
Vina mengambil paperbag yang diberikan oleh Juan. Dia melihat di dalam paperbag itu ada tiga roti dan dua kotak teh botol.
Saat Vina mau membuka sebungkus roti, tiba tiba seorang dokter datang mendekat ke arah Vina dan Sari.
"Nona" ujar dokter memanggil Sari dan Vina bersamaan.
Vina dan Sari menatap ke arah dokter. Mereka berjalan mendekat ke arah dokter.
"Bagaimana dengan Maya dokter?" tanya Sari mewakili Vina.
"Nona Maya tidak apa apa Nona. Nona Maya hanya keletihan saja. Nona Maya harus istirahat minimal seminggu" ujar dokter memberitahukan kepada Vina dan Sari kalau Maya membutuhkan istirahat yang cukup.
"Jadi, apakah perawatannya harus di rumah sakit atau bisa di rumah saja dokter?" kali ini Vina yang bertanya.
"Kalau saran saya, lebih baik di rumah sakit saja. Jadi, kami bisa mengontrol dan memeriksa keadaan Nona Maya" ujar dokter memberikan saran kepada Vina dan Sari.
Vina melihat ke arah Sari.
"Sari, siapa yang akan jaga Vina kalau dia di rawat di rumah sakit selama seminggu, gue harus masuk kerja. Loe juga sama" ujar Vina yang pusing memikirkan siapa yang akan menjaga Maya di rumah sakit.
"Tenang Vin. Kita akan pikirkan caranya. Terpenting sekarang Maya sehat dulu." ujar Sari berusaha menenangkan pikiran Vina.
"Nona, kami akan memindahkan Maya ke ruangan. Nanti silahkan Nona menuju ruang rawat Nona Maya" ujar dokter.
Dokter kemudian kembali ke dalam ruang IGD, mereka akan menyiapkan Maya dan akan mengantarkan Maya ke ruangan VIP tempat Maya akan di rawat.
Sedangkan Vina dan Sari serta Juan kemudian duduk bertiga di kursi tunggu ruangan VIP.
"Sari, malam ini biar aku yang nungguin Maya" ujar Vina yang akan nginap malam ini di rumah sakit menunggui Maya.
"Malam besok biar aku yang menunggu Maya di rumah sakit" ujar Sari mengajukan dirinya untuk menunggui Maya besok di rumah sakit.
"Sudah besok kita akan bahas lagi siapa yang akan menjaga Maya. Sekarang kita ke kamarnya saja lagi. Kita pastikan kondisinya terlebih dahulu" ujar Juan mengajak Vina dan Sari menuju ruangan Maya.
Mereka bertiga kemudian berjalan menuju kamar rawat Maya. Maya dirawat di kamar VVIP rumah sakit CT Grub. Vina yang melihat betapa mewahnya kamar rawat Maya sudah menghitung berapa biaya yang harus dia dan Maya keluarkan untuk biaya rawat Maya selama seminggu di rumah sakit itu.
Maya terlihat masih tertidur, Vina, Maya dan Juan kemudian duduk di sofa ruangan Maya. Mereka melihat ke arah Maya yang terlelap itu.
"Sepertinya kita harus menambah dua orang koki di kafe, biar Maya tidak terlalu lelah. Kasihan kita sama dia." ujar Sari memberikan saran kepada Vina.
__ADS_1
"Gue setuju aja Sar. Tapi, kita harus katakan hal ini kepada Maya. Semuanya tergantung sama Maya, kita sarankan ke Maya aja dulu" ujar Vina mengemukakan pendapatnya kepada Sari.
"Okelah, kita bicarakan dulu dengan Maya." jawab Sari setuju dengan yang dikatakan oleh Vina.
Mereka kemudian duduk duduk sambil berbincang ringan. Mereka membicarakan tentang bisnis yang sedang mereka lakukan sekarang.
Sedangkan di negara I, Danu yang baru bangun tidur langsung menuju kamar mandi. Danu membersihkan badannya, dia rencananya hari ini akan meeting dengan Presiden Direktur sekaligus pamannya itu.
"Semoga aja Ranti menerima surat itu tidak emosi dan mau menandatanganinya" ujar Danu berharap gugatan cerainya berjalan dengan mulus.
Danu kemudian berjalan keluar dari kamar. Dia menuju meja makan. Bibik sudah menghidangkan sarapan untuk dimakan oleh Danu. Danu kemudian menikmati hidangan sarapan yang dibuat oleh bibik.
