
Vina yang sedang tidak mood karena keadaan dan cara kerja karyawan perusahaan menjadi uring uringan saja di kantor. Dia tidak menyangka dengan gaji dan tunjangan yang diterima seharusnya mereka loyal keoada perusahaan, tapi ini malah sebaliknya mereka semua berbuat sesuaka hati mereka.
Vina meraih telpon kantor. Vina mendial nomor manager HRD.
"Hallo Pak, apa semua surat yang saya minta telah siap di cetak??? Atau perlu bagian HRD saya tambah atau saya tukar orang orangnya?" ujar Vina yang kesal.
Dia sudah dari tadi menunggu surat yang dibuat oleh bagian HRD tetapi masih belum juga sampai ke atas meja kerjanya.
"Sudah siap Nona. Ini mau saya antarkan ke ruangan Nona." jawab manager HRD.
"Anda serahkan saja ke Nona Sari. Biar Nona Sari yang menyerahkan kepada Saya." Vina memberikan instruksi baru kepada bawahannya itu.
"Baik Nona." jawab Manager HRD.
Manager HRD langsung menyambar semua surat yang baru selesai dibuat stafnya. Mereka benar benar bekerja dalam tekanan.
"Bener bener wow ternyata wakil direktur yang baru." ujar manager HRD kepada Staffnya.
"Tapi bagus itu pak. Jadi kita semua sama kewajibannya." jawab staff yang membuat surat.
"Bener juga ya. Ya udah saya ke atas dulu. Nanti wakil direktur itu ngamuk lagi. Saya nggak mau menanggung resiko yang lain, cukup sudah saya tadi dipanggil dan diperiksa." ujar Manager HRD.
Manager HRD pergi menuju ruangan Sari. Dia sudah membawa semua surat surat yang diminta oleh Vina.
Tok tok tok. Pintu ruangan Sari di ketuk dari luar.
"Masuk" jawab Sari dari dalam. Sari sedang melakukan panggilan video dengan direktur perusahaan yang juga adalah kakak kandungnya sendiri.
"Bentar Bang. Ada tamu." ucap Sari.
Manager HRD kemudian masuk ke dalan ruangan Sari.
"Ada apa Pak?" tanya Sari yang merasa tidak memanggil Manager itu ke ruangannya.
"Begini Nona, saya di minta ibu wakil direktur untuk memberikan semua surat ini kepada Nona." jawab Manager sambil memberikan map yang berisi surat teguran untuk karyawan yang keterlaluan dalam disiplin.
"Oh makasi Pak. Nanti akan saya antarkan ke wakil direktur." jawab Sari sambil meletakkan map tersebut ke meja kerjanya.
"Saya permini dulu Nona." kata Manager HRD.
Sari kembali ke meja kerjanya. Panggilan videonya masih terhubung dengan direktur.
"Gimana Dek? Apa yang diantar manager HRD tadi?" tanya direktur penasaran.
"Sepertinya surat teguran keras Bang. Ada satu surat yang di dalamnya berbunyi tidak ada penambahan uang lembur, karena lembur mereka diimpaskan dengan jam keterlambatan." jawab Sari yang membaca sekilas bunyi surat teguran itu.
"Hahahahaa. Ternyata dia memang disiplin." jawab direktur dari seberang sana.
"Abang kapan kembali. Nggak kangen tu dengan kakak ipar gue." ujar Sari menggoda abangnya.
"Kangen lah Sar. Tapi mau gimana lagi. Ini Manager gue belum kembali juga. Sepertinya Deli sakit agak parah." jawab direktur sambil menggaruk kepalanya.
"Deli memang sakit Bang. Waktu aku ke rumah Oma, dia terbaring sangat lemah. Tapi sayangnya Sepupu kita yang goblok itu bersikap luar biasa panik. Sampai sampai nggak tau apa yang mau dikerjainnya." jawab Sari dengan nada kesal.
"Sabar Sar. Loe aja yang baru ketemu dia pas hari itu aja kesal. Apalagi gue yang udah hampir dua tahun ketemu dia. Mana dia nggak kenal gue lagi. Emang somplak lah tu sepupu. Pengen gue rendem." jawab abang Sari dengan sedikit emosi.
