Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Pembicaraan Ayah dan Ivan


__ADS_3

"Ada ya wanita yang kayak dia. Seorang ibu yang tidak menyayangi anaknya sendiri" ujar Ayah yang kembali mengumpat kelakuan dari seorang Ranti.


"Apa dia yakin kalau semua kekasihnya itu akan mengurus dia kalau dia sudah tua?"


"atau jangan jangan dia berpikir harta akan bisa menjaga dirinya" kata Ayah yang semakin menjadi jadi mengumpat Ranti.


"Tu mah ada Yah" ujar Ivan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ayah kepada dirinya.


"Ayah jangan mengumpat terus. Dosa Ayah" ujar Ivan mengingatkan Ayah untuk tidak mengumpat Ranti terus.


"Gimana lagi. Ayah kesal" kata Ayah yang memang luar biasa sangat kesal dengan apa yang dilakukan oleh Ranti terhadap Deli.


"Terus tanggapan Danu bagaimana?" Tanya Ayah yang penasaran dengan komentar dari seorang Danu.


"Bang Danu masih ingin memenangkan hak asuh Deli di pengadilan" kata Ivan menjawab pertanyaan dari Ayah.


"Ayah bentar" ujar Ivan yang tiba tiba ingat tentang sesuatu.


"Apa?" tanya Ayah yang heran melihat anak laki lakinya langsung masuk dengan berjalan cepat ke dalam penthouse.


"Bentar Ayah. Aku ambil dulu barangnya" ujar Ivan.


Ivan kemudian masuk ke dalam kamar. Dia mengambil tas kerjanya yang sudah tersender di kursi meja kerja Ivan. Ivan benar benar lupa akan sesuatu yang sudah dengan susah payah didapatkan oleh dirinya.


"Untung tadi Ayah berbicara tentang Deli, kalau tidak maka aku tidak akan ingat dengan barang ini" ujar Ivan yang memang sama sekali tidak ingat dengan benda yang tadi digunakan oleh dirinya untuk mendengar pembicaraan antara Ranti dengan kekasih barunya itu.


"kalau nggak ya percuma aja ini barah didapat" lanjut Ivan yang menyadari kebodohan yang telah diperbuat oleh dirinya.


Ivan kembali berjalan menuju penthouse, ternyata Ayah sudah berada di depan televisi yang sedang menyiarkan berita tentang kasus polisi tembak polisi. Kasus yang sangat besar untuk saat sekarang ini. Kalangan mana saja kalau sudah berkumpul maka mereka akan membahas tentang kasus yang sedang viral itu. Mau emak emak, bapak bapak, bahkan anak kecil sekalipun sibuk membahas kasus tersebut dengan cara pandang mereka masing masing. Kasus yang membuat gempar negara I dengna motif yang sampai sekarang masih belum diketahui dengan pasti.


Ivan kemudian duduk di sebelah Ayah. Dia mengeluarkan laptop miliknya dari dalam tas kerja. Ivan mengaktifkan laptop tersebut, kemudian dia mengambil kamera yang tadi digunakan oleh Ivan untuk merekam semua kelakuan dan juga pembicaraan yang dibicarakan oleh Ranti dengan kekasih barunya.


"yah ngapain sih yah nonton berita itu" ujar Ivan saat melihat tontonan yang sedang ditonton oleh Ayah.


"dari pada nggak ada yang mau ditonton" lanjut Ayah menjawab pertanyaan dari Ivan.


Ivan kemudian mengeluarkan semua barang barang miliknya dari dalam tas. Semua yang diperlukan oleh Ivan. Ayah melihat apa yang dilakukan oleh Ivan, menatap dengan penuh rasa ingin tahu.


"Apa yang akan kamu lakukan dengan kamera dan semua peralatan perang kamu itu Van?" tanya Ayah yang penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh seorang Ivan terhadap barang barang yang telah dikeluarkan dari dalam tasnya tersebut.

__ADS_1


"Ayah lihat saja nanti apa yang akan aku perlihatkan kepada Ayah" ujar Ivan menjawab pertanyaan dari Ayah sambil tetap mengerjakan apa yang harus dilakukan oleh Ivan sekarang.


"Oke Ayah, mari kita nonton" ujar Ivan yang telah selesai memasang semua peralatan yang tadi dikeluarkan oleh dirinya dari dalam tas kerja.


"Mau nonton film Van?" tanya Ayah lagi yang masih tidak paham dengan apa yang akan ditunjukkan oleh Ivan kepada dririnya.


"Kamu kan tahu sendiri Van, kalau Ayah sama sekali tidak suka menonton film. Kamu jangan aneh anehlah Van"


Ayah mengajukan protes nya kepada Ivan karena Ivan akan memutar sebuah film. Padahal Ivan sangat tahu sekali kalau Ayahnya itu sama sekali tidak suka dengan film. Mau jenis film apapun Ayah tetap tidak akan suka untuk menontonnya.


"Ayah, Ivan nggak akan memutar film untuk ayah." jawab Ivan


"Tapi tadi Ayah minta Ivan untuk menjelaskan apakah Deli hak asuhnya akan dimenangkan oleh Danu atau Ranti." lanjut Ivan menerangkan kepada Ayah.


"Terus apa hubungannya dengan semua ini?" tanya Ayah.


"Ayah bisa nggak, tidak memotong pembicaraan? Aku belum selesai ngomong Ayah. Ayah udah main potong pembicaraan aja"


Ivan memberikan komplen kepada Ayah yang memang selalu sangat suka untuk mengkomplent apa saja yang dikatakan eh Ivan. Padahal Ayah masih belum sampai pada titik dimana Ivan harus mengatakan suatu hal kepada dirinya.


