berdua selalu dimana saja akan bergandengan tangan saat berjalan.


"Lumayan sayang. Aku nggak bisa memberikan gambarannya sayang. Pokoknya setiap yang aku suka akan aku ambil." ujar Maya memberitahukan kepada Ivan bagaimana cara dia berbelanja nanti.


"Haduh. Aku kira udah tau mau beli apa sayang." ujar Ivan menatap Maya dengan tatapan putus aja. Ivan sudah bisa membayangkan bagaimana gilanya nanti Maya, Vina dan Sari akan berbelanja.


"Hahahahahaha. Sabar sayang. Aku sudah tau apa yang kamu pikirkan." ujar Maya sambil menepuk pundak Ivan dengan tepukan lembut.


"Terpaksa bersabar sayang." jawab Ivan dengan ngenesnya.


"Senyum sayang. Jangan cemberut gitu. Jelek tau." ujar Maya menggoda Ivan, yang Maya tau sedang sangat kesal kepada dirinya yang tidak menyiapkan catatan apa apa yang akan dibelinya nanti.


Ivan tersenyum kepada Maya. Semua itu tidak terlepas dari penglihatan Sari. Sari memiliki ide jahil. Dia akan mengirimkan foto Ivan yang tersenyum bahagia itu kepada Ayah mereka.


'Tumben tu anak senyum kayak gitu' bunyi pesan tanggapan dari Ayah saat melihat foto yang dikirim oleh Sari.


'Dipaksa Maya, Ayah. Makanya tu manusia separo kulkas bisa tersenyum' balas Sari kepada Ayahnya.


'Semoga Maya bisa membawa Ivan tidak menjadi separo kulkas lagi. Tapi menjadi manusia hangat seperti sebelum kejadian itu' ujar Ayah membalas pesan chat Sari.


'Aamiin Ayah. Semoga aja semua kehendak dan doa kita selama ini terkabul Ayah. Apalagi kehadiran Maya seperti membawa semangat baru bagi kak Ivan.' balas pesan chat Sari kepada Ayah.


'Kamu harus terus mengawasi mereka, jangan sampai mereka melakukan hal hal yang mereka inginkan.' balas Ayah.


'Ayah jangan mulai' balas Sari.


Buk. Sari menabrak punggung Iwan yang berhenti mendadak sehingga tidak dilihat oleh dirinya yang sibuk bermain ponsel sambil berjalan.


"Hahahahaha, makanya nengok ini ndak chat aja terus. Nabrak kan ya." ujar Ivan menertawai adiknya itu.


Sari menatap kesal ke arah Ivan.


'Ini juga gara gara loe. Gue ngelaporin loe ka Ayah, makanya gue jadi nabrak' ujar Sari dalam hatinya.


"Bang Iwan kalau mau berhenti jalan bisa ngomong nggak. Minimal kasih kode. Jadi nabrakkan akunya." ujar Sari yang kepalanya sakit kepentok punggung Iwan yang berhenti mendadak.


"Kamunya aja yang jalan nggak nengok nengok Sar. Bisa bisanya nyalahin aku." ujar Iwan yang protes nggak mau disalahin oleh Sari karena dia berhenti mendadak.


"Hahahaha. Dimana mana yang salah yang nabrak Sari. Apalagi elo jalan sambil main ponsel. Makanya jadi nabrak kan." ujar Vina.


"Iya gue yang salah. Maaf ya Bang Iwan ganteng." kata Sari mengakhiri keributan yang nggak jelas itu.


Mereka akhirnya sampai di depan toko yang beberapa hari lalu mereka datangi bersama sama. Pelayan toko melihat ada yang datang langsung menghampiri Vina dan sahabat sahabatnya.


"Silahkan masuk Nona. Silahkan dilihat lihat terlebih dahulu." ujar Pelayan toko dengan ramah.


"Bisa bertemu dengan pemilik toko?" tanya Vina


Vina ingin bertemu karena ingin memastikan apakah barang barang yang mereka beli kemaren masih ada di toko atau sudah di antar ke kampung Vina.


"Mari ikut saya Nona." ujar pelayan toko meminta Vina untuk ikut dengan dirinya.


Vina, Maya dan Sari masuk ke dalam toko dan mengikuti pelayan untuk mengantarkan mereka bertiga menuju pemilik toko yang sedang berada di meja kasir.


"Tuan, ada yang ingin bertemu." ujar pelayan toko kepada pemilik toko yang sedang melihat lihat stok barang yang ada di toko saat ini.

__ADS_1


Pemilik toko melihat ke arah Vina dan Maya. Dia mengenal kedua wanita itu.


"Oh Nona Vina dan Nona Maya. Saya kira tidak ingat lagi dengan barang yang sudah dibeli. Saya hampir akan menghubungi Nona berdua lagi hari ini, kalau Nona tidak juga datang ke sini." ujar pemilik toko.


"Hahahaha. Tidak mungkin kami akan lupa Pak dengan barang yang telah kami beli. Seharian kemaren cuaca kota tidak bersahabat dengan kami. Jadinya, kami malas malasan di hotel." ujar Vina memberitahukan kalau seharian kemaren mereka memang tidak kemana mana, sehingga tidak jadi ke toko untuk mengambil barang.


