Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Mengingat Masa Lalu #1


__ADS_3

Keadaan yang tidak juga ada perubahan, Danu tetap dengan pendirianbya yang tidak mau mengungkapkan perasaannya kepada Vina. Vina begiti juga, dia tetap tidak mau mengungkapkan isi hatinya kepada Danu. Sikap Danu dan Vina membuat geram Iwan dan Ifan. Mereka kalau bisa mau membantu agar hubungan dua orang ini menjadi hubungan sepasang kekasih, bukan hubungan antara bawahan dan pimpinan.


Hari itu Vina tidak masuk kantor karena sakit magh Vina kembali kambuh. Padahal sakit itu sudah lama tidak kambuh lagi, mungkin kali ini kambuh karena seminggu ini Vina luar biasa sibuk baik di perusahaan maupun di rumah, pesanan kue Vina sedang sangat meningkat. Jadi membuat Vina kadang lupa untuk makan malam.


"Fan, mana Vina?"


"Tadi baca di grub Vina sedang sakit bang. Ndak tau sakit apa. Tapi saat pulang dari kantor maren Vina memang pucat." jelas Ifan.


"Bos udah datang?"


"Udah dari tadi. Kayaknya nggak mood lagi"


Iwan geleng geleng kepala mendengar Danu yang datang ke kantor sangat pagi dengan wajah tidak mood itu. "Palingan perang lagi dia dengan istrinya." jawab Iwan sambil membuka laptopnya.


Mereka berdua kembali sibuk dengan beberapa desain yang belum siap. Iwan dan Ifan sangat terlihat serius dalam berdiskusi untuk desain sebuah kafe yang bergaya tradisional itu.


Sedangkan Danu terlihat sangat stress di dalam ruang kerjanya, dia terlihat menjambak rambutnya dan termenung, Danu mengingat semua kejadian saat dia pulang dari kantor.


Flashback


Danu yang pulang sudah larut malam langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Danu sangat ingin sampai cepat di rumah, karena tadi dapat telpon dari bibik kalau anak semata wayang Danu sedang demam tinggi. Danu yang semestinya lembur langsung saja pulang dengan wajah panik. Akhirnya Danu sampai di rumah, dia memarkirkan mobilnya di sembarangan tempat. Danu kemudian berlari menuju kamar anaknya, terlihat di atas ranjang anak perempuan Danu sedang menggigil ditemani seorang pembantu.


"Sayang, ini ayah sayang." kata Danu sambil menggenggam kedua tangan anaknya.


"Ayah, mana bunda ayah" kata anak perempuan yang sudah lemas itu.


"Bik, apa sudah menghubungi nyonya, bik?"


"Sudah Tuan. Tapi nyonya tidak menjawab telpon saya Tuan. Saya sudah chat Nyonya juga Tuan, tapi hasilnya sama saja, Nyonya hanya membaca chat saya saja tuan tidak membalasnya." kata bibik menjelaskan kepada Tuannya.


Tiba-tiba saja anak perempuan yang bernama Deli itu muntah muntah, hal ini membuat Danu makin panik.

__ADS_1


"Bik panggil Pak Ujang, kita ke rumah sakit sekarang." kata Danu sambil mengangkat Deli.


Bibik yang panik langsung berlari ke ruangan belakang, Pak Ujang yang sedang termenung langsung kaget mendengar teriakan bibik.


"Pak Ujang, Nona Deli muntah muntah kata Tian sekarang juga ke rumah sakit."


Bibik dan pak Ujang langsung ke halaman depan. Pak Ujang menghidupkan mobil yang biasa dia bawa, sedangkan bibik memanggil Danu. Belum sempat bibik sampai ke atas, Danu terlihat sudah menggotong Deli. Dani kemudian masuk ke bangku belakang, sedangkan bibik duduk di sebelah Pak Ujang. Mobil hitam itu melaju dengan sangat cepat dijalanan ibu kota yang sudah lumayan lengang. Dalam waktu tempu tiga puluh menit, Pak Ujang berhasil sampai di rumah sakit.


"Suster tolong Nona saya suster" kata bibik kepada salah satu suster jaga.


Tiga orang suster langsung meraih brangkar rumah sakit dan mendorong dengan kencang ke arah mobil. Danu kemudian meletakkan anak perempuan berumur empat tahun itu di atas barangkar rumah sakit. Suster kemudian mendorong brangkar masuk kedalam ruang IGD.


Dokter jaga kemudian memeriksa keadaan Deli selama tiga puluh menit.


"Orang tua pasien Deli?" kata salah satu suster.


"Saya Sus." jawab Danu.


