
"Kamu Wan, ragu dengan Danu?" tanya Ayah kepada Iwan yang bersahabat lama dengan Danu.
"Ragu banget Ayah. Tapi, semoga kali ini Danu bisa menggunakan kesempatan yang telah diberikan oleh Vina kepada dirinya. Kesempatan yang nggak akan datang lagi di lain hari" ujar Iwan berharap semoga Danu bisa menyelesaikan masalah dirinya dengan Vina.
Mereka kemudian melanjutkan obrolan ringan tentang perkembangan perusahaan dan perkembangan desain yang dibuat oleh Ivan dan Iwan. Ayah berencana untuk melakukan meeting dan pertemuan dengan salah satu perusahaan. Desain dan maket sudah diselesaikan oleh Iwan tadi siang sampai malam.
"Udah jam setengah sebelas, mari tidur, Ayah udah mengantuk besok ada meeting pagi dengan para manager" ujar Ayah yang langsung berdiri dari sofa nya. Ayah kemudian berjalan menuju kamar yang berada di lantai dua Panthouse putih itu.
"Sama para manager? Emang ada sesuatu yang urgent Ayah?" tanya Ivan yang memiliki pemikiran jelek di otak cantiknya.
"Nggak.Cuma rapat akhir bulan saja. Membahas sudah sampai mana perkembangan perusahaan maju, mundur atau jalan di tempat saja" ujar Ayah menjawab pertanyaan dari Ivan.
Setelah menjawab pertanyaan dari Ivan, Ayah melanjutkan langkah kakinya menuju kamar di lantai dua. Ayah benar benar sudah mengantuk. Semenjak Ivan kembali tinggal bersama Ayah. Ayah jarang yang tidur cepat. Selalu larut karena saling berbagi cerita dengan Ivan. Kadang video call dengan Sari yang berada di negara U. Suatu hal yang membuat Sari sering bolak balik negara U dengan negara I.
"Ayuk Bang tidur, gue juga udah ngantuk. Emang loe nggak ngantuk seharian nengokin laptop dan menguras otak? " ujar Ivan yang memang sudah sangat mengantuk karena seharian berada di depan laptop.
"Ngantuk la Van, masak nggak. Udah dari tadi malahan. Tetapi Ayah masih juga ngobrol, nggak mungkin gue ngomong kalau gue ngantuk. Sopan kali gue jadi orang Van" jawab Iwan yang ternyata sudah menahan kantuk nya dari tadi. Untung saja Ayah mengantuk juga, jadi Iwan bisa beristirahat lagi.
Mereka berdua kemudian masuk ke dalam kamar masing masing. Iwan tidur di kamar tamu yang terletak di lantai satu Panthouse, sedangkan Ivan tidur di kamarnya yang berada di lantai dua Panthouse.
Ivan mulai merebahkan dirinya ke atas ranjang besar miliknya itu. Ivan menghargai ponselnya di nakas sebelah dia tidur. Dia masih berharap Maya untuk menghubungi hari ini.
"Belum sehari dia pergi gue udah kangen lagi. Apa gue percepat aja ya kepindahan gue ke sana?" ujar Ivan yang mulai berubah pikiran karena merasa tidak bisa jauh dari Mata.
"Tapi apa Ayah setuju ya, gue jadi ragu." ujar Ivan berbicara sendirian. Ivan berada di tingkat kegalauannya lagi.
"Tapi kalau gue pergi jarak yang jauh dengan Ayah kembali, maka kasihan Ayah yang harus tinggal sendirian di sini" ujar Ivan yang ingat dengan kondisi Ayahnya yang tidak mungkin ditinggalkan sendirian dalam waktu yang sangat lama.
Ivan merasakan kantuk nya sudah sangat berat, dia kemudian memeluk guling dan memejamkan matanya. Ivan sudah membayangkan akan memimpikan Maya. Tetapi apa daya Ivan, selama mereka pacaran, Ivan sama sekali tidak pernah bermimpi Maya dalam tidurnya.
Baru saja Ivan mau masuk ke alam mimpi, ponsel miliknya bergetar hebat. Dia melihat nama siapa yang menghubungi nya, ternyata saat dia melihat nama yang tertera nama my love. Ivan langsung duduk dari tidurnya. Dia dengan sangat semangat mengangkat panggilan dari Maya.
"Hallo sayang, udah sampai dimana?" tanya Ivan tidak sabaran mendengar sapaan dari Maya kepada dirinya.
"Ini udah di bandara sayang. Kami sedang menunggu Juan selesai mengatur semuanya. Setelah itu baru kami pulang ke rumah." ujar Maya memberitahukan kepada Ivan dia sudah sampai di bandara negara U
__ADS_1
"Apakah penerbangan tadi aman sayang?" tanya Ivan yang hanya ingin mendengar suara Maya saja.
Maya menatap Vina dan Sari.
"Ivan nanyak penerbangan, apa yang harus gue jawab" ujar Maya bertanya berbisik kepada kedua sahabatnya.
"Jawab jujur aja. Sepertinya Ivan membaca perkiraan cuaca" ujar Sari yang tau bagaimana tabiat Ivan kakak satu satunya itu.
"Vin?" tanya Maya kepada Vina.
"Ikut Sari" jawab Vina dengan mantap menyetujui saran yang diberikan oleh Sari kepada Maya.
"Sayang, kenapa diam, apa ada sesuatu di bandara?" tanya Ivan mulai cemas karena Maya cukup lama terdiam menjawab pertanyaan dari dirinya.
