Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Menemui Maya


__ADS_3

"Udah senyum lagi. Jagan nangis lagi" ujar Vina sambil menarik kiri dan kanan pipi Deli dengan gemes.


Deli kembali tersenyum. Mereka bertiga kemudian melanjutkan perjalanan menuju ruang rawat Maya yang berada tidak berapa jauh lagi.


Danu, Vina dan Deli melanjutkan perjalanan mereka menuju kamar tempat Maya sedang di rawat. Maya sudah berada di rumah sakit selama empat hari, tetapi dokter sampai sekarang masih belum memperbolehkan Maya untuk beristirahat dan melakukan rawat jalan. Padahal kalau ditanya keinginan Maya, Maya sudah lama menginginkan untuk kembali ke rumah, Maya mau untuk tidak ke kafe asal bisa dirawat di rumah saja. Tetapi dokter sama sekali tidak mendengarkan permintaan maya, dokter tetap memutuskan untuk Maya di rawat di rumah sakit sampai kondisi Maya dikatakan benar benar sembuh.


Setelah berjalan selama setengah jam lebih karena drama pengen bisa menggunakan lift khusus pasien. Danu, Vina dan Deli akhirnya sampai juga di depan ruang rawat Maya.


Vina mengetum pintu ruang rawat Maya dengan teratur. Ivan yang berada di dalam kamar sedang menonton, berjalan membukakan pintu kamar rawat Maya.


"Hah elo Bang?" ujar Ivan yang kaget melihat ada Danu di depannya berdiri saat ini.


"Kok bisa sama Vina?" pertanyaan goblok di keluarkan oleh Ivan kepada Danu yang berdiri tepat di sebelah Vina.


"Gue boleh masuk nggak ne?" ujar Danu kepada Ivan yang melongo seperti monyet yang kaget tiba tiba tidak bisa memetik buah kelapa.


"Sayang siapa itu sayang? Kenapa dibiarin di luar. Suruh masuk aja sayang" ujar Maya dari atas ranjang pasiennya.


"Noh denger kata kekasih loe. Dia nyuruh loe membiarkan kami masuk" ujar Danu yang langsung saja masuk dan berjalan menuju ranjang Maya.


Maya yang melihat wajah Danu langsung kaget tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Danu sudah berada di depannya, ke kagetan Maya bertambah karena sekarang Danu sedang bersama Vina dan juga seorang anak kecil yang Maya sudah bisa menebak anak kecil itu adalah anak Danu yang bernama Deli.

__ADS_1


"Tante Maya, tante Maya sakit?" tanya Deli dengan bijaknya bertanya kepada Maya.


"Iya sayang tante Deli sakit. Kamu kapan datang ke sini sayang?" tanya Maya kepada Deli dan mengacuhkan kehadiran sahabat terbaiknya yang sudah dua hari tidak datang ke rumah sakit karena sibuk di kafe. Sedangkan untuk urusan perusahaan diserahkan kepada Sari dan Juan.


"Tante Maya sakit apa kata dokternya?" ujar Deli yang kembali melanjutkan pertanyaannya seperti seorang polisi sedang mengintrograsi seorang perampok.


"Tante sakit kecapekan, sayang" jawab Maya sambil menatap kearah Deli.


Wajah yang sama sekali tidak ada wajah Danu di sana tetapi murni wajah Ranti. Maya menatap heran dengan hal itu. Vina bisa melihat apa yang ada di dalam pikiran Maya. Tetapi, Vina sudah berjanji kepada Danu untuk tidak menceritakan kepada siapapun tentang siapa Deli sebenarnya.


"Kita sebaiknya duduk ke sifa saja. Deli tidak akan membiarkan kita mengobrol dengan Maya. Dia sudah mendominasi Maya sekarang. Jadi lebih baik kita duduk di sofa dan mengobrol bertiga" ujar Ivan mengajak Vina dan Danu untuk mengobrol bertiga di sofa ruangan Maya.


"Kapan loe datang Bang?" tanya Ivan mulai membuka percakapan dan dialog dengan Danu dan juga Vina.


