
"Hahahaha. Ada pula pacaran live dan pacaran virtual, Pak Hans ayak ayak wae" ujar Vina langsung tertawa ngakak mendengar apa yang dikatakan oleh Pak Hans.
Pak Hans melajukan mobil dalam kecepatan sedang. Dia tidak mau kedua Nona nya ini menjadi tambah sakit kepala karena Pak Hans yang membawa mobil ugal ugalan.
Tidak beberapa lama mereka telah sampai di rumah. Vina dan Maya turun dari dalam mobil.
"Selamat datang kembali di rumah Nona Vina, Nona Maya" ujar Rina asisten rumah tangga yang berdiri berdampingan dengan Bik Ima.
"Terimakasih Rina, Bik Ima. Bagaimana keadaan rumah selama saya tinggalkan?" tanya Vina kepada kedua asisten rumah tangganya yang baik hati itu.
"Aman terkendali Nona" jawab Rina sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.
"Nona, menu makan malam sudah siap. Apa Nona mau makan dulu atau bersih bersih dulu? " ujar Bik Ima memberitahukan kalau makan malam sudah siap.
"Kami mandi dulu Bik. Jam enam lah makan malam" jawab Vina sambil melihat jam dinding yang ada di ruang utama.
"Siap Nona. Bibik akan panaskan sop nya terlebih dahulu" ujar Bik Ima.
Vina dan Maya kemudian naik ke lantai dua dimana kamar tidur mereka berada. Vina dan Maya masuk ke dalam kamar mandi masing masing untuk membersihkan diri mereka yang telah melintasi benua untuk menuju negara I. Mereka berdua ternyata sama sama berendam dalam air hangat untuk merilekskan badan dan pikiran masing masing.
Setelah dirasa badan mereka telah pulih kembali, Vina dan Maya keluar dari bath up. Mereka kemudian memakai pakaian mereka dan mengistirahatkan badan di atas ranjang. Masih ada waktu sekitar dua jam lagi sebelum jam makan malam yang disepakati oleh Vina tadi di bawah.
Dalam sekejap karena badan yang lelah dan juga pikiran yang capek, mereka berdua langsung tertidur pulas sambil memeluk guling masing masing.
Sedangkan Sari dan Juan, mereka karena sudah terbiasa terbang lama dan melintasi zona waktu yang berbeda memilih untuk duduk duduk di tepi pantai privat milik keluarga Sanjaya.
"Jadi sayang, kapan Juan akan pindah kembali ke sini?" tanya Juan kepada Sari yang berada di dalam pelukannya.
"Katanya sih setelah urusan Danu selesai. Tapi kayaknya dipercepat sama Ivan sayang. Kamu lihat sendirikan mereka berdua agak susah dipisahkan." kata Sari sambil menatap ke arah pantai.
"Sayang, kita makan malam di sini atau di mansion?" tanya Sari lagi sambil menatap wajah Juan.
"Sini aja sayang. Malas balik ke mansion. Mau tidur aja nanti balik ke mansion." jawab Juan lagi
Sari meraih telpon yang ada di dinding sebelahnya itu. Sari menghubungi koki yang ada di mansion utama.
"Hallo Pak, makan malam saya, hidangkan di saung tepi pantai ya. Saya dan Juan akan makan malam di sini saja." ujar Sari memberitahukan kepada kepala pelayan mansion.
"Siap Nona, jam setengah tujuh akan diantarkan pelayan ke sana. Untuk cemilan Nona dan Tuan Juan sedang diantar pelayan ke sana Nona" ujar kepala pelayan memberitahukan kepada Sari tentang cemilan yang tadi diminta oleh dirinya.
"Baik Pak. Terimakasih sebelumnya" ujar Sari.
"Sama sama Nona" jawab kepala pelayan.
Sari kemudian memutuskan panggilan telponnya dengan kepala Pelayan. Dia kemudian membetulkan cara duduknya, karena Sari sudah mendengar bunyi telapak kaki yang berjalan di jembatan penghubung antara mansion dengan saung tersebut.
"Kenapa sayang?" tanya Juan yang melihat Sari bergeser duduknya.
"Ada pelayan sayang, segan kita sama para pelayan yang datang mengantarkan cemilan" ujar Sari menjelaskan kenapa dia sedikit menjarak dari Juan.
