Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Sop Iga dan Iga Bakar


__ADS_3

Pagi pagi sekali sebelum Ayam jantan berkokok, Vina sudah bangun dan berkutat di dapur, Vina akan membuat kuah soto dan membuat sup untuk jualan di warungnya. Kalau gulai lontong sudah tinggal memanaskan dan menuangkan santan kental saja lagi. Vina memakai celemek favoritnya yang nggak pernah ditukar semenjak dibeli, padahal Vina memiliki beberapa celemek yang baru, ntah kenapa dia sangat suka sekali dengan yang itu. Vina menumis bumbu untuk supnya dan di kompor sebelah merebus daging sup beserta kentang, wortel dan tahu yang sudah di goreng. Menu soto untuk kuah kaldu sudah siap dan juga sedang di rebus di kompor yang lain. Sedangkan untuk bumbu soto tinggal menumisnya saja, itu akan dilakukan oleh Maya yang masih berada di dalam dunia mimpinya


Saat Vina sedang asik menumis bumbu sup, Maya baru bangun dari tidurnya. Dia langsung bergegas mencuci muka bantalnya itu. Maya sangat malu, Vina yang jadi bosnya sudah berkutat dari tadi di dapur, sedangkan dia yang karyawan masih enak enakan tidur.


"Maaf ya Vin, gue telat bangun, asli kecapekaan banget badan gue ini" kata Mira sambil melemaskan beberapa persendian badannya dan memang bener semua persendian Mira berderak krak krak.


"Tu badan apa kayu, bunyi semua. Loe panggil tukang urut aja nanti siang. Ambil uang di amplop kesehatan. Uang disitu disengaja untuk kita menjaga kesehatan." kata Vina sambil tetap menumis bumbu sup.


"May, loe tumis bumbu soto sana. Bumbunya udah ada di meja, tinggal tumis aja. Siap itu tes rasa" lanjut Vina memberikan perintah kepada Maya.


Maya langsung menumis bumbu soto. Sedangkan Vina sudah memasukkan bumbu sup yang ditumisnya tadi kedalam panci yang berisi sup.


Setelah berkutat dengan sup, saatnya Vina membuat sarapan, seperti permintaan kekasihnya Vina akan membuat nasi goreng dan mie goreng. Vina menyiapkan semua bahannya ke dekat meja yang akan digunakan untuk memasak. Vina mulai sibuk dengan menu sarapan paginya. Vina juga melebihkan untuk dijual di warung. Maya yang melihat hanya bisa tersenyum. Vina memang tipe wanita pekerja keras yang tidak akan pernah tergantung dengan siapapun. Dalam waktu satu jam Vina telah selesai memasak dua menu sarapan. Dia melihat jam dinding yang berada di dapur. Ternyata sudah pukul lima.


"May, gue mandi dulu. Tolong loe masukin nasi dan mie goreng ke dalam dua tempat yang lumayan besar ya. Loe pikir aja untuk empat orang makan. Ambil juga untuk loe. Nanti lebihnya untuk jualan." kata Vina kepada Maya.


"Asiap bos. Mandi sana, nanti telat. Pujaan hati datang, kamunya masih dandan" kata Maya meledek Vina yang memang sering ditunggu oleh Danu.


"Ye ye ye" jawab Vina sambil berlalu dari hadapan Maya.


Vina langsung masuk kedalam kamarnya untuk mengambil handuk. Setelah itu dia melangkahkan kaki jenjangnya masuk ke dalam kamar mandi. Vina mandi sambil bersenandung kecil, suara Vina sangat bagus dan mirip suara artis artis cuma sayangnya Vina sangat tidak percaya diri untuk bernyanyi di depan orang banyak. Vina mandi menghabiskan waktu tiga puluh menit. Selesai mandi Vina berkemas, dia memakai stelan kantor kemeja putih, minijas pink dan rok span warna pink. Vina merias wajahnya dengan riasan natural. Riasan favorit Vina. Setelah dirasa penampilannya maksimal Vina keluar dari kamarnya.


"Wah tumben duluan siap, Bang Danu belum datang tuh" kata Maya sambil menahan senyumnya.


"Sana mandi, nanti pelanggan setia kamu nungguin" balas Vina yang memang tau kalau sepupunya Juan sering sarapan atau makan siang di warung milik Vina.


