Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Mie rebus


__ADS_3

"Nah kan Daddy bermaksud baik. Sayang udah dulu ya. Kamu hati hati di sana. Jagain dua calon kakak ipar kamu." ujar Direktur.


"Tenang Daddy. Mereka berdua itu keren." ucap Sari memuji kedua calon kakak iparnya.


Ayah dan anak itu mengakhiri panggilan video mereka. Mereka kemudian melanjutkan pekerjaan masing masing.


Vina yang mendengar Sari sedang melakukan panggilan dengan seseorang membatalkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan Sari. Vina kembali menuju ruangannya sendiri.


Sari mengerjakan beberapa tugasnya untuk memeriksa beberapa laporan yang belum selesai. Sari mengerjakan sampai waktu pulang kantor.


"Sari, loe mau pulang atau nggak?" tanya Vina saat melihat Sari masih fokus membaca laporannya.


"Iya Vin nanggung dikit lagi." ujar Sari menjawab pertanyaan Vina tanpa melihat le arah Vina.


Setelah selesai membaca semua dokumen yang tersisa. Sari berdiri dari kursi kerjanya.


"Selesai. Ayuk pulang." ujar Sari kepada Vina.


"Udah selesai?" tanya Vina meyakinkan Sari.


"Udah." jawab Sari.


Kedua pemimpin perusahaan CT Grub berjalan menuju lobby perusahaannya. Mereka berdua berbincang bincang ringan. Vina duduk di kursi penumpang sedangkan Sari duduk di kursi pengemudi.


"Sari, tadi gue denger loe ngobrol di telpon. Loe ngomong ada supraice. Kalau boleh gue tau ada apa ya?" tanya Vina sambil menatap Sari.


"Oh itu Vin. Abang gue akan pulang. Dia udah sekitar tiga tahunan berada di luar. Jadi tadi ayah gue ngomong dia akan pulang. Makanya gue seneng banget." ujar Sari dengan nada antusias bercerita.


"Oh, jadi kakak kamu akan datang. Kalau boleh tau dia selama ini di negara mana ya?" tanya Vina mulai kepo. Vina mau kepo larena Sari memberikan angin segar.


"Dari negara I Vin." jawab Sari dengan jujur.


"Sama dengen gue dan Maya berarti. Tapi sayangnya negara I sangat luas. Jadi gue nggak yakin pernah bertemu dengan kakak loe." ujar Vina.


"Kayaknya Vin. Tapi mana tau loe pernah ketemu di jalan kan ya. Tapi karena loe nggak tau itu kakak gue atau bukan makanya sekarang loe bisa ngomong belum ketemu." ujar Sari kembali.

__ADS_1


"Iya juga ya Sar. Gue belum pernah ketemu kakak elo juga, dengan pedenya gue ngomong gue nggak pernah ketemu. Hahahahahaha." ujar Vina tertawa dengan kebodohan simpel yang dilakukannya.


"Hahahaha. Santai aja kali Vin. Beranggapan kan nggak apa apa asal jangan main tuduh aja." ujar Sari menjawab dengan santai.


Karena obrolan ringan yang ada mutu dan tidaknya itu, mereka berdua akhirnya sampai juga di rumah Vina.


"Singgah dulu Sar. Gue rencana mau masak makanan terlezat senegara I." ujar Vina.


"Makanan terlezat? Hari udah malam gini? Apa masih sempat?" tanya Sari dengan nada tidak percayanya.


"Sempatlah. Dimana pula dak sempatnya coba." ujar Vina dengan yakin.


"Yakin?" tanya Sari kembali.


"Yakin" jawab Vina dengan pastinya.


Merela berdua turun dari dalam mobil dan berjalan menuju rumah utama. Vina yang malas ganti pakaian langsung menuju dapur, dia hanya melepas blezer terluar pakaiannya saja dan menggulung asal rambut panjang bergelombangnya itu.


Vina mengeluarkan semua yang dibutuhkan olehnya. Vina mulai menggiling kedua bawah yang berseteru tetapi membuat masakan menjadi enak. Kemudian dilanjutkan memotong bumbu tambahan yang lainnya. Selesai dengan semua bumbu Vina menumis bumbu halus yang membuat Maya berhenti mendadak di ujung tangga.


"Vin loe masak itu ya?" tanya Maya saat melihat ada Sari duduk di meja bar.


"Yup. Kangen gue makan itu. Loe udah makan malam?" tanya Vina sambil tetap fokus memasak.


