Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Ketiduran dalam Penerbangan


__ADS_3

Vina memilih untuk tidur dalam sisa penerbangannya. Dia benar benar lelah. Apalagi Deli sudah tidur dari tadi.


Vina yang sedang mengaduk kue untuk pesanan besok pagi terkejut saat mendengar ponselnya yang tiba tiba berdering. Vina melihat siapa yang menghubunginya. Ternyata di layar ponselnya terpampang nama "Bosku". Vina langsung mengangkat panggumilan telpon yang dari tadi sudah ditunggu tunggunya.


"Hallo assalamualaikum sayang. Udah sampe mana?" tanya Vina.


"Waalaikumsalam sayang. Ini baru masuk batas kota. Sepertinya kami nggak bisa ke sana sayang. Hari sudah terlalu malam, segan dengan tetangga sekitaran rumah kamu" kata Danu yang segan untuk singgah ke rumah Vina karena hari sudah terlalu malam.


"Iya sayang, nggak apa apa. Besok mau dibuatkan sarapan apa?" tanya Vina yang paham dengan situasi dan kondisi.


"Eeeee Nasi goreng tambah mie goreng kayaknya enak sayang" kata Dani yang memang sangat menyukai makanan itu.


"Baiklah. Besok akan dibawakan. Dua ajakan sayang. Satu untuk kamu yang satunya lagi untuk aku" kata Vina yang berusaha menggoda Iwan dan Ifan.


"Ya lah nggak apa apa. Habis manis sepah dibuang" kata Iwan yang sekarang giliran membawa mobil. Sedangkan Ifan sudah sampai di alam mimpi. Ifan menyabotase bangku bagian belakang.


"Hahahaha. Tenang saja bang, kalian berdua juga kebagian. Madak senior nggak dikasih. Bisa mampus junior nanti" kata Vina sambil memasukkan adonan kue ke dalam cetakan.


"Kamu sedang ngapain sayang?" tanya Danu kepada Viba yang terdengar sangat sibuk.


"Sedang masak kue pesanan sayang. Ini panggangan terakhir. Dari pagi nggak bisa istirahat. Besok banyak yang mesan snack box sayang" kata Vina dengan bangganya.


"Sayang cari duit boleh. Tapi jangan menyiksa badan kayak gitu dong." kata Danu yang mulai sedikit kesal dengan Vina.


"Sayang, denger ya. Aku nggak capek, lagian Maya juga membantu banyak. Jadi nggak ada yang perlu dimarahin. Aku juga bisa menolak pesanan kalau pesanannya memang sudah keterlaluan" kata Vina menjelaskan kepada Danu.


"Pokoknya pesan aku sama kamu jangan terlalu caoek. Sayang sama badan. Aku nggak mau karena pesanan kamu membludak terus kamu sakit dirawat di rumah sakit. Kalau sampai itu terjadi aku akan mencari dua orang karyawan untuk kamu. Biar aku yang bayar, terpenting kamu nggak boleh masak atau ngapain. Kamu hanya menjadi tukang timbang bahan saja." kata Danu memberikan ancaman kepada Vina.


"Siap bos." jawab Vina sambil mengangkat tangannya seperti orang sedang hormat.


Danu yang melihat di seberang sana hanya bisa tertawa dengan tingkah lucu dan tak terduga Vina.


"Selesai satu kue itu langsung tidur ya. Nanti kalau udah sampe rumah aku kasih tau" kata Danu yang memang selalu memberi kabar kepada Vina.


"Oke sayang. Hato hati ya. Jangan boleh bang Iwan ngebut" kata Vina.


Vina kemudian memutuskan panggilan videonya dengan Danu. Dia akan menghias beberapa kue potong. Untung saja tidak ada pesanan kue ulang tahun. Jadi dia bisa tidur cepat hari ini. Vina dan Maya serius menghias kue kue bolu dengan hiasan keju, coklat, mieses dan buah ceri. Kue yang dipanggang terakhirpun sudah matang. Kue itu akan disiram diatasnya dengan agar agar tambah campuran putih telur. Besok pagi akan dielsekusi oleh Vina.


"Gimana May? Udah selesai belum?" tanya Vina kepada Maya yang sedang asik menaruh beberapa potong stroberi belah di atas cake yang sudah dihias parutan coklat.


