
Vina masuk ke dalam mobil sambil menahan senyumnya, karena dia sudah berhasil kabur dari pertanyaan pertanyaan sahabat sahabatnya yang penasaran kenapa Vina bisa kabur tadi. Sebenarnya Vina ingin bercerita dan berbagi dengan Maya, tetapi karena ada yang lain di sana, Vina membatalkan keinginannya untuk berbagi. Vina memilih untuk menunda menceritakan semuanya kepada Maya. Bagi Vina, Maya sudah mengetahui inti cerita, itu lebih baik dari pada Vina tidak mengatakan apa apa kepada Maya.
"Pak Hans, kita ke rumah langsung ya. Saya ingin langsung istirahat." ujar Vina kepada Pak Hans, sopir yang selalu setia mengantarkan Vina kemanalun Vina dan Maya mau.
"Siap Nona. Saya akan mengantarkan Nona Vina kembali ke rumah dengan selamat" ujar Pak Hans menjawab perintah dari Vina
Pak Hans mengemudikan mobil menuju rumah. Sama sekali tidak ada percakapan yang terjadi antara Vina dengan Pak Hans selama perjalanan menuju rumah. Padahal selama ini mereka berdua selalu bercakap cakap saat akan menuju rumah maupun pergi ke perusahaan.
Pak Hans memerhatikan nona nya itu dari kaca spions. Dia melihat Vina sudah tidak seperti tadi. Sekarang Nona nya itu sudah mulai tersenyum lagi. Pak Hans bahagia melihat Nona nya sudah bahagia.
"Nona Vina, boleh saya bertanya sesuatu kepada Nona?" tanya Pak Hans kepada Vina.
Pak Hans tidak tahan lagi untuk tidak bertanya kepada Vina. Makanya Pak Hans mulai membuka cerita.
"Mau tanya apa Pak Hans?" tanya Vina dengan ramah.
"Nona, sepertinya suasana hati Nona Vina sudah berubah dan kembali ceria tidak seperti tadi pagi" ujar Pak Hans yang akhirnya berhasil bertanya kepada Vina.
"Ha ha ha ha ha. Aku memang sedang bahagia Pak Hans" jawab Vina sambil menatap Pak Hans dari kaca spion.
"Boleh tau kenapa Nona?" tanya Pak Hans mulai kepo.
"oh tidak Pak Hans. Tapi saat semuanya sudah pasti, maka aku akan menceritakan kepada Nona semuanya" ujar Vina.
"oke Nona. Saya menunggu saat itu" ujar Pak Hans.
Pak Hans melajukan mobil dalam kecepatan agak tinggi, Pak Hans ingin cepat sampai di rumah agar Nona Vina bisa cepat beristirahat seperti kata. Vina tadi. Tak membutuhkan waktu lama, mobil telah terparkir di depan garasi rumah. Vina turun dari dalam mobil.
Vina kemudian membuka pintu rumah dan langsung berjalan menuju kamarnya. Tetapi saat baru sampai di anak tangga pertama, Bik Ina memanggil Vina.
"Nona Vina, makan malam sudah siap" ujar Bik Ina saat melihat Vina sudah sampai di anak tangga pertama.
"Maaf Bik. Aku sudah makan tadi di kafe. Bik Ina dan Pak Hans saja ya yang makan malam." ujar Vina kepada Bik Ina yang menolak untuk makan malam.
"Aku mau langsung istirahat saja Bik. Badan aku capek capek semua" lanjut Vina berkata kepada Bik Ina.
"Baiklah Nona. Selamat malam Nona" ujar Bik Ina kepada Vina.
Vina kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar. Dia akan beristirahat di sana. Sekaligus mau melakukan apa yang sudah dijanjikan nya kepada Danu tadi. Vina melangkah dengan sangat cepat. Dia ingin cepat cepat membersihkan tubuhnya dan memakai pakaian tidur. Padahal sebenarnya Vina melakukan gerak cepat itu agar bisa cepat melakukan video call dengan Danu, seperti janjinya tadi.
"Kenapa tadi Bang Danu bisa mengatakan hal ini ya?" ujar Vina sambil mengambil handuknya. Dia akan mandi terlebih dahulu baru melakukan video call dengan Danu.
