
Danu sangat takut kalau Vina kembali marah. Danu baru merasakan bebannya sedikit terangkat saat Vina sudah mau mengangkat panggilan telpon dari dirinya dan membalas pesan chat dari dirinya. Makanya Danu sangat menjaga perasaan Vina. Segala hal yang Vina katakan karena kejadian yang lalu, tidak digubris dan ditanggapi oleh Danu. Danu hanya minta maaf saja sebagi jawabannya atau balasan pesan chat tersebut.
Danu merebahkan kembali badannya. Dia melihat masih jam empat pagi. Masih ada dua jam lagi untuk dia menikmati istirahatnya. Nanti jam delapan paling lambat dia sudah harus mulai memeras otak dan tenaga kembali.
Sedangkan di negara Untuk, Vina dan Sari sudah pergi meeting keluar perusahaan. Mereka akan meeting sampai sore.
"Nona Maya, apa masih ada lagi barang barang yang mau datang?" tanya Pak Hans kepada Maya yang sedang duduk memijum jus jeruk miliknya.
"Masih ada Pak Hans. Tadi aku membeli barang barang untuk membuat coffe. Kata pemilik toko, semuanya barang sudah di kirim kemari" ujar Maya menjawab pertanyaan Pak Hans.
Pak Hans kembali ke tempat para karyawan yang sedang duduk sambil melihat salah satu karyawan menulis daftar menu memakai kapur warna putih. Tulisan karyawan itu sangat rapi dan indah. Maya sengaja meminta karyawannya yang bisa menulis dengan indah untuk menulis daftar menu di papan tulis berwarna hitam yang dibelinya di negara I.
Karyawan telah menyelesaikan menulis di dua papan tulis besar. Beberapa karyawan pergi menaruh papan tulis itu di tempat yang terlindung dari panas dan hujan.
Maya yang sudah tidak merasakan letih lagi berjalan keluar kafe. Dia sangat puas dengan penataan kafe dua lantai itu. Maya mengambil ponsel miliknya. Dia mengambil fhoto keadaan kafe dari berbagai sudut pengambilan gambar. Setelah itu Maya mengirimkan hasil jepretannya kepada Ivan, Vina dan Maya.
Vina dan Maya yang baru selesai meeting melihat ponsel milik mereka masing masing. Mereka sangat kaget dengan kemajuan Kafe. Fhoto fhoto yang dikirimkan oleh Maya membuat Vina dan Sari berkeinginan untuk ke kafe sekarang juga, padahal rencananya besok baru mereka berdua akan ke kafe setelah makan siang.
"Kita kesana yuk Vin. Penasaran gue dengan tampilan aslinya. Kalau di fhoto wow banget" ujar Sari yang sangat penasaran dengan keadaan kafe yang sebenarnya, bukan melalui fhoto yang dikirim oleh Maya barusan.
"Yuk. Gue juga penasaran. Tu anak maren nggak mau cerita ke gue. Eeee paginya dia molor sampe gue berangkat kantor nggak bangun bangun. Ntah jam berapa tu anak bangun, gue juga nggak tau" ujar Vina yang menyetujui untuk pergi ke kafe melihat suasana kafe yang sebenarnya.
Sari kemudian menyetir mobil menuju arah kafe. Mereka berdua tidak sabaran lagi untuk melihat dan menyaksikan dan merasakan keadaan kafe yang sebenarnya.
Sedangkan Ivan di negara I sedang serius bekerja mendapatkan notifikasi dari Maya. Ivan membuka pesan chat itu, Ivan melihat sesuatu yang dikirimkan oleh Maya.
'Sayang ini wow. Kafe nya keren banget. Aku pengen ke sana' ujar Ivan membalas pesan chat yang dikirim oleh Maya kepada dirinya.
'Sinilah sayang. Aku pasti sangat senang dan bahagia kalau kamu mau ke sini' Maya membalas pesan chat yang dikirim oleh Ivan.
'Tunggu aku di situ oke' balas pesan chat yang ditulis oleh Ivan.
'Gaya kamu sayang. Oh ya, aku grand opening kafe hari senen, aku antusias banget sayang. Tapi aku ragu, apakah kafe aku akan ramai atau tidak' tulis Maya mengirim pesan chat kepada Ivan.
'Sayang, dulu kamu selalu mengatakan kepada aku, di mana ada niat di situ ada keberhasilan' balas chat dari Ivan yang berisi pembakar semangat untuk Maya supaya tidak pesimis menghadapi pertempuran di kafe miliknya.
'Aku lanjut kerja dulu ya. Rencana mau lembur dua hari ini' Ivan memberitahukan kepada Maya kalau dia memang ada lembur dua hari.
