Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Ranti


__ADS_3

"Sayang, apa yang mau kamu katakan kepada aku?" ujar Anggara saat dirinya sudah bersama dengan Ranti di restoran mewah tersebut. Mereka duduk berdampingan di sana. Ranti sengaja memilih tempat yang agak tersuruk ke arah dalam restoran mewah itu. Ranti dan Anggara tidak mau orang orang yang datang di sana mengenali diri mereka berdua.


Retoran mahal ini sengaja di pilih orleh Ranti untuk tempat makan siang dirinya dan Anggara. Restoran dimana menurut Ranti, Danu atau kedua sahabatnya itu tidak akan pernah menginjakkan kaki mereka di restoran mahal tersebut.


Tetapi Ranti salah, Ivan dan Iwan sudah melihat keberadaan mereka berdua di sana. Iwan dan Ivan hanya menatap jengkel kepada Ranti. Sampai sampai Iwan memilih untuk masuk ke dalam ruangan VVIP tanpa ditemani oleh Ivan. Ivan memiliki rencana lain yang akan diwujudkan oleh dirinya. Sebuah rencana yang harus melibatkan pelayan restoran mewah tersebut.


Ivan tanpa sepengetahuan Ranti sudah memasang kamera tersembunyi di bawah meja tempat Ranti duduk, melalui permintaan tolongnya kepada pelayan restoran. Pertamanya pelayan restoran menolak apa yang diminta oleh Ivan kepada dirinya. Tetapi pada saat Ivan menghubungi manager restoran tersebut, mau tidak mau pelayan akhirnya melakukan juga apa yang diminta oleh Ivan kepada dirinya. Pelayan menaruh di bawah meja sebuah kamera kecil yang sistem kerjanya hanya tinggal di tempelkan saja.


"Rasain loe, kesalahan berikutnya akan loe perbuat tanpa loe sadari" ujar Ivan berkata dengan suara kecil.


"Bermain dengan keluarga Sanjaya maka siap siap saja loe akan menerima semua akibatnya." ujar Ivan yang sudah sangat kesal dengan apa yang dilakukan oleh Ranti pada saat ini.


"Apa lagi loe sudah semakin membuat gue kesal. Loe membuat harga diri keluarga Sanjaya menjadi tidak ada. Awas saja loe. Mulai sekarang loe akan berhadapan dengan gue" ujar Ivan yang memang sangat sangat marah melihat kelakuan Ranti yang sudah di luar batas itu.


Setelah mendapatkan kode dari pelayan restoran kalau pekerjaannya sudah beres, Ivan kemudian masuk ke dalam ruangan VVIP dimana pertemuan dengan Frans akan dilangsungkan.


"Nanti lah ya sayang, sekarang kita makan dulu. Aku bener bener lapar dan lelah" ujar Ranti sambil menyandarkan kepalanya kepada lengan kekar Anggara, seorang pengacara dan juga kekasih gelapnya yang kesekian kali.


Anggara yang melihat Ranti sudah menyandarkan kepalanya ke lengan kekar Anggara, dengan perlahan Anggara mengusap rambut kekasihnya itu. Kekasih yang sekarang sedang butuh lengan Anggara untuk sandarannya melepaskan kelelahan yang luar biasa dirasakan oleh Ranti.


"Emang banyak banget ya pekerjaan tadi di perusahaan?" ujar Anggara yang sedikit kurang mengerti dengan pekerjaan para pengusaha seperti Ranti yang menjalankan bisnisnya sendiri.


"Luar biasa banyak sayang. Nantilah siap makan aku akan ceritakan apa saja yang harus aku kerjakan di perusahaan. Mana tau nanti setelah aku bercerita, kamu berminat membantu aku, atau langsung menjadi direktur di perusahaan milik aku. Aku akan sangat senang sekali bisa sekantor berdua dengan kamu sayang" kata Ranti yang sebenarnya dahulu masih bisa kesana kemari bermain dengan semua sahabatnya, kadang pergi dengan selingkuhannya karena yang menjalankan perusahaan adalah Danu suami di atas kertasnya itu.