"Saat aku tau dia bukan darah daging aku, saat itu pulalah dia bisa berbicara. Dan kamu tau apa kata pertama yang diucapkannya? Yah. Ayah" ujar Vina mengulang kembali apa yang dikatakan oleh Danu.
Vina akhirnya selesai mandi. Dia kemudian kembali ke dalam kamarnya dengan memakai handuk. Vina memakai pakaiannya yang sudah diletakkan di atas ranjang. Setelah memakai pakaiannya itu, Vina kemudian membersihkan wajahnya dengan produk kecantikan yang dimilikinya. Setelah selesai membersihkan wajah, Vina kemudian menaruh pelembab di wajah cantiknya. Serta memasang skincare yang lainnya.
"Oke siap untuk melakukan panggilan video" ujar Vina.
Vina naik ke atas kasurnya. Dia memasang handset ke telinganya. Setelah melakukan semua itu barulah Vina melakukan panggilan video dengan Danu.
Danu yang sedang mengendarai mobil, melihat panggilan video yang masuk ke dalam ponselnya. Dia melihat nama Vina muncul di layar ponselnya itu. Nama yang ditunggu tunggunya dari tadi.
"Hay" sapa Danu kepada Vina yang sedang terlihat bersandar.
"Hay. Udah dimana?" tanya Vina sambil menatap wajah Danu.
"Ini baru lewat batas kota. Kamu sedang dimana?" tanya Danu melirik Vina sesaat. Setelah itu Danu fokus kembali ke jalan.
"Ini udah di atas kasur. Oh ya, berapa jam lagi kira kira kamu sampai di rumah?" tanya Vina sambil menatap Danu yang fokus mengemudi.
__ADS_1
"Kira kira dua jam lagi lah. Kenapa? Kamu mengantuk?" tanya Danu kepada Vina yang sedang menatap lama dirinya itu.
"Nggak lah. Aku malahan sangat suka kamu menemani aku sepanjang perjalanan sayang." kata Danu sambil melihat ke arah Vina sekilas saja.
"Tapi aku nggak bisa melihat terus ke wajah cantik kamu itu. Aku harus fokus menatap ke jalanan, nggak apa apakan?" tanya Danu kepada Vina.
"Nggak apa apa Bang, lagian niatnya kan mau nemani kamu sepanjang jalan. Jadi, kamu mau natap aku atau nggak juga nggak masalah sayang." jawab Vina sambil memberikan senyum manisnya kepada Danu.
"Hah kamu manggil aku apa tadi? Bisa ulangi lagi?" tanya Danu sambil menatap ke arah Vina.
Danu meminggirkan mobilnya. Dia kemudian menatap serius ke wajah Vina yang berada di negara nan jauh di sana.
"Ngapain minggir?" tanya Vina kepada Danu.
Vina melihat Danu meminggirkan mobilnya. Dia penasaran kenapa bisa Danu memberhentikan mobilnya itu.
"Terpaksa diberhentikan, aku penasaran dengan perkataan kamu yang mengatakan hal yang sudah sangat lama aku rindukan." ujar Danu mengatakan alasannya kenapa dia meminggirkan mobilnya ke tepi jalan.
"Emang tadi aku ngomong apa ya?" tanya Vina sambil menatap Danu.
Vina mulai menggoda Danu. Danu menatap Vina lama.
"Ayolah sayang, ulang lagi, aku sangat bahagia mendengar kata kata yang kamu ucapkan tadi." ujar Danu sambil menatap tajam Vina yang sudah salah tingkah itu.
"Kata kata yang mana sih. Aku nggak ingat" jawab Vina sengaja mengatakan hal itu.
Vina tidak mungkin mengatakan dan mengulang perkataannya lagi. Vina tidak ingin melakukan itu lagi.
"Ayolah Vina, tolong katakan lagi" ujar Danu memohon kepada Vina untuk mengulang kata kata yang sudah lama dirindukan oleh Danu.
"Nggak ah. Udahlah jalan lagi, biar cepat sampenya. Aku pengen ngomong sama Deli" ujar Vina kepada Danu yang masih saja berusaha membuat Vina mengatakan hal itu lagi.
Danu masih mencoba peruntungannya sekali lagi kepada Vina. Vina tersenyum melihat kegigihan dari seorang Danu untuk meminta Vina mengulang kembali kata sapaan yang tadi diucapkan oleh Vina.
