Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Kebut Kerja Lagi


__ADS_3

"Jam berapa sih, kok matahari udah keluar aja" ujar Maya yang baru bangun dari tidurnya. Maya tidak sadar sekarang sudah jam berapa.


Maya menggosok gosok matanya dengan punggung tangannya. Mata Maya melihat jam dinding kamar yang ternyata jarum jamnya sudah menunjuk angka sembilan.


"Hah? Serius itu jam? Masak iya udah jam sembilan aja." ujar Maya yang kaget melihat jam dinding kamar nya yang menunjukkan angka sembilan.


"Mati paling itu jam" uajr Maya yang tidak percaya dengan jam dinding di kamarnya. Maya kemudian meraih ponselnya yang ada di nakas. Ternyata memang sudah jam sembilan pagi.


Maya bangun dari tidurnya dengan bergegas. Dia tidak mungkin tidak pergi ke kafe hari ini. Pekerjaan di kafe masih sangat banyak.


Maya bergegas mandi, dia mandi hanya membutuhkan waktu hanya sepuluh menit saja. Setelah itu Maya memakai pakaiannya. Dia benar benar bergerak cepat, sampai sampai lupa membalas pesan chat dari Ivan.


Maya yang telah selesai bersiap siap, turun ke lantai bawah rumah. Dia berencana untuk sarapan ala kadarnya.


"Makan sereal pun okelah untuk mengganjal perut" ujar Maya yang benar benar dalam keadaan lapar.


Maya berjalan menuju meja makan. Bik Ina yang sedang bersih bersih berjalan mendekati Maya. Bik Ina melihat Maya mengambil kotak sereal, Bik Ina sangat mengetahui kalau Maya tidak pernah makan sereal untuk sarapan.


"Nona Maya, itu ada nasi uduk, tadi di masak oleh Nona Vina untuk sarapan" ujar Bik Ina memberitahukan kepada Maya kalau ada nasi uduk untuk sarapannya.


"Oh makasi Bik." ujar Maya menaruh kembali sereal yang telah dipegangnya.


"Nona Vina jam berapa berangkat tadi Bik?" tanya Maya yang jelas tidak akan melihat Vina di rumah pada jam seperti ini.


"Seperti biasa Nona. Nona kelihatan sasangat lelah sekali. Apa perlu Bik Ina buatkan air jahe panas Nona?" tanya Bik Ina kepada Maya.


"Bik Ina kasih ajalah aku gula aren nya. Nanti aku buat sendiri di kafe" ujar Maya yang segan merepotkan Bik Ina.


"Biar bibik aja yang buat Non, buatnya bentar juga. Nanti bibik masuki ke dalam termos kecil, biar panas terus" ujar Bik Ina.


"Oke lah Bik" ujar Maya yang tidak bisa menolak keinginan Bik Ina yang kekeh tetap ingin membuatkan Maya air jahe


Maya kemudian mengambil nasi uduk itu dan juga pelengkapnya. Maya makan dengan sangat lahap nasi uduk buatan Vina yang sudah bisa dikatakan luar biasa enak. Dalam sekejap nasi uduk satu piring itu telah berpindah ke dalam perut Maya.


"Bik Ina, nampak Pak Hans?" tanya Maya yang dari tadi tidak melihat Pak Hans ada di rumah.


"Ada Nona. Pak Hans ada di belakang. Nona mau berangkat ke kafe sekarang?" tanya Bik Ina kepada Maya yang memang sudah terlihat mau pergi ke luar.


"Iya Bik. Tolong panggilkan ya. Makasi banyak atas bantuan bibik" ujar Maya sambil tersenyum kepada Bik Ina.


"Sama sama Nona" jawab Bik Ina.


Maya berjalan keluar rumah. Dia akan menunggu Pak Hans di teras rumah saja. Maya kemudian mengambil ponselnya.

__ADS_1


"Nona, ini air jahenya" ujar Bik Ina memberikan termos berukuran sedang kepada Maya.


"Makasih Bik. Aku merepotkan bibik aja pagi pagi" uajr Maya yang masih menyimpan rasa setannya kepada Bik Ina.


"Jangan banyak gaya Nona. Santai aja" ujar Bik Ina sambil kembali menuju tempat cucian. Bik Ina tadi memang sedang mencuci pakaian.


