
Direktur hanya bisa geleng geleng kepala mendengar permintaan aneh staff sekaligus anaknya itu. Permintaan yang sebenarnya gampang saja dilakukan, tetapi direktur tidak habis pikir Ivan harus datang ke ruangan hanya untuk mengatakan itu.
Direktur kemudian meraih telepon kantor. Dia memencet nomor yang langsung menuju telpon ruangan Danu. Danu yang sedang termenung kaget dengan bunyi dering telpon. Dia melihat tanda panggilan dari direktur. Danu dengan malas mengangkat panggilan telpon itu. Dia membayangkan dirinya akan diminta untuk memegang jabatan direktur sekarang.
"Hallo Tuan Direktur." sapa Danu saat mengangkat panggilan dari direktur.
"Maaf sebelumnya Manager. Saya tadi mendapat telpon dari anak cabang di kota C kalau desain kerjasama perusahaan kita dengan perusahaan A di tolak. Para arsitek di sana sudah berkali kali membuat desain, tetapi selalu saja di tolak. Jadi saya sudah membuat punya usul untuk mengiram Ivan dan Iwan ke kota C, untuk membantu para pegawai dan staff di sana." ujar direktur.
Danu terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh direktur. Dia akan tinggal sendirian tanpa kedua sahabat baiknya itu.
"Manager, apa masih di sana?" tanya direktur.
"Ya saya masih di sini Tuan. Saya setuju dengan usul Tuan. Kapan mereka akan saya minta untuk berangkat?"
"Mereka akan berangkat malam ini juga. Lebih cepat mereka ke sana akan lebih cepat permasalahan ini selesai." ujar direktur sambil menahan tawanya. Demi anak laki lakinya yang sudah kangen kekasih itu, dia terpaksa harus berbohong dan memakai kekuasaannya.
"Baiklah Tuan, nanti berita ini akan saya sampaikan kepada mereka berdua." ujar Danu dengan wajah lesunya.
"Terimakasih Manager." jawab direktur sambil memutuskan sambungan telpon.
Danu memijit kepalanya yang tiba tiba saha menjadi luar biasa pusing karena mendengar berita yang luar biasa mencengangkan itu. Dia tidak menyangka dirinya akan ditinggal sendirian. Danu kemudian berjalan keluar ruangan. Suka tidak suka, Danu harus tetap meminta kedua staffnya untuk berangkat ke kota C.
Danu berjalan dengan gontai menuju tempat Ivan dan Iwan berada. Dia benar benar tidak ingin ditinggal sendiri.
"Iwan, Ivan. Saya ada perlu, bisa tinggalkan pekerjaan kalian sebentar?" tanya Danu kepada kedua staffnya itu.
Ivan dan Iwan meninggalkan pekerjaan mereka. Mereka menatap Danu dengan serius, mereka tau kalau ada sesuatu yang penting yang akan dibicarakan oleh Danu untuk saat ini.
"Jadi gini, kalian berdua diperintahkan oleh direktur untuk menuju kota C. Anak cabang perusahaan di sana membutuhkan kalian berdua untuk melancarkan kerjasama kita dengan perusahaan A." kata Danu memberitahukan pesan direktur kepada staffnya.
"Kapan berangkat Dan?" tanya Iwan yang sama sekali tidak tau kalau perusahaan di kota C sedang bermasalah.
"Malam ini juga." jawab Danu.
"Hah malam ini juga?" tanya Iwan kaget.
__ADS_1
"Iya malam ini juga." ujar Danu.
Ivan menatap Iwan. Ivan mengangguk memberikan kode kepada Iwan. Iwan kemudian mengikuti instruksi yang diberikan oleh Ivan.
"Ayok Bang, kita berangkat." ujar Ivan dengan semangat mengajak Iwan untuk pergi melakukan perjalanan ke kota J.
Danu yang melihat Ivan begitu semangat menjadi curiga dengan tingkah absurd Ivan. Danu memandang Ivan dengan sangat instens. Ivan yang tau sedang ditatap lama Danu masih tetap melakukan hal yang sama. Dia tidak mau Danu curiga dengan sikap dan gayanya yang mendadak diubah karena mendapatkan tatapan tajam dari Danu.
"Loe seneng luar biasa Van di suruh dinas luar ke kota C?" Danu akhirnya bertanya juga kepada Ivan, padahal Danu sudah berusaha untuk tidak bertanya.
"Semangatlah Bang, udah lama gue nggak ke kota C. Kapan lagi bisa dinas luar sambil menikmati keindahan kota C." jawab Ivan sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Iwan.
"Hem. Kalian cepat pergi dan cepat pulang." perintah Danu yang sebenarnya kesal ditinggal sendirian di kantor.
"Masalah gampang. Kalau urusan cepat selesai, kami cepat pulang. Kalau belum selesai terpaksa diselesaikan dulu."
