Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Diagnosa Danu


__ADS_3

"Papi, Mami pulang ke mansion dulu ya, kasihan Ivan dan Sari tidak ada teman di mansion" ujar Mmai memberikan alasan untuk bisa segera pergi dari rumah sakit.


Mami sudah tidak sanggup lagi melihat keadaan Danu yang seperti sekarang ini, seperti mayat hidup saja. Danu sama sekali tidak membuka matanya. Hal itu semakin membuat Mami bersedih, makanya Mami lebih memilih untuk pulang ke mansion dari pada harus melihat Danu yang dalam kondisi seperti itu. Mami juga tidak mau menambah pikiran Papi. Setiap Mami bersedih Papi semakin merasa bersalah karena sudah membangun pabrik itu di kawasan mansion. Makanya Mami lebih memilih untuk pulang saja dari pada tetap berada di rumah sakit.


"Mami pulang dengan siapa?" tanya Papi yang tidak ingin istrinya itu pulang memakai taksi atau angkutan umum yang terkadang sangat padat. Apalagi ke mansion mereka angkutan umum sangat jarang adanya.


"Dijemput sopir Papi. Tadi Mami sudah meminta sopir untuk menjemput Mami." jawab Mami memberitahukan kepada Papi dan Paman dengan apa Mami akan pulang ke mansion.


"Sekarang sudah dimana sopirnya?" tanya Papi sambil menatap Mami.


"Sudah ada di bawah Papi" jawab Mami yang memang sudah dikabari oleh sopir kalau sopir sudah berada di parkiran rumah sakit.


"Kalau begitu mari Papi antar ke parkiran" ujar Papi yang tidak mau istrinya turun sendiri keparkiran rumah sakit.


"Danu biar dijaga adik dulu" jawab Papi yang mengerti arti tatapan dari Mami.


Mami mengangguk setuju. Mami sangat senang bisa diantar oleh Papi ke parkiran rumah sakit. Apalagi dengan diantar oleh Papi, Papi tidak terpikirkan Mami terus apakah Mami sudah sampai di mansion dengan selamat atau tidak.


"Adik, kakak antar kakak ipar keparkiran sebentar ya, kamu jaga Danu sendirian tidak apa apakan?" tanya Papi kepada Paman.


"Tidak apa apa Kak. Kakak antarkan saja kakak ipar terlebih dahulu. Aku akan menjaga Danu di sini" ujar Paman memperbolehkan Papi untuk mengantarkan Mami ke parkiran.


Paman berbalik ingin melihat keadaan Danu. Paman melihat seorang suster sedang memeriksa keadaan Danu yang sedang terbujur di atas ranjang rumah sakit. Paman menatap lama kepada anaknya itu. Suster memeriksa keadaan kondisi Danu kembali. Suster mencatat semua perkembangan Danu. Paman terus mengamati apa yang dilakukan oleh suster terhadap Danu.


"Ada apa Adik?" tanya Papi sambil menepuk pundak Paman.


"Tidak ada kakak, aku hanya melihat suster sedang memeriksa kondisi Danu saja" ujar Paman menjawab pertanyaan dari Papi.


"Oh, kakak kira ada sesuatu yang terjadi dengan Danu, karena kamu sama sekali tidak menyadari kehadiran kakak" ujar Papi yang tadi sempat terkejut saat melihat Paman yang fokus melihat ke dalam ruangan Danu.


"Apa kakak ipar sudah pulang?" tanya Paman sambil duduk kembali ke kursi saat melihat suster telah selesai memeriksa kondisi Danu.


"Sudah, kakak ipar sudah pulang" jawab Papi.


Mereka berdua kembali duduk di sofa ruang tunggu.

__ADS_1


"Adik sampai kapan kita akan berada di sini?" ujar Papi melihat ke arah Paman.


"Kenapa kakak bertanya hal itu? kita akan di sini sampai Danu diperbolehkan pulang oleh dokter" jawab Paman.


Paman heran kenapa Papi bisa menanyakan hal itu saat sekarang ini.


"Kakak kenapa menanyakan hal itu sekarang? Ada apa?" tanya Paman yang curiga pasti ada sesuatu di belakang Papi sehingga Papi bisa menanyakan hal itu kepada Paman.


"Kakak hanya kepikiran perusahaan kamu saja. Sudah beberapa hari ini kamu tidak ada keperusahaan. Kakak takutnya sesuatu terjadi terhadap perusahaan kamu" ujar Papi yang segan karena sudah mengganggu kehidupan dan rutinitas Paman selama menunggui Danu yang sedang terbaring sakit di ruangan ICU.


