
Danu yang sudah keluar dari dalam perusahaan, langsung berjalan menuju mobilnya yang diparkir di bestman perusahaan. Dia akan menuju kantor Frans untuk mengadakan pembicaraan tentang kegiatan mediasi yang akan dilakukan oleh dirinya besok di pengadilan. Danu yang sama seklai tidak tahu bagaimana proses mediasi memilih untuk langsung berkonsultasi kepada Frans. Dia takut nanti saat mediasi ketidaktahuannya akan membuat hakim membatalkan perceraiannya dengan Ranti. Danu tidak menginginkan hal itu terjadi, sehingga mau tidak mau dia harus ke kantor Frans kembali, walaupun sebenarnya masih ada pekerjaan yang harus diurusnya, tetapi demi satu lembar surat cerai, Danu harus mengalah dan memilih untuk meninggalkan pekerjaannya.
Danumasik ke dalam mobilnya. Dia langsung saja melajukan mobil meninggalkan bestman perusahaan menuju kantor tempat Frans bekerja. Danu berencana akan membawa Frans makan siang di luar saja. Dia sudah mengirimkan pesan kepada Frans dan Frans sudah setuju untuk makan siang di luar bersama dengan Danu, karena kebetulan sekali istri Frans tidak bisa menyiapkan menu makan siang, karena ada urusan di sekolah putri semata wayang mereka.
RUANGAN DESAIGN
"Bang, ayuk ke ruangan Ayah" ujar Ivan mengajak Iwan untuk berangkat menuju ruangan Ayah guna memenuhi panggilan Ayah untuk mengajak mereka makan siang di sana sekaligus membicarakan apa yang harus dikatakan oleh Ayah kepada Ivan dan Iwan.
Ivan yang telah merapikan meja kerjanya mengajak Iwan untuk menuju ruangan Ayah yang berada satu lantai di atas ruangan kerja mereka. Mereka ke sana harus memakai lift khusus petinggi perusahaan, karena hanya satu lift itu saja yang ada di lantai tempat ruangan kerja Ayah berada.
"Loe udah siap kerja?" ujar Iwan melihat ke arah Ivan.
"Belum Bang, tapi gue udah lapar. Ayah pasti udah memesan makan siang favorit gue" ujar Ivan menjawab pertanyaan dari Iwan yang menanyakan tentang pekerjaan Ivan apakah sudah siap atau belum, tetapi di jawab Ivan dengan jawaban yang diluar dugaan.
"Dasar loe" ujar Iwan.
Iwan kemudian berdiri dari tempat duduknya, dia mengambil ponselnya yang ada di dekat komputer. Hal yang sama juga dilakukan oleh Ivan. Mereka berdua kemudian keluar dari dalam ruang kerja, dan tidak lupa mengunci pintu ruang kerja mereka. Laptop dan segala peralatan mahal terdapat di ruangan itu, Ivan dan Iwan tidak ingin ruangan mereka di masuki oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab dan mengakibatkan barang barang yang ada di dalam sana hilang dan merugikan perusahaan.
Tok tok tok. Ivan mengetuk pintu ruang kerja Ayah yang tertutup tersebut. Ivan tetap harus mengetuk pintu ruangan Ayah saat dirinya akan masuk ke dalam ruangan itu. Bagaimanapun Ayah adalah pimpinan di perusahaan tempat Ivan bekerja, jadi Ivan tetap harus mengikuti aturan yang berlaku di sana.
__ADS_1
"Masuk" jawab Ayah yang sudah tahu siapa yang akan datang pas di jam makan siang mau masuk itu.
Ayah sangat tahu bagaimana Ivan. Ivan tidak akan mau melewatkan atau memundurkan jam makan siangnya, kecuali kalau ada pekerjaan yang memang mengharuskan Ivan melakukan hal itu, barulah dia mau berkompromi dengan jadwal makan siangnya. Kalau tidak maka, siapapun tidak akan bisa meminta Ivan untuk menunda jadwal makan siangnya itu.
Ivan dan Iwan kemudian masuk ke dalam ruang kerja Ayah. Mereka berdua langsung duduk di meja mini bar yang ada di ruangan itu. Ivan akan selalu memilih duduk di sana karena Ivan bisa melihat pemandangan kota dari lantai tertinggi perusahaannya itu. Pemandangan yang disajikan sangatlah luar biasa bagusnya. Sehingga membuat siapa saja duduk di sana akan menjadi betah dan tidak akan menyadari kalau mereka sudah duduk di sana berjam jam dengan memandang ke arah akam yang terbentang itu.
