
Ranti yang kebetulan malas ribut dengan resepsionis kembali berjalan menuju meja resepsionis tersebut. Dia akan mengisi buku tamu yang telah disediakan oleh salah seorang resepsionis yang duduk di meja kerjanya itu. Ranti tidak ingin ribut dengan resepsionis karena hal itu akan membuat waktunya untuk bertemu dengan Danu akan semakin kurang saja dan semakin pendek. Sehingga apa yang akan dibicarakannya dengan Danu akan tidak selesai karena kekurangan waktu untuk berbicara.
" silakan Tuliskan nama alamat dan orang yang anda ingin temui nona" kata resepsionis sambil melihat ke arah Ranti dan memberikan pena untuk digunakan Ranti menulis apa yang diminta oleh resepsionist tersebut.
Ranti kemudian menuliskan nama lengkap dirinya dan alamat perusahaannya serta dengan siapa dia ingin bertemu. Semua informasi yang diinginkan oleh resepsionit itu dituliskan oleh Ranti di buku tamu tersebut. Ranti sama sekali tidak mengelak dengan apa yang harus di tulisnya di sana. Ranti menulis semuanya sesuai dengan informasi yang sebenarnya.
Saat itulah resepsionis merasa kaget melihat siapa yang ingin ditemui oleh Ranti. Kedua resepsionis itu saling memandang satu dengan yang lainnya. Mereka berdua sama-sama tahu kalau orang yang dicari oleh nona ini sama sekali tidak ada di tempat. tetapi mereka berdua juga sudah dipesankan oleh orang yang dicari nona ini untuk tidak mengatakan kemana orang yang dicari nona itu pergi.
" Selesai apa saya boleh naik sekarang?" kata Ranti berbicara dengan sangat sinis kepada kedua orang resepsionis yang telah dengan berani menghadang jalan dirinya hanya sekedar untuk mengisi buku kamu yang telah selesai diisi oleh Ranti
" Oke terima kasih nona. Nona tahu sendiri kan di mana letak ruangan orang yang sedang Nona cari? Kami berdua tidak perlu mengantarkan Nona ke ruangan itu bukan?" kata resepsionis sambil melihat ke arah Ranti dan tersenyum penuh arti.
"Oh ya Nona, ini name tag tanda tamunya Nona, Silahkan di pakai" ujar resepsionis sambil memberikan name tag kepada Ranti.
"Untuk apa? Saya tidak perlu ini" jawab Ranti dengan sombongnya.
"Nona harus pakai ini, kalau tidak Nona tidak akan bisa menggunakan lift, atau kalau mau lewat tangga darurat tidak apa apa, akan saya bawa kembali name tag ini" jawab resepsionist yang sudah sangat kesal melihat gaya dan kelakuan dari Ranti yang sangat sangat pongah dan poak itu.
Ranti akhirnya mengambil name tag tersebut dari tangan resepsionist.
"Sekali lagi saya tanya Nona, apa nona benar benar tahu dimana letak ruangan Tuan Danu?" ujar resepsionist sekali lagi bertanya kepada Ranti.
" ya saya sudah tahu" jawab Ranti sambil berjalan menuju lift dan meninggalkan resepsionist yang telah mengganggu waktunya itu.
" sungguh menyebalkan sekali kedua resepsionis tersebut, Seenaknya saja mereka menghentikan dan mencegah aku untuk masuk langsung ke dalam ruangan Danu. Apa mereka tidak tahu siapa aku?" kata Ranti sambil mengomel-ngomel sendiri untuk menuju ruangan Danu.
"Rasain loe Nona sok oke. Loe akan mendapati Tuan Danu yang tidak ada di ruangannya dan hanya ada Tuan Iwan di sana" ujar salah satu resepsionis kepada Ranti yang telah hilang di telan lift.
__ADS_1
"Ha ha ha ha ha, makanya jangan sombong, jadi kena kan loe, kami kerjain" balas resepsionis yang lain.
"Makanya dengan kami para resepsionist ini harus baek, karena kami adalah gudang informasi ada atau tidak adanya di tempat orang yang di cari oleh para tamu" kata resepsionis yang tadi berkata sambil tersenyum ke arah rekannya.
"Gue penasaran dengan wajah Nona itu ke luar nantinya dari ruangan Tuan Danu. Gue ingin melihat secara langsung, apakah dia masih bisa pongah seperti tadi atau tidak" ujar salah satu resepsionist.
"Kita tunggu saja, karena kita tidak mungkin meninggalkan kantor kalau Tamu masih ada di dalam, mereka harus mengembalikan kartu tanda tamu itu" ujar resepsionist yang lain.