Juan tersenyum kepada Sari. Dia sangat bersyukur mendapatkan kekasih seperti. Sari yang masih sempat sempat nya menjaga perasaan orang orang disekitarnya walaupun dia sudah memiliki segala galanya.
Tidak berapa lama dari Sari membetulkan duduknya, tiga orang pelayan datang membawakan cemilan puding, buah potong dan air mineral untuk Sari dan Juan.
"Silahkan menikmati Nona, Tuan" ujar pelayan kepada Sari dan Juan.
"Sama sama mbak. Makan malam ke sini aja ya. Tadi saya sudah menghubungi kepala pelayan untuk mengantarkan makan malam ke sini" ujar Sari kepada ketiga pelayan yang itu juga akan mengantarkan menu makan malamnya Sari dan Juan.
"Siap Nona. Jam setengah tujuh akan kami antarkan ke sini Nona. Apa masih ada yang dibutuhkan Nona?" tanya salah satu pelayan yang lebih tinggi jabatannya.
"Tidak. Silahkan balik ke mansion" ujar Sari mempersilahkan ketiga pelayan untuk balik ke mansion.
"Kami permisi dulu Nona" ujar pelayan.
"Sayang, aku nggak paham dengan hubungan Danu dengan Vina, ada apa dengan mereka?" ujar Juan yang mulai kepo dengan hubungan Danu dan Vina.
"Sayang tumben kepo dengan hubungan orang. Why?" ujar Sari yang heran dengan Juan hari ini.
"Nggak ada sayang, cuma heran aja. Kok bisa Vina sampai harus migrasi ke negara ini, untuk menghindar dari Danu" ujar Juan bertanya kepada Sari.
"Jadi waktu itu, Vina satu perusahaan dengan Danu dan Ivan serta Iwan. Mereka satu divisi di perusahaan Ayah. Nah saat itu Vina baru wisuda, dan langsung bekerja di sana." ujar Sari memulai cerita tentang bagaimana Vina bisa punya hubungan dengan Danu.
"Nah saat itu Danu dan Vina sama sama punya rasa, sayangnya Danu tidak mengatakan kepada Vina kalau dia sudah punya istri dan sedang dalam bermasalah. Mereka kemudian menjalin hubungan itu." lanjut Sari bercerita.
"Berapa lama mereka menjalin hubungan sayang?" tanya Juan mulai kepo.
"Berapa pastinya kurang jelas sayang. Tapi setau aku dari cerita Ayah dan Bang Ifan, mereka cukup lama menjalin hubungan itu" jawab Sari yang mengetahui semua cerita dari Ayah dan Ivan.
"Terus Vina tau dari mana?" tanya Juan selanjutnya.
"Ranti datang ke kontrakan Vina. Dia melabrak Vina di sana. Sampai sampai Vina masuk rumah sakit" ujar Sari sambil menatap jauh ke depan.
"Sayang sunset. Turun yuk" ajak Sari yang ingin merasakan sunset di tepi laut.
Juan kemudian menggandeng Sari untuk turun ke tepi laut. Mereka berjalan di tepi pantai bertelanjang kaki.
Juan mengambil beberapa fhoto Sari baik yang Sari minta tolong maupun fhoto secara candid.
Mereka berdua berkejar kejaran di pantai. Sari menulis nama dirinya dan Juan di atas pasir. Baru selesai nama Juan langsung dihapus oleh ombak kembali.
Tiga orang pelayan melihat Nona dan Tuan mereka berkejar kejaran di pantai tersenyum bahagia. Mereka sangat senang Sari tinggal di mansion. Kalau tidak makan kehidupan serasa tidak ada di mansion besar itu.
__ADS_1
"Nona makanan sudah siap" ujar salah satu pelayan.
"Oh makasi. Nanti kami ke sana" ujar Sari menjawab perkataan pelayan.
Juan dan Sari tetap bermain di tepi laut. Sampai matahari sudah tidak terlihat indah lagi, barulah mereka pergi ke saung tempat duduk tadi.
"Sayang, makan yuk laper" ujar Juan memasang perutnya.
"Oke. Aku juga lapar" jawab Sari.
Juan menggandeng tangan Sari menuju saung. Makanan sudah terhidang di atas meja. Makanan yang sangat lewat, ada ayam bakar, sayur sop, ikan bakar dan beberapa jenis makanan yang lainnya.
Juan dan Sari mulai menyantap makanan yang disiapkan. Mereka makan sambil sekali sekali mengobrol ringan.
