
"Siap Nona." jawab sopir saat Maya mengatakan daerah tempat tinggal Dian kawan lamanya di kampung.
"Jauh apa Pak?" tanya Maya lagi kepada sopir taksi online.
"Nggak Nona. Itu daerah pusat kota Nona." jawab supir taksi.
"Nona pertama kali datang ke daerah kami ini?" tanya sopir taksi yang melihat Maya tidak tau daerah yang cukup terkenal karena di sana tempat tinggal para orang kaya kota P.
"Benar Pak. Saya sudah lama tidak kemari. Makanya saya tidak tau daerah sini." kata Maya menjawab pertanyaan sopir taksi.
"Daerah sini asik untuk liburan Nona. Apalagi kalau Nona sempat pergi ke kota kota lainnya. Nona akan merasakan sensasi yang berbeda dengan daerah lain." ujar supir taksi yang ternyata cerewet walau dia Bapak Bapak.
"Jadi Nona ini maaf ya. Tujuan Nona ke kota ini liburan atau bagaimana?" tanya sopir taksi dengan sopan kepada Maya.
"Liburan Pak. Saya habis dari ibu kota. Capek lihat macet terus. Jadi, saya milih ke sini aja. Kata orang di sini ada raja ampatnya Pulau S." kata Maya menceritakan kenapa dia memilih liburan ke pulau S.
"Benar Nona. Di sini memang ada raja ampatnya. Tetapi tidak di kota ini. Kota tetangga. Perjalanan ke sana dari sini sekitar dua jam lah Nona kalau lewat jalan baru." ujar sopir taksi memberitahukan lama perjalanan menuju tempat yang dikatakan oleh Maya tadi.
"Nggak lama juga ya Pak. Saya besok mau ke sana." ujar Maya kepada sopir taksi.
"Hati hati Nona. Jalannya agak mendaki." ujar sopir taksi.
"Sip Bapak." jawab Maya.
Sopir mengantarkan Maya ke rumah Dian yang terletak di tengah kota. Dian sudah menunggu Maya datang di teras rumahnya. Dia penasaran kenapa teman lamanya itu datang ke kota P ini.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan dengan taksi selama satu jam, taksi berhenti di depan sebuah rumah putih besar.
"Sudah sampai Nona. Ini sesuai dengan map yang dikirim oleh teman Nona tadi." ujar sopir taksi kepada Maya.
"Makasi Pak." ujar Maya memberikan ongkos sesuai dengan kesepakatan mereka dan melebihkannya sedikit.
Maya kemudian turun dari taksi. Maya melihat dan menatap lama rumah itu. Maya ragu untuk memencet bel rumah. Maya mengeluarkan ponsel miliknya. Dia kembali menghubungi Dian.
"Hallo Yan. Gue udah di depan gerbang rumah loe." ujar Maya memberitahukan kepada Dian kalau dia sudah ada di gerbang.
"Masuk aja May." ujar Dian dari dalam rumah.
"Segan Yan." jawab Maya.
Akhirnya Dian berjalan menuju pagar rumah. Dian membukakan pintu pagar untuk Maya.
__ADS_1
"Maya!!!!" teriak Dian bahagia melihat teman lamanya waktu masih tinggal di kampung dulu.
"Dian." ujar Maya juga dengan berteriak.
Mereka berdua kemudian berpelukan. Maya tidak menyangka akan bertemu dengan Dian. Dian begitu juga tidak menyangka akan bertemu dengan Maya.
"Masuk May. Mana koper loe?" ujar Dian melihat koper Maya yang nggak ada.
"Tinggal di taksi tadi?" tanya Dian dengan nada khawatir kalau Maya melupakan koper miliknya sendiri.
"Nggak. Gue nggak bawa apa apa. Gue cuma bawa tas ini doang." ujar Maya memperlihatkan tas ransel yang berada di punggungnya.
"Masih tetap ya kebiasaan loe dari dulu. Gue tau sekarang kenapa loe sampai sini. Loe harus cerita." ujar Dian sambil menggandeng tangan Maya masuk ke dalam rumahnya.
"Mari masuk anggap rumah sendiri" ujar Dian mempersilahkan Maya untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Rumah loe keren Yan. Udah sukses loe sekarang ya. Selamat atas kesuksesan elo." ujar Maya dengan ucapan yang tulus kepada Dian.
"Bukan gue yang sukses tetapi suami gue." jawab Dian sambil berjalan menuju mini bar.
Maya mengikuti dari belakang. Dia tidak mau duduk di ruang tamu. Terkesan terlalu formal untuk dirinya.