"Dikit lagi Vin. Kamu kalau ngantuk boleh tidir dulu." jawab Maya yang sedang serius dengan cakenya tanpa melihat ke arah Vina.


"Sama aja, aku juga mau membuka bumbu untuk nasi goreng besok" tutur Vina yang mulai mengupasi beberapa bumbu untuk nasi goreng.


"Vin, kemaren ibu ibu kompleks sebelah banyak yang minta kamu untuk buat mie ayam. Kata mereka mie ayam waktu mereka yasinan itu sangat enak" kata Maya sambil menatap Vina.


"Wah ide bagus May. Tapi kita coba masukin di menu untuk minggu depan aja. Minggu sekarang aku banyak kerjaan. Ini aja rencana mau minta tolong kamu untung menghandle beberapa pekerjaan." ucap Vina yang memang dalam minggu ini dia akan banyak lembur.


"Itu mah cerita gampang. Jadi mulai minggu depan kita ubah menu aja ya. Mulai kita pikir dari besok, gimana?" Maya menawarkan sesuatu yang belum pernah dicoba di warung mereka berdua.


"Oke. Kamu list menunya, nanti kita coba dulu untuk eksekusi. Biar Danu, Iwan dan Ifan yang coba rasanya. Gimana?"


"Setuju. Vin aku udah siap. Kita istirahat lagi, capek banget ini" kata Maya yang memang melakukan semua sendirian.

__ADS_1


Kadang - kadang saking sibuknya, Maya tidak sempat mencuci piring, sehingga semua piring, gelas dan sendok kotor semua. Kalau Vina cepat pulang maka Vina yang akan membersihkan. Kalau tidak terpaksa dalam waktu senggang yang sedikit itu, Maya membersihkan semuanya sendirian. Vina sangat bersukur mendapat sahabat sekaligus pegawai seperti Maya. Maya tidak banyak mengeluh, tidak rewel dan yang pasti dia senang memasak dan berjualan.


Mereka berdua kemudian membersihkan dapur, meletakkan semua yang kotor ke tempat cucian. Serta menata kue kue yang akan di bawa ke warung. Selesai melakukan semuanya Vina dan Maya masuk ke kamar untuk beristirahat. Mereka berdua melalui hari hari yang melelahkan setiap harinya.


Vina yang sampai di kamar langsung merebahkan dirinya di atas kasur empuk miliknya. Dia sangat lelah. Vina meletakkan ponselnya di dekat telinga, agar saat Danu memberitahukan kalau dia sampai rumah Vina bisa langsung mendengar nada dering ponselnya.


Baru beberapa menit meletakkan kepalanya di bantal Vina langsung terjun bebas ke alam mimpi. Dia bermimpi bertemu seorang wanita cantik yang sepertinya berbeda kalangan dengan dirinya, datang memaki maki Vina. Wanita itu mengatakan kalau dia adalah seorang perebut suami orang. Vina yang tidak tau apa apa langsung terdiam, tidak mampu menjawab. Wanita itu semakin menjadi memaki maki Vina. Vina sampai mengeluarkan keringat dingin.


Saat mimpi itu terlihat semakin nyata, ponsel Vina berdering tepat di telinganya. Vina langsung terbangun dengan nafas sesak dan keringat yang membasahi badannya.


"Hallo sayang" sapa Danu melalui sambungan telpon.


"Iya sayang, udah sampe mana?" tanya Vina kepada Danu.


"Ini udah di kamar. Aku mau tukar baju." kata Danu.


"Sayang, tadi aku mimpi buruk sayang" kata Vina yang berniat menceritakan mimpi buruknya kepada Danu.


"Mimpi apa sayang?" tanya Danu yang penasaran.


"Kamu pake baju dulu sayang, nanti baru aku ceritakan apa mimpi buruknya" kata Vina.


Vina sengaja meminta Danu untuk memakai bajunya terlebih dahulu. Setelah itu barulah Vina akan bercerita. Danu kemudian memakai bajunya dengan gerakan cepat. Danu sangat penasaran dengan apa mimpi buruk Vina yang sampai membuat Vina terlihat sangat cemas.


