
"Maya, loe sirik. Aja gangguin gue video call."
Vina menyun kepada sahabat terbaiknya yang sukses mengganggu Vina saat melakukan video call dengan kekasihnya yang baru baikan itu.
"Nanti sambung lagi. Gue butuh bantuan elo untuk menyiapkan pesanan para pengunjung. Ini sangat ramai. Belum lagi yang beli online"
"Tadi loe nolak pertolongan gue. Sekarang loe minta lagi. Loe anggap apa gue sayang. Loe anggap gue ini tong sampah. Pas butuh loe ambil, pas enggak loe anggurin"
Maya yang mendengar apa yang dikatakan oleh Vina hanya bisa geleng geleng kepala saja. Sahabatnya itu hari ini menjadi manusia paling alay sejagad raya.
"Alay loe sayang. Mentang mentang udah ada yang sayang lagi" kata Maya sambil memukul pundak Vina.
"Haha haha haha."
Vina meninggalkan Maya yang kesal sendiri dengan ulah Vina yang absurd tersebut. Vina memakai apron kesayangannya dan menukar sepatu tingginya dengan sendal jepit yang sudah di sediakan di samping pintu dapur.
"Rina, mana yang harus aku masak?" ujar Vina yang sudah siap dengan peralatan memasaknya.
"Nona mengolah yang di bungkus saja Nona."
"Ini daftar pesanannya" kata Rina memberikan daftar pesanan secara online.
"Hah? Banyaknya ini jenis makanan"
Vina menatap kaget ke begitu banyaknya pesanan yang harus disiapkan oleh dirinya.
"Sedikit itu mah Nona." jawab Rina yang tidak berhenti berhenti masak dari tadi, selain saat dia makan siang.
"Nona pasti bisa" lanjut Rina memberikan semangat kepada Vina yang hanya pura pura kesal itu.
Padahal sebenarnya Vina sangat senang diperbolehkan untuk masuk ke dalam dapur milik Maya. Tadi saja dia kabur karena tidak diperbolehkan oleh Maya untuk masak.
"Oke siap"
Vina mengangkat tinggi tinggi spatula untuk memasaknya. Vina benar benar siap untuk berperang dengan semua bumbu bumbu yang ada di dapur.
"Rina, ini nasi gorengnya sepuluh porsi?" tanya Vina sambil menatap catatan pesanan menu yang tidak jelas jumlahnya itu.
Rina membaca kembali catatan yang diberikan oleh bagian pemesanan online.
"Sepuluh Nona" jawab Rina dengan pasti setelah memperhatikan tulisan yang dibuat.
Vina mengambil semua bumbu bumbu untuk membuat nasi goreng. Dia juga menyiapkan nasi putih sebanyak sepuluh porsi.
Vina mulai mengolah membuat nasi goreng itu. Dia menikmati semua prosesnya dengan sangat baik. Vina benar benar senang saat diizinkan untuk membantu Maya di dapur.
"Ini tetap bagian garnish yang menyiapkan Rin?" ujar Vina yang telah menyelesaikan memasak sepuluh porsi nasi goreng.
"Iya Nona. Nona masukin aja kedalam wadah besar. Nona taruh di meja terus tekan belinya"
Rina menjelaskan kepada Vina prosedurnya. Vina baru sekali ini memasak pesanan yang dipesan melalui online. Biasanya Vina mendapat pekerjaan mengolah masakan yang dipesan pengunjung saja.
Vina melakukan semua yang diberitahukan oleh Rina tadi. Setelah selesai dengan nasi gorengnya, Vina kembali bergelut dengan pesanan yang lain. Vina sangat bersemangat mengolah pesanan itu.
Vina telah selesai memasak nasi goreng, nasi goreng spesial, cumi goreng tepung, bila terbang, cah kangkung dan ayam saus Korea. Kalau untuk total porsi Vina memasak cukup banyak.
"Oke selesai" ujar Vina sambil menaruh kertas pesanan ke paku yang ada di dinding dapur dengan tulisan online.
Vina kemudian mengambil pesanan pengunjung meja nomor lima satu.
"Wow bayak banget aitem aitemnya" ujar Vina melongo menatap aitem aitem menu yang dipesan oleh meja nomor lima puluh satu itu.
"Udah keambil eksekusi aja"
Vina mengambil semua bahan yang diperlukan untuk memasak semua pesanan meja nomor lima puluh satu itu. Vina memasak mulai dari makanan berat yang dipesan sampai dengan cemilan.