Sedangkan di rumah Vina dan Maya juga sudah bangun dari istirahat mereka. Mereka mencuci wajah dan menuju meja makan. Bik Ima dan Rina sudah menyiapkan semua menu makan malam. Vina dan Maya menyantap makan malam mereka.
"Gue ke atas dulu Vin" ujar Maya yang benar benar lelah.
"Sama gue juga mau ke istirahat juga" ujar Vina yang juga sudah lelah juga.
Mereka berdua kemudian masuk kembali ke dalam kamar untuk beristirahat. Sari dan Juan juga sudah masuk ke kamar masing masing. Mereka semua beristirahat karena besok pagi mereka semua akan kerja. Juan besok pagi akan terbang ke negara lain mengantarkan pesanan sebuah perusahaan yang bekerjasama dengan CT Grub.
Pagi harinya Maya sudah bangun lebih dahulu dari yang lain. Dia melihat jam dinding kamar yang baru menunjukkan pukul setengah lima pagi.
"Wow paginya!!! " ujar Maya kaget saat melihat jam dinding itu menunjukkan angka berapa.
"Ini karena tidurnya kecepatan ini, makanya bangunnya juga kepagian" ujar Maya sambil mengumpulkan nyawa nyawanya yang masih berada di alam mimpi.
Maya harus mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu, sebelum dia benar benar sadar dan bangun dari ranjangnya yang luas itu. Ranjang yang hanya dipakai di sebelah kiri terus saat dia tidur.
Setelah yakin dengan kesadaran yang dia punya sekarang sudah full, Maya baru bangun dari ranjangnya. Dia mengambil handuk dan berjalan menuju wastafel untuk membasuh wajahnya. Dia berencana mandi nanti saja saat dia akan berangkat ke kafe.
Setelah selesai membasuh wajahnya, Maya kemudian berjalan menuju lantai satu rumah, dimana dapur mereka terdapat di samping meja makan.
Maya membuka almari pendingin, dia melihat apa saja bahan masakan yang ada di sana. Maya mengambil beberapa bahan makanan, dia akan membuat omelet dan nasi goreng kampung. Setelah menyiapkan semua bahan yang akan diolah, Maya memakai celemek favoritnya yang ada nama Ivan di sana.
Maya mulai membersihkan semua bahan bahan yang diperlukan. Setelah itu, Maya menggiling bumbu bumbu, satu bumbu untuk nasi goreng kampung dan satu lagi untuk bumbu omelet. Setelah menggiling bumbu, Maya memotong sayuran yang akan dimasukkan ke dalam omelet nya.
Maya akan memasak nasi goreng untuk menu pertama yang akan dibuat olehnya. Maya sudah menggoreng ikan teri halus dengan garing. Setelah itu barulah Maya. Menumis bumbu nasi goreng yang telah digiling halus oleh Maya tadi. Maya menumis bumbu sampai benar benar wangi. Sampai sampai Rina yang baru bangun langsung menuju dapur karena wangi dari bumbu yang ditulis Maya.
"Wanginya Nona" ujar Rina menyapa Maya dari belakang.
"Kamu ngagetin saya aja Rin. Ini mau bikin nasi goreng kampung. Kalian semua tenang saja, saya lebihkan kok" ujar Maya.
Vina dan Maya setiap memasak sarapan pasti akan selalu melebihkan untuk para maid yang ada di rumah mereka. Mereka tidak ingin memakan sarapan yang berbeda dengan para maid. Bagi Vina dan Maya, maid adalah keluarga mereka juga. Jadi, untuk apa dibesarkan bedakan.
"Dari wangi bumbunya aja udah terbayang kelezatannya Nona. Saya sudah tidak sabar lagi mau mencicipi nya Nona" ujar Rina yang selalu berkata apa adanya kepada Maya.
Maya terus saja memasak. Sedangkan Rina sudah panit untuk mengerjakan pekerjaan lainnya. Bik Ima yang baru bangun, langsung menuju tempat loundry untuk mencuci pakaian milik Vina dan Maya yang baru balik dari luar negeri selama seminggu.
Vina yang baru bangun dari tidur indahnya, berjalan menuju dapur. Dia berencana untuk membuat sarapan, tetapi baru sampai di meja mini baru, Vina sudah melihat Maya yang sedang memasak sarapan sambil berjoget ringan itu. Vina kembali ke kamar, dia akan bersiap siap untuk langsung menuju kantor saja. Perkara sarapan sudah diselesaikan oleh Maya.
