Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Negara U


__ADS_3

Mereka bertiga akhirnya sampai juga di depan ruangan dokter yang akan menjelaskan bagaimana kondisi Danu saat ini kepada mereka.


"Silahkan masuk Tuan dan Nyonya" ujar dokter mempersilahkan Papi dan Mami Danu untuk masuk ke dalam ruangannya yang sangat besar itu.


Papi, Mami dan Paman kemudian masuk ke dalam ruangan dokter tersebut.


"Silahkan duduk" ujar dokter mempersilahkan Papi, Mami dan Paman untuk duduk di kursi yang berada di depan meja kerja dokter.


Papi, Mami dan Paman kemudian duduk di tiga kursi itu sambil memandang satu sama lain dengan tatapan mengandung pertanyaan yang tidak bisa diungkapkan oleh mereka bertiga.


"Saya hubungi perawat dulu untuk mengantarkan hasil pemeriksaan media terhadap pasien" ujar dokter yang akan menghubungi perawat supaya membawa hasil MRI milik Danu ke dalam ruangan dokter.


Dokter kemudian menghubungi perawat bagian MRI. Dokter menyampaikan apa tujuannnya menghubungi perawat itu, yaitu meminta untuk mengantarkan hasil MRI dari pasien bernama Danu keruangan dokter sekarang juga.


"Dokter bagaimana dengan keadaan anak kami?" tanya Papi yang sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui kondisi Danu yang sebenarnya.


"Tunggu sebentar Tuan Sanjaya. Kita harus menunggu hasil dari MRI yang diantarkan oleh perawat. Sebelum itu sampai saya tidak bisa mengatakan kondisi sebenarnya dari pasien" ujar Dokter menyampaikan kepada keluarga pasien.


"Baiklah dokter kami paham" ujar Papi yang mengerti dengan apa maksud perkataan dari dokter tadi.


Mereka kemudian duduk sambil terdiam satu sama lainnya. Mereka saling memandang satu dengan yang lainnya. Dalam pikiran keluarga Danu, mereka sibuk bertanya tanya apa yang terjadi dengan Danu saat ini.


Bertepatan dengan mereka sama sama terdiam, telpon ruangan dokter berdering nyaring. Dokter melihat itu telpon dari ruangan IGD tempat Danu di rawat.


Dokter mengangkat panggilan gawat darurat tersebut.


"Hallo dengan dokter Thompson di sini" ujar dokter saat mengangkat panggilan telpon tersebut


"dokter pasien Danu mengalami kejang kejang. Dokter kami minta ke sini sekarang juga" ujar seseorang yang menelpon dari bagian IGD.


"baiklah saya akan kesana sekarang juga. Terimakasih atas informasinya" ujar dokter Thompson sambil menutup panggilan telpon dari ruang IGD.


"Tuan dan Nyonya, mari kita ke IGD, Danu mengalami sesuatu di sana" ujar dokter mengajak keluarga dari pasien Danu untuk menuju ruangan IGD.

__ADS_1


"Apa yang terjadi dokter?" tanya Papi kepada dokter Thompson yang bergerak dengan sangat cepat itu.


"Saya juga belum mengetahui secara pasti apa yang terjadi tuan. Saya hanya mengetahui kita harus ke bagian IGD sekarang juga" ujar dokter Thompson yang sudah berjalan meninggalkan ruangannya untuk menuju IGD. Dokter Thompson sama sekali tidak membuang buang waktu. Papi dan Mami serta Paman bergerak cepat mengikuti langkah kaki dokter Thompson yang panjang panjang itu.


"Dokter ini hasilnya" ujar perawat memberikan hasil pemeriksaan MRI kepada dokter Thompson.


"Terimakasih" jawab dokter sambil tetap berjalan ke ruang IGD.


Mereka semua berjalan dengan sangat bergegas seperti ada sesuatu yang mengejar dari belakang mereka.


"Papi, ada apa dengan Danu, Papi" ujar Mami yang sudah mulai cemas dengan kondisi anaknya itu.


"Papi juga belum mengetahuinya Mami. Kita sabar dulu ya, sampai di IGD. Dokter pasti akan mengatakan apa yang terjadi kepada kita" ujar Papi menenangkan Mami agar tidak terlalu merongrong dokter Thompson untuk mengatakan apa yang terjadi terhadap Danu.


Akhirnya setelah berjalan begitu cepatnya, mereka telah sampai di IGD. Seorang dokter langsung menyambangi dokter Thompson. Mereka berdua berbicara dalam bahasa medis. Sampai sampai Papi, Mami dan Paman tidak mengetahui apa yang mereka berdua bicarakan.