"Oh nggak sayang semua baik baik saja. Tadi aku keselek, pergi cari air minum bentar" jawab Maya berbohong kepada Ivan.
Maya terpaksa harus berbohong kepada Ivan, karena dia harus bertanya terlebih dahulu kepada Vina dan Sari mau menjawab seperti apa pertanyaan dari Ivan masalah penerbangan itu.
"Penerbangan tadi, ada sedikit gangguan sayang" ujar Maya mulai bercerita tentang gangguan penerbangan yang hanya sesaat itu.
Maya yang tidak tahan dengan mendengar Ivan yang berbicara dengan lantang, menjauhkan ponsel miliknya dari telinga.
"Wah bisa budek gue" ujar Maya pelan.
Vina dan Sari yang melihat kelakuan Maya hanya bisa tersenyum saja. Sudah sejauh itu ponsel di pegang oleh Maya, suara teriakan dari Ivan masih terdengar jelas oleh Maya, Vina dan Sari.
"Pake toa mesjid ne orang" ujar Sari sambil menahan senyumnya saat tau bagaimana norak nya kelakuan Ivan.
"Maya jawab Maya jangan diam aja. Atau aku harus terbang ke negara U sekarang juga" ujar Ivan yang sudah tidak sabaran lagi mendengar jawaban dari Maya.
"Sayang, tadi itu pesawat mesuk ke dalam gumpalan awan, sehingga terjadi turbelensi. Tapi semuanya berjalan lancar. Juan dan Jro melakukan tugas mereka dengan sangat baik. Kami menjadi tidak takut saat terjadinya turbelensi itu" ujar Maya mengatakan apa yang terjadi. Tetapi Maya mengubah rasa takut menjadi tidak takut
"Oh syukurlah kamu dan yang lainnya selamat sampai tujuan. Oh ya di sana jam berapa?" tanya Ivan pura pura tidak tahu padahal Ivan mengetahui setiap seluk beluk negara tersebut.
"Jam dua siang sayang. Tapi jetlag membuat kepala aku sakit, pengen tidur" ujar Maya yang telah merasakan efek jetlag di kepalanya.
__ADS_1
"Ya udah nanti sampe rumah, mandi, terus makan, minum obat sakit kepala. Setelah itu langsung tidur." ujar Ivan memberikan instruksi dan perintah kepada Maya.
"Sayang di sana bukannya sudah tengah malam ya? Kamu tidur lagi aja. Ini Juan suda datang, kami mau ke rumah dulu. Kamu istirahat lagi ya. Besok aku hubungi lagi" ujar Maya mengakhiri percakapan dengan Ivan.
"Oke sayang. Kamu hati hati di sana. Jangan lupa pesan aku tadi ya. Aku cinta kamu" ujar Ivan dengan nada khas Ivan.
"Aku juga mencintai kamu" balas Maya.
Vina dan Sari serta Juan saling pandang pandangan. Mereka tidak menyangka Ivan yang kulkas itu, bisa berubah semenjak tinggal di negara I. Maya kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
"Gimana sayang? Kita udah bisa langsung ke rumah atau gimana?" tanya Sari yang sudah merindukan kasurnya. Jetlag ternyata juga sudah menghantui dirinya.
"Udah sayang, mobil udah nunggu di luar. Semua koper juga udah ada di dalam mobil" kata Juan kepada Sari dan yang lainnya.
Mereka berempat berjalan keluar dari ruangan penumpang privat jet. Mereka menuju luar bandara. Ternyata sopir dari rumah yaitu Pak Hans sudah menunggu. Serta satu mobil lainnya juga sudah menunggu mereka.
"Vina. Maya, gue nggak mampir ya. Gue langsung pulang ke rumah. Pengen tidur" ujar Sari pamit kepada Vina dan Maya.
"Oke sip. Oh ya Juan, barang barang yang dibeli bagaimana?" tanya Vina yang ingat dengan barang barang yang mereka beli di negara I.
"Sudah diantar ke kafe Vina. Loe tenang aja, semua udah beres" ujar Juan menjawab pertanyaan dari Vina.
" Makasi banyak Juan" jawab Vina
Mereka kemudian masuk ke dalam mobil masing masing. Vina dan Maya akan langsung ke rumah. Sedangkan Sari dan Juan akan menuju mansion keluarga Sari yang berada di luar kota. Jadi, sopir membawa mobil melalui tol, sehingga akan cepat sampai di mansion.
"Pak Hans. Maya kangen dengan Bapak. Apa Bapak baik baik saja?" tanya Maya kepada Pak Hans sopir dari rumah.
"Baik selalu Nona. Nona apa kabar dengan liburannya, pasti asik kan ya?" ujar Pak Hans bertanya tentang liburan kedua Nona nya itu.
"asik Pak Hans. Sangat luar biasa asik" jawab Maya dengan nada bahagianya.
"tentu asik bagi Nona Maya karena ketemu pujaan hati secara live bukan virtual" ujar Pak Hans.
"Hahahaha. Ada pula pacaran live dan pacaran virtual, Pak Hans ayak ayak wae" ujar Vina langsung tertawa ngakak mendengar apa yang dikatakan oleh Pak Hans.
__ADS_1
Pak Hans melajukan mobil dalam kecepatan sedang. Dia tidak mau kedua Nona nya ini menajadi tambah sakit kepala karena Pak Hans yang membawa mobil ugal ugalan.