Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Kampung #


__ADS_3

"Ibuk, emang selalu gitu ya Buk, Ibuk Ibuk di sini akan selalu datang setiap ada yang baru datang dari kota?" tanya Sari dengan nada heran.


"Bener Neng. Mereka semua rata rata ingin taunya luar biasa." jawab Ibuk sambil tersenyum.


"Apalagi ya Neng yang pulang itu anak perawan yang belum punya calon. Nah mereka akan luar biasa ingin taunya." Bapak mulai menggoda Vina dan Maya.


"Lah kami nggak ngapa ngapain kok bisa kena Pak?" ujar Maya protes.


"Lah bener itu nduk. Ibuk ibuk sini luar biasanya ingin tau kehidupan kamu berdua nduk. Apalagi ni ya semenjak kedatangan pria pria tampan dari kota beberapa waktu yang lalu. Mereka semakin ingin tahu kehidupan mu nduk." jawab Ibuk memberitahukan tentang kedatangan tiga pria tampan.


"Siapa Buk?" tanya Vina yang penasaran dengan orang yang dikatakan oleh Ibuknya itu.


"Mantan bos kamu nduk. Dia ke sini dengan dua orang temannya. Katanya satu waktu perkenalan diri dengan Bapak dan ibuk ngakunya pacar Maya." ujar Ibuk memberitahukan siapa yang datang mencari mereka ke kampung.


Vina melihat Maya dan Sari.


"Danu" ujar Vina kepada Maya dan Sari.


Mereka berdua kemudian mengangguk.


"Apa yang dikatakannya Buk?" tanya Vina yang penasaran dengan apa yang dikatakan Danu kepada kedua orang tuanya.


"Mereka bertiga ke sini mencari kamu Nak." jawab Ibuk memberitahukan apa yang ditanyakan Danu dan kedua sahabatnya.


"Terus Ibuk jawab apa?" tanya Vina.


"Ibuk jawab sesuai dengan yang kamu katakan kepada Ibuk kemaren nak. Ibuk tidak menambah dan tidak mengurangnya." jawab Ibuk.


Vina memeluk Ibuknya.


"Makasi Ibuk." jawab Vina.


"Apa ada yang kamu sembunyikan dari Ibuk, Nak?" tanya Ibuk sambil memegang wajah Vina.


"Nggak Buk. Nggak ada yang Vina sembunyikan dari Ibuk." jawab Vina.

__ADS_1


Ibuk menatap lama kedalam mata Vina. Ibuk sangat tau kalau Vina sedang dalam keadaan berbohong kepada dirinya.


"Nak, saat kamu sudah bisa mengatakan semuanya kepada Ibuk tolong katakan. Jangan menyimpan semuanya sendirian." ujar Ibuk.


Vina mengangguk.


"Vina akan ngomong ke Ibuk saat Vina sudah bisa meredakan semuanya." jawab Vina menyakinkan Ibunya itu.


Mereka kemudian melanjutkan obrolan ke cerita cerita seputar keadaan kampung Vina. Tepat jam sembilan malam, Bapak mengajak mereka semua untuk melaksanakan kewajiban dan setelah itu beristirahat untuk menyambut hari eso.


Vina masuk ke dalam kamar miliknya. Dia teringat dengan ponsel yang lama sudah tidak dilihatnya.


"Hidupkan nggak ya?" ujar Vina sambil membolak balik ponsel miliknya itu.


Vina yang ragu kembali meletakkan ponsel miliknya ke atas nakas. Dia kembali bermenung. Setelah cukup lama Vina kembali meraih ponsel tersebut. Dia sudah meyakinkan hati dan pikirannya untuk membuka ponsel lamanya itu.


Vina mencharge ponsel miliknya, ponsel tersebut sudah lama kehabisan batrai karena sudah lama tidak dipakai oleh Vina. Vina sangat penasaran dengan isi ponselnya. Vina ingin tau apakah Danu selama ini mencarinya atau tidak sama sekali.


Vina menunggu agak lama sampai batrai ponsel miliknya terisi. Setelah nampak batrai ponsel miliknya sudah tiga persen, Vina mengaktifkan ponsel tersebut. Vina kembali menunggu sampai ponsel siap digunakan kembali.


