Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Healling Maya ###


__ADS_3

Tok tok tok tok. Dian mengetuk pintu kamar Maya. Dia sudah menunggu Maya dari tadi tetapi masih juga belum nongol nongol.


"Sorry Yan. Gue keenakan mandi air panas." ujar Maya sambil tersenyum ke arah Dian.


"Udah siap untuk ngemall di Kota P?" tanya Dian kepada Maya yang terlihat sudah memakai pakaian ngemall ala ala anak muda.


"Yah terhempas gue yang udah jadi ibu rumah tangga ne." ujar Dian sambil berseloroh kepada Maya.


"Nggak akan. Loe udah cantik dari orok Yan. Mana akan terhempas hanya gara gara gue yang modal makeup ini." ujar Maya merangkul tangan Dian.


"Ayuk berangkat." ujar Dian yang sangat senang ada sahabat menemani dirinya malam ini.


Dian sebenarnya berharap Maya akan pergi keesokan harinya. Tetapi, Dian sangat tau kalau Maya membutuhkan refresing. Dian tidak ingin membuat Maya di dalam pilihan yang sulit.


"Loe bawa mobil ya, ini mobil yang akan loe bawa besok." ujar Dian sambil memberikan kunci mobil kepada Maya.


Mereka kemudian menuju garase mobil Dian.


"Wow ini semua kapan di pake Yan?" ujar Maya saat melihat begitu banyak mobil yang ada di garase milik Dian.


"Suami gue yang make May. Gue tetap make yang akan kita pake itu." ujar Dian sambil menunjuk mobil yang akan mereka pakai ke mall malam ini.


Maya membuka kunci pintu mobil. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil.


"Udah dipanasin tadi Yan?" tanya Maya.


"Udah May. Gue tadi siang sebelum loe nelpon sempat keluar sebentar." jawab Dian.


Mobil di keluarkan Maya dari garase. Pintu garase membuka dan menutup sendiri saat mobil sudah berada di luar garase.


Pintu pagar juga melakukan hal yang sama. Pintu pagar bisa membuka dan menutup sendiri saat alat sensor mengenal plat nomor mobil yang sudah di daftarkan ke dalam sistem.


Maya mengemudikan mobilnya menuju mall yang dikatakan oleh Dian. Maya menggunakan fitur map yang ada di dalam mobil yang tidak akan membuat dia tersesat nantinya.


"May. Sekarang loe kerja dimana?" tanya Dian menghentikan kebisuan antara dua teman lama yang sudah lama tidak bertemu itu.


"Gua rencana dengan Vina mau membuat kafe di negara U. Kebetulan Vina bekerja di sana." jawab Dian memberitahukan kegiatannya selama ini.


"Wah gue kangen Vina." ujar Dian lagi

__ADS_1


"Gimana kabar dia sekarang May?"


"Baik. Dia sekarang sudah menjadi wakil direktur perusahaan CT Grub di negara U." jawab Maya.


"Ooo. Jadi, loe nggak minat aktifin ponsel lama loe?" ujar Dian menatap Maya.


"Kok loe tau?" tanya Maya yang penasaran kenapa Dian sampai tau kalau dia memakai ponsel baru.


"Maya maya. Fitur di ponsel gue yang mengatakan kalau bukan nama loe yang terdaftar di pusat layanan. Masak nama loe Elfina. Sejak kapan." ujar Dian sambil menahan tawanya supaya tidak keluar.


"Hahahahahaha. Ponsel loe canggih." ujar Maya.


"Loe pergi ini apa udah ngomong sama suami loe?" tanya Maya yang tidak ingin Dian mendapatkan masalah karena Dian tidak memberitahukan kepada suaminya kalau dia pergi ke mall dengan Maya.


"Tenang. Udah gue katakan. Sejak loe mau datang tadi gue udah ngomong sama dia." ujar Dian memberitahukan kepada Maya.


"Oke sip."


Maya membelokkan mobilnya masuk ke dalam mall yang terbesar di kota P. Maya memarkir mobilnya di luar. Dia sama sekali tidak berminat memarkir mobil di bestman gedung.


