
"Sari, Sari ayo bangun" ujar Ivan membangunkan adik semata wayang yang paling disayanginya itu.
Apapun yang diminta Sari kepada Ivan. Ivan akan berusaha mewujudkannya. Walaupun itu harus dilakukan oleh Ivan dengan susah payah. Ivan satu kalipun tidak ingin membuat Sari bersedih. Makanya dengan berbagai upaya Ivan akan memastikan kalau Sari akan mendapatkan apa yang diinginkan oleh dirinya.
Sari yang dibangunka oleh Ivan sama sekali tidak memberikan respon kalau Sari mendengar suara Ivan.
"Sari, bangun. Kita akan ke rumah sakit tempat Ayah" ujar Ivan sengaja menyebut nama Ayah tepat di telinga Sari.
Sari yang mendengar nama Ayah disebut sebut langsung mengucek matanya yang indah itu. Dia melihat di depannya ada Ivan yang tersenyum dengan lebar.
"Mana Ayah Bang?" tanya Sari menagih ucapan dari Ivan.
"ada di rumah sakit, sedang menunggui Bang Danu" jawab Ivan dengan wajah tanpa dosanya yang telah membangunkan Sari dengan memakai nama Ayah.
"Ah, aku kira beneran ada Ayah kali Bang. Ternyata boongan" ujar Sari yang akan kembali meletakkan kepalanya di bantal.
"Op sabar. Nggak ada cerita tidur lagi" ujar Ivan menahan pundak Sari agar tidak langsung renah kembali ke bantal.
"kata Mami tadi. Kita akan saraoan di rumah sakit dengan Ayah dan Papi. Makanya kita diminta oleh Mami untuk segera bersiap siap karena akan pergi setelah mandi" ujar Danu memberitahukan kepada Sari pesan dari Mami tadi.
"oh baiklah Abangku sayang. Aku akan segera mandi. Aku tidak sabar lagi ingin sarapan dengan Ayah." ujar Sari yang langsung berdiri dari tidurnya saat mendengar akan sarapan bersama Ayah di rumah sakit.
"Ayah tunggu kedatangan Sari di rumah sakit Ayah. Sari akan datang untuk menyuapi Ayah" ujar Sari sambil berjalan menuju kamar mandi
"kamu yang nyuapin Ayah. atau Ayah yang akan menyuapi kamu?" tanya Ivan kepada Sari.
"kedua duanya. Abang nggak boleh ngiri gitu, mau siapa yang nyuapin siapa. Pokoknya ada yang disuapi dan ada yang menyuapi." ujar Sari yang nggak mau kalah dengan Ivan.
" Udah sana mandi. Kita gantian mandinya" ujar Ivan kepada Sari.
Sari kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Dia tidak mau Ivan sampai mengeluarkan kedua tanduknya karena sari yang masih juga belum beranjak ke kamar mandi.
__ADS_1
Ivan yang telah melihat Sari berada di dalam kamar mandi, lalu mengambilkan pakaian yang akan dipakai adiknya itu dari dalam koper. Ivan meletakkan pakaian yang akan dipakai Sari di atas ranjang.
Setelah menaruh pakaian yang akan dipakai Sari. Ivan mengambil pakaiannya sendiri. Ivan kemudian keluar dari dalam kamar untuk menuju kamar mandi yang ada di mansion itu. Dia akan mandi di kamar mandi kamar tamu saja. Menunggu Sari selesai mandi, bisa bisa Mami akan mengomel karena sangat lama untuk menunggu mereka berdua selesai mandi.
mami yang telah selesai bersiap siap berjalan menuju dapur. Mami akan menyusun rantang yang dia yakin kalau isinya sudah dingin semua. Saat Mami menyusun rantang itulah Ivan dan Sari turun dari lantai dua mansion.
"Pagi Mami" sapa Sari yang terlihat sangat cantik saat memakai baju baby doll warna pink tersebut.
"wow kamu cantik sekali sayang. Siapa yang memilihkan pakaian itu untuk kamu?" tanya Mami saat melihat Sari yang terlihat sudah remaja itu.
"Bang Ivan, Mami. Siapa lagi yang akan memilihkan pakaian untuk aku, kalau nggak dia Mami" ujar Sar menjawab pertanyaan dari Mami.