"Yup, mari kita lanjutkan pekerjaan yang lain sambil menunggu Nona itu keluar dari dalam ruangan tuan Danu" ujar resepsionist
Ranti dengan percaya dirinya berjalan menuju ruangan Danu. Dia berjalan menatap lurus ke depan, Ranti sama sekali tidak menyapa para karyawan yang berselisih jalan dengan dirinya. Walaupun karyawan itu sudah tersenyu. Ranti tetap dengan wajah datarnya berjalan menuju ruangan Danu.
"Ais sombongnya untuk cantik" ujar salah satu karyawan yang tadi di acuhkan oleh Ranti walaupun dirinya sudah tersenyum kepada Ranti.
Ranti mendengar apa yang dikatakan oleh karyawan laki laki itu tentang dirinya. Tetapi Ranti sama sekali tidak ambil pusing, dia masih dengan gayanya yang tadi, tetap sombong dan pongah. Ranti tidak perduli dengan omongan orang orang tersebut.
"Gue akan berusaha menahan emosi gue sebaik baiknya. Gue nggak mau terpancing emosi nantnya. Gue harus bisa meyakinkan Danu kalau perceraian ini tidak boleh di lakukan, gue butuh Danu sekarang ini" ujar Ranti berkata sendirian sambil menatap pintu ruangan yang di depannya itu masih tertutup dengan sempurna.
Setelah yakin dirinya akan tenang dan tidak akan terbawa emosi nantinya. Ranti kemudian membuka pintu ruangan Danu. Iwan yang berada di dalam kaget saat pintu itu terbuka tanpa di ketuk terlebih dahulu. Iwan langsung melihat ke arah pintu tersebut. Dia penasaran siapa yang datang dan telah berani mengganggu dirinya. Apalagi masuk tanpa mengetuk pintu.
Iwan nampak sedikit kaget saat melihat siapa yang masuk.
"Ooo ternyata kamu" ujar Iwan yang kembali melihat ke arah komputernya saat tahu siapa yang membuka pintu ruang kerja mereka tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Ya gue. Kenapa?" tanya ranti sambil melihat ke arah Iwan.
Iwan menatap Ranti dengan tatapan tidak sukanya. Ranti membalas dengan tatapan yang sama. Mereka berdua saling membalas tatapan. Dengan tatapan yang sama yaitu tatapan ketidaksukaan melihat orang yang berada di depan mereka saat ini.
__ADS_1
'Ya siapa lagi orang yang masuk ruangan orang lain tidak pernah mengetuk pintu dan membaca salam, kalau tidak elo" ujar iwan berkata dan memberikan skakmat kepada Ranti.
'Suka suka gue dong. Kantor kantor lakik gue" ujar Ranti dengan percaya dirinya berkata kepada Iwan.
"Kantor lakik lo? Sejak kapan?" ujar Iwan sambil menatap ke arah Ranti dengan tatapan mencemooh.
"O o o o o o o, gue tau sejak kapan, pasti sejak surat cerai itu datangkan ya? loe takut diceraikan" ujar Iwan menabak apa yang ada di kepala Ranti saat sekarang ini.
" jadi ke datangan loe ke sini mau cari lakik loe itu?" kata Iwan menebak tujuan kedatangan Ranti ke ruangan mereka.
"Tapi sayangnya, lakik loe itu, atau pria yang loe katakan sebagai lakik loe itu tidak ada di sini. Dia sedang pergi, ntah kemana gue juga tidak tau." kata Iwan selanjutnya memberitahukan kepada Ranti kalau Danu tidak ada di perusahaan sekarang.
"Dia sudah pergi sejak tiga hari yang lalu." kata Iwan memberikan informasi selanjutnya kepada Ranti.
Ranti menatap Iwan dengan tatapan tidak percaya dengan informasi yang diberikan oleh Iwan kepada dirinya.
"Gue tidak percaya dengan elo" jawab Ranti sambil menatap ke arah Iwan.
Ranti benar benar tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Iwan kepada dirinya.
"Loe pasti di suruh Danu untuk mengatakan hal itu kepada Gue." lanjut Ranti berkata kepada Iwan.
"Gue akan tetap menunggu Danu di sini. Suka atau tidak suka elo. Gue nggak peduli" kata Ranti sambil langsung duduk di sofa ruangan kerja Danu dan rekan rekannya itu.
"terserah elo, silahkan menunggu. Gue pulang dulu" ujar Iwan yang memilih untuk keluar dari dalam ruangan itu.
Iwan sangat kesal dengan kedatangan Ranti. Kedatangan Ranti membuat Iwan tidak akan bisa bekerja dengan serius. Jadi Iwan memilih untuk pulang ke rumahnya dari pada harus bekerja tetapi tidak konsentrasi. Iwan merasa kalau itu akan sia sia saja.
__ADS_1