Setelah satu setengah jam berkutat dengan bumbu bumbu dan segala jenisnya di dapur. Maya telah menyelesaikan memasak sarapan nasi goreng kampung serta omelet nya. Maya juga sudah membuat teh sepoci untuk teman makan nasi goreng.
"Mandi dulu, lumayan juga baik gue neh" ujar Maya yang langsung menuju kamarnya di lantai dua rumah.
Maya mengambil handuk dan langsung mandi. Dia berencana untuk ke kafe hari ini. Target Maya awal minggu depan kafenya sudah buka dan sudah bisa beroperasi. Maya sudah tidak sabar lagi untuk melakukan aktifitasnya seperti waktu dia berada di negaranya sendiri.
Vina yang telah selesai bersiap siap, mengetuk pintu kamar Maya.
"Bentar Vin, gue lagi pake baju ini" jawab Maya sambil berteriak dari dalam kemarnya.
Maya baru saja selesai mandi saat Vina sudah berada di depan pintu kamarnya.
"Gue tunggu di meja makan Maya!" ujar Vina menjawab perkataan Maya dari luar kamar.
"Oke. Gue sepuluh menit lagi turun." jawab Maya dari dalam kamar.
Vina kemudian turun ke lantai bawah rumahnya. Dia melihat Rina sedang menyapu rumah.
"Pagi Rina" sapa Vina sambil duduk di meja mini bar.
"Pagi juga Nona Vina. Wow Nona cantik sekali pagi ini" ujar Rina memuji Vina yang terlihat lebih cantik pagi ini.
"Kamu kelebihan memuji Rina. Aku udah cantik dari lahir" jawab Vina sekenanya saja.
"Hahahahaha. Oke oke Nona, saya salah" jawab Rina yang tau Vina sedang mengajaknya bercanda.
"Nona mau minum apa?" tanya Rina kepada Vina yang terlihat belum mengambil air minum.
"Nanti aja Rin, kamu tolong pindahkan sarapan itu ke sini Rin. Saya lagi pengen makan di sini" ujar Vina meminta Rina untuk memindahkan semua sarapan ke meja mini bar.
"Asiap Nona" jawab Rina.
Rina kemudian memindahkan semua menu sarapan ke atas meja mini bar. Maya turun bertepatan dengan Rina yang sedang mengajar poci teh.
"Mau dibawa kemana Rin?" tanya Maya yang heran Rina sudah membereskan meja makan, sedangkan Maya saja belum sarapan.
"Pindah ke meja mini bar, kata Nona Vina, Nona Maya" jawab Rina dengan pelan takut terdengar Vina yang terlihat sedang sibuk menatap ponsel miliknya.
"Oh Oke. Sarapan di mini bar. Kayak dimana aja" ujar Maya heran dengan keinginan Vina yang dinilainya sangat absurd itu.
__ADS_1
Maya berjalan menuju mini bar. Dia melihat Vina yang sibuk membuka sosial medianya.
'Ini lagi, kebiasaan baru lagi kayaknya ini' ujar Maya yang sangat heran dengan tingkah Vina yang aneh aneh aja.
"Sedang ngapain loe Vin?" tanya Maya sambil menepuk pundak Vina.
"Nggak ada sedang nengok sosmed aja. Ayuk sarapan, gue harus ke kantor pagi" ujar Vina mengajak Maya untuk langsung sarapan.
Vina dan Maya mengambil menu sarapan masing masing.
"Loe rencana mau ke kafe sekarang May?" tanya Vina yang melihat Maya sudah sangat rapi.
"Rencana. Target gue awal minggu depan kafe sudah beroperasi" ujar Maya yang memang sudah menyusun target untuk dia membuka kafe.
"Kalau nggak pagi, biar Pak Hans nganter gue dulu ke kantor. Nanti Pak Hans balik ke rumah untuk ngantar loe ke kafe, gimana?"
Vina memberikan solusi masalah dengan apa Maya menuju kafe hari ini.
"Setuju. Gue tunggu Pak Hans di rumah aja" jawab Maya sambil membentuk tanda Oke dengan jarinya.
Vina kemudian selesai makan. Pak Hans sudah menunggu di depan rumah.