Ivan dan Iwan kemudian menyiapkan perlengkapan yang harus mereka bawa. Padahal itu semua hanya kamuflase saja di depan Danu. Semua barang yang mereka bawa dari kantor akan ditinggal di rumah masing masing. Tetapi itu baru ada dalam otak Ivan. Ivan belum memberitahukan kepada Iwan tentang kemana mereka akan pergi hari ini.
Ivan dan Iwan berjalan meninggalkan kantor. Mereka menuju ke rumah masing masing mereka akan menyiapkan pakaian yang akan mereka bawa untuk perjalanan dinas ke kota C.
"Kita janjian di bandara jam tujuh malam Bang. Gue nggak bawa kendaraan. Loe gimana?" ujar Ivan.
"Sip. Elo nggak usah bawa laptop Bang. Gue aja yang bawa." ujar Ivan.
"Sip. Gue juga males bawa laptop." balas Iwan.
Mereka kemudian pergi meninggalkan parkiran kantor. Mereka akan kembali lagi bertemu pukul tujuh di bandara.
Tepat pukul tujuh Ivan sudah sampai terlebih dahulu di bandara. Dia benar benar sangat bersemangat untuk terbang ke kota J. Ivan terus saja melihat ke pintu bandara. Dia berharap Iwan cepat datang, jadi mereka bisa melakukan boardingpast.
Saat Ivan sudah mulai tidak sabaran menunggu kedatangan Iwan. Iwan masuk dengan menenteng tas ransel.
"Lama banget loe Bang."
"Macet. Mana tiket?" tanya Iwan menagih tiket yang dipesan oleh Ivan.
__ADS_1
Ivan memberikan tiket milik Iwan. Iwan membaca kota tujuan mereka.
"Kota J? Tapi kota C?" tanya Iwan menatap heran ke arah Ivan.
"J Bang. Ngapain ke C. Gue kangen dengan Maya. Loe kan penasaran dengan Vina. Nah mereka di kota J bersama adik gue." ujar Ivan.
"Jangan bilang kalau loe menggunakan kekuasaan Ayah?"
"Hahahaha benerlah. Masak nggak. Kalau nggak mana bisa kita pergi Bang. Berdua pula lagi. Loe nggak tengok ekspresi Bang Danu tadi." ujar Ivan sambil menahan tawanya yang sudah tidak bisa dia tahan lagi.
"Dasar loe." ujar Iwan sambil menoyor kepala Ivan.
"Sekali sekali bang liburan."
Mereka berdua kemudian melakukan chek in. Mereka tidak ingin ketinggalan pesawat untuk ke kota J. Mereka benar benar ingin menikmati liburan mendadak tanpa ada perencanaan itu.
Setelah menunggu proses penerbangan. Ivan dan Iwan masuk ke dalam pesawat. Mereka sangat bersemangat untuk melakukan dinas keluar kota minggu ini. Pesawat mulai lepas landas. Semua penumpang memilih untuk mengobrol dari pada tidur, karena penerbangan hanya dilalui selama satu jam.
Tak terasa pesawat sudah lending di bandara kota J. Ivan dan Iwan turun untuk mengambil barang barang bawaan mereka. Mereka berdua kemudian menuju hotel yang sudah dipesan Ivan melalui aplikasi hotel tersebut. Hotel yang sangat disukai Ivan. Kemanapun Ivan menginap, Ivan akan selalu memilih hotel tersebut untuk tempat menginap.
Setelah melakukan chekin kamar hotel. Mereka berdua kemudian menuju kamar. Ivan sengaja mengambil kamar yang suit terbesar di hotel. Mereka berdua akan memiliki kamar sendiri sendiri.
"Gue heran sama loe Van, setiap keluar kota loe pasti nginap di hotel yang sama. Ada apa antara loe dengan hotel ini?" tanya Iwan yang memang heran dengan pilihan hotel Ivan yang selalu sama setiap pergi ke kota manapun.
"Asik aja Bang. Nyaman juga nggak ribet. Yang terpenting adalah masakannya nyaman di mulut gue. Nggak neko neko dan nggak norak." jawab Ivan yang memang sangat sangat merecomend hotel tersebut.
"Jadi kapan ke tempat Maya?"
"Mereka besok mau ke kota Bang. Jadi kita pura pura ketemu nggak sengaja aja. Padahal kita udah janjian." ujar Ivan.
"Nah bukannya Vina akan curiga?"
"Nggaklah. Maya besok akan meninggalkan pinselnya di rumah. Sedangkan yang ngasih tau mereka dimana adalah Sari adik gue." papar Ivan.
"Tapi bang, loe jangan katakan kalau Sari adik gue ya. Mereka berdua nggak ada yang tau. Ini masih jadi rahasia kita berdua."
__ADS_1
"Oke. Gue paham maksud loe."
Ivan dan Iwan mengobrol ringan tentang berbagai hal. Obrolan ringan antar dua pria.