Maya kembali melanjutkan jalannya menuju teras rumah yang sempat terhenti karena panggilan dari Bik Ina yang memberikan air jahe hangat untuk Maya.


"Yah gue lupa balas pesan chat Ivan" ujar Maya sambil menepuk keningnya sendiri.


Maya kemudian membuka aplikasi pesan chat di ponselnya. Dia mulai mengetik pesan chat untuk Ivan. Pesan yang entah jam berapa akan dibaca Ivan. Tetapi Maya sudah tau dengan resiko itu.


'Sayang, maaf tadi malam aku udah ketiduran saat kamu nelpon. Ini juga bru bangun' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Maya kepada Ivan.


'Aku mau ke kafe lagi. Minggu depan hari senen, rencana kafe akan grand opening. Tapi sayangnya kamu nggak ada di sini sayang. Padahal aku sangat berharap kamu ada di dekat aku' lanjut pesan chat yang dikirim oleh Maya kepada Ivan.


'Kamu pasti tidur. Emang susah ndak sayang, perbedaan waktu negara kita. Aku bangun kamu tidur' ujar Maya mengirim pesan chat selanjutnya.


"Nona, kita berangkat sekarang?" tanya Pak Hans kepada Maya yang terlihat sedang senyum senyum sendiri sambil melihat ke ponsel miliknya.


"Oh iya Pak Hans. Kita berangkat sekarang" ujar Maya yang langsung berdiri dari posisi duduknya.


Maya kemudian masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan kalau Maya sudah nyaman duduk di kursinya, barulah Pak Hans mengemudikan mobil menuju kafe.


"Boleh Pak. Emang apa pesan Vina kepada Bapak?" ujar Maya kepada Pak Hans. Maya juga pengen tahu apa pesan yang disampaikan oleh Vina kepada Pak Hans. Kenapa tidak Vina langsung yang berbicara kepada Maya, kenapa harus pakai perantara yaitu Pak Hans.


"Kata Nona Vina, Nona Maya tidak boleh terlalu capek. Itu aja pesan Nona Vina tadi saat saya mengantarkan Nona Vina menuju perusahaan" ujar Pak Hans yang telah menyampaikan pesan dari Vina.


"Oh kirain. Sip Pak Hans, aku nggak akan capek capek lagi. Kan angkat angkat yang berat berat udah siap. Kalau yang besar lainnya biar karyawan aja yang angkat lagi" ujar Maya yang paham kenapa Vina melarang dia terlalu letih.


"Vina, Vina ngomong sendiri aja kemaren apa susahnya, ini minta Pak Hans bagai yang ngomong" ujar Maya yang terdengar jelas oleh Pak Hans.


"Nona Maya ini maaf ya. Gimana cara Nona Vina mau ngomong sama Nona Maya. Nona Maya aja belum bangun bangun saat Nona Vina mau pergi ke perusahaan." ujar Pak Hans menjawab perkataan Maya tadi.


"Bener juga ya Pak. Aku bener bener lelah Pak" ujar Maya mengakui kalau dia memang capek banget habis kerja angkat angkat kursi kemaren.


Tak terasa mobil telah berhenti di parkiran kafe. Parkiran yang di set sebegitu nyamannya karena ada pohon pohon yang lumayan tinggi, pohon pohon yang berfungsi sebagai pembatas antara tempat pengunjung duduk dengan kawasan parkiran.


"Pak Hans mau kembali ke perusahaan?" tanya Maya kepada Pak Hans.


"Enggak non. Emang ada apa Nona" Masih ada yang mau dikerjain?" tanya Pak Hans kepada Maya.


"Oh tidak ada apa apa Pak. Malahan saya bersyukur Pak Hans ada di sini sekarang. Jadi saya ada temannya kalau ketiga karyawan itu sibuk dengan kerjaan mereka masing-masing masing" ujar Maya kepada Pak Hans.

__ADS_1


"Asiap Nona. Saya akan selalu ada di sini utnuk membantu Nona Vina dan Nona Maya" ujar Pak Hans.


"Makasi Pak Hans" jawab Maya bersungguh sungguh.