"Apa Bibi dan Paman ikut?" tanya Ivan memastikan apakah kakak Ayahnya itu ikut ke negara U dan memilih untuk kembali tinggal di mansion yang rencananya dulu akan mereka jual, tetapi hal itu tidak terjadi karena Sari berjanji untuk mengawasi pabrik anggur tersebut.


"Ya, Papi dan Mami berada di mansion. gue juga baru tau kalau di sini ada mansion milik keluarga Sanjaya" ujar Danu menjawab pertanyaan dari Ivan.


'Aku dan Sari harus ke sana saat bang Danu sudah kembali ke negara I. Tapi kapan dia mau ke sana, Deli aja tinggal di sini' ujar Ivan yang penasaran kapan Danu akan pergi kembali ke negara I.


"Oh ya Bang, loe rencana balik kapan?" tanya Ivan yang penasaran dengan kapan Danu akan kembali ke negara I.

__ADS_1


"Rencana besok pagi. Kenapa ikut?" tanya Danu menggoda Ivan.


"Mana boleh, tunggu aku sehat dulu baru balik ke negara I" ujar Maya yang mendengar pertanyaan Danu kepada Ivan.


"Hah ayo loe, kata Maya sehat dia dulu baru loe balik ke negara kita. Terus kalau loe lama lama di sini, loe gue pecat aja lagi" ujar Danu menggoda Maya.


Maya yang tau dikerjai oleh Danu hanya bisa senyum simpul saja Maya tidak mengambil hati apa yang dikatakan oleh Danu sebentar ini.


"Tenang aja sayang, kalau kamu dipecat oleh Danu, kamu tinggal di negara ini aja lagi smaa aku. Twins jomblo biarkan saja mereka berdua saling berbincang antara satu dengan yang lainnya dan saling menyemangati atas status kejombloan mereka sandang sekarang" ujar Maya membantu Ivan untuk menjawab seperti itu kepada Danu.


"Haha haha haha, mana mungkin gue akan mecat Ivan. Cari karyawan seperti Ivan dan Iwan sangat susah untuk saat ini. Jadi, walaupun mereka sering pergi jalan jalan liburan, gue akan tetap mempertahankan Ivan dan Iwan untuk tidak pindah ke perusahaan lainnya"ujar Danu menjawab dan menjelaskan kepada Maya kalau Danu tidak serius dengan ucapannya.


"Denger tu syang, kemanapun kamu dan Bang Iwan akan pergi Bang Danu akan tetap menerima kalian berdua sebagai karyawannya, karena mencari karyawan seperti kalian berdua itu sangat susah. Alias barang langka" ujar Maya sengaja mengatakan hal itu kepada Ivan di dekat Danu dan Vina.


"Sayang sayang, kamu nggak nengok wajah Danu seperti apa saat ini. Tengok tu merah banget menahan amarah sayang" ujar Ivan yang sekarang giliran menggoda Danu di depan Vina.


"Bener sayang, tapi syukur banget sekarang Danu ada di sini ya sayang ya. Tapi aku penasaran sayang, apa Danu berhasil datang ke sini karena kemampuan dia mencari keberadaan orang yang disayanginya atau memang karena ada yang melacak keberadaan kamu sayang?" ujar Maya mulai mengarahkan bola kepada Danu dan Vina.


Padahal tadi bola berada di antara Ivan dan Iwan, karena Danu menggiring ke sana. Eee eee eee semenjak Maya ikut serta dalam obrolan itu, bola sudah mengarah kembali sekarang ke arah Vina dan Danu. Terutama sekali kepada Danu. Maya ingin menyaksikan dengan kepalanya sendiri kalau Danu benar benar sudah berubah dan benar benar mewujudkan apa yang diinginkannya kepada Vina.


"Atau jangan jangan sogok Bang Iwan untuk kasih tau Vina dimana. Hem itu suatu hal yang mungkin saja" ujar Maya berusaha membangun kecurigaan antara Vina dengan Danu.

__ADS_1


Ivan dan Maya sengaja melakukan itu agar Danu berpikir kalau Vina adalah wanita terbaik yang harus diperjuangkan haknya sebagai seorang wanita.


__ADS_2