"Tidak masalah Nona, barang barang milik Nona telah kami simpan dengan rapi di gudang." ujar pemilik toko.


"Apa ada keperluan yang lain Nona?" tanya pemilik toko melihat Maya yang matanya sudah kemana mana.


"Kami mau menambah barang barang yang ingin kami beli Pak. Apakah ada barang baru yang masuk?" tanya Vina.


"Wah banyak Nona. Silahkan lihat langsung ke belakang. Belum sempat kami pajang karena kesibukan." ujar pemilik toko.


Pemilik toko mengajak Vina, Sari dan Maya untuk masuk ke bagian belakang toko. Ivan yang melihat langsung menarik tangan Iwan untuk mengikuti ketiga wanita itu yang main masuk saja ke dalam toko bagian belakang.


"Mereka kemana Van?" tanya Iwan.


"Nggak tau juga Bang. Makanya gue ikutin." ujar Ivan.


Pemilik toko sampai di bagian belakang. Dimana terdapat barang barang baru yang sudah masuk keranjang tetapi belum sempat mereka pajang di rak rak bagian depan toko.


"Silahkan di lihat lihat Nona. Nanti akan ada dua pelayan yang mendampingi Nona bertiga di sini. Saya pamit ke depan dulu." ujar Pemilik toko sambil meninggalkan Vina dan kedua sahabatnya di bagian belakang toko.


Dua pelayan yang diminta untuk mendampingi Vina dan yang lainnya berbelanja datang membawa stroler. Mereka masing masing membawa satu.


Vina memilih untuk tidak ikut berbelanja. Dia memilih duduk di sebuah kursi yang disediakan pelayan. Mendadak kepala Vina terasa pusing. Dia tidak mau jatuh dan menimpa barang barang yang ada di sana.


Iwan melihat Vina memijit kepalanya.


"Kenapa?" tanya Iwan yang ternyata sudah berdiri di samping Vina.


"Mendadak kepala aku sakit Bang." ujar Vina sambil terus memijit kepalanya yang terasa pusing dan sakit itu.


"Tunggu di sini, sepertinya tadi tiga buah toko dari sini ada apotek. Aku pergi belikan obat dulu." ujar Iwan.


Iwan menemui Ivan. Dia terlihat berbisik di telinga Ivan. Ivan melihat ke arah Vina. Ivan berjalan ke arah Vina, sedangkan Iwan berjalan ke arah luar toko, Iwan akan pergi membeli obat yang dibutuhkan oleh Vina.


"Kenapa?" tanya Sari khawatir melihat Vina yang sibuk memijit kepalanya.


"Sakit kepala." ujar Vina.


"Sini gue tolong." ujar Sari.


Sari berdiri di belakang Vina. Dia mulai memijit kepala Vina. Maya yang saking sibuk memilih dan melihat lihat barang barang yang akan dibelinya itu, dia tidak sadar kalau Vina sedang mengalami sakit kepala yang sangat luar biasa.


"Maya" Ivan akhirnya memilih untuk berteriak keras memanggil kekasihnya itu.


Maya mendengar teriakan yang memanggil namanya melihat ke arah Ivan. Dia menatap ke Ivan, Ivan memberi kode agar Maya melihat ke arah Vina. Maya melihat Vina sedang dipijit kepalanya oleh Sari.


Maya meletakkan barang barang yang telah dipilihnya di sembarang tempat. Dia menuju Vina yang sedang terlihat menahan sakit itu.


"Kamu kenapa?" tanya Maya dengan wajah paniknya. Dia tidak pernah melihat Vina yang menahan sakit seperti ini.


"Sakit kepala gue May." jawab Vina.


"Bukannya loe udah makan tadi. Kenapa bisa?" Maya mulai terlihat posesifnya.


"Nggak tau." jawab Vina.


Iwan kemudian datang sambil membawa obat yang sudah dibelinya.


"Vina ini obatnya. Kamu minum dulu, semoga nanti kamu cepat sembuh." ujar Iwan memberikan obat yang dibelinya kepada Vina.


Maya membuka obat tersebut. Dia memberikan sebutir kepada Vina. Vina kemudian meminum obat itu.


"Kamu sama Sari teruskan aja belanjanya. Gue di sini sama Bang Iwan dan Bang Ivan." ujar Vina meminta Maya dan Sari melanjutkan kegiatan belanja mereka


"Tapi Vin." ujar Maya yang enggan meninggalkan Vina.

__ADS_1


"Kita balik ke hotel aja. Belanja nggak jadi aja." ujar Maya yang lebih mementingkan kesehatan Vina daripada melanjutkan belanja mereka.


"Jangan. Kalian berdua terus belanja aja. Gue akan istirahat di sini." ujar Vina.


"Tapi Vin" ujar Maya yang masih keberatan untuk meninggalkan Vina.


"Nggak ada tapi tapi. Sana lanjutkan. Gue baik baik aja kok." ujar Vina meyakinkan Maya untuk melanjutkan kegiatan belanja mereka.