"Udah dikit. Tapi demi makanan yang satu itu gue rela makan lagi." ujar Maya mengambil sendok dan garpu kemudian langsung duduk di kursi sebelah Sari.


"Emang makanan apa yang mau dimasak Vina, May?" tanya Sari yang memang dari tadi sudah penasaran juga.


"Sesuatu yang lezat. Semenjak kami pindah ke mari belum pernah sekalipun kami makan itu. Ini perdana." ujar Maya sambil menatap Sari.


Vina terlihat lues di dapur. Vina bergerak dengan konstan. Vina mengambil beberapa jeruk besar dan membelah menjadi dua bagian. Vina memeras jeruk tersebut. Setelah itu Vina memasukkan air jeruknya kedalam teko memberinya es batu serta ice cream.


Selesai membuat jus jeruk, Vina melihat kembali masakannya. Ternyata makanan yang dibuatnya sudah bisa dipastikan mateng. Vina menuang masakannya ke dalam tiga mangkok besar. Dia menambahkan beberapa toping untuk membuat masakan itu menjadi semakin nikmat.


"Ayuk makan." ujar Vina sambil menaruh dua mangkok makanan di hadapan Maya dan Sari.

__ADS_1


Sari menatap makanan yang berada dalam mangkuk.itu. betapa terkejutnya Sari saat melihat makanan yang terhidang adalah semangkok mie rebus dengan berbagai toping yang membuat air liur menetes.


"Viba ini bukannya mie yang terkenal lezat itukan ya?" ujar Sari sambil menatap mangkuk makanan yang ada di depan matanya.


"Yup. Ini makanan terlezat dari negara I. Apalagi dimakan dalam keadaan cuaca dingin. Hem makin bikmat dia." ujar Vina sambil mengambil sumpit miliknya.


"Ayuk makan. Nanti cerita. Keburu jadi cacing dia nanti." ujar Maya yang perutnya sudah separo demo.


Mereka bertiga menikmati mie rebus penggugah selera makan buatan Vina. Mereka bener bener menikmati makanan cepat saji yang tidak setiap hari bisa mereka nikmati.


"Ini bener bener wow Vin. Gue udah lama banget nggak makan ini. Palingan waktu gue umur berapa gitu, saat gue liburan ke negara I." ujar Sari sambil membersihkan sisa sisa kuah mie di sudut bibirnya.


"Hahahahahahaha. Kami aja orang negara I jarang makan ini Sar. Bisa dibilang jarangnya dalam seminggu itu dua kali makan ini." ujar Maya sambil menahan tawanya.


"Seminggu dua kali mah banyak itu May, siapa bilang jarang." ujar Sari yang heran dengan kadar jarang Maya.


"Jarang dibandingin waktu ngekos dan masih kismin dulu. Tiap hari malahan gue makan mie rebus, kdang mie goreng. Malahan kadang ne ya. Mie sebesar ini di bagi dua lagi." ujar Maya menceritakan kisahnya sebelum dia tinggal dengan Vina dan memulai usaha mereka berdua.


"Udah jangan cerita yang aneh aneh. Jadi pembangunan kafe sampai mana May?" tanya Vina yang ingat dengan kafe mereka.


"Seperti yang gue bilang kemaren. Akhir bulan bisa kita tempati dan memulai usaha." ujar Maya dengan semangat.


"Oke sip. Nanti barang barng dari negara I akan dikirim memakai pesawat perusahaan aja. Kita numpang, kalau beli di sini nggak kuat uangnya." ujar Vina sambil tersenyum.


"Gue sama Rina yang milih ya Vin. Nanti kalau nggak gue yang milih salah konsep lagi." ujar Maya sambil menatap Vina dengan tatapan pengen banget ke negara I.


"Oke sip. Kamu yang pergi dengan Rina." jawab Vina yang sebenarnya memang ingin meminta Maya dan Rina untuk pergi membeli properti yang mereka butuhkan.


Mereka kemudian melanjutkan obrolan tidak receh tentang kafe yang akan dibuka mereka bertiga. Mereka membahas semua masalah properti yang akan dibeli dan menghitung berapa uang yang diperlukan.


Setelah hari larut malam, mereka bertiga beranjak tidur ke kamar masing masing. Hari ini Sari kembali menginap di rumah Vina.


...----------------...


maaf kakak udah lama nggak up. maaf banget ya kakak

__ADS_1


__ADS_2