Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Obrolan Pindah


__ADS_3

Vina yang baru sampai dari perusahaan, berjalan masuk ke dalam warung milik mereka untuk mencari Maya yang ternyata sedang sibuk membuat mie rebus pesanan beberapa orang yang sedang menunggu di kursi depan.


"May ada yang mau gue omongin ke elo." ujar Vina sambil duduk di sebuah kursi yang berada di dapur.


"Ngomong apaan Vin?" tanya Maya yang juga penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh Vina.


"Loe antarin dulu pesanan mienya. Siap itu baru kita cerita." jawab Vina.


"Tapi May, malam ajalah. Sepertinya pembicaraan ini akan berat. Gue tukar baju dulu, setelah itu gue baru gue nolongin loe di sini." lanjut Vina sambil berjalan ke kontrakan. Dia akan menukar bajunya terlebih dahulu.


Vina yang telah selesai menukar pakaian kerjanya dengan pakaian biasa mulai menoling kegiatan Maya di warung. Vina kebagian menunggu kasir. Sedangkan yang melayani tetap Maya dan temannya.


Tepat pukul sembilan malam, semua masakan sudah habis terjual.


"May, tutup aja gih udah malam juga, lagian semua makanan sudah habis terjual. Kita istirahat lagi." ujar Vina sambil memasukkan semua uang kedalam tas kecil yang ada di laci kasir.


Mereka kemudian merapikan dan membersihkan warung. Setelah selesai, Vina dan Maya menutup warung mereka.


"Yuk May pulang. Uang belum gue hitung, ni masih di sini." ujar Vina sambil mengangkat tas yang berisi uang jualan hari ini.


"Nanti aja Vin. Mayan banyak itu." jawab Maya.


"Banyak ribuannya bukan ratusannya." kata Vina.


"Hahahahahahaha. Mayanlah dari pada ndak ada."


Mereka berdua kemudian masuk ke dalam rumah.


"Apa besok ada pesanan May?"


"Ada. Kue ulang tahun sebanyak tiga buah. Nampah jajanan pasar tiga nampah." jawab Maya sambil melihat catatan pesanan untuk esok hari.


"Sip, kita buatnya udah loe buat May?"


"Udah tinggal dihias. Itu jatah loe. Gue nggak bisa yang kayak gitu." jawab Maya menyerahkan untuk menghias kue kepada Vina.

__ADS_1


"Oke sip. Sekarang loe buat isian untuk jajanan pasar, gue hias kue ulang tahun. Setelah itu baru kuta ngobrol masalah yang tadi." ujar Vina menjelaskan langkah kerja yang akan mereka kerjakan malam ini.


Mereka berdua kemudian sibuk mengerjakan bagian pekerjaan mereka masing masing. Vina sebenarnya sudah sangat ingin membicarakan masalah kepindahan dirinya keluar negeri kepada Maya. Tetapi saat ini dia menahan dirinya terlebih dahulu karena kue yang dia buat membutuhkan konsemtrasi tingkat tinggi. Setelah bekerja sampai jam dua belas malam, dua buah kue ulang tahun telah selesai dibuat Vina, tinggal satu kue yang belum, Vina berencana menghiasnya esok subuh saat mereka membuat kue jajanan pasar.


"May, sini duduk, gue mau menceritakan masalah yang tadi ke elo." ujar Vina meminta Maya untuk duduk mendekat ke arah dirinya.


"Ada apa? Kayaknya serius banget." ujar Maya sambil duduk di dekat Vina.


"Gini May, gue tadi udah menghadap direktur untuk mengajukan surat permintaan pindah gue ke anak cabang perusahaan yang berada di luar kota." kata Vina.


"Terus loe di tolak gitu?" sambar Maya.


"May, pleace untuk dengerin dulu. Jangan main potong kompas kayak gitu. Akan ada banyak kejutan dari yang gue kasih tau ini." ujar Vina dengan nada kesal.


"Ye maaf, gitu aja pake kesal." jawab Maya sambil tersenyum ke arah Vina.


"Gue lanjutin nggak ne?" ujar Vina sambil menatap Maya.


Maya mengangguk. Dia sangat paham Vina sangat ingin menyampaikan hal ini kepada Maya.


"Apa???? Pamannya Danu???? Jangan bilang kalau dia juga tau kalau loe ada hubungan dengan Danu????" ujar Maya dengan memberikan Vina berentetan pertanyaan.


