
"Dan" Iwan mengagetkan Danu dari lamunan panjangnya.
"Ya Wan, ada apa?"
"Loe dari tadi gue peratiin menung aja. Ada apa?"
"Biasalah Wan, masih masalah yang sama. Tetapi kali ini lebih parah dari yang kemaren kemaren."
"Maksud loe lebih parah?" Iwan penasaran dengan pernyataan Danu.
"Yup. Kalau dulu dia sering tidak di rumah karena kerjaan, sekarang dia menjadi tidak pulang pulang ke rumah karena sudah punya kekasih baru " jawab Danu sambil mengusap mukanya.
"Apa? Ini udah tidak bisa dibiarkan lagi Dan. Kamu harus mengambil sikap."
"Aku harus bagaimana Wan? Aku nggak mau Deli menjadi kecewa karena aku bercerai dengan Bundanya."
"Bagaimana kalu loe mendekati Vina lagi. Terus terang dengan Vina kalau loe udah punya anak. Tapi saat Vina tanya tentang istri loe. Loe harus milih antara berkata jujur dengan tidak. Pilihan ditangan loe" Iwan memberikan solusi yang dirasanya cukup benar.
Danu memikirkan ucapan Iwan. Danu ragu apakah nanti Vina mau dengan dirinya karena dia sudah punya anak satu. Apalagi kalau Danu mengakui kalau dia masih sah menjadi suami orang. "Apa yang harus aku lakukan Tuhan." kata Danu mulai gelisah.
"Dan, itu usul gue kalau loe setuju. Kalau loe nggak setuju juga nggak apa apa."
"Gue pikir pikir dulu lah Wan. Gue pusing."
Iwan kemudian keluar dari ruangan Danu. Iwan sangat sedih melihat sahabat baiknya yang tidak bisa mengambil keputusan dengan tepat. Iwan ingin membantu Danu, tapi Iwan malas karena masih ada istri Danu. Iwan tidak mau nanti saat kemelut ini makin runyam, Iwan juga terbawa bawa. Iwan sangat menghindari konflik seperti itu. Makanya Iwan hanya bisa memberi pandangan kepada Danu.
Setelah Iwan keluar dari ruangannya Danu kemudian kembali bekerja. Dia harus menyelesaikan membaca semua proposal yang ada di meja kerjanya. Danu kembali serius membaca pekerjaannya itu.
RUMAH VINA
Vina hari ini tidak masuk kantor, badannya luar biasa meriang, tapi apa mau dikata niat hati pingin istirahat tetapi tidak bisa. Vina terlanjur menerima orderan untuk kue ulang tahun. Pesanan jajanan pasar sudah bisa dilakukan oleh Maya. Untuk pesanan kue ulang tahun tetap Vina yang menghendlel.
"Vin, kalau loe nggak kuat biar gue yang ngerjain. Loe tinggal duduk manis aja di situ" kata Maya sambil menunjuk sebuah kursi di dekat meja makan.
"Tapi May, gimana dengan riasannya?"
"Tenang aja, aku udah bisa kok bikin hiasan seperti itu. Serahkan sama aku." kata Maya dengan yakin.
Vina yang benar benar tidak sanggup lagi langsung menyerahkan ke Maya untuk mengerjakan pesanan kue ulang tahun yang dipesan tetangga mereka.
__ADS_1
Akhirnya dengan penuh keseriusan tingkat tinggi, akhirnya kue ulang tahun itu berhasil dibuat oleh Maya. Hasilnya juga sangat bagus, sangat mirip dengan yang diminta oleh konsumen.
"Wow, cantik banget. Udah bisa ini loe menghendle pesanan kue ulang tahun" ucap Vina dengan bangga kepada Maya. Vina memberikan dua jempolnya kepada Maya.
"Kalau kayak gini mampu gue. Tapi kalau udah banyak mawar mawarnya, huf angkat tangan gue. Malez bikin mawarnya."
Tepat kue tersebut selesai dibuat, pemesannya pun datang untuk mengambil kue ulang tahun dan dua nampah makanan jajanan pasar.
"Wow bagus sekali kuenya, mirip banget dengan yang saya minta. Nak Vina memang terbaik. Berapa semuanya Vina?" kata ibu ibu tersebut.
"Kue ulang tahunnya 400rb. Nampah jajanan pasar dua itu 300rb. Jadi totalan semuanya 700rb ibuk." kata Vina menjelaskan berapa totalan semua pesanan ibuk tersebut.
"Ini nak Vina, terimakasih banyak nak Vina sudah menyelamatkan emosian cucu saya, karena lupa memesan kue ulang tahun yang diinginkannya." kata ibu-ibu itu sambil menyerahkan uang.
Vina dan Maya membantu ibu ibu untuk menaikan semua pesanannya ke atas mobil. Selesai dengan menolong ibu tersebut, Vina dan Maya masuk kembali kedalam rumah. Vina kemudian berbaring di atas kasur, Vina merasakan badannya yang begitu sakit. Tak lama kemudian Vina tertidur. Maya yang melihat Vina tidur membiarkan saja dan tidak mengganggu Vina. Tepat sebelum maghrib Maya membangunkan Vina.