"Danu sudah pergi Wan?" ujar Ayah yang lebih memilih bertanya kepada Iwan saat melihat Ivan yang sedang asik memandang ke arah laut lepas yang terlihat dari ruangan Ayah.
"Sudah Ayah, dia katanya mau langsung bertemu dengan Frans, membahas tentang mediasi yang akan dilakukannya besok" jawab Iwan memberitahukan kepada Ayah apa urusan Danu ke tempat Frans.
"Cepat juga ya jadwal mediasinya" ujar Ayah yang kaget mendengar kalau besok Danu sudah harus melakukan mediasi di pengadilan dengan Ranti tentang gugatan perceraian yang diajukan oleh Danu kepada Ranti.
"Iya memang bagus Van. Cuma kok Ayah nggak tahu. Itu yang bikin Ayah kaget" kawab Ayah yang nggak mau Ivan berpikiran buruk kepada dirinya saat ayah kaget mendengar kalau Danu dan Ranti akan melaksanakan mediasi.
"Ayah ngadi ngadi. Ngapain Ayah harus tahu. Ada ada aja" jawab Ivan memberikan tanggapan atas apa yang dikatakan oleh Ayah kepada dirinya.
Tok tok tok, terdengar bunyi ketukan dari arah pintu ruang kerja Ayah. Ivan dan Iwan kemudian kembali duduk dengan tenang. Mereka tidak ingin terlihat aneh di mata seseorang yang ingin masuk ke dalam ruangan Ayah. Ayah mengintip siapa yang akan masuk ke dalam ruangannya dari layar televisi yang menampilkan seorang office boy yang terlihat menenteng plastik yang berisi menu makanan yang di pesan oleh Ayah untuk mekan siang mereka semua.
Ayah berjalan ke depan pintu, Ayah mengambil pesanan yang diberikan oleh office boy. Ayah kemudian membawa masuk air minum yang diberikan oleh office boy tersebut ke dalam ruangannya. Iwan yang melihat tentengan Ayah, mengambil tentengan yang di pegang oleh Ayah. Iwan dan Ivan kembali menuju meja mini bar. Iwan mengambil piring dan beberapa sendok untuk mereka gunakan. Iwan menghidangkan menu makan siang yang di pesan oleh Ayah
__ADS_1
"Wow keren" ujar Ivan saat membuka dan melihat menu makan siang yang dipesan oleh Ayah.
Semua menu yang dipesan Ayah untuk menu makan siang mereka hari ini adalah semua makanan favorit Ivan. Sama sekali tidak ada makanan yang tidak di sukai oleh Ivan.
"Senang ya loe" ujar Iwan menggoda sahabatnya itu.
"Dari pada ngamuk" ujar Ayah yang ikut ikutan menggoda Ivan.
"Biarin aja sindir aja terus, yang penting makan kenyang" jawab Ivan yang sudah mengisi piringnya dengan makanan makanan yang ada di depan matanya saat ini.
Porsi yang diambil Ivan memang sangat luar biasa. Ivan memindahkan semua jenis menu makan siang yang di pesan oleh Ayah ke atas piringnya. Ivan benar benar terlihat sedang sangat kelaperan sekali.
"Loe habis kerja berat Van?" ujar Iwan bertanya kepada Ivan saat dirinya melihat betapa banyak menu makanan yang ada di dalam piring Ivan saat ini.
"Yup. Nggak nampak loe bang, tadi gue bikin desain yang menguras tenaga gue" ujar Ivan menjawab dengan sekenanya apa yang ditanyakan oleh Iwan kepada dirinya.
"Sudah, tidak baik di depan makanan ribut. Kita makan saja langsung makan siang yang sudah siap untuk di santap ini" ujar Ayah mengajak dua anak muda yang tidak jelas sedang meributkan hal apa.
Mereka bertiga kemudian menyantap menu makan siang yang sudah di pesan oleh Ayah. Mereka akan berbincang bincang nanti setelah makan siang mereka selesai. Ayah, Ivan dan Iwan makan dalam suasana hening. Apalagi Ivan, menu makanan yang disajikan oleh Ayah adalah menu makanan favoritnya untuk makan siang, maka jangan diharap kita akan mendengar suara Ivan. Ivan akan makan dengan lahap dan akan bersuara kembali nanti pada saat dia sudah selesai menikmati makan siangnya itu.
__ADS_1