"Sayang aku udah siap." tutur Danu sambil membaringkan badannya di atas kasur.


"Sayang, tadi aku bermimpi. Aku di datangi seorang perempuan sangat cantik. Dia sepertinya bukan karyawan biasa seperti aku. Dia seperti seorang CEO perusahaan. Wanita itu datang hanya untuk memaki maki aku sayang. Aku dikatakannya sebagai perebut suami orang. Aku tidak bisa menjawab perkataannya. Aku nggak tai suami siapa yang aku rebut." kata Vina menceritakan mimpinya.


"Sayang, atau kamu adalah suami wanita itu?" kata Vina asal ngomong dan asal nuduh saja.


"Mana ada sayang. Aku aja nggak tau wanita mana yang kamu maksud" jawab Danu.


"Tapi kenapa mimpi itu terlihat nyata ya sayang?" tanya Vina yang memang kejadian dalam mimpinya terlihat nyata.


"Sayang mimpi itu bunga tidur sayang. Jadi jangan dipikirkan ya." kata Danu.


"Tapi sayang." Vina masih ingin membantah Danu.


"Sayang. Dengerin aku. Apapun itu, itu hanya mimpi. Kamu meragukan aku sayang?" tanya Danu.


"Nggak sayang. Aku berharap itu memang hanya mimpi. Jangan sampe kejadian beneran." kata Vina sambil berdoa dalam hatinya. Dia tidak ingin melukai hati seorang wanita, karena dia juga seorang wanita.


"Sekarang tidur sayang. Kamu capek siap bikin kue. Aku juga capek siap perjalanan jauh. Apalagi besok harus bangun pagikan ya. Bikin nasi goreng untuk calon suami mu ini" kata Danu berusaha menggoda Vina.


"Hahahahaham Makasi sayang. Besok akan aku buatkan nasi goreng dengan bumbu cinta" balas Vina yang sudah kembali ceria lagi.


"Jangan sayang!" teriak Danu.


"Wow. Sakit kuping ku. Kenapa nggak boleh?" kata Vina sambil mengusap telinganya yang perih, karena Danu berteriak di situ.


"Nanti Iwan dan Ifan juga makan cinta kamu. Cinta kamu hanya boleh untuk ku saja" kata Danu sambil tersenyum setelah mengucapkan kata kata romantis itu. Kata kata yang sudah lama tidak keluar dari bibir Danu.


"Udah ah tidur. Lama lama ngomong kayak gini nanti akunya batal tidur." kata Vina menghentikan candaan Danu.

__ADS_1


Vina memutuskan panggilan telponnya. Mereka memilih untuk tidur dan beristirahat. Vina yang memang sudah mengantuk langsung tertidur saat itu juga. Hal berbeda terjadi dengan Danu. Danu masih belum bisa tertidur.


"Apa yang datang ke dalam mimpi Vina tadi adalah Ranti? Semua ciri ciri yang dikatakan oleh Vina mengarah ke Ranti secara keseluruhan. Sepertinya aku harus menyelesaikan semua ini dengan segera. Atau aku harus katakan semua ini ke Vina, agar tidak ada kesalah pahaman setelah ini" Danu berkata kata sendirian.


"Ya aku harus mengatakan semua ini kepada Vina" kata Danu yang sudah membulatkan tekadnya.


Danu kemudian merebahkan badan dan kepalanya ke atas kasur. Danu tidak tidur di kamar pribadinya. Danu memilih tidur di kamar tamu. Dia tidak mau mengingat apa yang dilihatnya hari itu. Kejadian yangbbenar benar membuat dia terpuruk.


Saat Danu baru mau tidur, terdengar bunyi mobil parkir di depan rumahnya. Danu sudah tau siapa yang pulang. Untung saja dia tidak membawa mobilnya pulang ke rumah. Serta semua penjuru rumah termasuk kamar pribadinya sudah di pasang cctv. Jadi rekaman yang terjadi di rumah bisa menjadi bukti kejahatan yang dilakukan oleh Ranti.


Danu mengintip siapa yang datang melalui lubang intip yang ada di pintu kamar. Tetapi pandangan Danu tidak bisa leluasa memperhatikan semuanya. Akhirnya Danu lebih memilih untuk membuka sedikit pintu kamarnya.


