Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Pengurusan 7


__ADS_3

Danu yang baru kembali dari membeli menu makan siang membuka pintu ruangannya dengan sedikit agak keras, hal ini membuat siapapun yang berada di dalam menjadi terkejut karena apa yang dilakukan oleh Danu. Danu seperti seseorang yang sedang emosi saat membuka pintu ruangan itu.


"Woi bro, baru gue minta beli makan siang aja loe udah emosian gini." ujar Frans menatap ke arah Danu yang kaget karena Danu main kekerasan membuka dan menutup pintu ruangan.


"Apalagi kalau gue minta elo untuk bayar harga gue saat berhasil mengurus perceraian elo. Tentu loe akan bunuh gue" lanjut Frans menggoda Danu kembali. Frans selalu seperti itu kepada Danu dan Iwan. Frans tidak bisa melihat Iwan dan Danu memiliki satu kesalahan saja.


"Haha haha haha. Sorry Frans, tangan gue penuh, makanya buka pintu dan menutupnya sedikit terlihat seperti orang emosi" ujar Danu dengan tertawa menjawab perkataan dari Frans yang mengomentari cara Danu saat membuka dan menutup pintu ruangan.


"Loe seperti wanita sedang PMS aja Frans. Sensitif" lanjut Danu.


Danu dibantu Ivan meletakkan menu makan siang dan juga minuman untuk mereka. Mereka kemudian makan siang terlebih dahulu sebelum melanjutkan obrolan antara Danu dengan Frans dan kedua sahabatnya itu.


Mereka makan dengan lahap, apalagi Frans makan seperti orang sudah berhari hari tidak makan. Hal itu menjadi perhatian Danu dan yang lainnya.


"Loe kenapa makan kayak gitu banget Frans? Seperti orang berhari hari tidak makan" ujar Danu sambil menatap Frans.


"Haha haha haha. Gimana lagi Dan. Loe akan ngerasain gimana laparnya perut saat selesai menjalani sidang yang sangat berat" ujar Frans sambil menyeka mulutnya.


Mereka semua akhirnya telah selesai menikmati menu makan siang yang dibeli oleh Danu. Menu makan siang yang terlihat mewah dan juga sangat lezat dan sesuai dengan selera mereka berempat.


"Jadi, gimana Danu, loe udah serius dan memang sudah bertekad bulat untuk menceraikan Ranti dengan segala resikonya?" tanya Frans kepada Danu.


Frans menatap serius ke arah Danu. Frans tidak mau Danu setengah setengah dalam mengambil keputusan. Frans tidak mau Danu ragu dan tidak yakin dengan keputusan yang diambilnya.


"Sudah Frans. Gue serius mau menggugat cerai Ranti. Gue udah nggak bisa lagi menahan sesak dada gue" jawab Danu dengan pasti dan tidak bisa diganggu gugat lagi.

__ADS_1


"Oke kalau gitu. Gue akan urus secepatnya. Terus bukti bukti penguatnya bagaimana Dan?" tanya Frans yang ingin berhitung berapa persen kans dia untuk memenangkan drama perceraian antara Danu dengan Ranti.


"Gue ada dapat empat bukti perselingkuhan Ranti yang dilakukannya di rumah gue. Ini dalam flashdisk" ujar Danu menyerahkan flashdisk tempat dia menyimpan semua hasil rekaman CCTV rumah.


Frans membuka laptopnya. Dia kemudian memindahkan isi rekaman itu ke dalam laptop miliknya.


Frans kemudian melihat semua rekaman tersebut.


"Anjrit ini bener bener gila, ini perempuan atau apaan ya. Masak bawa selingan ke rumah sendiri. Apa nggak ada biaya ke hotel" ujar Frans memaki dan mencaci apa yang dilakukan oleh Ranti yang terpampang jelas di depan mata Frans sekarang ini.


"Udah fix ini mah loe bisa menang dalam persidangan. Hakim nggak akan bantah hal ini lagi" ujar Frans sudah yakin dengan bukti yang diberikan oleh Frans.


Danu menatap ke arah Frans. Dia ingin menceritakan masalah Vina kepada Frans. Danu ingin mendengar pendapat dari Frans.