"Oh ya Sar. Apa Vina di sana baik baik saja ya?" tanyanya lebih lanjut.
"Vina atau Maya?" tanya Sari lagi menggoda abangnya itu.
Tok tok tok
"Sar buka pintunya." ujar Vina dari luar pintu ruangan.
Direktur langsung memutuskan panggilan video mereka. Direktur tidak mau ketahuan siapa dia sebenarnya.
"Masuk Nona." ujar Sari setelah membukakan pintu untuk Vina.
Vina masuk ke dalam ruangan Sari. Dia langsung duduk di kursi yang tepat berada di depan meja kerja Sari.
"Ada apa Nona?" tanya Sari yang penasaran.
"Mana surat yang diantar HRD tadi Sar?" tanya Vina.
"Maaf Nona, tadi saya ada kerjaan sedikit, sehingga saya telat memberikan surat ini kepada Nona." jawab Sari sambil menunduk.
"Tidak apa apa Sari santai aja. Lagian saya juga pengen melepaskan lelah." kata Vina sambil duduk di sofa yang ada di ruangan Sari.
"jadi ini mau diapakan Nona?" tanya Sari sambil mengangkat surat yang diberikan HRD tadi.
__ADS_1
"Besok kita panggil mereka satu persatu. Kita kasih surat ini dan langsung bertanya apakah dia masih mau kerja di sini atau tidak." kata Vina.
Sari kemudian memberikan map yang berisikan surat surat kepada Vina. Vina menandatangani semua surat tersebut. Sari menstempel surat yang telah ditandatangani oleh Vina.
"Besok dipanggil dari yang luar biasa sampai ke yang biasa aja Vin. Kita kasih mereka syok terapi. Bagi manager kita tidak memberikan uang lelah mereka. Untuk karyawan kita berikan setengah saja, bagaimana?" tanya Sari kepada Vina.
Vina mencerna apa yang dikatakan oleh Sari.
"Maunya gue nggak dikasih sama sekali. Karena ini bener bener sudah keterlaluan." ujar Vina yang memang berencana tidak membayarkan sepenuhnya uang semua karyawan.
"Kalau menurut gue ya Vin. Lebih baik sekarang dikasih separo dulu kita liat sampe mana batas kesalahan mereka. Nah bulan besok kalau masih berbuat seperti itu maka kita potong habis." usul Sari.
"Okelah. Besok kita panggil mereka satu persatu." ujar Vina.
Vina dan Sari melanjutkan obrolan mereka mengenai meeting nanti siang dengan tim yang akan diturunkan untuk melakukan pembangunan proyek dengan Perusahaan A.
Tidak beberapa lama telepon genggam milik Vina bergetar. Vina melihat nama Maya tertera di sana.
"Hallo May, ada apa?" tanya Vina yang lupa mereka janjian makan siang di perusahaan.
"Gue udah di lobby tapi nggak tau ruangan loe lantai berapanya." ujar Maya yang terlihat sedikit bingung di depan lift.
"Ya udah loe tunggu aja Sari di sana. Dia bentar lagi akan jemput elo." jawab Vina memberikan solusi untuk Maya dengan mengirim Sari untuk menjemput Maya ke lobby.
"Sar, bisa gue minta tolong?" tanya Vina setelah menutup panggilan telponnya dengan Maya.
"Bisalah masak ndak. Ada apa?" tanya Sari.
"Jemputin Maya ke bawah tolong satu. Dia nggak tau lantai berapa kantor kita." ucap Vina yang lupa memberitahukan Maya lantai ruangannya.
"Oke sip." jawab Sari yang sangat antusias saat di suruh menjemput Maya.
"Gue ke ruangan dulu mau nyiapin air minum. Nanti langsung ke ruangan aja ya. Kita makan siang bertiga. Kalau perlu bawa Pak Hans sekalian." kata Vina kepada Sari yang sudah akan pergi menjemput Maya.
"Sip" jawab Sari sambil mebgangkat dua jempolnya..
Sari pergi menjemput Maya ke lobby perusahaan. Sedangkan Vina menyiapkan semua kebutuhan mereka berdua.
Sari turun memakai luft khusus direksi. Dia melihat Maya yang berdiri dengan canggung di depan pintu lift karyawan.