"Kakak kakak, sudah aku bilang. Aku rela kehilangan perusahaan dari pada kehilangan anggota keluarga. Jadi, biarkan sajalah Kakak." jawab Paman sambil menatap kakaknya dengan tatapan tidak suka.


"Adik bukan maksud kakak seperti itu." ujar Papi yang tidak mau Paman salah sangka kepada dirinya.


"Aku paham maksud kakak seperti apa. Kakak tenang saja, aku sudah menaruh orang orang pilihan di perusahaan aku itu kakak. Mereka tidak akan berani macam macam terhadap perusahaan aku" jawab Paman sambil menatap kearah Papi.


Papi terdiam sambil melihat ke arah Paman. Paman mengangguk meyakinkan Papi kalau perusahaan mereka dalam keadaan baik baik saja saat ini. Papi tidak perlu memikirkan tentang perusahaan lagi. Paman menjamin perusahaan akan dalam keadaan baik baik saja.


"Baiklah Adik, Kakak percaya dengan kemampuan kamu mengendalikan perusahaan" jawab Papi yang tidak mau memperpanjang lagi cerita tentang perusahaan Paman. Papi mempercayai Paman pasti bisa mengelola perusahaannya dari jauh.


Papi dan Paman kemudian melanjutkan obrolan mereka tentang berbagai hal. Tiba tiba ponsel milik Paman bergetar, terlihat di situ nama Ivan tertera di layar ponsel miliknya.


"Sama yang menelpon adik?" tanya Papi yang penasaran tumben tumbennya telpon adiknya berbunyi.


"Ivan melakukan panggilan video kakak" ujar Paman mengatakan siapa yang menghubunginya kepada Papi.


"Angkat saja. Aku juga kangen dengan dia dan Sari" ujar Papi yang ingin melihat kedua wajah keponakannya itu.


Paman kemudian menerima panggilan video dari Ivan.


"Hay sayang, ada apa? Tumben video call dengan Ayah?" tanya Paman saat baru saja mengangkat panggilan video dari Ivan.


"Kangen Ayah" jawab Ivan sambil memandang wajah Ayahnya.


"Ayah" teriak suara seorang anak perempuan siapa lagi kalau bukan Sari.

__ADS_1


Sari merampas ponsel dari Ivan.


"Kami mau melihat Bang Danu, Ayah bisa bukan mengarahkan kamera Ayah kepada Bang Danu?" tanya Sari kepada Ayah tanpa basa basi.


Tujuan mereka melakukan video call dengan Ayah memang untuk melihat Danu bukan melihat yang lainnya.


"Tapi sebelum melihat Abang Danu, ada yang kangen kalian berdua di sini ujar Ayah kepada kedua anaknya itu.


"Siapa Ayah?" tanya Sari dan Ivan yang sekarang kedua wajah anak itu sudah memenuhi layar ponsel Paman.


Paman mengarahkan kameranya kepada Papi. Papi tersenyum melihat kedua keponakannya itu.


PapiĀ  mengambil ponsel milik Paman.


"Hay sayang" panggil Papi kepada kedua keponakannya itu.


"Hay Papi" jawab mereka dengan kompak.


"Hay Gantek dan cantik, kalian berdua tidak membuat rusuh Mami bukan di sana?" tanya Papi kepada mereka berdua


"Tentu tidak Papi, kami menjaga Mami dengan baik di sini" jawab Sari.


"Anak pintar. Kalian mau melihat Abang Danu?" tanya Papi kepada Ivan dan Sari.


Mereka mengangguk, tujuan mereka memang untuk melihat Danu. Papi mengarahkan kameranya ke arah Danu. Ivand an Sari langsung kaget saat melihat kondisi Abang mereka itu.


"Papi, apa Abang akan sehat?" tanya Sari dengan air mata yang sudah membasahi pipinya yang tembem itu.


"Kalian berdua harus mendokan supaya abang sembuh ya." ujar Papi meminta mereka berdua beroda untuk kesembuhan Danu.


"Kami akan selalu berdoa Papi" jawab Ivan.


"Papi sudah dulu ya, kami mau istirahat lagi. Papi dan Ayah juga harus istirahat ya. Kalau Bang Danu sudah dipindahkan ke ruangan biasa, kami akan datang ke sana" ujar Ivan.


"Iya sayang." ujar Papi.

__ADS_1


Ivan kemudian memutuskan panggilannya dengan Ayah. Mereka berdua kemudian naik ke atas ranjang masing masing. Mereka sebelum tidur berdoa kepada yang satu untuk kesembuhan Danu. Papi dan Paman juga memilih untuk beristirahat, mereka tidak akan bisa melakukan apapun saat ini selain hanya berdoa kepada yang satu untuk kesembuhan Danu.


__ADS_2