Vina menikmati semua proses itu. Hati dan pikirannya yang telah kembali normal, membuat Vina melakukan semuanya dengan gembira. Vina sama sekali tidak merasa tertekan sedikitpun. Dia sekarang benar benar sudah tanpa beban selain beban pekerjaan.
Maya yang melihat Ivan sedang berbincang bincang dengan Iwan mendekati kekasihnya itu. Maya ingin mengatakan kepada Ivan dan Iwan apa yang sudah terjadi.
"Sayang, hay Bang" sapa Maya kepada Ivan dan Iwan.
"Hay May" jawab Iwan sambil tetap melihat ke layar televisi besar yang ada di dinding kafe.
Maya duduk di sebelah Ivan. Dia terlihat berwajah serius. Ivan dan Iwan melihat raut wajah Maya.
"Ada apa sayang? Sepertinya serius sekali?"
Maya diam sesaat, dia tidak tau harus memulai ceritanya dari mana. Tapi, dia akan menceritakan garis besarnya saja kepada Ivan dan Iwan.
"Vina sudah baikan dengan Danu. Mereka sudah instens kembali menjalin komunikasi."
__ADS_1
Maya memulai ceritanya. Ivan dan Iwan mendengarkan apa yang diceritakan oleh Maya. Mereka berdua dapat menangkap kegelisahan dari seorang Maya terhadap sahabat terbaiknya itu.
"Terus apa yang membuat kamu gelisah May?"
"Aku takutnya Danu masih belum bersikap serius kepada Vina, itu aja. Aku takutnya dia memang menginginkan Vina tapi masih belum berani memutuskan hubungannya dengan Ranti. Itu aja yang bikin aku benar benar takut dan cemas."
Maya menatap Iwan sebentar dan menatap lama ke arah Ivan.
"Aku bener bener nggak mau Vina kembali terperosok ke jurang yang sama untuk kedua kalinya Bang. Aku yakin, kalau Vina sempat terperosok kembali, maka dia nggak akan bisa stabil seperti sekarang lagi"
Maya mengeluarkan semua ketakutannya kepada Ivan dan Iwan. Sedangkan dihadapan Vina, Maya pura pura ikut bahagia. Dia tidak mau mengecewakan sahabatnya itu.
Iwan melihat kearah Ivan. Mereka juga tidak mau Vina kembali kecewa atas sikap Danu yang tidak bisa mengambil keputusan itu.
"Gimana Bang, apa kita berangkat besok saja pulang ke negara I?"
Ivan melihat ke arah Iwan. Iwan terlihat berpikir sesaat.
"Oke kita berangkat besok" ujar Iwan setuju dengan pendapat Ivan.
Saat mereka mengobrol datanglah seorang pria yang sudah lumayan berumur sambil membawa travel bagian kecil miliknya. Ivan yang melihat siapa yang masuk langsung melongo tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Yah gimana mau pulang besok. Tu orang baru datang sekarang" ujar Ivan sambil menunjuk ke arah pintu masuk.
Maya dan Iwan melihat ke arah tunjuk Ivan. Maya tertercenang melihat siapa yang masuk ke dalam kafe mereka.
Vina yang baru saja balik dari mengambil bahan masakan melihat presiden direktur perusahaan tempat dia bekerja di negara I masuk ke dalam kafe. Vina menyusul Tuan itu.
"Tuan Sanjaya. Silahkan duduk" ujar Vina sambil tersenyum.
Pria yang dihadapannya ini memiliki pengaruh yang sangat besar untuk Vina dalam menyembuhkan luka hatinya saat itu dengan memberikan pekerjaan di negara ini.
"Hay Vina. Gimana keadaannya?" tanya Tuan Sanjaya sambil duduk di kursi yang ditunjukkan oleh Vina.
"Baik Vina. Saya lapar, bisa buatkan saya makanan spesial yang khusus dibuat oleh kamu?" ujar Tuan Sanjaya yang sangat tau bagaimana rasa masakan yang di oleh oleh Vina dan Maya.
"Siap Tuan. Oh ya Tuan, di sini juga ada Ivan dan Iwan"
"Hah? Apa mereka nggak kerja? Kenapa bisa mereka di sini?" kata Tuan Sanjaya pura pura tidak tahu kalau Ivan dan Iwan berada di negara ini.
"Senen saat pembukaan kafe Tuan. Sebentar akan saya panggilkan mereka berdua"
Vina berjalan menuju Iwan dan Ivan. Dia memberitahukan kalau ada presiden direktur mereka di sini.