"Tuan, maaf sebelumnya. Kami dengan terpaksa harus mengatakan hal ini kepada Tuan dan Nyonya" ujar dokter Thompson sambil sedikit berusaha menenangkan perasaannya.


"Tidak anak aku tidak. Jangan dia Tuhan. Aku saja tuhan" teriak Mami yang langsung jatuh pingsan saat mendengar apa yang dikatakan oleh dokter Thompson.


"Suster" teriak salah satu dokter.


Para suster mengangkat Mami, dan membaringkan Mami di atas sebuah brangkat. Dokter kemudian melakukan pemeriksaan dan berusaha membuat Mami kembali sadar.


"Dokter, kenapa bisa anak saya koma dokter?" tanya Papi yang berusaha menguat nguatkan pikiran dan perasaan nya saat ini.


Papi yang sebenarnya juga sudah mau pingsan itu, di pegang oleh Paman. Paman tidak mau kakaknya juga ikut pingsan di sana.


"Mari ikut saya Tuan" ujar Dokter Thompson membawa Papi dan Paman masuk ke dalam salah satu ruangan yang ada di sana.


Dokter Thompson kemudian meletakkan hasil MRI di alat untuk membaca hasil MRI tersebut.


"Dalam hasil MRI terlihat ada pendarahan dan pembengkakan yang terjadi di otak Danu karena kecelakaan itu Tuan" ujar dokter Thompson memberitahukan apa yang terjadi dengan otak Danu.

__ADS_1


"Sehingga hal ini mengakibatkan Danu menjadi koma." lanjut dokter Thompson memberitahukan semuanya kepada Papi dan Paman.


"Terus apa yang bisa kita lakukan dokter?" tanya Papi yang sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa apa lagi


"Kita akan melakukan tindakan operasi. Tetapi kita harus menunggu Danu terlepas dari komanya terlebib dahulu" ujar dokter Thompson sambil menatap Papi dan Paman bergantian.


"Baiklah dokter, kami akan mengikuti semua arahan dari dokter" ujar Papi.


"Kami menyerahkan semua yang terbaik untuk anak kami kepada dokter" lanjut Papi yang sudah pasrah saja mendengar kondisi anak semata wayangnya itu.


"Apakah kami berdua bisa melihat ke adaan Danu, dokter?" tanya Paman mewakili Papi yang sudah tidak bisa berkata apa apa lagi.


"Bisa Tuan. Tapi hanya dari kaca jendela saja Pasien sudah kami tempatkan ke ruangan ICU" ujar dokter memberitahukan kepada Papi dan Paman dimana sekarang Danu di rawat.


"Tidak apa apa dokter, bagi kami yang terpenting adalah bisa melihat kondisi anak kami" ujar Paman dengan nada sedih yang tidak bisa ditutupinya lagi.


"Baiklah Tuan. Mari ikut saya. Saya akan antarkan Tuan ke ruangan Danu" ujar dokter Thompson yang bisa mengerti dengan keadaan kedua orang yang ada di depannya saat ini. Betapa hancurnya hati mereka saat mendengar keadaan Danu seperti apa sekarang ini.


Mereka bertiga kemudian berjalan menuju ruangan ICU tempat Danu di rawat. Ruangan tersebut tidak beberapa jauh dari tempat mereka bertiga tadi mengobrol tentang kondisi Danu saat ini.


"Tuan, itu Danu" ujar Paman menunjukkan kepada Papi dan Paman Danu yang terbaring lemah di atas brangkar rumah sakit. Keadaan Danu semakin mengenaskan dengan slang slang yang tersambung ke tubuhnya.


"Sayang" ujar Papi mengusap kaca jendela seperti mengusap Danu.


Dokter Thompson kemudian berjalan menjauh dari dua pria yang terlihat sangat lemah itu sekarang.


"Kamu harus kuat ya Nak. Kamu nggak mau kan membuat Papi dan Mami menajdi sangat sedih melihat kamu seperti ini" lanjut Papi sambil berusaha menahan air matanya.


"Danu harus sembuh. Papi, Mami dan Paman akan mengusahakan semua cara agar Danu kembali sehat dan ceria lagi" lanjut Papi.


Papi kemudian berjalan menjauh dari depan kaca jendela itu. Papi sudah tidak kuat lagi melihat keadaan Danu yang terbaring lemah tersebut.


Paman yang dari tadi tidak bisa berkata apa apa. Akhirnya juga memilih untuk duduk di sebelah Papi. Paman tidak sanggup melihat kondisi Danu seperti sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2