
Danu dan Paman serta Frans sudah duduk di sofa yang ada di ruangan Frans. Frans melihat ke arah Danu yang terlihat seperti sedang berpikir keras itu. Danu terlihat sedang memikirkan sesuatu. Frans mengambil kesimpulan kalau Danu sedang memikirkan sesuatu yang luar biasa berat di otaknya itu.
"Ada apa Dan?" tanya Frans mengulang pertanyaannya tadi kembali kepada Danu, karena sama sekali belum di jawab oleh Danu.
Danu masih terdiam. Dia melihat ke arah Frans dan Paman sekilas saja. Tanpa berniat untuk menjawab apa yang ditanyakan oleh Frans kepada dirinya.
"Danu" ujar Frans yang sudah kehilangan kesabaran karena dicuekin Danu dari tadi saat dia sudah beberapa kali bertanya kepada Danu.
"Gue sedang pusing banget Frans. Bener bener pusing. Gue nggak tau lagi apa yang harus gue lakuin Frans" jawab Danu sambil memijit kepalanya yang terasa sangat pusing itu.
Frans melihat ke arah Paman. Frans menuntut Paman untuk menjelaskan apa yang membuat Danu menjadi seperti sekarang ini.
"Biar dia saja yang menjelaskan Frans. Paman hanya bisa mendukung dia saja sekarang" jawab Paman yang mengerti arti tatapan dari seorang Frans.
Frans mengangguk. Frans terpaksa harus bersabar sampai sahabatnya itu mampu dan mau berbicara tentang apa yang membuat kepalanya pusing.
Danu melihat ke arah Paman dan Frans bergantian.
"Danu, kalau loe hanya diam saja, gue mana bisa menolong elo Danu. Loe harus cerita dulu ke gue apa yang loe rasakan. Bukan hanya diam seperti ini saja. Kalau loe diam tentu gue nggak mengerti apa yang loe inginkan dan apa yang sedang loe pikirkan" ujar Frans kepada Danu.
Danu mendengar apa yang diucapkan oleh Frans. Tetapi Danu juga tidak tau mau memulai dari mana untuk menceritakan semuanya kepada Frans. Danu takut kalau dia mengatakan sesuatu Frans akan langsung berpikir kalau dia selama ini telah berbohong dan menutupi hal yang paling penting yang harus diketahui oleh Frans.
"Danu. Gue nggak akan marah sama loe. Jadi loe cerita aja apa yang terjadi. Kalau loe diam, gue bisa bantu apa Danu" ujar Frans kembali bertanya kepada Danu yang masih setia dengan mode diam dan silent nya itu.
__ADS_1
"Danu, benar kata Frans. Kamu ceritakan saja kepada Frans. Frans pasti akan membantu kamu untuk mencarikan jalan keluarnya Danu. Malahan dengan kamu diam seperti ini Frans tidak akan bisa mencarikan jalan keluarnya. Jangan buat Frans menjadi serba salah seperti ini Danu" ujar Paman yang akhirnya ikut membuka suara untuk meminta Danu mengatakan semuanya kepada Frans. Tanpa ada yang ditutupi oleh Danu lagi.
"Kamu cerita aja. Apapun itu. Aku pastikan akan mencarikan jalan keluar untuk kamu" ujar Frans berusaha meyakinkan Danu untuk mengeluarkan semua yang dipikirkan oleh dirinya saat ini.
Danu sekali lagi melihat ke arah Pamannya itu. Paman menganggukkan kepalanya memberikan dukungan kepada Danu untuk bercerita kepada Frans. Paman akan selalu mendukung Danu untuk semuanya. Bagi Paman Danu sama dengan Ivan dan Sari.
"Baiklah Frans. Sebelumnya gue minta maaf sama loe, karena hal ini tidak gue omongin waktu pertama kali kita bertemu." ujar Danu memulai ceritanya.
Frans mengangguk, dia paham dengan maksud Danu. Danu yang melihat Frans mengangguk semakin yakin untuk mengatakan apa yang ada dalam pikirannya sekarang ini.