"Kalau aku tetap nggak mau gimana?" tanya Vina kembali kepada Danu.
"Kalau nggak mau ya. Aku jalan aja lagi. Tutup aja telponnya" ujar Danu pura pura merajuk agar Vina mau mengulang panggilan yang sama untuk Danu.
"Hahahahaha. Dilarang ngambek sayangku." ujar Vina sekali lagi kepada Danu.
"Aku ulangi lagi nih ya. Sayangku. Puas sayangku!" ujar Vina mengulang berkali kali panggilan kata sayangku kepada Danu.
"Yes akhirnya. Aku semangat lagi neh mengemudikan mobil" ujar Danu menggoda Vina kembali.
"Lebay. Udah sana jalan nanti kemaleman sampenya" ujar Vina meminta Danu untuk melajukan mobilnya kembali menuju rumah kedua orang tuanya itu.
"Siap bos. Tapi kamu nggak boleh tidur ya. Kamu harus tetap nemanin aku" ujar Danu meminta Vina untuk tetap menemani dirinya selama perjalanan menuju rumah kedua orang tuanya.
"Nggak. Aku nggak bakalan tidur. Ngapain juga tidur. Tapi kalau kamu sampe jam dua belas malam di sana, maka aku pasti udah tidur, karena di sini udah subuh" ujar Vina menatap Danu dengan tatapan rindunya.
"Lah jelas lah sayang, kalau di sini tengah malam, di sana tu sudah subuh." jawab Danu.
Danu kemudian menjalankan mobilnya kembali menuju rumahnya. Dia sudah berhasil membuat Vina memanggil dirinya dengan kata sapaan sayang.
"Bang, boleh nggak lanjutkan lagi cerita saat Abang mengetahui Deli bukan darah daging abang, terus saat abang pulang, abang bertemu dengan Deli di depan pintu rumah" kata Vina yang masih penasaran dengan kelanjutan cerita tentang Danu yang baru mengetahui kalau Deli bukanlah anaknya.
"Oke, akan abang lanjutkan. Tapi syaratnya nggak boleh motong cerita ya" ujar Danu memberikan syarat kepada Vina.
"Aman itu. Nggak akan aku potong potong" ujar Vina menjawab persyaratan yang diajuka oleh Danu kepada dirinya.
__ADS_1
"Jadi, saat aku sampai di rumah, Deli sudah berdiri di depan pintu rumah. Dia selalu menyambut kedatangan aku setiap hari. Baik aku pulang dari kantor atau pulang dari perjalanan dinas luar kota." ujar Danu mengingat apa yang dilakukan oleh anak yang disangka Danu selama itu adalah anak kandungnya.
"Saat itu karena rasa kesal dan rasa sakit hati yang aku tanggung, aku ingin rasanya mengabaikan Deli. Aku berencana untuk langsung saja masuk ke dalam rumah" lanjut Danu bercerita tentang kejadian hari itu.
"Tetapi Aku tidak sampai hati untuk melakukan hal itu. Aku tidak tega melihatnya. Apalagi saat itu seperti yang sudah aku ceritakan tadi. Hari itu adalah hari pertama Deli bisa mengucapkan kata kata dari mulutnya" ujar Danu melanjutkan ceritanya.
"Saat itu dia memanggil kata Yah. Aku sangat bahagia sekali mendengarnya. Amarah yang tadi bergelayut di hati dan pikirannya.
"Terus apa yang Abang lakukan saat Deli memanggil kata Ayah itu?" tanya Vina penasaran.
"Aku langsung memeluknya. Saat itu hanya dua kata yang aku sebutkan berulang ulang sambil memeluk Deli" kata Danu sambil menatap Vina.
"Apa?" tanya Vina.
"Kamu anak ku. Kamu anak ku. Kata itu terus aku ulang ulang, aku tidak tega harus memisahkan dia dengan aku" lanjut Danu bercerita kepada Vina.
"Sayang, saat itu apa yang ada dalam hati kamu. Apakah kamu marah dengan Deli?" tanya Vina ingin memastikan perasaan Danu saat memeluk Deli.
"Nggak sayang. Aku sama sekali tidak marah sama Deli. Kalau kamu tanya sama aku saat aku tau masalah itu, aku marah, tapi bukan marah sama Deli." ujar Danu menjawab pertanyaan dari Vina.
