
"Gue tau loe tau sesuatu. Tapi loe berusaha menutupi semuanya." ujar Ivan kepada Vina.
Vina menatap Ivan. Ivan membalas tatapan Vina dengan tersenyum. Vina yang melihat Ivan tersenyum langsung memalingkan wajahnya dari Ivan.
Danu yang selesai membersihkan dirinya keluar dari dalam kamar mandi. Dia sudah memakai baju ganti miliknya yang terakhir dibawakan oleh Iwan.
"Kalian berdua udah makan belum?" tanya Danu kepada ke dua staffnya itu.
"Mana sempat, perintah Boss aja sangat keras." ujar Ivan menjawab sambil menatap ke arah Maya.
Maya yang ditatap Ivan kembali menatap pria tampan dan mapan itu. Vina melihat semua kejadian tersebut, Danu dan Iwan juga menyaksikannya.
"Hahahahaha. Ada cinta diantara kita berdua." ujar Iwan sambil bernyanyi.
Buk. Sebuah tinju mendarat di kepala Iwan.
Plak, lagi sebuah tepukan mendarat di pundak Iwan.
"Kompak banget." ujar Danu yang ikut menggoda sepasang anak manusia yang tidak berani mengungkapkan rasa itu.
Maya hanya bisa terdiam menikmati sindiran dari Bos sekaligus kekasih sahabatnya itu. Sedangkan Ivan hanya bersikap santai saja, dia sama sekali tidak menanggapi obrolan receh kedua bosnya di kantor tetapi sahabat di luar kantor.
"Sayang, aku ke luar bentar ya." ujar Danu kepada Vina.
"Iya sayang." jawab Vina sambil menggenggam tangan Danu dan memberikan Danu senyumannya.
Danu dan kedua sahabatnya berjalan meninggalkan ruang rawat Vina. Mereka menuju cafe yang terletak di seberang rumah sakit.
Mereka memesan makanan yang akan dijadikan menu makan malam. Sambil menunggu pesanan mereka datang, mereka bercakap cakap ringan saja.
"Ada apa loe nyuruh kami berdua ke rumah sakit Dan?" tanya Iwan yabg dari tadi mulutnya sebenarnya udah gatel mau bertanya kepada Danu.
"Gini dari pagi Gue kan sama Vina terus. Dia kelihatan sangat aneh. Maunya manja terus. Padahal selama gue menjalin hubungan dengan dia, dia nggak pernah manja kayak gini. Makanya gue jadi heran." ujar Danu.
"Nah itu bagus kalau dia manja. Tandanya ada peningkatan dalam hubungan." ujar Iwan yang kesal mendengar alasan Danu menyuruh mereka datang.
"Kutu kupret tau nggak loe. Gue jadi takut kalau dia seperti ini. Nggak seperti biasanya dia kayak gini. Gue heran." ujar Danu sambil memukul kepala Iwan dengan lap tangan.
"Takut kenapa?" tanya Iwan yang memang gagal paham dengan semuanya.
"Gue takut aja." jawab Danu yang juga tidak tau dia takut kenapanya.
"Huft gila loe. Gue kira loe tau dia kenapa. Perasaan loe aja itu. Dia emang lagi pengen manja sama loe aja itu." lanjut Iwan meyakinkan Danu.
"Semoga aja apa yang loe katakan bener Wan." jawab Danu mencoba mengusir keraguannya.
__ADS_1
"Makanya, dari jauh jauh hari gue dan Ivan ngomong. Cerita Dan, loe ngeyel. Sekarang saat Vina manja manja loe berpikiran buruk kan." lanjut Iwan semakin membuat Danu cemas.
"Tadi loe nenangin gue. Sekarang bikin gue cemas. Apa mau loe Iwan terawan terawan." ujar Danu dengan menekankan setiap kata kata yang dikeluarkan dari mulutnya.
"Hahahaha. Gue becanda kali Dan. Loe jangan anggap serius gitu." jawab Iwan yang nggak mau disalahkan oleh Danu.
"Udah udah ribut nggak guna ini juga ngapain dilanjutin. Mending makan. Laper ini." ujar Ivan menengahi keributan nggak faedah antara Danu dan Iwan.
Mereka bertiga kemudian menyantap makan malam yang ada di depan mereka masing masing. Mereka makan sambil ngobrol beberapa hal.
"Van gimana dengan desain proyek milik Soepomo Grub?" ujar Danu yang teringat dengan proyek kerjasama dengan perusahaan terkenal itu.
"Sedang on progress Bos. Semoga nanti malam siap. Tinggal finising lagi." jawab Ivan yang mendapatkan kepercayaan dari Danu untuk menjalankan kerjasama dengan perusahaan Soepomo.