Ivan dan Iwan menuju presiden direktur yang sedang duduk sambil di temani secangkir teh hangat dan sepotong chess cake yang dihidangkan oleh Maya.
Ivan melihat ke sekeliling, dia melihat Vina yang sibuk memasak. Ivan yakin kalau Vina tidak akan mendengar percakapan mereka dengan tingkat kebisingan dapur yang lumayan itu.
"Kapan datang Yah?"
Tanya Ivan sambil menatap Ayahnya yang sedang menyendiri sepotong kecil chess cake miliknya.
"Kemaren. Ayah ke makan Bunda dulu, baru datang ke sini" ujar Ayah memberitahukan kapan dia datang ke negara U.
"Perusahaan gimana?"
"Danu lah yang ngurus. Saatnya ayah liburan. Emang kalian berdua aja yang bisa. Ayah juga bisa"
"Yalah terserah Ayah wae." ujar Ivan menjawab perkataan dari Ayahnya itu dengan sedikit kesal.
Mereka bertiga melanjutkan obrolan sambil menunggu makanan yang sedang dibuat oleh Vina dan Maya. Mereka berdua memilih langsung turun tangan membuat makanan untuk Tuan Sanjaya.
"Makanan siap" ucap Maya sambil mengangkat tinggi tinggi nampan yang berisi makanan yang telah diolah oleh Vina dan Maya.
Mereka berlima duduk bersama di meja tersebut. Mereka menyantap makanan yang dibuat oleh Vina dan Maya.
"Jadi Tuan, berapa hari rencana Tuan akan berada di negara ini?" kali ini Iwan yang bertanya.
Iwan sengaja menanyakan hal itu, agar mereka bisa memperkirakan berapa lama lagi mereka akan berada di negara ini.
"Sekitar lima belas hari lagi." jawab Tuan Sanjaya.
"Lama juga Tuan. Apa Tuan ada perjalanan bisnis kemari?" tanya Vina yang heran kenapa bisa Tuan direktur itu melakukan perjalanan bisnis selama lima belas hari.
"Tidak Vina. Kebetulan saya memiliki mansion di negara ini. Jadi, saya akan tinggal di sana."
"Perusahaan bagaimana?"
"Ada Danu, Vina. Dia akan menjalankan perusahaan itu dengan baik. Danu tidak akan mau membuat perusahaan itu merugi" ujar Tuan Sanjaya sambil melihat kearah Ivan.
Mereka kemudian melanjutkan obrolan tentang bisnis dan perusahaan di negara I.
__ADS_1
Sedangkan Maya yang malas mendengar cerita bisnis, memilih untuk memasak di dapur kembali menemani Rina dan seorang chef yang baru direkrut nya kemaren.
Obrolan itu terus berlanjut sampai malam waktu negara U. Tiba tiba saat mereka mengobrol asik itu ponsel Vina kembali berdering. Kali ini bukan panggilan video yang masuk ke dalam ponsel Vina. Melainkan panggilan biasa saja.
"Permisi Tuan, saya angkat panggilan telpon dulu"
Vina berjalan meninggalkan meja tempat mereka duduk duduk tadi. Dia mengangkat panggilan dari Danu di tengah jalan menuju tempat biasanya Vina menelpon. Maya melihat hal itu dan hanya bisa tersenyum. Maya harus meyakinkan dirinya kalau Danu benar benar akan mengambil keputusan terbaik untuk Vina.
"hallo sayang, sedang ngapain?" tanya Vina menyapa Danu yang berada jauh di seberang.
"Ini sedang siap siap mau pulang ke rumah sayang. Kamu sedang ngapain?"
Danu terlihat sedang menyiapkan barang barang miliknya untuk pulang ke rumah. Hari ini Danu rasa sudah cukup dirinya berada di perusahaan sudah saatnya dia pulang ke rumah dan beristirahat. Rasa capek siap mengemudikan mobil lama masih terasa di badan Danu.
"Oh ya lupa sayang. Di kafe Maya sedang ada direktur kamu. Tuan Sanjaya. Kata Tuan itu dia ada perjalanan bisnis ke negara ini"
Vina memberitahukan kepada Danu kalau ada Tuan Sanjaya di kafe Maya. Tapi, Vina tidak mengatakan kalau ada Ivan dan Iwan juga di sini
"Hah? Perasaan dia tidak ada perjalanan bisnis. Emang ke negara mana Tuan Direktur datang sayang?"
Vina tau Danu memancing dirinya untuk mengatakan Tuan Presiden direkturnya itu di negara mana. Sehingga Danu akan tahu dia di negara mana sekarang.