"Wah balas dendam ne si bos" teriak Maya.


"Emang gue nggak tau. Udah kalau suka ngomong aja, gue setujupun" jawab Vina.


Vina kemudian membawa dua kotak bekal yang lumayan besar menuju teras rumah, dia akan menunggu Danu di sana. Tepat pukul setengah tujuh mobil Danu sudah parkir di depan pagar rumah kontrakan Vina. Vina langsung mengangkat dua kotak bekal itu dan berjalan menuju mobil kekasihnya dan sekaligus bos kesayangannya.


Danu yang melihat Vina udah berjalan menuju mobil labgsung keluar dari mobil. Dia tidak mau Vina mengangkat sarapan itu.


"Wow sayang kamu cantik sekali hari ini" puji Danu kepada Vina yang memang sangat cantik hari ini.


"Iyalah harus cantik. Kalau nggak cantik nanti bos kesayangan aku melirik wanita lain" jawab Vina sambil memberikan senyum mesranya kepada Danu.


"Hm bisa aja cari alasan" balas Danu.


Mereka berdua masuk kedalam mobil. Danu menggenggam tangan kanan Vina dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya digunakan untuk mengemudikan mobil. Danu sangat kangen dengan Vina, makanya dia tidak mau melepaskan genggaman tangan Vina. Tak terasa mereka sampai di parkiran kantor. Danu menurunkan Vina di lobby kantor. Viba kemudian turun dan membawa kotak bekal saraoan menuju ruangannya. Sedangkan Danu akan memarkir mobilnya terlebih dahulu.


Vina langsung masuk kedalam ruangannya. Vina bukan tipe karyawan yang baru datang langsung bertandang ke ruangan lain dan bergosip hangat. Vina bukan tipe yang seperti itu. Ternyata diruangan sudah ada Iwan dan Ifan. Ifan mengambil kotak sarapn dari tangan Vina.


Vina meletakkan tas kantornya di atas meja, setelah itu dia menata sarapan di atas meja ruangan dan membuatkan minuman untuk rekan kerjanya. Saat sampai di kantor maka Danu akan menjadi bos bagi Vina. Mereka berdua telah bersepakat (yang kekeh untuk seperti itu adalah Vina) kalau di kantor adalah manager dan staf.


Mereka melahap menu sarapan yang menggugah selera itu dengan sangat lahap. Vina sangat senang ketiga rekan kerjanya menyukai masakan yang dibuat oleh dirinya.


"Enak Pak?" tanya Vina ke Danu.


"Enak banget Vin" jawab Danu dengan nada yang dibuat biasa saja. Danu takut Vina ngamuk gara gara nada suaranya yang mengandung zat zat cinta.


Selesai sarapan Vina membersihkan meja itu kembali. Vina, Iwan dan Ifan berkutat dengan pekerjaan yang harus mereka selesaikan. Viba sibuk dengan rancangan sebuah taman di pusat kota. Selalu kalau desain taman dan taman bermain itu akan diambil alih oleh Vina. Sedangkan urusan pergedungan maka itu kerjaan Iwan dan Ifan, untuk desain interiornya baru diserahkan ke Vina.


Mereka bekerja dengan sangat serius. Tak terasa jam makan siang pun datang.


"Bang makan di warung yuk. Aku tadi buat sup iga, dibikin jadi iga bakar juga akan enak dia" kata Vina mengingat sup yang dibuatnya tadi.


"Tanya bos Vin. Dia ikut atau nggak." kata Iwan.


"Abanglah yang panggil. Aku segan, mana tau bos mau makan di tempat lain" kata Vina memberikan alasan.

__ADS_1


"Bro ini udah nggak jam kantor lagi" balas Ifan.


Vina akhirnya mengalah. Dia masuk ke dalam ruangan Danu. Danu ternyata masih melihat laptopnya. Vina masuk saja Danu nggak sadar. Vina langsung memeluk Danu dari belakang.


"Sayang, makan di warung yuk. Ada iga" kata Vina.


Danu memegang tangan Vina yang memeluknya di bagian leher.


"Oke. Dua bocah depan ikut?" tanya Danu kepada Vina.