Dia melihat chat yang luar biasa banyaknya dikirim oleh Danu. Setiap lima menit sekali. Vina membaca semua pesan chat tersebut. Air matanya berlinang saat sebuah pesan suara yang dikirim oleh Danu.


'Sayang, aku tau aku salah karena menyembunyikan perihal Ranti kepada dirimu. Tetapi sayang, satu hal aku benar benar mencintaimu. Kembali sayang.' bunyi pesan chat yang dibaca Vina.


'Sayang ini ntah pesan keberapa yang aku kirim kepada dirimu. Tapi sama sekali tidak ada balasan. Jangankan balasan kamu baca aja tidak sayang. Sayang tolong kembali, dengar penjelasan aku sayang' pesan chat yang lainnya.


'Sayang, aku hari ini akan ke kampung kamu, aku sangat berharap bisa menemukan kamu di sana. Aku berangkat dengan Ivan dan Iwan.' bunyi pesan chat yang lain.


'Sayang ternyata kamu tidak ada di sana. Malahan orang tua kamu mengatakan kalau kamu tidak pernah pulang ke rumah. Sayang aku tau kamu marah, tapi tolong dengarkan penjelasan aku sayang' pesan chat berikutnya.


Vina sudah tidak bisa lagi membaca kelanjutkan pesan chat tersebut. Vina kemudian membuka aplikasi lain di ponselnya, ternyata hampir di setiap sosial media yang bisa melakukan komunikasi Danu selalu mengirim pesan untuk Vina.


"Bener bener lah tu orang nggak bisa bikin aku nyaman apa." ujar Vina dengan kesalnya.


Vina kemudian mengembalikan ponselnya ke dalam laci meja rias. Dia lupa untuk menonaktifkan kembali ponsel tersebut.

__ADS_1


Sedabgkan dibelahan daerah yang lain Danu sedang bekerja mendadak ingin melihat chatnya. Ternyata Danu melihat semua pesab yang dikirim pada satu layanan pesan chat sudah centang biru.


Danu tercengang, dia kemudian memeriksa pesan chat yang lain, ternyata semua pesan chatnya menyatakan kalau sudah dibaca.


"Yes" teriak Danu dengan kuat.


Dia tanpa sadar menari nari karena semua penungguannya selama ini dikira sudah berakhir.


Danu meraih ponselnya itu, dia mencium ciumi ponsel tersebut. Seandainya saat itu ada orang lain di dalam ruangan, maka ntah apa yang mereka pikirkan tentang Danu saat itu.


"Mending gue telpon." ujar Danu.


Danu menekan nomor Vina, tetapi sayangnya Vina keburu tersadar kalau dia belum mematikan ponselnya. Danu hanya mendengar seorang wanita menjawab panggilan telpon dari dirinya.


"Loh kok?" ujar Danu melihat ponselnya.


Danu seakan tidak percaya dengan jawaban dari ponsel miliknya. Dia kembali melakukan panggilan telpon dan hasilnya tetap juga sama. Hanya wanita itu lagi yang mengangkat panggilan dari dirinya.


"Sial, kenapa tidak dari tadi kepikiran untuk nelpon. Kenapa harus jogat joget. Sial." teriak Danu dengan kesal.


Danu terlihat perbikir panjang.


"Kalau semua pesan dibaca berarti dia di negara ini sekarang. Tidak di luar. Tapi dimanaya?" ujar Danu berpikir sendiri.


"Apa mungkin dia di kampungnya?" ujar Danu lagi.


"Tapi udah balik dari sana dan tidak ada tanda tandanya." lanjut Danu bermonolig sendirian.


"Apa harus ke sana lagi ya untuk meyakinkan diri aja?" ujar Danu bertanya.


"Tapi kerjaan sedang banyak nggak mungkin juga bisa ke sana."


"Arg ini bener bener gila bener bener gila." ujar Danu sambil meremas rambutnya.


"Cinta bener bener buat gue gila." teriak Dabu dengan emosi.

__ADS_1


Untung saja hari sudah malam, kalau tidak bibik di rumah pasti akan kaget mendengar teriakan Danu. Teriakan penuh kekesalan karena dia tidak bisa menghubungi kekasih tercintanya itu


__ADS_2