Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Keributan Pagi Hari


__ADS_3

"Lah gue diam aja kok bisa kena ya. Apa salah gue coba. heran banget gue sama bunda dan anak ini. gue nggak ngapa ngapain tetap aja bisa kena" ujar Maya yang nggak menyangka dirinya juga akan kena apa yang dikatakan oleh Vina melalui Deli.


"istilahnya neh ya, diem aja kena, apa lagi ngomong. bisa mampus kali" kata Maya melanjutkan omelannya yang sepertinya nggak akan ada ujungnya.


Vina yang mendengar omelan dari Maya tersenyum kecil saja.


"bener bener lah ni orang. Gue ngomel panjang lebar. dia cuma senyum doang. kebangetan banget" lanjut Maya yang langsung kembali berkomentar saat melihat Vina hanya tersenyum saja saat menanggapi omelan yang dikeluarkan oleh Maya pada saat itu.


"Haha haha haha. Gue sengaja aja kali bikin loe ngamuk pagi pagi. Jarang jarangkan loe ngamuk di pagi hari" kata Vina berkata menjawab omelan dari Maya dengan gampangnya.


Vina sengaja melakukan hal itu kepada Maya karena bagi Vina membully Maya pada satu waktu adalah sebuah kesenangan yang hakiki.


"Ternyata ngamuk loe cuma segini doang" lanjut Vina sambil menatap Maya.


"segini doang pala lu peyang" sambar Maya.


"haha haha haha, ngaku aja deh loe emang gitukan. Pesawat jam dua loe pergi dari subuh." kata Vina yang tadi melihat postingan Ivan yang mengatakan dia akan berangkat terbang kembali ke negara I jam dua siang dengan pesawat pribadi milik perusahaan CT Grub.


"Kok tau?" ujar Maya yang akhirnya ketahuan juga oleh Vina.


Jadi apa yang dikatakan oleh Vina ada benarnya juga. Maya memang sengaja pergi cepat cepat ke hotel Ivan (menurut sepengetahuan Vina, padahal Ivan tinggal di mansion pribadinya) untuk bertemu kekasihnya itu, serta memanfaatkan waktu yang ada.


" kamu pasti nggak mau membuang-buang waktu untuk tidak bertemu dengan Ivan, karena dalam beberapa waktu ke depan, kamu tidak akan bisa bertemu dengan Ivan. " kata Vina yang mulai mengatakan apa yang ada di dalam kepala Maya pada saat ini.


"Alah kayak loe yang nggak aja. Padahal loe waktu nggak ketemu dengan Danu juga kayak gitu. Loe ingin cepat cepat ketemu dia dan dalam waktu yang lama. Sampe sampe rela tuh naik motor keliling keliling" ujar Maya.


Kali ini giliran Maya menghajar Vina dengan olokannya tentang Vina yang rela berkeliling keliling kota dengan motor bersama Danu dan Deli.


"Balas dendam loe" ujar Vina sambil melempar kulit pisang yang baru siap dibukanya.

__ADS_1


"Bunda kok makan pisang kayak monyet makan pisang. kulitnya di buka semua"


"Orang makan pisang tu kulitnya di buka setengah Bunda. Bukan semuanya kayak yang bunda lakuin" ujar Deli berteriak saat melihat Bundanya membuka kulit pisang secara utuh saat dirinya mau makan buah pisah tersebut.


"Haha haha haha."


Maya tertawa keras saat mendengar protes yang diajukan oleh Deli kepada Vina.


"Bunda kamu itu memang kayak gitu makan pisang sayang. Dia makan pisang memang kayak monyet makan pisang"


kali ini Maya mendapatkan kesempatan kedua untuk mengerjai Vina dengan bantuan Deli yang sudah membuka peluang untuk Maya melakukan bullyan kepada Vina.


"Is bunda jorok" kata Deli yang memang sangat tidak suka melihat seseorang makan pisang dengan membuka kulitnya secara utuh seperti yang dilakukan oleh Vina pada saat ini.