"Sayang, aku nggak akan terjebak dengan pertanyaan kamu sayang. Kamu cari sendiri saja aku dimana. Jangan, pura pura bertanya dimana Tuan Direktur " kata Vina sambil tersenyum.
Danu tersenyum mendengar, analisa Vina yang sangat tajam itu. Dia tidak menyangka Vina akan langsung sadar dengan maksud dari pertanyaan jebakan Danu.
"Sayang, kamu jangan ragukan aku ya. Kamu taukan aku tamat empat tahun dan cumlaude saat kuliah. Makanya aku bisa diterima langsung di perusahaan tempat kamu bekerja" ujar Vina dengan nada sombongnya.
"Haha haha haha, aku tidak melupakan hal itu sayang. Aku tau sangat kekasih aku ini adalah orang hebat"
"oh ya, kamu di suruh apa sama Maya tadi?"
Danu mulai kepo dengan aktifitas Vina saat diminta tolong oleh Maya, waktu mereka sedang video call itu.
"Masak sayang. Ada banyak pesanan online yang harus dibuat. Makanya aku diminta untuk membantu di dapur"
Vina menceritakan kepada Danu apa yang baru saja dikerjakannya tadi.
"Banyak sayang?"
"Banyak banget. Kami berdua tidak menyangka kafe ini begitu diminati oleh penduduk negara ini. Aku kira mereka tidak akan suka masakan dengan bumbu dari negara kita. Ternyata oh ternyata kafe sangat ramai tiap harinya."
"Malahan tiap hari ada selalu pengunjung yang baru"
Vina menceritakan keadaan kafe Maya kepada Danu.
"Wah, aku penasaran sayang dengan keadaan kafe Maya" ujar Danu masih berusaha untuk membuat Vina mengatakan dia sedang di negara mana sekarang ini.
"Besok lah saat kamu suda memutuskan pernikahan kamu dengan Ranti, baru kamu aku bawa ke kafe Maya" jawab Vina dengan bijaksana.
"Oh ya sayang, kata Tuan Sanjaya tadi, dia akan liburan di sini selama lima belas hari. Waktu yang cukup lama banget sayang. Gimana dengan perusahaan itu?"
"Selama Tuan Sanjaya pergi, aku yang mengurus perusahaan sayang. Makanya aku sedikit lelah karena hal itu. Begitu banyak yang harus aku urus sekarang ini" kata Danu yang berharap Vina mengatakan sesuatu yang akan membuat dia menjadi tenang
"Sayang, aku tau bagaimana sibuknya menjadi seorang pemimpin. Jadi, kamu bisa urus perceraian kamu dengan Ranti saat udah senggang aja."
"Aku nggak mau kamu sakit. Deli juga sedang sakit. Nanti Mami nggak tau harus fokus kepada siapa. Harus merawat siapa"
Vina mengkhawatirkan keadaan Danu. Sehingga dia harus mengatakan hal itu. Vina benar benar tisak mau mendengar Danu sakit.
"tenang sayang, aku akan jaga kesehatan." jawab Danu berusaha menghilangkan kekhawatiran Vina terhadap dirinya.
"Sayang pasti di sana sudah malam. Kamu pulang lagi ya. Besok kamu harus kerja. Aku nggak mau kalau kamu"
"sakit" ujar Vina menyambar ujung kalimat dari Danu.
"baiklah aku akan pulang. Aku tutup telponnya ya" ujar Vina.
"Aku mencintai kamu"
"Aku juga sama"
Akhirnya panggilan telepon tersebut berakhir. Vina kembali menuju tempat Tuan Sanjaya dan sahabat sahabatnya duduk.
"Mau, gue balik duluan ya. Ngantuk. Besok gue ada kegiatan pagi" ujar Vina yang selalu mengikuti apa yang dikatakan oleh Danu kepada dirinya.
"Oke sip" ujar Maya.
"Saya pamit dulu Tuan, Bang Iwan, Bagi Ivan" ujar Vina pamit kepada tiga orang yang sedang mengobrol asik itu.
Vina kemudian keluar dari kafe. Pak Hans telah berada di dekat mobil. Mobil kemudian bergerak meninggalkan kafe untuk menuju rumah.
__ADS_1
Hari hari bahagia sudah kembali di dapat oleh Vina hanya dengan memaafkan seseorang yang telah membuat luka di hatinya.
"Ternyata dengan memaafkan akan membuat kita menjadi tenang" ujar Vina pelan