Tetapi sekarang di saat perpisahan sudah diajukan oleh Danu, Danu juga melepaskan tanggung jawabnya sebagai direktur dan pengendali perusahaan. Semuanya di serahkan oleh Danu kepada Ranti. Sehinga membuat Ranti yang biasanya tahu selesai semua hal menjadi tidak bisa melakukan apapun lagi. Ranti benar benar gamang dalam mejalankan perannya sebagai seorang direktur wanita tanpa bantuan dari orang kepercayaan.


"Ye maunya. Aku nggak ada basic berkerja di perusahaan sayang, tapi kalau kamu butuh masukan dari aku, maka akan aku tolong. Tetapi untuk bekerja di perusahaan di situ rasanya bukan passion dan bidang aku sayang. Maafkan aku ya" ujar Anggara yang langsung saja menolak keinginan Ranti untuk mengajak Anggara masuk ke dalam perusahaan miliknya dan bekerja di sana.


"Iya sayang aku paham." jawab Ranti sambil tersenyum ke arah Anggara.


Aggara membalas senyuman yang diberikan oleh Ranti kepada dirinya.

__ADS_1


"Ya sudah, kamu terlihat sangat letih sekali sayang. Sekarang mari kita makan, setelah itu baru kamu cerita kepada aku, apa yang bisa aku bantu" ujar Anggara yang merasa kasihan melihat kekasihnya itu.


'Aku benar benar kasihan kepada kamu sayang, sudahlah ditinggalkan oleh suami yang selingkuh, sekarang kamu harus menjalankan sendiri tugas perusahaan. Suami kamu akan menerima ganjarannya sayang' ujar Anggara yang ternyata dan ternyata sampai sekarang masih belum mengetahui siapa Ranti sebenarnya.


Padahal waktu itu salah satu rekan Anggara sudah memberikan clue kepada Anggara siapa Ranti sebenarnya. tetapi sayangnya hanya akibat goyangan yang diberikan oleh Ranti kepada Anggara, Anggara menjadi tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh rekan kerjanya itu.


Malahan pada saat bertemu sekali lagi dengan rekan kerjanya itu, Anggara berani mengatakan kepada rekan kerjanya, kalau rekan kerjanya itu cemburu dengan dirinya yang bisa mendapatkan seorang wanita muda dan memiliki karier yang mentereng sehingga rekan kerjanya itu dengan teganya memfitnah Ranti. Saat itu rekan kerja Anggara hanya tersenyum saja, dia juga tidak berusaha meyakinkan Anggara kalau Anggara salah dalam mengambil kesimpulan tentang siapa Ranti sebenarnya.


"Tapi apa kamu mau menyuapi aku sayang?" ujar Ranti dengan nada manja meminta kepada Anggara untuk Anggara menyuapinya makanan yang sekarang sudah ada di hadapannya.


"Kok tumben?" ujar Anggara yang heran dengan apa yang diminta oleh Ranti kepada dirinya.


"Aku benar benar lelah sayang" jawab Ranti.


"Oke, berarti kita pake satu piring saja ya" ujar Anggara yang ternyata sangat murni mencintai Ranti


'Kamu benar benar mencintai aku sayang. Aku menjadi sangat takut saat kamu mengetahui siapa aku sebenarnya' ujar Ranti dalam hatinya


Anggara mulai menyuapi Ranti, setelah dirinya memasukkan sesendok nasi kedalam mulutnya sendiri. Mereka yang mulanya hanya Anggara saja yang menyuapi Ranti, malahan tidak berlaku lagi saat mereka sudah makan. Ranti juga sesekali menyuapi Anggara. Sepasang kekasih itu sangat mesra sekali. Siapa yang melihat tidak akan menyangka kalau mereka adalah pasangan selingkuhan. Semua yang menyaksikan akan menyangka kalau mereka adalah sepasang suami istri syah yang memang sudah romantis sejak dahulunya.