"Vin. Vina, sudah mahgrib Vin bangun. Kamunnggak sholat?"
Tidak ada reaksi sama sekali dari Vina. Maya mulai merasa tidak enak langsung masuk dab menggoyang badan Vina. Masih tidak ada reaksi dari Vina. Maya mencari ponsel Vina.
Maya kemudjan menelpon Danu, Maya menghubungi Danu karena setau Maya hanya Danu teman Vina yang mempunyai mobil.
"Assalamukaikum Tuan Danu. Ini saya Maya teman serumah Vina." kata Maya dengan nada cemasnya.
Danu yang bisa mendengar kecemasan dalam nada Maya mendadak menjadi takut.
(Ada apa dengan Vina, Maya?"
"Anu Tuan anu. Vina pingsan tuan. Saya tidak tau akan membawanya kemana." kata Maya cepat.
"Kamu siapkan semua baju Vina. Aku akan kesana sekarang."
"Baik Tuan." Maya kemudian memutuskan panggilannya tanpa mengucapkan salam. Maya langsung membuka lemari Vina dan memasukkan semua beberapa baju Viba. Selesai itu Maya menunggu Danu di teras depab. Tak berapa lama Danu datang dengan Iwan.
"Mana Vinanya May?" kata Danu.
"Di kamar Tuan."
Danu berlari masuk ke dalam kamar Vina, diikuti oleh Maya.
__ADS_1
"Kamu bawa tas baju Vina dan dompetnya." perintah Danu kepada Maya. Sedangkan Danu langsung menggendong Vina membawanya ke mobil.
"Wan, loe bawa mobil. Maya duduk sebelah Iwan. Kita kerumah sakit Sentosa saja." kata Danu memberi perintah.
Iwan kemudian melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit Sentosa. Tiba tiba ponsel Iwan berbunyi, ada panggilan dari Ifan.
"Fan kami ke rumah sakit Sentosa. Kamu susul saja ke sana. Jangan lupa kunci kantor" perintah Iwan.
Iwan kembali fokus kepada jalan yang ada di depannya. Setelah dua puluh menit berkendara, mobil yang dikemudikan Iwan sampai di depan IGD rumah sakit Sentosa. Dua orang suster jaga berlari sambil membawa brangkar. Danu kemudian meletakkan Vina di atas brangkar.
Kedua suster mendorong brangkar dengan cepat ke dalam ruang IGD. Vina kemudian dipasangkan oksigen dan infus, Maya dan Iwan mendampingi. Sedangkan Danu pergi mengurus administrasi untuk menginap Vina.
Dokter selesai memeriksa Vina.
"Bagaimana dokter?" kata Iwan.
"Sepertinya nona Vina kelelahan dan banyak pikiran. Makanya dia drop. Hasil pasti sakitnya nanti akan kita lihat berdasarkan hasil labor. Menurut analisa saya, Vina sakit tipus."
"Apa tipus dokter?" tanya Iwan.
"Ya Tipus, dengan beristirahat cukup maka Vina akan kembali pulih. Sekarang biarkan dia beristirahat, sebentar lagi akan dipindahkan keruang inapnya oleh suster. Saya permisi dulu." kata dokter kepada Iwan dan Maya.
Suster kemudian memindahkan Vina keruangannya.Danu, Iwan, Ifan dan Maya mengikuti dari belakang.
"Siapa yang akan menunggui Vina untuk malam ini?" kata Danu menatap ketiga rekannya.
"Biar saya saja pak." kata Ifan.
"Saya juga ikut." kata Maya.
"Apa besok tidak ada pesanan May?" tanya Danu.
"Ada Tuan, tapi ambil sore. Pagi saya akan pulang untuk membuatnya." kata Maya.
"Baiklah. Berarti yang nginap Ifan dan Maya. Besok pagi kamu yang kesini Wan. Besok kan sabtu jadi kamu bisa jaga Vina dari pagi sampe malam." kata Danu.
Danu tidak bisa menjaga Vina di akhir pekan. Danu tidak memiliki alasan yang akan diajukan kepada Deli, saat Deli bertanya nanti. Makanya Danu meminta Iwan untuk menjaga Deli.
Setelah membagi tugas, Danu kemudian langsung pulang ke rumahnya. Sedangkan Iwan masih di rumah sakit. Iwan berencana tidak akan pulang. Iwan tidak tega membiarkan Ifan berjaga. Iwan tau Ifan kemareb sudah lembur bekerja membuat desain yang belum siap dibuat Vina.
__ADS_1
Mereka bertiga berbicara tanpa arah selama menunggui Vina sakit. Mereka terus berbicara sampai merasakan kantuk. Tadi dokter jaga malam mengatakan kalau Vina tidak akan sadar sampai pagi. Maka mereka bisa tidur tanpa ada yang bergantian menjaga Vina.