"Maaf, Ayah kira sudah selesai" kata Ayah yang tahu Ivan marah dengan apa yang dilakukan oleh Ayah kepada dirinya.


"Hem. Oke" jawab Ivan.


"Van, bukannya itu restoran milik Sari?" ujar Ayah saat melihat restoran yang ada di dalam video itu


"Iya Ayah itu adalah restoran milik Sari. Kenapa Ayah sampai kaget?" tanya Ivan.


"Kok kamu bisa di sana nggak ngajak ngajak Ayah"


"udah lah Ayah. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas masalah masalah sepele seperti itu" kata Ivan yang lumayan kesal dengan Ayah yang ntah kenapa seakan akan selalu memancing kemarahan dari Ivan.


"Haha haha haha. Kamu jangan marah gitulah. Jadi laki laki kalau pemarah makan nggak akan ada hasilnya Van. Yang ada malah kamu nanti nggak akan dihargai oleh wanita. Wanita akan takut dengan pria pemarah" ujar Ayah yang mengatakan sesuatu merembet kemana mana.


"mau nonton nggak?" kali ini Ivan benar benar udah kesal dengan Ayah sehingga nada suara Ivan agak sedikit naik.


"Iya nonton" jawab Ayah sambil tersenyum ke arah Ivan.


"Nggak butuh senyum Ayah aku nya"

__ADS_1


"Aku hanya butuh Ayah duduk tenang dan diam serta menonton semua yang ditampilkan di layar televisi" ujar Ivan memberikan persyaratan kepada Ayah.


"Tapi kalau Ayah bertanya bolehlah ya Van" ujar Ayah yang memang tidak pernah bisa menahan rasa ingin tahunya.


"Oke sip. Boleh. Ivan tau orang di sebelah Ivan ini nggak akan bisa menahan rasa ingin tahunya" kata Ivan sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Ayah. Ivan sendiri juga tidak akan tega membiarkan ayahnya menyimpan rasa ingin tahunya.


Ivan kemudian memutar hasil rekaman yang didapatkan oleh dirinya tadi. Ayah dan Ivan menonton dengan seksama rekaman video tersebut.


"Serius tu perempuan Van. Udah mau bercerai masih tetap jalan dengan pria lain malahan masuk restoran mewah" ujar Ayah yang tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Ranti.


"Ya gimana mau dikatakan Ayah. Udah dasarnya kayak gitu, ya kita ndak bisa berbuat apa apa lagi Ayah" jawab Ivan.


"Bener juga kamu Van. Kalau udah candu maka apapun itu nggak akan bisa menghentikannya. Hanya kematian yang bisa menghentikan kelakuan orang seperti itu. Bagi mereka yang namanya penyesalan tidak akan ada" jawab Ayah lagi dengan panjang lebar menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ivan.


Ayah dan Ivan kemudian melanjutkan menonton video rekaman yang berhasil di dapatkan oleh Ivan.


Tiba tiba Ayah berkata dengan sedikit agak keras dan membuat Ivan menjadi kaget karena mendengar suara Ayah yang lumayan tinggi tersebut.


"Van coba berhenti tepat di wajah pria itu" ujar Ayah yang rasa rasanya kenal dengan pria tersebut.


"Ayah kenal dengan pria itu?" tanya Ivan yang penasaran kenapa tiba tiba saja Ayah minta berhenti tepat di wajah pria itu.


"Ragu juga. Makanya Ayah meminta kamu untuk berhenti tepat di depan wajah pria tersebut." jawab Ayah sambil menatap ke layar televisi yang sangat besar itu dan telah menampilkan wajah pria yang menemani Ranti makan di restoran mewah tersebut.


Ayah mengati wajah pria itu. Ayah mencoba membolak balik memory yang ada di kepalanya. Ayah harus menemukan siapa orang yang ada di layar televisi itu.


Ivan yang sebenarnya penasaran dengan pria itu membiarkan Ayah berpikir dan mencoba mengingat siapa pria tersebut. Ivan tidak mau mengganggu konsentrasi Ayah dalam mengingat siapa pria tersebut.


"Ivan Ayah ingat dia siapa" jawab Ayah dengan nada bangga dan bahagia karena berhasil mengingat siapa pria tersebut.


"Siapa ayah?" ujar Ivan yang kumat rasa ingin tahunya itu.


"dia seorang pengacara namanya Anggara. Pengacara yng juga sangat terkenal dan bagus di bidangnya" ujar Ayah yang berhasil mengingat siapa pria tersebut.


"Kok Ayah bisa kenal?" kata Ivan yang penasaran kenapa Ayahnya sampai bisa kenal dengan pengacara tersebut.


"Ayah pernah satu acara dengan dia dulu. Tai udah lama sekali." jawab Ayah memberitahukan kepada anaknya yang memang super duper ingin tahu dan wajib di beritahu itu.


"sekarang nggak penting kita tahu di mana dia kenal dengan Ayah. Sekarang yang terpenting apakah dia pengacara dari Ranti?" ujar Ayah bertanya kepada Ivan.

__ADS_1


"Ya nggak tau Ayah. Gimana kalau kita lanjut saja menonton videonya. Ini rekaman lumayan lama Ayah. Kita baru menonton tiga menit awal" kata Ivan mengajak Ayah untuk menonton lanjutan dari video yang durasinya ternyata masih panjang tersebut.


Ayah dan Ivan kemudian menonton kembali lanjutan sisa video yang masih panjang itu. Mereka berdua sama sama penasaran dengan hasil akhir dari video tersebut. Apakah hasil akhirnya nanti mereka akan mengetahui siapa pria tersebut atau ada hal lain yang akan membuat mereka berdua menjadi tercengang dan tidak menyangka kalau itu


__ADS_2