"Jadi, tadi Ranti datang ke perusahaan. Dia sempat marah marah dan mengancam Iwan." ujar Danu memulai ceritanya kepada Frans.
Frans mendengarkan semua cerita dari Danu. Frans sama sekali tidak pernah menyela selama Danu bercerita kepada Frans.
"Jadi dia sempat mengancam Iwan? Apa ada buktinya Dan?" tanya Frans yang semangat mendengar kasus baru untuk Ranti. Jadi, ada amunisi tambahan untuk menjerat Ranti ke dalam kasus perceraian itu.
"Ada Frans. Ini" ujar Danu memberikan flashdisk yang tadi sudah diisi dengan rekaman yang dipindahkan oleh Iwan.
Frans mengambil laptop miliknya yang masih sedang aktif itu. Frans kemudian memindahkan isi flashdisk ke dalam laptop miliknya. Frans kemudian memutar rekaman tersebut. Frans menyimak dan memperhatikan setiap rekaman tersebut.
"Haha haha. Perempuan ini bener bener gila. Itu siapa yang di belakangnya Dan?" tanya Frans yang penasaran dengan pria yang tadi memegang krah baju Iwan.
"Bodyguard nya." jawab Danu sambil menunjuk pria yang berdiri di dekat Ranti.
__ADS_1
"Wow pakai bodyguard keren banget tu cewek. Simpanan siapa dia sekarang?" tanya Frans yang penasaran siapa yang berada di belakang Ranti saat ini.
"Pengusaha yang ternama juga di negara ini Frans. Tapi sudah tua." jawab Danu yang mengetahui hal itu dari Ivan sebelum Ivan pergi ke negara U untuk melihat Maya yang sedang sakit di sana.
"Pantesan. Wanita seperti ini harus kita waspadai pergerakannya Danu. Dia sangat licik sepertinya" ujar Frans sambil membaca wajah Ranti dan pergerakan Ranti.
"Benar Frans. Paman setuju dengan pendapat kamu. Paman rasa dia tadi datang ke ruangan Danu sudah pasti punya rencana. Tidak mungkin dia bisa pergi dengan senyum seperti itu. Pasti dia sudah merencanakan suatu hal" ujar Paman mendukung ucapan dari Frans.
Frans terlihat berpikir sesaat. Dia harus mencari celah mana yang akan dipakai oleh Ranti untuk menekan Danu supaya tidak menceraikan dirinya. Mendengar kata kata Ranti tadi, Frans semakin yakin kalau Ranti tidak akan menyerah dan menerima begitu saja saat diceraikan oleh Danu. Ranti pasti mencari cara untuk menggagalkan hal itu.
Frans menemukan celah untuk Ranti masuk dalam menggagalkan rencana Danu untuk menceraikan dirinya.
"Deli dimana Dan?" tanya Frans yang ingat dengan anak semata wayang Danu.
"Di rumah bokap. Kenapa?" tanya Danu yang tidak paham dengan perkataan dari Frans.
"Loe harus pindahin Deli dari sana. Gue rasa Ranti akan memakai Deli sebagai umpan untuk elo menggagalkan atau membatalkan tuntutan perceraian itu" ujar Frans menganalisa kenapa Ranti santai saja dan tidak merobek surat gugatan perceraian yang dikirimkan oleh pengadilan agama kepada dirinya.
"Kok loe bisa menyimpulkan ke arah itu Frans?" tanya Danu yang tidak paham kenapa Frans bisa mengarah ke sana kesimpulannya.
"Karena hanya Deli satu satunya senjata yang bisa digunakan oleh Ranti untuk menggagalkan perceraian itu" ujar Frans.
Danu dan Paman saling memandang. Deli memang bisa digunakan oleh Ranti untuk menggagalkan rencana perceraian itu. Tetapi masih ada satu peluang lagi yang bahkan tidak hanya menggagalkan tetapi juga akan membuat Danu menjadi pria yang bersalah dalam hal ini.
__ADS_1