
Dhanu, Iwan dan Ivan bergerak mencari keberadaan Vina yang sampai sekarang masih belum mereka ketahui dimana. Jangankan untuk mengetahui dimana, sebuah petunjuk saja sama sekali tidak mereka punya.
"Van menurut loe Vina kemana?" tanya Danu yang duduk di kursi penumpang.
Iwan dan Ivan sama sekali tidak memperbolehkan Danu untuk menyetir mobil. Mereka takut sesuatu akan terjadi dengan mereka di jalan kalau Danu yang menyetir mobil.
"Bang Bang. Tau nggak loe itu pertanyaan udah yang kesekian kalinya loe tanyain ke gue bang hari ini. Jawabannya ya tetap sama dengan yang tadi tadi. Gue nggak tau. Maya aja nggak tau." ujar Ivan.
'Maafin gue bang. Gue hanya pengen loe sadar akan semuanya. Bahwa permata yang loe buang itu lebih baik dari pada yang loe pertahankan saat ini' ujar Ivan dalam hatinya.
"Gue, Sari dan Daddy hanya ingin yang terbaik untuk loe bang. Nggak lebih dan nggak kurang.' ujar Ivan kembali bermonolog di dalam hatinya sendirian.
"Huft kemana harus gue cari ya." ujar Danu sambil memijit kepalanya yang terasa pusing itu
Iwan hanya memerhatikan sahabatnya dari kaca spions mobil. Dia melihat Danu yang begitu frustasi dengan semua kejadian.
"Danu, boleh gue nanyak sesuatu sama loe?" tanya Iwan dengan pelan dan hati hati.
Danu mengangguk menjawab pertanyaan dari Iwan. Iwan melihat Danu mengangguk.
"Gue cuma mau nanyak, apa loe beneran cinta sama Vina atau nggak. Kalau nggak kenapa loe harus mati matian cari dia sekarang?" tanya Iwan dengan santainya.
"Gila kali loe. Kalau gue nggak cinta mana mau gue ninggalin perusahaan. Malahan gue berencana akan mengambil alih pimpinan perusahaan. Biar paman gue kembali ke negara U kumpul dengan keluarganya." ujar Danu.
Apa yang diucapkan oleh Danu membuat Ivan terkejut. Dia tidak menyangka Danu akan mengambil alih perusahaan.
"Kalau seandainya, ini seandainya ya. Vina nggak ketemu, apa loe juga akan tetap mengambil alih perusahaan?" tanya Iwan kembali.
"Yup. Gue akan mengalihkan fokus gue ke perusahaan. Gue akan membuat perusahaan menjadi prioritas gue." ujar Danu dengan yakin dan mantap.
Mereka semua terdiam, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing masing.
"Terus kalau loe jadi bos, gue hanya tinggal berdua dengan Ivan??? Loe harus cari tambahan orang. Nggak sanggup gue harus berdua dengan Ivan." ujar Iwan yang kepikirab dengan begitu banyak kerjaan yang harus dikerjakannya.
"Mana ada loe tetap dibagian itu. Loe akan jadi asisten gue. Ivan akan jadi manager pada bagian itu." jawab Danu dengan yakin.
"Hahahahahaha. Sorry bang, gue lanjut kuliah ke luar, gue udah lulus. Rencananya dua minggu lagi gue akan berangkat." ujar Ivan yang teringat dengan ide itu barusan saja.
"Kok loe nggak ngomong Van?" tanya Iwan yang selama Danu tidak ada selalu berdua dengan Ivan.
"Sorry bang, lupa gue." jawab Ivan dengan santainya.
"Loe kuliah kemana Van?" tanya Danu.
"Ke negara U bang. Universitas di sana sangat bagus untuk kuliah S2 arsitek bang." ujar Ivan sambil melihat ke arah Danu.
"Oh. Berarti kamu senegara dengan Paman gue Van. Loe kerja diperusahaannya aja. Perusahaan Paman Gue yang di sana juga bergerak di bidang yang sama dengan perusahaan yang di sini." ujar Danu teringat dengan perusahaan CT Grub milik pamannya.
"Wah bagus juga itu Bang. Loe tolong tolongin gue lah Bang, biar bisa kerja di sana." ujar Ivan dengan nada dibuat sebegitu meyakinkan. Padahal sebenarnya Ivan sudah susah menahan tawanya.
"Besoklah saat kita udah pulang, gue akan ngomong sama Paman. Paman pasti setuju karena dia sudah tau kemampuan loe." ujar Danu dengan tulusnya.
"Semoga aja Bang. Jadi selain kuliah gue juga dapat penghasilan." ujar Ivan dengan semangat.
