
"Vin" panggil Maya yang melihat Vina baru selesai memakai pakaiannya.
"Eh udah bangun loe, gimana rasa badan loe?" tanya Vina sambil berjalan menuju Maya yang masih berada di atas kasur.
"Sudah luar biasa baikannya, maaf ya Vin, gara gara gue sakit, kita jadi belum sampai juga di negara I" ujar Maya sambil menunduk lesu.
"Hay, tidak ada yang perlu dimaafkan dan meminta maaf, sakit itu datangnya dari siapa? Apa ada orang yang mau sakit? Gue rasa nggak ada orang yang mau sakit, jadi sekarang buang tu rasa bersalah dari dalam kepala cantik loe itu. Sekarang loe mandi, setelah itu kita akan terbang ke negara I. Apa loe nggak kangen dengan abang Ivan?" ujar Vina menggoda Maya.
Maya melempar bantal yang dipakainya tadi kepada sahabatnya itu.
"Hahahahahaha, bilang aja kangen, nggak usah jual mahal gitu. Gue paham kok." ujar Vina melanjutkan godaannya di pagi hari.
"Udah, gue mau mandi, gue udah nggak sabar mau ketemu bang Ivan tercinta gue." ujar Maya yang langsung memperlurus godaan dari Vina kepada dirinya itu.
"Nah gitu dong yang semangat jadi orang, apalagi ini mau ketemu dengan bang Ivan kan ya." ujar Vina sambil geleng geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu.
Sari yang baru selesai berpakaian masuk ke dalam kamar karena mendengar keributan antara Vina dan Maya.
"Ada apa Vin?" tanya Sari yang heran pagi pagi Maya dan Vina sudah ribut.
"Ada orang yang nggak sabar ingin ketemu sama bang Ivannya. Tu dia ngebut mandi." ujar Vina mengatakan perihal keributannya dengan Maya di pagi hari kepada Sari.
" Ooooooo, pantesan dia mandi sambil besenandung." ujar Sari.
Vina dan Sari kemudian bersiap siap, mereka akan sarapan ke restoran hotel, setelah itu akan langsung ke bandara dan terbang menuju negara I. Vina berencana akan menemui ke dua orang tuanya ke kampung halaman mereka. Vina juga akan membiarkan Maya untuk bertemu dengan Ivan di negara I.
"Haduh dua bos besar ini lama banget dandannya." ujar Maya yang terlihat telah rapi dan kembali bersemangat untuk melanjutkan penerbangan.
"Yey siapa yang nunggu siapa cobak" jawab Sari yang tidak terima dikatakan lama berdandan oleh Maya.
"Sari, kita ngalah aja ya, maklum orang yang lagi menanggung rindu. Jadi agak selalu benar, kita maklum aja ya." ujar Vina mulai lagi menggoda Maya.
"Bener juga ya Vin, ayuklah kalau begitu, semakin cepat kita sarapan, semakin cepat kita terbag, maka akan semakin cepat kita" ujar Sari sengaja menggantung kata terkahirnya.
"Bertemu bang Ivan" lanjut Vina dan Sari bersamaan.
"Huf dasar sahabat nggak ada akhlak." ujar Maya.
__ADS_1
Mereka bertiga kemudian turun menuju restoran, mereka akan sarapan terlebih dahulu baru setelah itu berangkat menuju bandara kemudian terbang deh ke negera I.
Sarapan mereka bertiga dilalui dengan tanpa ada obrolan yang berarti, mereka masih tetap dengan gaya mereka obrolan receh pengantar pagi yang selalu mereka lakukan setiap harinya. Setelah setengah jam melakukan sarapan, mereka akhirnya sudah berada di dalam mobil untuk berangkat menuju bandara dengan diantar oleh mobil dari hotel tempat mereka menginap.
Mereka melakukan boarding pass untuk menaiki pesawat pribadi yang ternyata pesawat sudah berada di runway, hanya tinggal menunggu kedatangan penumpang, setelah melakukan semua administrasi untuk penerbangan, Vina, Maya dan Sari naik ke dalam pesawat mereka, Juan dan co pilot serta cru sudah bersiap di posisi mereka masing masing.
"Selamat pagi Nona Nona yang cantik, penerbangan akan kita lanjutkan kembali menuju negara I, semoga dalam penerbangan kali ini tidak ada yang kembali sakit ya." ujar Juan menggoda Maya.
"Makasi Juan" jawab Maya sambil berteriak dari kursinya.
"Penerbangan kali ini akan memakan waktu selama empat jam, dan tidak ada transit, kita akan mendarat di bandara negara I diprediksi pada pukul tiga sore waktu negara I, jadi bagi penumpang yang ingin dijemput oleh Babang tersayang silahkan disuruh menunggu di terminal F pada pukul dua siang, agar tidak terlambat menjemput." ujar Juan kembali menggoda Maya.
"Perasaan seluruh orang hari ini menggoda gue, apa gue sedang ulang tahuan ya Vin? Tapi gue rasa nggak, ultah gue masih dua bulan lagi." ujar Maya yang nggak habis pikir, semua orang hari ini membully dirinya.
"Hahahaha, itu karena kami perhatian dengan elo, bukan membully elo." jawab Vina sambil mengacak rambut Maya sahabatnya.
"Yah hancur dah tu rambut." ujar Sari
"Udah ah jangan gue mulu yang jadi targetnya." ujar Maya sambil menatap kedua sahabatnya itu.