Ivan memberikan flashdisk miliknya kepada Frans. Frans menyalin ulang isi flashdisk tersebut.


Ivan memberikan semuanya lebih rapi lagi. Dalam video yang diberikan oleh Frans, di situ terlihat dengan jelas keterangan hari, tanggal, bulan, tahun, jam, menit sampai detik kejadian. Frans melihat tahun kejadian. Dia kemudian menatap Danu dengan tatapan tidak percayanya.


"Dan, ooo Danu hati loe terbuat dari apa Dan? Udah kayak gini, loe masih bertahan" ujar Frans dengan memberikan Danu tatapan ketidakpercayaan Frans terhadap keterangan yang dilihatnya dalam video Ivan.


"Maksud loe gimana Frans? Gue nggak ngerti" ujar Danu yang memang tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Frans kepada dirinya.


"Maksud gue, gue tengok video milik Ivan adalah kejadian tiga tahun yang lewat. Loe serius bisa menahan perasaan loe yang tersakiti selama itu? Gilak bener loe" ujar Frans berkata serius kepada Danu.


"Loe beli dimana level kesabaran seperti itu. Kalau gue jadi loe, udah gue cerai dari lama ne monster" ujar Frans dengan nada tidak percaya atas apa yang dilakukan oleh Danu.

__ADS_1


Frans tidak menyangka Danu bisa menyakiti dirinya sendiri begitu lamanya. Danu bisa menyabarkan perasaannya segitu lamanya. Frans benar benar salut dengan Danu. Frans angkat tangan dengan kesabaran yang dimiliki oleh Danu.


"Bang Bang, Bang Frans baru heran sekarang kan ya. Udah kayak gini ngomongnya. Apalagi kami Bang, yang udah tau berlama lama semua semuanya. Tapi yah tanggapan manager kami yang tingkat sabarnya di atas tingkat dewa ya hanya bisa urut dada aja lagi" kata Ivan yang dulunya paling marah melihat sikap Danu yang seperti itu.


"Apa alasan loe Danu yang buat loe nggak bisa menceraikan Ranti dari dulu?" tanya Frans yang penasaran dengan alasan di balik sikap Danu yang mengambil jalan untuk bertahan selama itu dengan sikap dan tingkah laku Ranti.


"Deli?" tebak Frans yang menyangka semua ini karena Deli. Danu bertahan karena ada Deli yang membutuhkan kasih sayang seorang ibu.


Danu terdiam. Dia harus menjawab semuanya kepada Frans. Danu tidak akan menyembunyikan apapun dari Frans.


"Alasan pertamanya dulu memang Deli, Frans. Tetapi saat gue tahu semua cerita dari bibik yang mengatakan kalau Deli sama sekali tidak pernah diurus oleh Ranti membuat gue menjadi tambah kesal dan semakin marah" ujar Danu mulai menceritakan semuanya kepada Frans.


"Gue udah pernah mengajukan perceraian kepada Ranti. Gue muak dengan sikap yang dilakukannya kepada Gue dan Deli." lanjut Danu bercerita.


"Tapi, dia memakai alasan Papi. Gue itu yang nggak bisa. Gue pernah berjanji ke Papi mertua gue itu untuk selalu mendukung apapun yang dilakukan oleh Ranti" ujar Danu sambil melihat ke arah Frans.


"Kalian berdua kan tau, sebelum gue nikah dengan Ranti, Papi mertua gue itu minta apa sama gue. itu yang bikin gue jadi gagal paham. itu yang bikin gue pusing hari itu" ujar Danu sambil menatap kearah Frans dan Iwan.


"Jadi, sekarang loe bisa ngambil keputusan ini karena loe udah nggak memperdulikan lagi pesan yang diberikan oleh mertua loe itu lagi?" tanya Frans kepada Danu.


"Yup. Gue nggak perduli lagi. Gue nggak mikirin itu lagi. Bagi gue sekarang yang terpenting adalah kebahagiaan gue dan Deli. Gue nggak mikirin lagi kebahagiaan orang lain" ujar Danu kepada Frans.


"Keputusan gue udah bulat. Gue cerai" ujar Danu.


"Gue bantu" jawab Frans.

__ADS_1


__ADS_2