"Silahkan menemui dokter pak."


"Ada apa dengan putri saya dok?" tanya Danu dengan cemas.


"Begini Tuan, kondisi fisik anak Tuan sangat bagus, tidak ada permasalahan. Untuk sekarang ini Deli hanya kekurangan cairan saja, itu bisa kita atasi dengan memberikan Deli infus." kata dokter.


Mendengar apa yang dikatakan dokter Danu berucap "Alhamdulillah"


"Tapi Tuan ada yang harus saya katakan, tapi sebelumnya saya minta maaf terlebih dahulu kepada Tuan." Dokter mulai serius.


"Maaf? Maksud dokter? ada apa dengan Deli dokter. Katakan saja, dokter tidak perlu meminta maaf kepada saya." kata Danu dengan nada yang sangat cemas dan panik.


"Sebelumnya saya benar benar minta maaf kepada Tuan. Pertanyaan saya agak bersifat pribadi Tuan. Tidak apa apa Tuan, kalau tidak boleh juga tidak ada apa." kata Dokter dengan sangat hati hati.

__ADS_1


"Dokter, demi anak saya dok. Saya janji akan menjawab semua pertanyaan dokter. Termasuk dengan yang tidak masuk akal itu." kata Danu dengan yakin.


"Baiklah Tuan. Tadi saya melihat Tuan datang kerumah sakit dengan seorang bibik dan seorang supir, tapi saya tidak melihat bunda dari Deli. Apakah benar Tuan" tanya dokter sambil melihat dalam mata Danu.


Danu mengangguk, Danu sudah bisa mengambil kesimpulan sakitnya Deli pasti ada hubungan dengan istrinya.


"Tuan, menurut saya dan pengamatan saya, sakit Deli pasti berhubungan dengan Bundanya. Saran saya ada baiknya Tuan membawa Deli untuk konsul dengan psikiater. Takutnya nanti Deli trauma atau bagaimananya." kata dokter dengan penuh kehati hatian.


"Terimakasih dokter. Saya akan bawa Deli ke pisikiater. Saya yakin ini terjadi karena kericuhan rumah tangga saya. Kalau begitu saya permisi dulu dokter." kata Danu sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Sama sama Tuan. Semangat dan berikan yang terbaik untuk Deli." kata dokter sambil tersenyum.


"Pasti dok." jawab Danu tegas.


Danu kemudian berjalan kembali ke IGD. Sesampainya di IGD, Danu tidak melihat keluarganya lagi. Danu kemudian menghampiri sister jaga IGD.


"Maaf suster, pasien bernama Deli kemana ya?" tanya Danu dengan takutnya.


"Ooo, Nona Deli sudah di ruang rawatnya pak. Di kamar VIP nomor 2" kata suster jaga setelah melihat dimana ruangan Deli di rawat.


"Terimakasih suster." kata Danu dan berjalan menuju ruang rawat Deli.


Dani berjalan dalam diam, dia masih memikirkan apa yang dikatakan oleh dokter tadi. Danu sebenarnya tidak egois, Danu masih menerima istrinya sebagai istri dan bunda Deli, tetapi dari istrinya sendiri tidak mau berubah. Dia lebih memilih sibuk diluaran sana dari pada mengurus Deli.


"Ya Tuhan apa yang harus hambamu ini lakukan demi anaknya." kata Danu sambil mengusap mukanya saat melihat Deli yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.


Danu kemudian masuk kedalam ruang rawat Deli. Bibik yang menunggui Deli sudah tertidur di tepi ranjang dengan meletakkan kepalanya ke ranjang Deli. Sedangkan Pak Ujang sudah tidur dilantai beralaskan karpet tebal.


Danu kemudian maju dan mencium pipi gembul Deli. Setelah itu Danu masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya dan mengambil wudhu.


Danu hanya bisa berserah diri kepada sang pemilik alam dan kehidupan. Danu menangis dalam sholatnya. Danu mencurahkan semua isi hatinya kepada Tuhan sambil berlinangan air mata. Danu tidak tau lagi mesti bagaimana menghadapi kekeraskepalaan dan ketidak pedulian istrinya kepada Deli. Danu benar benar rapuh, Danu sudah tidak tau lagi mesti berbuat apa lagi. Segala upaya sudah dilakukan Danu, tapi tetap tidak berhasil. Tangisan Danu semakin pecah saat Danu mengingat peristiwa ulang tahun Deli sebulan yang lalu.

__ADS_1


...----------------...


Apakah peristiwa yang sangat menyakitkan bagi kehidupan Danu dan Deli, sehingga membuat Deli menjadi seperti ini.


__ADS_2