'Kok? Dikejar target sayang?' tanya Maya yang sebenarnya paling tidak suka mendengar Ivan yang harus lembur mengerjakan tugas kantornya.
'Iya sayang, aku di kjar target, makanya harus lembur' balas Ivan.
'Oh ya udah. Terpenting jangan lupa makan dan beristirahat. Aku nggak mau kamu sakit, aku jauh' ujar Maya mengirim balasan kepada Ivan.
__ADS_1
'Aman itu sayang' balas Ivan yang juga tidak mau membuat Maya terlalu mencemaskan dirinya.
Maya kemudian berjalan menuju bagian outdoor kafe. Tetapi langkahnya terhenti saat mendengar suara mobil masuk ke dalam area kafe. Maya melihat ke arah mobil tersebut, tetapi dia sama sekali tidak mengenal mobil yang datang.
"Siapa coba" ujar Maya masih menatap mobil yang masuk ke dalam area kafe.
"Erik, tolong bilang orang yang datang itu, kalau kafe kita belum buka sekarang, tapi buka hari senen" ujar Maya meminta Erik untuk mengatakan kepada pengunjung itu kalau kafe sama sekali belum buka.
Erik berjalan menuju mobil. Tetapi Vina dan Sari sudah duluan turun dari dalam mobil. Maya melihat siapa yang datang dan berusaha menahan tawanya. Maya sama sekali tidak menahan Erik untuk tidak menyuruh Vina dan Sari kembali pulang.
"Maaf Nona, kafe kami baru buka senen. Silahkan datang kembali senen Nona" ujar Erik kepada Vina dan Sari.
Vina dan Sari melihat Maya yang sudah menahan tawanya itu.
"Maya" teriak Vina dengan keras.
"Hahahahaha. Siapa suruh datang nggak ngasih kabar. Gue kira tamu kan akhirnya" ujar Maya membela diri atas perlakuan dia kepada Vina dan Sari.
Maya kemudian menuju tempat Vina dan Sari berdiri.
"Erik, mereka juga bos kamu, silahkan kenalan dengan mereka berdua" ujar Maya meminta Erik untuk berkenalan dengan Vina dan Sari.
"Maafkan saya Nona. Perkenalkan nama saya Erik." ujar Erik memperkenalkan dirinya.
"Saya pamit dulu Nona" ujar Erik yang kembali lagi masuk ke dalam kafe. Para karyawan di dalam di tambah dengan Pak Hans sedang menyusun piring dan yang lainnya di kafe tambah lagi dengan barang barang dan alat alat masak yang baru datang, membuat suasana dapur terlihat ramai dan acak acakan kembali.
"Emang udah selesai meeting Vina, Sari?" tanya Maya kepada kedua sahabatnya itu. Maya mengetahui kalau Vina dan Sari ada meeting di luar dari Pak Hans yang berencana akan mengantarkan ke dua wanita itu pergi meeting.
"Baru siap pas loe ngirim fhoto fhoto kafe. Jadi, kami penasaran makanya datang kemari. Pengen nengok aslinya." ujar Sari yang matanya sudah kemana mana melihat kafe yang sangat keren itu. Kafe yang disukai oleh anak muda.
Sari kemudian mengeluarkan ponsel miliknya. Dia akan merekam dan mengambil gambar gambar kafe. Sari berencana untuk bikin konten kafe Maya sebelum di buka senen.
Sari melakukan konten di kafe milik Maya dan Vina serta ada juga saham Sari walaupun hanya sedikit. Maya dan Vina membiarkan saja Sari melakukan konten di kafe itu, bagi mereka dengan Sari mengambil konten di kafe, maka kafe aka menjadi lebih terkenal karena subscriber Sari yang sudah luar biasa banyak itu.
Vina dan Maya tidak mengikuti Sari yang berjalan kemana mana sambil merekam sendiri semua aktifitasnya. Vina dan Maya lebih memilih masuk ke dalam kafe dan melihat karyawan yang sedang bekerja menyusun semua semua barang barang yang harus diletakkan di dapur dan bagian bar tempat membuat kopi dan minuman.
"Hay semua kenalin ini owner kalian yang lain namanya Vina" ujar Maya memperkenalkan Vina kepada karyawan laki laki yang lain.
"Yang itu namanya Derik dan yang ini Hendri. Hendri menjadi kepala karyawan di sini Vin. Karena, dia memiliki pengalaman kerja yang cukup di beberapa kafe di daerah sini" ujar Maya menjelaskan kepada Vina tentang karyawan karyawan kafe mereka.
"Apa nggak ada karyawan perempuannya May?" tanya Vina saat melihat yang ada di kafe adalah karyawan pria saja.