"May. Sini." panggil Sari kepada Maya yang melamun itu.
"Besok besok kalau datang ke kantor lagi, pakai aja lift yang ini. Nah setelah itu pencet angka sembilan. Loe akan langsung sampai di ruangan kami berdua." ujar Sari kepada Maya menerangkan semuanya.
"Oke" jawab Maya yang paham dengan instruksi Sari.
Sari dan Maya sampai di depan ruangan Vina. Sari membuka pintu ruangan tersebut. Vina ternyata sudah menyiapkan meja untuk makan dan juga sudah ada air mineral di atas meja.
Maya meletakkan rantang yang dibawanya ke atas meja. Sari membantu membuka rantang dan menatanya di atas meja. Terlihat ada sayur cap cay, dendeng lambok khas Padang, udang goreng tepung serta kerupuk emping goreng. Serta tak lupa puding buah yang sudah dimasukkan kedalam cetakan cetakan kecil.
"Wow." ujar Sari yang terpana melihat masakan yang di buat oleh Maya.
"Kenapa Sar??? Kamu nggak makan daging dan udang?" tanya Maya yang kaget Sari sedikit berteriak.
"Aku pemakan segalanya May. Aku ngomong wow karena kayaknya semuanya lezat." jawab Sari yang langsung mengambil piring.
Sari mengisi piringnya dengan sedikit nasi dan semua sambal yang dibuat Maya. Vina dan Maya yang melihat hanya bisa geleng geleng kepala saja melihat kelakuan Sari.
Sari menyendok sesuap nasi. Dia memasukan suapan itu ke dalam mulutnya. Sari merasakan rasa yang sangat lezat. Sia kemudian mengunyah makanan itu.
"Wow ini benar benar lezat." ujar Sari.
Vina dan Maya yang mendengar perkataan Sari tersenyum bahagia. Mereka bertiga kemudian makan dengan lahap. Masakan Maya benar benar enak.
"Sar tadi kan gue suruh ajak Pak Hans. Kok nggak loe ajak." ujar Vina yang ingat dengan Pak Hans.
"Pak Hans udah gue kasih bekal sendiri. Tu Pak Hans udah makan dengan satpam." ujar Maya yang memang sudah memberikan satu rantang menu makanan untuk Pak Hans dan Satpam.
Vina dan Sari selesai makan kembali bekerja. Sedangkan Maya membersihkan meja tempat mereka makan tadi. Selesai membersihkan meja, Maya mengeluarkan ponselnya. Dia sudah tiga hari tidak menghubungi Ivan.
'Sayang' ujar Maya mengirim pesan ke Ivan.
Ivan yang baru saja bangun tidur terkejut saat melihat notifikasi ponselnya, ada sebuah pesan masuk dari Maya. Ivan membaca pesan dari Maya itu. Ivan tersenyum saat membaca bunyi pesan.
'Masih ingat ada pacar tuh?' balas Ivan sambil menahan senyumnya.
'Ntah' balas Maya yang sama sekali tidak ingin ribut dengan Ivan.
Ivan membaca balasan chat Maya. Betapa kagetnya Ivan. Maya hanya membalas dengan satu kata saja.
__ADS_1
"Hahahahahaha, tu anak memang aneh." ujar Ivan lagi.
'Harusnya marah aku sayang, bukan kamu. Kamu main pergi aja dengan Vina tanpa memberitahukan kepada Aku.' balas Ivan yang tidak ingin Maya marah kepada dirinya.
'Aku pergi karena sayang sama sahabatku. Bos kamu tu utkur jadi orang' balas Maya.
'Utkur???' balsas Ivan yang sama sekali tidak tau apa itu Utkur.
'Utak Kurang sayang' balas Maya.
'Hahahahaha. Kamu ada ada aja. Kamu sedang ngapain sayang?' tanya Ivan lagi.
'Sedang duduk nungguin Vina dan Sari bekerja. Oh ya sayang Vina dan aku rencananya mau bangun kafe dengan makanan khusus negara I. Apa di sini bisa laku ya?' tanya Maya selanjutnya.
'Laku sayang. Di negara U itu banyak kok orang dari negara I. Kamu jangan ragu.' jawab Ivan.
'Loh kamu kok tau kami di negara U? Aku kan nggak ada cerita.' balas Maya yang heran Ivan bisa tau mereka dimana sekarang.