__ADS_1
Mereka bertiga melanjutkan obrolan receh yang tak bertepi. Perjalanan menuju kampung halaman Vina memang sangat melelahkan menghabiskan waktu perjalanan selama tiga puluh jam perjalanan darat atau setera dengan satu setengah hari perjalanan.
"Danu, kita istirahat dulu ya. Gue laper." ujar Iwan yang sudah merasakan lapar di perutnya.
"Sip. Loe cari restarea. Kita istirahat di sana." ujar Danu yang sebenarnya juga sudah lelah.
Sedangkan Ivan sudah masuk ke alam mimpinya. Dia sudah tidur sejak tadi. Ivan berencana akan membawa mobil setelah Iwan. Mereka berencana akan beristirahat saat malam hari saja.
Iwan terus melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sudah menurun jauh. Iwan tidak mau mengambil resiko di jalan tol. Saat Iwan sudah benar benar dalam posisi lelah, restarea itu akhirnya nampak juga. Iwan langsung membelokkan mobilnya masuk ke dalam rest area. Dia kemudian membangunkan Ivan yang terlihat sangat nyenyak tidur.
Ivan yang merasa badannya di goncang dengan kuat, langsung terbangun dan membuka matanya. Dia melihat Iwan sudah berada di luar.
"Udah sampe bang? Kok cepat kali?" tanya Ivan yang sedang diluar orientasi dan orbitnya
"Masih jauh. Gue capek, Danu juga capek. Kita beristirahat di rest area dulu untuk memulihkan fisik." ujar Iwan memberitahukan kepada Ivan mereka sedang berada dimana sekarang.
"Oh oke bang. Nanti biar gue yang bawa mobil. Kalian berdua beristirahat saja. Gue udah bugar." ujar Ivan sambil keluar dari dalam mobil.
"Gimana ndak bugar loe molor aja sampe tiga jam lewat." ujar Iwan separo mengejek Ivan yang memang dari tadi tidur aja kerjaannya. Iwan dan Danu mengira kalau Ivan ikut mendengar cerita mereka ternyata oh ternyata Ivan sudah masuk ke alam mimpinya dari tadi.
Mereka berdua berjalan masuk ke dalam rest area, mereka langsung menuju ke tempat yang sudah ada Danu di sana. Danu sudah memesan makanan dan minuman untuk mereka bertiga.
"Loe pesan apa bang?" tanya Ivan.
"Pesan nasi sama soto. Minumnya kopi. Apa loe mau nambah?" ujar Danu sambil duduk bersandar ke dinding saung.
"Nggak Bang itu aja. Apa siap makan kita langsung berangkat atau mau istirahat di sini dulu?" tanya Ivan kembali.
"Istirahat dulu Van, loe nya ya enak udah molor berjam jam, nah apa kabar dengan kami yang masih belum ada istirahatnya." ujar Iwan yang sebenarnya lebih memilih untuk langsung beriatirahat dari pada harus pakai acara makan terlebih dahulu.
Tak lama kemudian makanan yang dipesan oleh Danu tadi diantarkan oleh pelayan restoran. Mereka bertiga menyantap makanan tersebut dengan cepat. Mereka sangat ingin cepat beristirahat. Jadi mereka tidak banyak kehilangan waktu untuk beristirahat.
Ivan yang selesai pertama sekali menyantap makanannya langsung saja mengambil posisi. Danu dan Iwan hanya bisa geleng geleng kepala melihat tingkah Ivan yang absurd tersebut.
"Loe ngapain bocah. Mana ada orang baru bangun tidur lagi." ujar Iwan sambil memukul kaki Ivan.
"Ngantuk kak. Kata Ayah gue ini yah, janganlah kamu menyia nyiakan waktu beristirahat yang diberikan Tuhan kepada kamu." ujar Ivan berkata sambil menatap Iwan dengan tatapan serius.
"Besok gue ketemu dengan bokap loe. Gue akan ngomong. Pak ngajarin anak yang bener. Ini dimana ada kesempatan pasti anak Bapak langsung molor." ujar Iwan sambil merebahkan badannya di samping Ivan.
"Alah palingan besok pas ketemu Daddy gue, loe akan takut sendiri Bang." ujar Ivan.
"Takut kenapa? Kenal juga kagak gue sama bokap loe." ujar Iwan yang nggak habis pikir dengan ucapan Ivan.
"Iya juga ya bang. Loe aja nggak kenal." ujar Ivan.
"Sudah sekarang tidur. Bentar lagi kita akan melanjutkan perjalanan." ujar Danu memberhentikan obrolan nonfaedah kedua sahabatnya itu. Danu yakin kalau tadi dia tidak menghentikan obrolan itu, maka obrolan akan berlanjut terus sampai bosan.