"Bik, aku berangkat kantor dulu ya" ujar Danu sambil berjalan menuju mobil.
Dret dret dret bunyi ponsel Danu bergetar. Danu melihat panggilan dari Iwan.
"Hallo Wan? Ada apa?" tanya Danu menyapa staffnya itu.
"Loe dimana?" tanya Iwan menjawab pertanyaan Danu dengan pertanyaan.
"Di jalan mau ke perusahaan. Ada apa Wan?" tanya Danu kembali.
"Ivan pergi ke negara U. Jadi, kita butuh bantuan elo untuk membantu membuat maket ini" ujar Iwan mengabari Danu.
"Oke oke, gue datang sebentar lagi" ujar Danu.
Danu memutuskan panggilan telpon dari Iwan.
"Jadi, Vina dan Maya di negara U" ujar Danu pelan.
"Untung kemaren Vina ngomong Maya sakit di dekat Ivan. Jadi, gue bisa tau dia dimana" ujar Danu.
"Gue akan buat kejutan untuk dia" ujar Danu yang memikirkan satu ide di otaknya.
Danu memarkir mobilnya di tempat parkir khusus pimpinan perusahaan. Danu kemudian masuk ke dalam ruang kerja.
"Loe udah sarapan?" tanya Danu kepada Iwan.
"Belum, emang loe bawa sarapan?" tanya balik Iwan.
__ADS_1
"Ada" jawab Danu.
Danu meletakkan di atas meja sarapan yang tadi sempat dibelinya. Iwan melihat makanan yang dibawa oleh Danu.
"Loe beli bubur ayam di simpang?" tanya Iwan saat melihat bubur ayam.
"Yup. Loe makan aja duluan. Gue ke ruangan dulu. Nanti setelah itu baru gue bantu loe bikin maket" ujar Danu sambil berlalu ke dalam ruangannya.
Danu kemudian mengambil ponselnya. Dia berencana untuk menghubungi Vina kekasihnya itu.
Vina yang sudah tinggal sendirian karena Sari dan Juan harus ke perusahaan, mengangkat panggilan video dari Danu.
"Hay sayang, gimana keadaan Maya?" tanya Danu kepada Vina.
Vina mengarahkan ponselnya kearah Maya yang masih tertidur. Selang oksigen masih terpasang di hidungnya. Tangan sebelah kanan terpasang selang infus.
"Masih seperti tadi. Tapi demamnya udah turun. Kamu di mana sayang?" tanya Vina berbalik bertanya kepada Danu.
"Ini di kantor. Ivan nggak masuk kerja. Aku mau nolong Iwan bikin maket untuk presentasi besok" ujar Danu memberitahukan apa yang akan dilakukannya nanti.
"Ivan nggak masuk kerja? Kemana?" tanya Vina penasaran kenapa Ivan bisa nggak masuk kantor.
"Nggak tau sayang. Bisa jadi dia mau lihat Maya kali" ujar Danu menjawab pertanyaan dari Vina.
"Oo." ujar Vina menjawab dengan respon seadanya.
"Sayang, aku kerja dulu ya. Nanti aku telpon lagi. Kamu hati hati ya di sana. Jaga kesehatan, jangan terlalu lelah" ujar Danu memberikan pesan kepada Vina untuk menjaga kesehatannya.
"Oke sayang. Kamu di sana juga hati hati ya. Jaga kesehatan juga" balas Vina.
Danu kemudian memutuskan panggilan video itu. Danu kemudian berjalan keluar ruangannya dan menuju Iwan yang sudah menunggu untuk membuat maket yang di minta oleh perusahaan mitra mereka.
"Jadi, kapan Ivan pergi?" tanya Iwan yang tidak mengetahui kalau Ivan pergi setelah dia melakukan video call dengan Vina.
"Maren siang" jawab Iwan maren siang dia pergi
Iwan masih belum sadar kalau dia sudah mengatakan kepada Danu posisi Vina dan Maya tinggal sekarang ini.
"Oo.Mana yang harus gue tolong?" tanya Danu kepada Iwan.
__ADS_1
"Ini, tolong pasang maket daun ini saja" ujar Iwan memberikan daun daun kecil kepada Danu.
Danu dan Iwan melanjutkan pekerjaan mereka. Dia mulai memasang daun daun plastik itu ke tempatnya.