"Bukan jorok sayang. kebiasaan lebih tepatnya" sambar Maya yang nggak menyia nyiakan kesempatan yang sudah ada di depan mata.


"Mami udah ah ayuk jalan lagi. Nanti Om Ivan lama nunggu mami loh di hotel"


Deli mengambinghitamkan Maya yang ingin cepat bertemu dengan Ivan. Padahal yang ingin bertemu cepat dengan Ivan adalah dirinya.


"Oke sayang. Mari kita pergi. Biarkan Bunda kamu pergi dengan Pak Hans ke perusahaan. Kita bawa mobil sendiri saja."


Maya setuju dengan ajakan Deli untuk langsung pergi menuju mansion Ivan dan Sari yang letaknya lumayan jauh dari rumah yang mereka tempati.


"Bunda, Deli pergi dulu ya. Besok makan pisang jangan kayak itu lagi. Jijik" kata Deli yang memang sangat geli dan merasa risih melihat gaya Bundanya itu saat makan pisang dengan cara membuka semua kulitnya.


"Haha haha. Nggak akan lagi sayang" jawab Vina memastikan kalau dirinya nggak akan melakukan hal jorok seperti yang tadi dilakukan oleh dirinya.


"Kamu hati hati ya. Jangan banyak u" ujar Vina menitip pesan kembali kepada Deli.

__ADS_1


"Ulah" sambar Deli yang sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh Bundanya itu kepada dirinya.


"Haha haha haha"


Vina tertawa bahagia mendengar jawaban yang diberikan oleh anak angkatnya yang sebentar lagi akan menjadi anak kandungnya itu.


"Nitip Deli, May" ujar Vina menitip Deli kepada Maya.


"Aman itu" jawab Maya yang nggak akan mungkin menyia nyiakan Deli.


Maya dan Deli yang di antar oleh Vina ke mobil langsung masuk ke dalam mobil dan pergi berlalu dari rumah menuju mansion keluarga Ivan.


Sedangkan Vina yang melihat mobil yang dikemudikan oleh Maya sudah menghilang di makan tikungan jalanjalan. Vina kemudian masuk ke dalam mobilnya.


"Nona tidak dengan saya ke perusahaan?" tanya Pak Hans saat melihat Vina yang sudah membuka pintu mobil bagian sopir.


"Pak Hans ke kafe aja langsung ya. Tolong handle di sana, karena Maya nggak bisa cepat ke sana. Maya harus mengantar Ivan dulu ke bandara" ujar Vina memberikan perintahnya kepada Pak Hans.


"Baik Nona. Saya akan bawa mobil lain ke kafe" jawab Pak Hans yang tidak mungkin membantah apa yang dikatakan oleh Vina kepada dirinya.


"Oke Pak Hans. Saya berangkat dulu. Pak Hans juga langsung berangkat Oke. Karena Cafe sudah mulai beroperasi. Takutnya nanti ramai pengunjung yang datang" kata Vina uang meminta pak Hans untuk langsung berangkat juga menuju kafe miliknya dan Maya.


"siap Nona" jawab Pak Hans


"Nona berangkat dulu. Saya akan mengambil kunci mobil ke dalam rumah terlebih dahulu" kata Pak Hans yang memang belum mengambil kunci mobil yang lain, karena Pak Hans mengira dirinya akan mengantar Vina ke perusahaan atau Maya ke kafe. Ternyata dugaan dari Pak Hans tidak ada yang benar.


Vina kemudian menghidupkan mesin mobilnya. Dia mengemudikan mobilnya menuju perusahaan yang lamanya dari rumah adalah tiga puluh menit berkendara. Vina menikmati perjalanannya kali ini.


Hal yang sama juga terjadi kepada Maya dan Deli. Mereka berdua juga menikmati perjalanan mereka menuju mansion yang letaknya di tepi laut tersebut. Mereka sudah tidak sabar bisa bertemu dengan Ivan dan Sari yang telah menunggu di mansion.

__ADS_1


__ADS_2