"Mau nambah lagi sayang?" ujar Anggara saat melihat piring kedua mereka berdua sudah kosong kembali.


"Nggak sayang, pas. Kamu mau bikin aku gendut?" ujar Ranti sambil manyun ke arah Anggara


"Haha haha haha ya nggak lah sayang. Nanti kalau kamu gendut maka kamu nggak akan bisa menggoyang aku lagi sayang" kata Anggara mengatakan sesuatu yang pada akhirnya


"Pikiran goyang terus aja sayang" jawab Ranti sambil tersenyum kepada kekasih hatinya tersebut.


"Jadi sayang, apa yang membuat kamu menjadi sangat capek dan lelah hari ini?" ujar Anggara kembali menanyakan kepada Ranti apa yang menyebabkan Ranti menjadi sangat capek dan letih.


"Aku mengerjakan semua pekerjaan perusahaan sendirian saja" jawab Ranti sambil memainkan jari jarinya.

__ADS_1


"Maksud kamu? Apa selama ini Danu tidak memakai seorang asisten dalam menjalankan perusahaan kamu? Kan kita tahu kalau dia juga berkerja di perusahaan lain" kata Anggara yang kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Ranti kepada dirinya.


"Tidak. Dia sama sekali tidak menggunakan seorang asisten dalam menjalankan perusahaan. Danu berjalan sendirian saja. Aku juga heran dengan apa yang dilakukan oleh dirinya. Kenapa bisa dia menjalankan perusahaan tanpa seorang asisten dan bekerja pula di perusahaan yang lain" kata Ranti menjawab keraguan dan juga pernyataan yang diberikan oleh Anggara kepada dirinya.


Anggara sedikit kesal mendengar Ranti yang seperti bangga dengan kehebatan seorang Danu yang bisa bekerja di dua perusahaan tanpa bantuan dari orang lain untuk mengendalikan atau membantu Danu dalam menjalankan perusahaan.


"Terus sekarang, maunya kamu gimana?" tanya Anggara kepada Ranti.


"Aku berencana untuk mencari seorang asisten sayang. Tetapi aku nggak tau siapa yang mau aku jadikan sebagai seorang asisten" kata Ranti yang menyadari bagaimana cerobohnya dia dahulu yang tidak mau belajar kepada Danu tentang menjalankan perusahaan yang diwariskan oleh kedua orang tuanya kepada dirinya.


"Emang kamu nggak ada kenal dengan seseorang yang bisa berkerja di dunia bisnis dan juga bisa menjadi seorang asisten?" ujar Anggara sambil melihat ke arah kekasihnya itu.


"Sama sekali tidak ada gambaran sayang" jawab Ranti sambil mengambil tangan Anggara dan menggenggam tangan itu.


"Apa kamu ada kenalan sayang yang bisa bantu aku di perusahaan?" ujar Ranti meminta bantuan Anggara untuk mencari seseorang yang bisa membantu dirinya dalam menjalankan perusahaan.


"Aku coba tanya tanya dulu dengan rekan rekan kerja aku yang lainnya ya sayang." ujar Anggara yang kasihan melihat Ranti harus bekerja sendirian mengelola perusahannya.


"Maksi sayang" jawab Ranti sambil memeluk tangan Anggara.


"Aku akan carikan tapi yang perempuan ya. nggak yang laki laki" ujar Anggara menjelaskan kepada Ranti siapa yang akan dicerikan oleh Anggara


"Posesif" jawab Ranti sambil tersenyum


"Mau nggak?" ujar Anggara bertanya memastikan kepada Ranti apakah Ranti mau yang perempuan atau Anggara tidak akan menolong dirinya.


"Maulah" jawab Ranti


"Jangan ngambek gitu" lanjut Ranti menggoda Anggara yang tiba tiba menjadi manyun mendengar kata kata posesif dari mulut Ranti.


Cup. Ranti mengecup bibir Anggara sekilas. Bibir yang tadinya manyun itu sekarang sudah tidak manyun lagi.

__ADS_1


__ADS_2