Akhirnya mereka beriatirahat karena kelelahan. Di tempat mereka beristirahat sekarang sangat banyak pula orang orang yang melakukan perjalanan jauh untuk beristirahat di sana. Mereka kemudian tidur untuk membugarkan kembali fisik dan memfokuskan pikiran. Perjalanan masih jauh sehingga masih membutuhkan konsentrasi yang tinggi.
NEGARA U
"Bik Imah mana Sari dan Maya?" tanya Vina yang tidak melihat kedua sahabatnya itu di meja makan untuk sarapan.
__ADS_1
"Sepertinya belum turun Nona. Saya dari tadi di sini belum melihat Nona Sari dan Nona Maya turun." ujar Bik Imah.
"Oh baiklah terimakasih Bik." ujar Vina.
Vina melihat semua menu sarapan sudah terhidang di meja makan. Ada nasi goreng seafood lengkap dengan irisan timun, tomat dan juga irisan lobak.
"Siapa yang masak ini Bik?"
"Nona Maya sepertinya Nona. Saya tadi juga tidak melihat." ujar Bik Imah dari dalam dapur.
Tak lama kemudian Maya dan Sari turun dari lantai dua rumah. Mereka sudah siap dengan pakaian kerja masing masing.
"Pagi Vina." sapa dua wanita cantik itu dengan kompak.
"Pagi. Tumben kalian telat?" ujar Vina.
"Mana ada kami telat, yang ada elo terlalu cepat. Tengok tuh jam." ujar Maya sambil menunjuk jam yang ada di dinding rumah.
Vina terbelalak kaget saat melihat jam yang ternyata baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.
"Berarti gue yang kecepetan dong ya?" ujar Vina sambil menatap lama jam yang ada di dinding ruang makan.
"Yup big boos loe yang kecepatan." jawab mereka berdua kompak.
"Pantesan Bik Imah senyam senyum saat gue ngomong kalian telat." ujar Vina sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hahahaha." Maya tertawa senang melihat Vina yang kikuk nggak jelas itu.
"Ya udah nggak usah bahas lagi. Ayuk sarapan. Kita akan ke kantor." ujar Sari sambil menahan senyumnya.
Mereka bertiga sarapan sambil berbincang obrolan ringan. Selesai sarapan ketiga wanita cantik itu akan pergi ke CT Grub. Maya akan melihat pembangunan kafe nanti siang. Makanya dia sekarang berencana akan main dan melihat lihat apakah database perusahaan harus diperkuat.
NEGARA I
Danu dan kedua sahabatnya telah bangun dari istirahat siang mereka. Mereka bertiga melanjutkan perjalanan menunu kampung Vina. Jarak tempuh mereka masih ada sekitar dua puluh jam lagi. Kali ini giliran Ivan yang menyetir mobil.
"Van, kalau loe kuliah keluar negeri, pas loe udah lulus, loe balik kerja ke perusahaan aja Van." ujar Iwan yang sebenarnya tidak rela Ivan untuk pergi dari perusahaan.
"Lihat dulu Bang. Gue belum tau selepas kuliah mau ngapain. Mulai kuliah aja belum udah mikirin tamat. Lelah berbie bang kalau harus seperti itu." ujar Ivan sambil berlagak seperti wanita.
"Ye lah. Tapi gue ngarep loe kerja bareng gue lagi." ujar Iwan.
"Semoga aja bang. Gue juga suka kerja dengan loe." jawab Ivan.
Mereka bertiga kemudian tertawa lepas. Obrolan ringan nan receh plus nggak bergunapun mulai berjalan lancar kembali. Mereka tidak mau menghabiskan waktu untuk tidur saja. Tapi berbeda dengan Danu yang sudah terlebih dahulu melanjutkan tidurnya kembali.
"Sepertinya beban berat banget yang dipikul oleh Bang Danu ya Bang." ujar Ivan.
"Itu karena salah dia sendiri Van. Saat dia merasa nyaman dengan tanpa memilih, eh ternyata ya kayak gini akhirnya." ujar Iwan.
"Tapi tega banget Nenek lampir itu Bang, pake nyalahin semuanya ke Vina lagi. Padahalkan dia yang salah." ujar Ivan menggerutu.
"Kalau gue jadi Bang Danu ne ya Bang. Gue udah labrak tu Ranti. Enak aja gara gara perangai dia, gue kehilangan orang yang gue sayang." ujar Ivan kembali.
__ADS_1
"Gue juga Van. Tapi Danu ntah kenapa kayaknya masih takut dengan Ranti. Heran gue. Semoga dengan susahnya kita mencari Vina, Danu bisa berpikir dengan rasional." ujar Iwan.
"Semoga aja bang." ujar Ivan.