"Mari jalan jalan." ujar Maya kepada Dian.


Sedangkan di ibu kota. Jeri mengatakan kepada Sari dan Vina kalau Maya tadi mengatakan kepada dirinya kalau Maya ada janji bertemu dengan Ivan di kafe. Makanya, Sari dan Vina tidak mencari Maya.


"Vin, ini udah mau malam. Gue nggak yakin kalau Maya pergi dengan Ivan lagi. Kita coba telpon Maya bagaimana?" tanya Sari yang sudah mulai cemas dengan keberadaan Maya dimana sekarang ini.


Sari tau bagaimana tipe Ivan yang tidak akan mungkin membawa Maya sampai mau masuk malam hari kalau mereka berangkat dari sore.


Vina mengambil ponsel miliknya. Dia menghubungi nomor Maya. Vina menunggu lama, ternyata hanya seorang wanita yang mengangkat panggilan dan mengatakan kalau ponsel Maya tidak aktif dan berada di luar jaringan.


"Nggak aktif Sar." ujar Vina memberitahukan kepada Sari yang juga mendengar perkataan wanita itu.


"Coba lagi aja Vin." ujar Sari yang masih tidak percaya kalau ponsel Maya tidak aktif.


Vina kembali mencoba menghubungi nomor Maya. Dia berharap kali ini aktif dan mereka bisa bertanya dimana posisi Maya saat ini.


"Tetap nggak aktif Sar." ujar Vina yang sudah mulai cemas dengan keberadaan sahabat terbaiknya itu. Sahabat yang dititipkan oleh kedua orang tuanya kepada keluarga Vina.


"Gue telpon Ivan dulu." ujar Sari.

__ADS_1


Vina mengangguk. Vina mulai tidak bisa menahan air matanya. Masalah dia dengan Danu belum kelar, sekarang datang lagi masalah Maya yang tidak tau berada dimana.


Sari menghubungi nomor Ivan. Ivan yang sedang duduk dengan Ayah dan Iwan melihat nama Adikku muncul di ponsel miliknya langsung mengangkat panggilan itu.


"Loe dimana?" ujar Sari langsung to the point saat Ivan mengangkat panggilan telpon dari dirinya.


"Di rumah" jawab Ivan yang nggak menambahkan embel embel Ayah.


Ivan takut kalau Sari memakai loadspeaker. Dan memang saat ini Sari menggunakan fitur tersebut.


"Sama Maya?" tanya Sari


"Nggak. Maya nggak ada sama gue dari tadi. Gue dengan Iwan. Ada apa?" tanya Ivan yang sudah memiliki pikiran buruk tentang Maya.


"Lah tadi Maya ngomong ke Jeri co pilot, kalau Maya ada janji temu dengan loe sore tadi di kafe." kata Sari melaporkan kepada Ivan.


"Nggak ada." jawab Ivan.


Sari memutus panggilan dirinya dengan Ivan. Ivan kaget luar biasa mendengar apa yang dikatakan oleh Sari.


"Nggak ada ketemu sama Ivan seharian ini." ujar Sari kepada Vina.


"Jadi kemana tu anak ya?" ujar Vina yang sudah habis pikir kemana Maya sekarang.


Ivan kembali menghubungi ponsel Sari. Sari mengangkat panggilan dari Ivan.


"Kalian nginap dimana?" tanya Ivan.


"HS hotel." jawab Sari.


"Gue ke sana sama Iwan. Tunggu di lobby." perintah Ivan kepada Sari.


"Okey" jawab Sari.


Saei memutuskan sambungan telponnya dengan Ivan.


"Vin, Ivan mau ke sini sama Iwan. Jadi, kita serahin ke Ivan." ujar Sari kepada Vina.


Vina dan Sari kemudian turun ke lobby. Mereka akan menunggu Ivan dan Iwan di sana. Mereka berdua pusing tidak tau lagi kemana mau mencari Maya.

__ADS_1


__ADS_2