Maya dan Vina sama sama suka berterimakasih kepada siapapun yang telah menolong mereka. Mereka tidak memandang apa dan siapa orang yang menolong, bagi Maya dan Vina setiap orang berstatus sama. Tidak ada yang istimewa.


Mereka kemudian turun dari dalam mobil. Karyawan Maya ternyata sudah melanjutkan pekerjaan mereka kembali. Maya tersenyum bahagia, ternyata dia tidak salah memilih karyawan untuk bekerja di kafe nya itu. Maya tinggal mencari karyawan wanita sebanyak dua orang. Rencana Maya, untuk koki, Maya akan membawa Rina bekerja di kafe mereka, kalau sudah mulai beroperasi.


"Sorry bro, telat bangun" ujar Maya meminta maaf kepada para karyawannya yang sudah bekerja itu.


"Hahahaha, santai aja Nona nggak masalah" jawab salah satu karyawan.


"Kalian sudah sarapan?" tanya Maya kepada karyawannya itu.


"Sudah Nona. Tadi kami sarapan dengan sambal yang Nona buat kemaren." jawab salah satu karyawan yang nganggur bekerja.


"Oh baiklah. Kita lanjut kebut kerja hari ini ya. Saya akan masak makan siang dulu, setelah itu baru saya bantu kalian. Nanti akan ada datang lagi perabotan yang lainnya." ujar Maya memberitahukan kepada karyawan kalau masih ada perabotan akan datang sebentar lagi.


"Nona, barang barang yang Nona beli di negara I kapan mau kita bongkar?" tanya salah satu karyawan yang dipercaya untuk menjadi pimpinan di kelompok mereka yang bernama Hendri.


"Kalau nggak ada kerjaan lagi, bongkar sekarang aja. Di situ ada lampion yang bisa dipasang ke lampu lampu yang ada di bagian luar kafe" ujar Maya menyebutkan apa isi dari sekian banyak. peti peti yang dibawa dari negara I.


"Sedangkan yang piring, gelas dan peralatan makan lainnya, tolong susun di dapur aja. Jadi, nanti selesai masak saya atau koki, kita bisa langsung sajika saja di atas piring piring itu" lanjut Maya menjelaskan kepada Hendri dan beberapa karyawan lainnya.


"Dalam itu ada juga pernak pernik lucu lucu. Taruk di meja bagian dalam saja. Terus ada tempat tisu yang juga lucu lucu" lanjut Maya memberi arahan kepada karyawannya tentang isi dalam peti tersebut.


"Kemudian di sana juga ada lukisan. Nah kalian pasang aja di dinding. Baik di dalam maupun di luar" ujar Maya memberikan arahan kemana lukisan itu akan dipajang oleh karyawannya.


"Lukisan taruh di luar? Hilang gimana Nona?" tanya salah satu karyawan yang takut lukisan mereka di curi orang.


"Kan gerbang di kunci. Lagian negara ini terkenal tidak ada pencurinya. Jadi, santai ajalah. Niat baik pasti hasilnya baik" ujar Maya menjawab keraguan dari karyawannya untuk meletakkan lukisan di luar.


"Nona, kalau kami tidak paham, apa bisa kami bertanya lagi?" tanya Hendri kepada Maya.


Maya memberikan instruksi kepada mereka sangat luar biasa banyaknya. Sehingga membuat mereka gagal paham dengan semua perintah Maya. Mereka takut salah mengerjakan, makanya Hendri bertanya seperti itu kepada Maya.


"Bisalah, masak nggak. Saya kan nggak otoriter Hendri" ujar Maya menjawab pertanyaan dari Hendri.


"Oke Nona. Kami kerja dulu. Nona masak yang lezat dan dibanyakin ya Nona. Biar bisa untuk sampai pagi sama kami Nona" ujar Hendri kepada Maya dengan beraninya.


"Gampang itu, nanti saya akan masak banyak, biar bisa untuk kalian besok pagi, yang penting kerja selesai" ujar Maya kepada semua karyawannya.


"Kalau itu pasti Nona. Kami cari duit di sini. Jadi, kami juga ingin kafe ini maju dan ramai." ujar karyawan lainnya.

__ADS_1


Mereka kemudian melanjutkan menata kafe. Sedangkan Maya memasak menu makan siang mereka.


__ADS_2