"Pagi Nona Vina" sapa Pak Hans dengan sangat ramah.
"Pagi Pak Hans." jawab Vina.
Vina kemudian masuk ke dalam mobil. Pak Hans melajukan mobil dalam kecepatan sedang menuju perusahaan. Tak terasa karena sibuk membaca beberapa file perusahaan Vina telah sampai di depan lobby perusahaan.
"Nona, kita sampai" ujar Pak Hans yang melihat Vina masih sibuk membaca file file nya.
"Oh makasi Pak Hans. Oh ya Pak. Bapak langsung pulang aja ya. Maya mau ke kafe hari ini. Jadi, nanti Pak Hans tolong antar dan temani Maya di sana ya Pak." ujar Vina meminta tolong kepada Pak Hans untuk langsung menemani Maya sekalian di sana.
"Baik Nona. Nona pulang bagaimana?" tanya Pak Hans yang sangat tahu tipe Maya kalau sudah bekerja akan lupa waktu.
"Ada Sari. Nanti saya akan minta tolong Sari mengantarkan Saya ke rumah" jawab Vina yang tidak kehabisan akal dengan apa dia akan pulang ke rumah.
"Oke Nona. Kalau seandainya Nona Sari tidak bisa mengantarkan Nona ke rumah, Nona hubungi saya saja, biar saya jemput Nona" ujar Pak Hans yang tidak ingin Nona nya itu pergi naik kendaraan umum.
"Oke Pak Han. Saya turun dulu" ujar Vina.
Vina kemudian turun dari dalam mobil bertepatan Sari yang juga turun dari mobil di belakangnya. Terlihat Juan yang mengantarkan Sari ke kantor.
"Pagi Vin" sapa Juan.
"Pagi Juan" jawab Vina.
"Sayang, aku kantor dulu ya. Nanti jemputnya aku chat aja" ujar Sari kepada Juan.
"Sip" jawab Juan.
Sari mengecup pipi Juan. Vina melongos tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Sorry Vin, ada jomblo ternyata" ujar Juan sambil tersenyum.
"Dasar loe" ujar Vina.
"Hahahaha" Juan tertawa ngakak mendengar perkataan Vina.
"Udah sayang, jangan godain Vina terus. Kamu sana kerja, cari yang banyak banyak buat modal nikah" ujar Sari kepada Juan.
"Sekarang aja bisa sayang." jawab Juan.
"Masih lama ya?" ujar Vina menggoda sepasang kekasih yang kelihatannya nggak mau pisah itu.
"Udah sana pulang sayang, itu Ibuk wakil direktur aku udah ngamuk" ujar Sari sambil mendorong Juan berbalik masuk ke dalam mobil.
Juan kemudian melajukan mobilnya meninggalkan perusahaan tempat dia bekerja. Hari ini Juan akan ke bandara mencek pesawat dan mengirimkan barang barang milik Maya ke kafe.
Baru saja Vina dan Sari masuk ke dalam lift, ponsel milik Sari bergetar. Sari melihat ternyata big boss nya yang menelpon.
"Baru aja pisah" ujar Vina geleng geleng kepala.
"Hahahahaha" ujar Sari tertawa ngakak mendengar apa yang dikeluhkan oleh Vina.
"Hallo sayang, baru aja pisah udah kangen" ujar Sari sambil melihat ke arah Vina.
Vina memperagakan orang yang muntah. Sari langsung tertawa ngakak melihat tingkah sahabatnya itu.
"Sayang dimana alamat kafe Maya, aku mau ngirim semua barang barangnya nanti?" kata Juan menyebutkan keperluannya menghubungi Sari.
"Oh bentar sayang, aku kirim alamatnya ke kamu bentar lagi ya." ujar Sari.
"Kalau bisa sharelock lokasi sayang" ujar Juan.
"Oke sip" ujar Sari.
Panggilan itupun diputus oleh Sari. Vina dan Sari menuju ruangan mereka yang terletak dilantai paling atas gedung perusahaan.
"Suruh aja nanti Maya sharelock ke elo Sar. Dia nanti akan ke kafe sama Pak Hans." ujar Vina.
"Oh oke sip" jawab Sari.
__ADS_1
Mereka kemudian masuk ke dalam ruangan masing masing. Vina dan Sari akan mulai kerja full mengerjakan semua pekerjaan mereka yang telah mereka tinggalkan seminggu lamanya.