'Direktur yang ngasih tau' balas Ivan.
"May, bisa kita berangkat sekarang?" tanya Vina yang melihat Maya konsentrasi dengan ponselnya.
"Bisa Vin." ucap Maya.
'Sayang aku pergi dengan Vina dan Sari dulu. Nanti malam kita sambung' kata Maya memberitahukan kegiatannya kepada Ivan.
'Oke hati hati' balas Ivan.
Vina, Sari dan Maya sekarang sudah berada di dalam mobil yang akan membawa mereka ke tanah kosong yang rencananya akan dibeli oleh Vina. Pemilik tanah sudah menunggu mereka di sana.
Pak Hans melajukan mobilnya menuju tanah kosong yang mereka lihat kemaren.
"Jadi tadi loe ngubungin Ivan, May?" tanya Vina yang kepo dengan Maya
"Yup. Udah tiga hari gue nggak ngasih kabar." jawab Maya.
"Apa dia tau kita di sini?" tanya Vina kembali.
"Nggak lah. Loe tenang aja. Gue chat dia pakai pesan chat. Bukan pakai nomor ponsel." ujar Maya yang tau ketakutan Vina.
'Maafin gue Vin, gue harus boong. Ini semua demi kebaikan kita berdua.' ujar Maya dalam hatinya.
"Oke sip. Maya gue nggak ngelarang Ivan tau lie dimana. Tapi pesan sama Ivan supaya jangan ngasih tau keberadaan gue ke pria nggak ada akhlak itu." ujar Vina yang sangat sakit hati dengan Danu.
"Ivan berhak tau loe dimana kok May. Gue paham akan hal itu." ujar Vina lagi
Tak terasa mereka sudah sampai di tanah yang akan dibeli Vina. Ketiga wanita itu turun dari dalam mobil. Mereka berjalan menuju tanah tersebut. Ternyata di sana sudah ada sepasang suami istri yang dari tadi menunggu kedatangan mereka.
"Selamat Sore Tuan dan Nyonya Robert " sapa Sari yang memang sudah kenal dengan orang yang punya tanah itu.
"Selamat sore Sari." jawab Tuan Robert
"Perkenalkan Tuan Robert. Ini teman saya, Vina dan Maya yang akan membeli tanah Tuan." ujar Sari memperkenalkan Vina dan Maya.
Mereka berempat saling berjabat tangan.
"Oh ya Tuan Robert berapa Tuan akan melepaskan tanah ini?" tanya Vina yang langsung ke inti permasalahan.
"Rencananya kami akan menjual sekitar 150.000uero." ujar pemilik tanah.
"Tuan bisakah Anda menjualnya 125.000uero. Kami hanya memiliki dana segitu." ujar Vina menawar harga tanah tersebut.
"Sebentar Nona Vina. Saya akan diskusikan dengan istri saya terlebih dahulu." jawab Tuan Robert.
Tuan dan Nyonya Robert mendiskusikan tentang penawaran Vina. Setelah menunggu selama sepuluh menit. Tuan Robert kembali ke dekat Vina menunggu.
"Baiklah Nona Vina, kami setuju." ujar Tuan Robert.
"Senang berbisnis dengan Anda Tuan." ujar Vina sambil menjabat tangan Tuan Robert.
"Sam sama Nona Vina. Senang berbisnis dengan Anda. Ini sertifikatnya." ujar Tuan Robert memberikan sertifikat.
Vina kemudian mengirimkan dari rekeningnya sejumlah uang yang sudah mereka sepakati ke rekening Tuan Robert. Setelah semua urusan jual beli selesai. Vina dan kedua sahabatnya pulang ke rumah. Mereka benar benar lelah.
"Vin, gue langsung pulang ya." ujar Sari.
"Oke. Besok sarapan di sini aja." jawab Vina kembali.
"Sip. Sudah sangat tentu. Rugi nggak sarapan sini." jawab Sari.
__ADS_1
Sari masuk ke dalam mobilnya. Dia melajukan mobilnya menuju apartemen. Setelah mobil Sari meninggalkan rumah Vina dan Maya masuk ke dalam rumah mereka. Mereka berdua menuju kamar masing masing.