"Adalah, tapi belum datang. Mereka akan datang minggu. Lagian gue juga ngajak Rina untuk membantu gue masak di sini. Nggak apa apa kan Vin?" tanya Maya kepada Vina yang berkeinginann untuk membawa Rina bekerja di kafe mereka.
__ADS_1
"Nggak apa apa. Lagian kerjaan di rumah juga dikit. Mending Rina bantu bantu di sini" ujar Vina yang setuju dengan ide Maya.
Setelah melihat area dapur dan bagian dalam kafe. Vina dan Maya menuju bagian rooftop kafe. Vina melihat pemandangan yang sangat menjanjikan diberikan oleh kafe mereka saat malam hari.
"Ini pasti keren kalau malam May. Apalagi loe nambahin lampu lampu di sini. Gue yakin anak muda sini akan sangat senang berada di kafe kita saat malam hari" ujar Vina memuji kepandaian Maya dalam mendekor kafe.
Setelah puas di bagian rooftop mereka kemudian kembali turun dan menuju kafe bagian outdoor. Dimana pada bagian ini di letakkan meja berkaki rendah dan bantal bantal besar dengan batu batu putih sebagai alasnya. Ada juga meja kecil dengan karpet bulu tebal sebagai alasnya.
Keindahan kafe makin semarak dengan ornamen ornamen yang didatangkan langsung dari negara I. Belum lagi lukisan lukisan yang di pasang di dinding. Kafe mereka benar benar terlihat sangat kekinian.
"Itu rak rak untuk apa May?" tanya Vina saat melihat masih ada rak rak kosong.
"Itu akan gue tarok buku buku yang menggambarkan negara kita Vin. Jadi, siapa yang sudah membaca buku itu tertarik untuk pergi ke negara kita" ujar Maya yang juga mempromosikan negaranya melalui buku kepada warga negara U.
"Itu tanah yang lapang sedikit itu untuk apa?" tanya Vina yang melihat ada sedikit kawasan yang tidak terdapat meja dan kursi kursi di sana.
"Oooo itu untuk penampilan live music dan juga untuk tempat nobar. Sengaja gue tarok di situ agar pengunjung yang di dalam juga bisa melihat yang tampil." ujar Maya menjelaskan kepada Vina.
Vina dan Maya kemudian duduk di bantal bantal besar yang berada di bawah pohon yang cukup membuat orang yang duduk di bawahnya terlindungi panas matahari.
"Loe bener bener mendesain semuanya dengan maksimal dan keren May. Gue yakin kafe kita akan ramai nanti saat dibuka." uajr Vina memuji hasil karya Maya.
"Semoga ajalah Vin. Dengan tampilan kafe dan rasa masakan kita, para pengunjung tertarik untuk datang" ujar Maya dengan sangat antusias.
"Vin, loe pulang dengan Maya dan Pak Hans ya. Gue harus jemput Juan ke bandara." ujar Sari sambil tergesa gesa.
"Oke. Loe hati hati ya" ujar Vina menjawab perkataan Sari.
"Jadi, mereka tinggal serumah Vin?" tanya Maya kepada Vina.
"Yup. Tapi biarkan saja. Kita tidak boleh mencampuri urusan orang lain tanpa diminta" ujar Vina kepada Maya. Vina mengingatkan Maya kalau setiap orang memiliki privasi masing masing yang tidak harus dibagi dengan sahabat sekalipun.
Maya mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Vina. Maya juga tidak berminat untuk ikut campur urusan pribadi Sari.
"Pulang yuk capek gue" ujar Vina mengajak Maya untuk pulang.
"Oke. Gue bilang yang lain dulu. Sekalian ke Pak Hans" ujar Maya.
Maya kembali masuk ke dalam kafe. Dia memberitahukan kepada karyawannya kalau dia akan pulang. Pak Hans pun sudah menuju mobil. Vina dan Maya masuk ke dalam mobil. Mobil melaju menuju rumah. Vina dan Maya tertidur sepanjang perjalanan pulang. Mereka benar benar lelah dua hari ini.
Tak terasa mereka sudah sampai di rumah. Hari ini tidak ada diantara Maya dan Vina yang akan masak menu makan malam. Semuanya sudah di masak oleh Bik Ina dan Rina. Tadi Maya sudah menghubungi rumah meminta mereka untuk masak menu makan malam.
Vina dan Maya menuju kamar masing masing. Mereka akan membersihkan badan dan menukar pakaian dengan pakaian bersih. Setelah tiu barulah mereka berdua akan turun ke lantai satu rumah untuk menikmati makan malam. Sehabis makan malam Vina dan Sari berencana untuk beristirahat. Mereka benar benar lelah.
__ADS_1