"Iya sayang. Mereka mau makan iga bakar katanya" jawab Vina.


"Ayuk, kita satu mobil aja. Nggak apa apakan?" tanya Danu sambil menatap sedikit nakal ke Vina.


"Biasa aja tuh mata sayang, jangan nakal tolong kondisikan" kata Vina sambil mencium pipi Danu sekilas.


Danu yang tidak siap dengan perlakuan Vina tadi sadar saat Vina sudah tidak ada didekatnya.


"Kamu memang lah ya sayang. Sangat tau saat orang tidak fokus." jawab Danu sambil beranjak dari kursi kerjanya dan mengambil kunci mobil.


Danu keluar dari ruangan, dia melihat Iwan dan Ifan sudah siap siap mau berangkat makan siang. Sedangkan Vina sudah menghilang dari pandangan. Danu melihat ke sekeliling.


"Dia udah keluar duluan, ntah kenapa pake acara lari" kata Iwan yang heran dengan tingkah Vina saat kelyar dari ruangan Danu


"Dia tadi cium pipi gue sekilas info." kata Danu sambil tersenyum penuh makna.


"U wow berita hangat itu. Vina mau cium elo" jawab Iwan.


Mereka bertiga kemudian turun ke lobby kantor. Iwan dan Ifan sudah susah menahan tawanya. Vina yang duluan turun sudah menunggu di pintu keluar kantor.


"Makanya Fan, kalau belum berani menghadapi kenyataan jangan main nyosor aja. Jadi malu sendirikan lo" kata Iwan kepada Ifan. Ifan yang sudah tau permainan ikut permainan yang dibuat Iwan.


"Nggak tahan gue, nengok muka lucu kamu tayang" jawab Ifan sambil memegang pipi Iwan.


"Hahahahaha" Iwan dan Ifan tertawa terbahak bahak.


Mereka kemudian masuk kedalam mobil Danu. Iwan dan Ifan duduk di kursi penumpang bagian belakang. Sedangkan Vina duduk di kursi samping sopir. Vina memasang muka cemberutnya kepada Danu.


"Kenapa dengan wajah cantik tadi pagi sayang?" tanya Danu yang sudah tau pasti Iwan dan Ifan buat masalah lagi.


"Tuh Upin dan Ipin mengejek lagi. Gara gara aku main cium kamu tadi" jawab Vina dengan muka makin kesal.


"Mereka iri sayang, nggak ada yang dicium dan nggak ada yang mau mencium" lanjut Danu sambil sedikit mengejek Iwan dan Ifan.


"Udahlah sayang, pake muka cantik tadi lagi ya. Jangan dengerin mereka. Mereka iri dengan kita itu" kata Danu yang tidak ingin Vina marah lama lama kepada dirinya


"Vin, maafkan kami ya. Kami nggak akan ulang lagi tuk hari ini" kata Iwan.


"Hahahahaha" Ifan tertawa mendengar kalimat yang dikeluarkan Iwan. Tidak akan mengulang untuk hari ini. Besok besok tentu bisa lagi.


"Hm aku maafin. Tiap salah besok aku akan terus maafin" jawab Vina dengan nada sedikit kesal.


"Udah jangan ribut. Kalian kayak anak kecil." kata Danu yang akhirnya menengahi pertengkaran kecil itu.


Vina kemudian kembali ceria lagi. Setelah drama kecil yang dibuat buat itu. Mereka sampai di warung tempat Maya berjualan. Ternyata di sana sudah ada Juan yang sedang makan siang ditemani Maya.


"Woi sepupu. Rajin kalu ke sini makan siang. Nggak laper lagi tuh perut saat sampai di kantor" tutur Vina sambil menepuk pundak Juan.


"Nggak lah, emang gue elu. Kalau elu bisa jadi. Loe kan baskom ya" kata Juan membalas Vina.


"Berisik loe" balas Vina..

__ADS_1


"Udah jadiankan ya?" tanya Juan balik.


"Jangan cari perkara. Gue suruh bayar baru tau loe" balas Vina kepada Juan.


"Hahahaha. Bos" jawan Juan.


"Sayang mau makan apa?" tanya Vina kepada Danu yang barusan duduk. Danu terpaksa agak jauh memarkir mobilnya karena pengunjung warung yang rame.