"Aku marah dengan Ranti. Kenapa kalau dia memang tidak menginginkan aku, kenapa dia harus meminta Papinya untuk meminta aku menjadi suaminya. Aku benar benar nggak mengerti dengan ini semua" lanjut Danu berbagi perasaannya dengan Vina.
"Jadi sayang, kamu tau, kalau semua ini tidak ada kesalahan kamu. Tapi murni kesalahan Ranti dan Aku." ujar Danu berbicara kepada Vina sambil menatap mata Vina.
"Satu hal lagi. Kalau Ranti mengatakan kalau kamu menjadi pelakor. Maka jawabannya yang pelakor adalah Ranti" ujar Danu mengatakan hal itu kepada Vina.
"Kok bisa?" tanya Vina yang penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Danu tadi.
"Bisalah sayang. Kamu belum dapat semua ceritanya. Kamu baru dapat garis besarnya aja sayang" jawab Danu yang paham Vina memang sudah mengetahui secara garis besar semua cerita tentang Ranti dan Danu.
"Jadi, apa kamu bisa menceritakan semuanya ke aku?" tanya Vina dengan nada lembutnya kepada Danu.
"Bisa sayang. Untuk kamu apapun akan aku berikan. Apapun itu" jawab Danu kepada Vina.
Danu memang menomor satukan Vina setelah Deli. Bagi Danu, Vina dan Deli memiliki kedudukan yang sama dalam hatinya. Kedua wanita itu memiliki suatu kespesialan dalam diri Danu.
"Aku mulai dari awal ceritanya. Tapi, apa masih muat dalam otak kamu sayang? Aku takutnya nanti kamu muntah mendengar semua cerita aku. Mulai dari cerita Deli sekarang cerita Ranti lagi." ujar Danu.
"Aku takutnya kamu muntah nanti atau sakit kepala" lanjut Danu kepada Vina.
Danu takut Vina nanti tidak sanggup menerima semua cerita yang akan diceritakan oleh Danu kepada Vina.
Danu takut Vina nanti sakit saat mendengar semuanya. Danu tidak ingin Vina sakit dan membuat Vina tidak bisa melakukan apa apa. Apalagi Danu tidak berada di negara yang sama dengan Vina.
"Nggak sayang, aku nggak bakalan sakit. Lebih sakit rasanya saat aku harus tahu dari Ranti. Makanya aku sampai masuk rumah sakit karena semua itu" ujar Vina mengatakan kepada Danu apa penyebab dia bisa masuk rumah sakit waktu itu.
Vina di rawat untuk terakhir kalinya di negara mereka karena kedatangan Ranti yang memaki maki Vina, karena Vina menjalin hubungan dengan Danu.
"Sayang, kalau aku boleh tahu ya, sebelum aku menceritakan bagaimana aku bisa berhubungan dengan Ranti. Maukah kamu menceritakan apa yang telah dikatakan oleh Ranti saat itu?" tanya Danu kepada Vina.
Danu sangat penasaran apa yang terjadi saat itu. Saat dimana Ranti menemui Vina ke kontrakannya yang pada akhirnya membuat Vina jatuh pingsan dan masuk rumah sakit.
"Oke, aku akan cerita semuanya sama kamu. Semuanya. Aku janji tidak akan menyimpan atau merahasiakan apapun kepada kamu." ujar Vina yang memang akan menceritakan hal itu kepada Danu.
Vina selama ini memang ingin menceritakan kejadian itu kepada Danu. Tapi sayangnya amarah yang dipendam Vina membuat dia memilih untuk menyimpan semuanya sendirian. Vina memilih untuk pergi dari Danu tanpa memberikan penjelasan kepada Danu.
"Jadi hari itu aku memang sudah demam juga dari pagi. Aku saat itu sudah mengirim surat ke perusahaan untuk tidak datang" ujar Vina memulai ceritanya.
Vina terpaksa membuka kembali luka lama yang sudah dengan susah dirawat nya supaya sembuh. Luka yang pada akhirnya membawa dirinya ke negara ini dan berusaha melupakan seorang pria yang memang sangat dicintainya. Pria dengan sejuta pesonanya itu.
__ADS_1