"Biasa. Air mineral aja." jawab Maya yang memang tidak suka air yang memiliki rasa.
Dian mengambil dua botol air mineral dan membawa puding coklat yang tadi dibuatnya. Dian meletakkan semuanya di meja mini bar.
"Jadi, ada apa sebenarnya?" tanya Dian kepada Maya. Dian mulai kepo dengan kedatangan Maya yang tiba tiba itu.
"Gue sedang pengen healing aja." jawab Maya yang masih enggan menceritakan semuanya.
"Loe kalau masih anggap gue kawan jangan pake boong. Gue tampol loe ntar." ujar Dian sambil mengangkat tangannya yang hendak memukul Maya.
"Hahahahaha. Iya iya gue jujur." ujar Maya yang berhasil memancing amarah Dian.
"Jadi, gue tu Healling kemari karena sedang ribut dengan pacar gue. Masak iya dia nggak baca pesan chat dari gue. Jangankan tuk bales, baca aja nggak. Makanya gue jadi marah dan anggap hubungan ini ya seperti itulah." ujar Maya bercerita kepada Dian.
"Jadi, intinya loe sedang perang terus loe kabur gitu?" tanya Dian kembali kepada Maya.
Maya mengangguk. Dian hanya bisa geleng geleng kepala. Dian tau kalau Maya bukan tipe perempuan kabur dari masalah. Berarti masalah ini sudah menemukan jalan buntu bagi Maya. Makanya, Maya memilih untuk pergi dulu sebelum menyelesaikan masalahnya kembali saat otaknya sudah kembali tenang tidak bergejolak seperti sekarang.
"Nah sekarang loe mau healling kemana?" tanya Dian menatap Maya.
__ADS_1
"Rencana ke kab. Pes. Katanya di situ ada raja ampatnya pulau S. Bener kan ya?" tanya Maya kepada Dian.
"Bener. Loe bisa nginep di sana. Tapi saran gue loe perginya lewat jalan baru aja." ujar Dian memberitahukan jalan kepada Maya.
"Emang kalau jalan lama gimana?" tanga Maya yang tidak tau apa apa.
"Kejauhan oon" jawab Dian.
"Sip" ujar Maya yang belum dapat gambaran akan pergi memakai apa ke sana.
"Loe bisa bawa mobilkan ya?" tanya Dian yang tau Maya belum memiliki ide mau pergi dengan ap ke sana.
"Bisa lah. Gue punya sim kok ya. Pelecehan loe." ujar Maya sambil menatap Dian.
"Hahahaha. Bukan pelecehan. Loe pakai aja satu mobil gue. Loe bisa pake berapa lama loe mau." ujar Dian sambil berjalan menuju tempat dia meletakkan deretan kunci mobil.
"Loe bisa pakai apanja kan May?" tanya Dian yang nggak mau memberikan mobil mewah miliknya karena jalan ke sana yang memiliki medan susah.
"Bisa. Mobil itu ajalah." ujar Maya.
Dian mengambilkan kunci mobilnya. Dia memberikan kepada Maya.
"Kapan loe mau ke sana?" tanya Dian selanjutnya sambil menyuap puding coklat ke dalam mulutnya.
"Rencana besok. Kenapa?" tanya Maya sambil mengunyak puding coklat lezat buatan Dian.
"Kita ke mall dulu nanti malam. Gue mau belanja bahan makanan." ujar Dian yang sebenarnya ingin membelikan kebutuhan Maya. Dian tau di daerah sana susah mini market.
"Oke sip." ujar Maya.
Mereka kemudian mulai mengobrol hal hal yang ringan. Maya sama sekali tidak mengingat Ivan. Maya benar benar ingin melupakan Ivan untuk sejenak. Maya ingin Ivan bersikap dewasa melihat suatu permasalahan. Apalagi ini Maya sudah meminta maaf tetapi tidak di gubris oleh Ivan.
"Sekarang sini gue tunjukin yang mana kamar loe." ujar Dian.
Dian membawa Maya ke kamar tamu yang terletak di bawah. Walaupun rumah mewah, tetapi rumah Dian tidaklah bertingkat. Hanga satu lantai saja.
"Lie istirahat dulu aja. Jam tujuh kita pergi." ujar Dian yang menutup pintu kamar tamu.
Dian kembali menuju kamarnya.
"Maya maya tetap nggak berubah." ujar Dian sambil geleng geleng kepala melihat kelakuan Maya yang main kabur aja..
__ADS_1