"Haha haha haha, kamu memang harus sangat bersyukur sayang, mendapatkan Abang seperti dia" ujar Mami sambil memberikan jempolnya kepada Ivan.
"Sangat bersyukur Mami. Bang Ivan selain sebagai Abang juga sudah seperti Bunda. Bang Ivan mengurus semua keperluan aku Mami" ujar Sari memuji abangnya yang satu itu.
"Sudah ayuk berangkat. Kasihan Papi dan Ayah yang sudah lama menunggu sarapan dari kita" ujar Ivan yang tidak ingin selalu dipuji oleh Sari.
Mereka bertiga kemudian masuk kembali ke dalam mobil. Pak sopir mengemudikan mobil dalam kecepatan sedang menuju rumah sakit tempat Danu di rawat.
Perjalanan kali ini, Ivan sama sekali tidak ada bertanya apapun kepada sopir. Ivan hanya menikmati perjalanan yang mereka lalui. Ivan melihat setiap sudut kota yang jarang dinikmati Ivan.
"Ternyata kota kita indah juga Mi" ujar Ivan kepada Mami.
"baru sadar Van?" tanya Mami kepada Ivan.
"Hehe hehe. Iya Mi. Selama ini Bang Ivan nggak pernah memperhatikan jalan. Bang Ivan sibuk belajar aja di atas mobil Mi" ujar Sari yang menjawab perkataan dari Mami tadi.
"Sekali sekali menikmati perjalanan boleh Van. Jangan hanya belajar terus" ujar Mami kepada Ivan.
"Iya Mi. Tapi Ivan mau sukses seperti Papi dan Ayah. Makanya Ivan terus belajar" jawab Ivan yang memang sangat mengidolakan sosok Ayah dan Papinya itu.
__ADS_1
Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang tidak ramai itu, sopir memberhentikan mobilnya di depan lobby rumah sakit. Setelah ketiga penumpangnya turun, barulah sopir pergi ke parkiran yang kemaren.
Mami, Ivan dan Sari kemudian berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Mereka akan menuju ruang rawat Danu. Kali ini Mami tidak menggunakan lift menuju ruangan VVIP. Mereka sengaja naik tangga sebagai pengganti olahraga yang suda jarang dan bisa dikatakan tidak pernah dilakukan lagi semenjak Danu masuk rumah sakit.
"Huft capek Sari, Mi" ujar Sari yang sudah ngosngosan saat naik jenjang yang lumayan banyak itu.
"Sama Sari, Mami juga udah capek" ujar Mami yang nafasnya juga sudah tersengal sengal.
"Mami juga ngikutin ide Bang Ivan. Kalau Bang Ivan mah udah terbiasa jalan kaki kemana mana Mi" ujar Sari memberengut. Dia benar benar kelelahan karena ikut berjalan kaki menuju ruangan VVIP yang terletak di lantai tiga rumah sakit itu.
"Dikit lagi ayuk nanggung. Cuma tinggal lima belas anak tangga lagi" ujar Ivan yang sudah kembali lagi melihat Adik dan Mami yang duduk di tangga rumah sakit.
"abang sarap. Capek tau Bang" ujar Sari dengan nada kesal kepada Danu.
"Mau abang gendong?" tanya Ivan kepada Sari.
"Mau" jawab Sari.
Ivan kemudian menaikkan Sari ke atas punggungnya. Dia menggendong adik semata wayangnya menuju ruang rawat Danu.
Mami yang melihat kelakuan Ivan dan Sari hanya bisa tersenyum saja. Mami tidak menyangka Ivan akan melakukan hal itu kepada Sari.
Akhirnya setelah sekian perjuangan yang harus dilalui Mami dan Sari, mereka sampai juga di depan ruangan rawat Danu.
Mami, Sari dan Ivan mengambil nafas terlebih dahulu di depan ruangan Danu. Mereka beetiga benar benar letih.
"Capek juga" ujar Ivan kepada Mami dan Sari.
"Nggak" jawab mereka berdua kompak kepada Ivan.
"haha haha haha, dilarang marah. Siapa suruh ikut jalan " ujar Ivan yang nggak mau disalahkan oleh Mami dan Sari
__ADS_1
Mami dan Sari kemudian membesarkan matanya kepada Ivan. Mereka tidak menyangka Ivan akan menjawab seperti itu.