"Oh ya Bang. Denger bunyinya perusahaan Soepomo dibeking kuat sama perusahaan GA Grub." ujar Ivan memberikan informasi yang di dapatnya dari selentingan selentingan dari luar.
"Maksud kamu?" tanya Danu dan Iwan bersamaan.
"Maksud gue ne ya. Perusahaan Soepomo kan kemaren sempat goyah, nah yang menyelamatkan mereka itu adalah Perusahaan GA Grub." ujar Ivan.
"GA Grub? Gue kok baru denger ya?" ujar Danu.
"Gue juga baru denger Bang. Makanya gue penasaran seberapa kuat tu perusahaan GA Grub." ujar Ivan.
"Nanti di rumah sakit kita cari tau lewat internet." ujar Danu.
"Iya ya, kenapa gue mendadak oon." ujar Ivan sambil mengusap kepalanya yang dipukul Iwan.
"Karena mikirin Maya." ujar Danu dan Iwan bersamaan.
"Nah itu bener. Sayang nya tu cewek nggak mikirin gue." ucap Ivan dengan wajah yang dibuat menjadi sesedih mungkin.
"Hahahahahahaha." Danu tertawa keras sehingga dia menjadi pusat perhatian semua orang.
"Makanya utarakan. Emang mau jomblo selamanya." ujar Iwan.
"Lah kayak yang nggak jomblo aja. Malahan lebih parah kejombloan loe dari pada gue kalez bang." ujar Ivan sambil menoyor kepala Iwan.
Mereka terus saja ngobrol. Tiba tiba ponsel milik Danu berdering. Danu melihat nama My Love terpajang di sana. Danu mengangkat panggilan telpon tersebut.
"Hallo, ada apa sayang?" tanya Danu kepada wanita yang dicintainya itu.
"Sayang masih lama di luar??? Maya mau pulang sayang." ujar Vina sambil menatap Maya dengan tatapan memanas manasi.
"Nggak kok. Ini udah siap. Kami mau ke sana lagi." jawab Danu yang langsung menghentikan makan malamnya yang masih tersisa seperempat lagi itu.
__ADS_1
"Oke sayang. Aku tunggu ya. Aku mencintaimu." ujar Vina dengan tersenyum. Senyum yang cukup getir yang dirasakan oleh Vina.
"Aku juga mencintaimu sayang." jawab Danu dengan bangganya di hadapan kedua orang sahabatnya.
Danu menutup panggilan telpon itu. Dia langsung berdiri dari duduknya.
"Ayuk ke rumah sakit." ujar Danu sambil melangkahkan kakinya meninggalkan meja mereka.
"Selingkuh itu memang indah." teriak Iwan dan Ivan.
Mereka berdua dihadiahi tatapan tajam dari Danu.
"Hahahahaha. Dia marah." ujar Iwan.
Iwan dan Ivan mengejar Danu. Mereka menepuk pundak Danu.
"Makanya jelasin." ujar Iwan.
"Tunggu dia sehat." jawab Danu.
Mereka bertiga menuju rumah sakit tempat Viba di rawat.
Danu membuka pintu ruang rawat Vina.
"Kamu mau pulang May?" tanya Danu kepada Maya.
"Iya kak. Besok ada pesanan yang harus disiapkan." jawab Maya mengatakan alasannya untuk pulang.
"Oh oke. Kalau gitu kamu diantar Ivan aja." ujar Iwan menyambar perkataan Danu.
"Bener antar Ivan aja. Sekalian Ivan singgah ke rumah saya untuk mengambil baju ganti saya." ujar Danu memberikan alasan yang tepat untuk sepasang muda mudi yang memiliki rasa ke masing masingnya.
"Oke baiklah. Tapi apa kak Ivan mau?" tanya Maya.
"Mau, kalau kamu tidak keberatan." jawab Ivan.
"Oke. Aku tidak keberatan ayuk jalan." balas Maya.
Mereka berdua meninggalkan kamar rawat Vina.
Danu berjalan menuju ranjang Vina.
"Kamu istirahat. Minum obat sudahkan?" tanya Danu yang melihat tempat obat Vina sudah kosong.
"Sudah. Ini mau istirahat. Ngantuk." ujar Vina.
__ADS_1
"Tapi kamu duduk di situ ya. Aku mau pegang tangan kamu." ujar Vina
Danu mengangguk. Dia menggenggam tangan Vina. Vina perlahan menutup matanya. Dia perlahan masuk ke alam mimpinya. Danu juga perlahan memejamkan matanya. Sedangkan Iwan memilih untuk menonton televisi sambil menunggu kedatangan Ivan.