Sesuatu yang mengejutkan terpampang nyata di depan Danu. Ranti pulang dalam keadaan mabuk. Dia dipapah bik imah untuk masuk ke dalam rumah. Bik Imah mengantarkan Ranti ke kamar mereka. Setelah itu bik Imah turun dari lantai dua.


"Bik, sering nyonya pulang dalam keadaan seperti itu?" tanya Danu kepada bik Imah.


"Sering Tuan. Nyonya selalu pergi dan pulang tengah malam dalam keadaan mabuk. Ini masih lumayan bisa berdiri Tuan. Biasanya Nyonya pulang sudah pingsan di dalam mobil." kata bik Imah menceritakan kebiasaan dan keadaan Ranti pulang saat malam hari.


"Oh. Apa masih sering Nyonya membawa laki laki ke dalam rumah?" tanya Danu selanjutnya.


"Nggak Tuan. Terakhir waktu tertangkap oleh Tuan. Cuma Nyonya memang sering tidur di luar Tuan" kata bik Imah.


"Baiklah bik terimakasih atas infonya" kata Danu yang langsung berbalik menuju kamar tamu.


"Tuan maaf. Kabar Nona Deli bagaimana Tuan?" tanya bik Imah yang memang sangat sayang kepada Deli.


"Oh Deli baik baik saja bik. Sekarang dia sudah bahagia. Gidak tertekan seperti dulu lagi bik." jawab Danu.


"Sebelumnya saya minta maaf Tuan, kalau pertanyaan saya nantinya akan menyinggung Tuan." kata bik imah.


"Silahkan saja bik. Apa yang mau bibik tanyakan." jawab Danu. Danu sudah menganggap bik Imah bagian dari keluarganya, bik Imahlah selama ini mengasuh dan menjaga Deli. Bik Imah sudah menganggap Deli sebagai anaknya sendiri.


"Apa Nona Deli sudah membolehkan Tuan untuk meninggalkan Nyonya?" kata bik Imah, setelah bertanya bik Imah langsung menundukkan kepalanya.


"Sudah bik. Deli sudah setuju. Saya akan mencari bukti kuat dulu untuj perselingkuhan Ranti. Apa bik Imah bisa membantu saya?" tanya Danu kepada bik Imah.


"Bisa tuan. Untuk Nona Deli akan saya lakukan apapun." kata bik Imah.


"Saya akan membantu sebisa saya Tuan." lanjut bik Imah.


"Terimakasih bik. Semoga semuanya cepat berakhir ya bik. Saya sudah lelah bik dengan ini semua. Saya berharap ini cepar selesai. Jadi Deli bisa berkumpul lagi bersama kita." ucap Danu.


"Aamiin Tuan. Saya selalu berdoa untuk kebahagiaan Tuan dan Nona Deli." kata bik Imah dengan sejujur jujurnya.


"Terimakasih bik. Saya istirahat dulu bik. Lelah habis dari perjalanan jauh. Bik Imah juga istirahat lagi. Biarkan Nyonya itu sadar dengan sendirinya." kata Danu yang muak melihat tingkah istrinya itu.


"Saya permisi dulu Tuan." kata bik Imah yang langsung menuju kamarnya di belakang.


Danu juga masuk ke dalam kamarnya. Dia sangat lelah. Beban pikirannya bertambah dengan cerita mimpi Vina tadi. Danu tidak ingin kehilangan Vina. Danu harus menceritakan ini semua kepada Vina. Dia akan memperlihatkan semua buktinya. Kalau perlu Vina akan dibawa Danu untuk menemui Deli.


"Ah kenapa tidak terpikir dari tadi. Bawa saja Vina kehadapan Deli. Biar Deli, mama dan papa yang menceritakan semuanya kepada Vina. Aku juga akan bawa Iwan dan Ifan untuk membuktikan kalau Vina tidaklah perebut suami orang. Ya sudah aku putuskan. Besok aku akan menghubungi Deli dan mama. Iwan dan Ifan bisa diafur" kata Danu.


Danu kemudian berbaring dan juga masuk ke alam mimpinya yang indah. Mimpi bertemu Vina kekasih hatinya.

__ADS_1


__ADS_2