Maya melirik Ivan, Ivan kemudian mengangguk meyakinkan Maya untuk pergi melanjutkan berbelanja.


"Ayuk Sar." ujar Maya mengajak Sari untuk melanjutkan kegiatan berbelanja mereka yang sempat tertunda karena Vina yang mendadak sakit kepala.


Maya dan Sari kemudian melanjutkan kegiatan belanja mereka. Mereka mulai memilih apa yang mereka butuhkan. Maya sebenarnya sudah tidak bersemangat lagi, tetapi dia terpaksa harus tetap belanja, karena mereka tidak ada waktu lagi.


Maya dan Sari berbelanja masih sambil sekali sekali melirik keadaan Vina yang duduk ditemani oleh Iwan dan Ivan. Mereka melihat Vina sudah semakin membaik keadaannya.


"Gimana keadaan kamu Vin?" tanya Ivan yang melihat Sari sudah tidak meringis lagi.


"Udah baikan Bang." ujar Vina menjawab pertanyaan Ivan.


Vina kemudian memakan kue yang diberikan oleh Iwan. Setelah itu Vina beristirahat sebentar. Setelah merasakan dirinya yang benar benar sudah fit kembali, Vina kemudian berdiri dari kursinya.


"Mau kemana?" tanya Ivan saat melihat Vina sudah berdiri dan hendak pergi dari kursinya.


"Ikut belanja sama mereka." jawab Vina.


Vina kemudian berdiri dan pergi menuju Maya dan Sari. Mereka kemudian melanjutkan belanja yang tertunda tadi.


Vina ikut memilih milih barang barang yang akan digunakan untuk keperluan kafe.


"Emang udah sehat?" tanya Maya melihat Vina yang sudah membawa barang barang yang telah berhasil dipilihnya.


"Udah." jawab Vina melanjutkan memilih barang barang yang dilihatnya lucu dan menarik.


Tepat pukul tiga siang mereka telah selesai berbelanja. Maya membayar semuanya ke kasir.


"Kemana lagi?" tanya Vina.


"Pantai gimana? Apa kamu kuat?" tanya Sari yang memang ingin duduk duduk di pantai menikmati angin sore hari.


"Setuju. Kita makan di sana saja ya." ujar Vina yang setuju dengan pilihan Sari untuk pergi ke pantai.


"Naik mobil atau bagaimana?" tanya Ivan sambil menatap mereka masing masing.


"Jalan kaki." jawab Vina dengan semangat.


"Hah? Serius loe mau jalan kaki?" tanya Iwan tidak menyangka dengan pilihan Vina yang lebih memikih jalan kaki dari pada naik mobil menuju pantai.


" Serius, ngapain becanda. Gue udah sehat. Jangan anggap gue seseorang yang butuh pertolongan terus. Gue udah aman terkendali. Jadi jangan ragukan kemampuan gue untuk jalan kaki ke pantai." kata Vina menatap kesal ke sahabat habatnya yang meragukan keinginan dia untuk jalan kaki ke pantai.


"Tapi Vina, menurut gue lebih baik kita naik mobil aja. Hari panas banget. Kamu baru lepas dari sakit kepala. Jangan jangan nanti sakit lagi. Sekali ini tolong dengarkan apa yang kami katakan. Semuanya untuk kebaikan kamu Vina. Bukan untuk apa apa." ujar Maya yang benar benar terlihat khawatir dengan kondisi Vina.


"Gue setuju dengan Maya." jawab Sari yang menyuarakan aspirasinya kepada Vina.


"Ya udah. Kita naik mobil." ujar Vina akhirnya mengalah mengikuti keinginan sahabag sahabatnya untuk naik mobil ke tepi laut.


"Nah gitu. Jadi kami tidak perlu khawatir lagi dengan kamu. Nanti sampai pantai terserah kamu mau ngapain. Mau jungkir balik sekalipun nggak akan kami larang." ujar Ivan yang pertama ragu membiarkan Vina berjalan kaki menuju pantai.


Ivan kemudian memesan taksi online. Mereka kemudian menunggu taksi sampai datang sambil berbincang bincang ringan. Tak lama menunggu taksi online datang menjemput mereka. Mereka semua kemudian masuk ke dalam taksi online, supir taksi mengantarkan mereka berlima menuji pantai yang mereka tuju.


Sari menatap kagum ke luar jendela.


"Wow. Ini keren. Kenapa di negara U nggak ada yang sekeren ini." ujar Sari memuji keindahan pantai yang mereka lewati.


"Banyak yang keren Sar. Loe nya aja yang jarang main." jawab Maya yang sudah berkeliling ke semua pantai yang ada di negara U dengan Rina maid yang ada di rumah mereka.


"Serius?" tanya Sari.


"Serius. Besok gue temani" ujar Maya.

__ADS_1


Akhirnya mobil berhenti tepat di pintu masuk objek wisata pantai yang mereka tuju. Vina dan yang lain turun dari dalam mobil. Iwan kemudian berjalan membeli tiket masuk pantai.


__ADS_2