"Hahahaha, oke oke sayang. Kami tidak akan membuli dirimu lagi." ujar Vina mengakhiri meledek Maya yang terlihat sudah mulai gerah dengan hal itu.
Semua penumpang sibuk dengan ponsel mereka masing masing, ntah apa yang mereka lakukan hanya mereka yang tau. Setelah lelah dengan ponsel masing masing, mereka bertiga memilih untuk istirahat terlebih dahulu. Mereka akan terbang masih lumayan lama yaitu dua jam penerbangan lagi.
"Nona maaf, bisa duduknya diperbaiki, kita akan melakukan pendaratan." ujar salah satu pramugari kepada Vina yang tidurnya luar biasa berantakannya.
Maya dan Sari yang sudah bangun dari tadi, hanya bisa senyam senyum saja melihat Vina yang dibangunkan oleh pramugari.
"Makanya tidur tu jangan lasak, ditegurkan ya." ujar Maya membalas Vina.
"Ye yang namanya juga orang tidur, mana ada bisa mikir tidur yang bagus kayak apa, ada ada aja loe." ujar Vina yang nggak mau kalah itu.
Sari yang menyaksikan keributan dua sahabat itu hanya bisa tersenyum saja, dia benar benar gagal paham dengan keakraban dua makhluk cantik itu.
Juan mendaratkan pesawatnya dengan sangat mulus di landasan bandara negara I. Para penumpang kemudian turun dan membawa bagasi mereka masing masing. Masing masing dari mereka hanya membawa satu koper kecil. Mereka berjalan melewati pintu terminal F.
Maya yang memang sudah memberitahu kepada Ivan kalau dia akan datang ke negara I sama sekali tidak menyangka kalau akan ditunggu Ivan di terminal F. Pria tampan itu terlihat sudah berdiri dengan membawa seikat bunga mawar merah di depan pintu keluar terminal F. Ivan memakai baju kemeja warna hitam dan jins warna senada serta kacamata yang juga dengan warna senada, yang berbeda hanya sepatu yang dipakai Ivan berwarna putih. Maya yang melihat kekasih yang selama ini dirinduinya sudah berdiri di sana, langsung berlari dengan melepaskan barang barang yang dibawanya. Sari yang melihat tingkah kakak iparnya itu hanya bisa membawa koper milik Maya.
__ADS_1
"Untung aja kakak ipar, kalau ndak udah gue buang ne barang." ujar Sari sambil menarik koper milik Maya.
Vina yang melihat tingkah Maya hanya bisa menggeleng pasrah saja. Sahabatnya itu benar benar terlihat sangat merindui kekasihnya itu.
Maya berlari dan langsung berhamburan masuk ke dalam pelukan Ivan. Untung saja Ivan sudah siap siaga dengan pelukannya, kalau tidak maka Maya akan nyungsep memeluk tiang bandara.
"Hay main peluk aja, loe kira orang di sini pada ngontrak." ujar Vina menegur tingkah Maya.
"Hehehehehehe, Maaf Vin, lagian kangen juga, jadi main peluk aja langsung." ujar Maya sambil melepaskan pelukannya dari Ivan.
"Oh ya sayang, kenalin ini sahabat baru kami di negara U, kenalkan namanya Sari." ujar Maya sambil memperkenalkan Sari kepada Ivan.
"Sari" ujar Sari mengenalkan dirinya kepada Ivan
"Ivan" jawab Ivan.
Vina menatap lama Ivan dan Sari, Vina menemukan raut raut kemiripan di wajah kedua orang itu, tetapi Vina menepis kemungkinan itu.
'Ah orang di dunia inikan memang ada yang mirip. Kebetulan kali aja Sari mirip dengan Ivan' ujar Vina menepis kecurigaannya.
Setelah temu kangen itu, mereka kemudian memutuskan untuk meninggalkan bandara dan langsung menuju hotel yang sudah dipesan Vina melalui aplikasi di ponsel miliknya, mereka kali ini naik mobil yang dikemudikan oleh Ivan.
"Bang, udah beli mobil aja loe? Baru itungan bulan kami tinggalin, loe udah beli mobil aja bang, naik jabatan loe?" tanya Vina yang keluar aslinya itu.
"Mana ada, mobil kantor" jawab Ivan yang merendah.
Padahal mobil yang dipakainya sekarang itu adalah mobil miliknya yang selama ini terparkir indah di bagasi mobil Ayahnya.
"Bang, loe nggak ngomong ke dia kan kalau gue datang ke sini?" ujar Vina yang nggak ingin kedatangannya ke negera I diketahui oleh Danu.
"Nggak Vin, tenang aja. Gue aja tadi ngomong mau jemput saudara gue ke Dia." ujar Ivan sambil menggenggam tangan Maya.
"Mau nyebrang bang?" tanya Sari saat melihat Ivan selalu menggenggam tangan Maya.
"Makanya pacaran" ujar Maya dan Ivan kompak.
"Loh sayang, kamu kok tau Sari belum pacaran?" tanya Maya kepada Ivan.
__ADS_1
"Tengok aja dari gayanya sayang, kalau orang pacaran pasti nggak akan risih nengok orang genggaman tangan." ujar Ivan sambil menggoda adiknya itu.
"Mulai" ujar Sari lagi.