"Yup, dia adalah Paman kandung Danu dan dia juga mengetahui hubungan gue dengan Danu. Malahan dia mengatakan kalau gue berhak mengambil keputusan apapun terhadap diri gue. Dia ngedukung gue untuk pergi dari Danu." lanjut Vina menceritakan apa yang dikatakan oleh Direktur kepada dirinya.


"Gue saat tau dia dalah Paman Danu, gue berpikir malahan dia akan marah, oh ternyata tidak."


"Malahan ne ya May, dia nawarin gue untuk bekerja di perusahaannya yang di luar negeri. Dia takut kalau gue masih di anal cabang perusahaan Danu akan dengan gampang nemuin gue." ujar Vina melanjutkan ceritanya.


"Jadi menurut loe, apakah gue ambil kesempatan untuk ke luar negeri atau tidak?" tanya Vina meminta pendapat Maya.


"Menurut gue ambil aja Vin. Hal itu sangat baik untuk elo. Gue mendukung elo. Gue akan ikut elo kemanapun elo pergi. Kalau elo mau bawa gue." ujar Maya memberikan dukungan kepada Vina.


"Jadi loe beneran mau ikut dengan gue ke luar negeri?" Vina perlu jawaban Maya satu kali lagi.


"Bener, gue akan ikut elo ke manapun elo pergi. Jangankan ke luar negeri, ke luar angkasa aja gue ikut." jawab Maya meyakinkan.

__ADS_1


"Makasi May, loe sahabat terbaik gue dan cuma satu satunya." Vina memeluk Maya. Vina bener bener senang karena memiliki sahabat seperti Maya, sahabat yang selalu mendukungnya dalam keadaan seperti apapun.


"Jadi kapan kita berangkat Vin?"


"Kata Direktur tadi, kita akan berangkat lusa. Jadi kita terakhir buka warung besok. Setelah itu kita akan menyiapkan semua barang barang kita." jawab Vina mengatakan kapan waktu mereka akan berangkat ke luar negeri.


"Sip Vin. Besok gue nggaka akan nerima pesanan lagi. Bagaimana dengan Dina, Vin?" Maya teringat dengan pegawainya yang satu itu.


"Kalau Dina mau dia bisa melanjutkan usaha kita yang ini. Dia, gue rasa sudah bisa mengolahnya sendiri."


Maya terlihat berpikir sesaat.


"Apa loe ragu May?" tanya Vina yang melihat Maya sempat berpikir untuk menentukan.


"Ragu sih iya, cuma menurut gue semua ini bisa diserahkan ke dia." jawab Maya dengan yakin.


Mereka melanjutkan obrolan ringan seputar keberangkatan ke luar negeri. Juga mengenai barang barang yang ada di rumah. Mereka berdua bersepakat semua barang yang ada di kontrakan akan dikirim dengan ekspedisi ke kampung halaman Vina. Vina berencana besok akan memberitahukan kepada kedua orang tuanya tentang kepindahannya ke luar negeri.


"May, bagaimana dengan Ivan?" ujar Vina yang tiba tiba ingat dengan Ivan kekasih Maya.


Vina tidak mau gara gara keegoisannya hubungan Maya dan Ivan menjadi berantakan.


"Tenang aja Vin. Gue akan cerita ke Ivan. Gue yakin Ivan akan mengerti. Loe nggak usah pikirin hal itu. Itu urusan gue." kata Maya meyakinkan Vina kalau semua akan baik baik saja.


"Tapi Vin sekarang yang gue pikirin gue di situ ngapain ya?"


"Hahahahaha. Semua udah gue pikirin, kita tetap melanjutkan usaha kita yang di sini. Di sana juga banyak orang yang menyukai masakan negara kita."


"Asiap mah kalau begitu. Gue jadi ada kerjaan lagi, bosen gue kalau jadi pengangguran." jawab Maya sambil menahan tawanya.


"Udah malam May. Istirahat yuk. Besok harus bangun pagi lagi menyelesaikan semua pesanan kita yang terakhir. Besok kamu juga berikan gaji Dina. Sekalian tanya mau nggak dia melanjutkan usaha kita. Kalau mau kunci kasih dia aja."


"Sip. Itu urusan gue. Loe besok kantor?" tanya Maya memastikan.


"Yup. Gue kantor mau ngurus semua administrasi."

__ADS_1


Mereka berdua kemudian beristirahat. Hari hari terakhir berada di negara I membuat mereka ingin menikmati suasana negara I yang selama ini kurang mereka nikmati karena sibuk bekerja dan mencari pundi pundi uang.


__ADS_2