"Sayang makan di rumah aja ya. Rame banget" kata Danu yang memang nggak nyaman dengan keramaian.


"Oke. Mau makan apa?" tanya Vina lagi.


"Sup iga aja." jawab Danu yang langsung berjalan ke dalam rumah.


"Abang dua mau makan apa?" tanya Vina.


"Iga bakar pake nasi" jawab Iwan dan Ifan serentak.


Vina kemudian dibantu Maya menyiapkan pesanan. Sedangkan Juan juga ikut ke dalam rumah. Dia sudah kenal dekat dengan Danu, Iwan dan Ifan. Vina menata menu itu dengan sangat indah dan cantik. Vina juga membuatkan jus jerus peras untuk menemani makan siang mereka.


Mereka kemudian makan dengan sangat lahap. Danu selalu melihat ke arah Vina. Danu mengingat kembali cerita Vina tentang mimpi buruknya hari itu.


Setelah selesia menyantap makan siang mereka, Danu dan tiga pria lainnya bercerita tentang bisnid. Sedangkan Vina dan Maya mereka membereskan peralatan siap makan siang itu. Vina sedikit membantu di warung. Dia melihat Danu yang belum mau beranjak dari obrolan hangat mereka.


Selesai obrolan, Danu meminta Ifan untuk membayar makan siang mereka. Mereka tidak mungkin sering sering makan gratis di sana. Vina memasak dengan modal. Jadi sekali ini mereka akan bayar.


"Fan bayar makan siang kita. Ini uangnya" kata Danu menyerahkan empat lembar uang seratus ribu.


"Pandai pandai loe cari alasannya" lanjut Danu.


Ifan menggaruk kepalanya. Dia menatap panjang ke arah Iwan. Iwan mengangguk kepada Ifab memberikan dukungan semangat.


"Hm baiklah" kata Ifan setuju.


Ifan kemudian menuju warung. Disana tidak ada Vina, hanya Maya saja.


"May ini uang makan tadi" kata Ifan memberikan uang yang dikasih Danu.


"Eeee nggak. Mana ada bayar. Kalau mau bayar, bayar ke Vina aja. Aku nggak terima" jawab Maya.


"Tapi May" kata Ifan.


"Vina" teriak Maya kepada Vina yang berada di belakang sedang merapikan sedikit dandanannya.


"Apa?" tanya Vina yang kaget mendengar Maya berteriak.


"Noh Ifan mau bayar" kata Maya


"Kok bayar bang?" tanya Vina.


"Sekali sekali bolehlah Vin dibayar. Gue tadi itu sukuran karena dapat proyek baru" boong Ifan.


"Oh. Sukuran. Kalau sukuran terima aja May" kata Vina yang nggak mau ribet dengan Ifan. Ifan manusia sejuta alasan.


Maya menerima uang yang diberikan Ifan dengan berat hati. Tapi karena udah perintah Vina, akhirnya Maya menerima tanpa banyak cerita.


Danu dan ketiga karyawannya langsung masuk kedalam mobil, mereka akan menuju kantor kembali karena masih ada kerja yang harus mereka lakukan. Sedangkan Juan juga kembali ke kantornya. Dia sedang ada kerjaan yang harus diselesaikan secara cepat.


"Sayang tadi Ifan bayar uang makan siang. Emang dia menang tender proyek yang manaya? Rasanya belum ada proyek baru di kantor" kata Vina yang mendadak menjadi curiga.


"Tanya dia aja nanti sayang. Kami aja kaget tadi. Dia ngomong dia akan bayar" kata Danu mengelak.

__ADS_1


"Oh. Biar ajalah sayang. Lagian uangnya juga udah sama Maya. Males nanyak sayang" jawab Vina yang tidak mau repot dengan segala macam pertanyaan dengan Ifan.


Mereka kemudian kembali bekerja dan berkutat dengan laptop yang berada di depan mereka. Tak terasa hari sudah pukul lima sore. Sudah saatnya untuk pulang. Mereka tidak akan lembur hari ini. Danu mengantarkan Vina pulang menuju kontrakannya. Danu tidak mampir karena harus bertemu dengan presiden direktur di rumahnya. Semua manager diundang makan malam oleh presiden direktur.


__ADS_2