
Vina menatap Maya yang bertingkah cukup aneh itu. Vina tidak menyangka sahabatnya ini bisa berbuat seperti itu.
"Lebay." ujar Vina.
"Setuju" kata Sari yang sangat luar biasa setuju dengan apa yang dikatakan oleh Vina.
"Kalian aja yang sirik. Toh aku emang lagi kangen. Emang kalian jomblo akut." ujar Maya membalas kedua sahabatnya itu.
"Sayang udah. Kasian mereka. Sudahlah jomblo masih juga dikata katai." ujar Ivan sambil menahan senyumnya.
"Emang pas kalian berdua ya. Kata kata tipis tapi nyelekit." ujar Sari sambil menatap tajam Ivan.
Mereka menikmati jenang yang sudah tersedia di depan mereka masing masing.
"Enak ternyata. Kenapa di negara U tidak ada ini ya. Coba kalau ada, pasti orang sini yang tinggal di sana sangat seneng." ujar Sari yang sudah nambah dua kali jenangnya.
"Loe doyan apa lapar?" ujar Vina yang heran dengan kapasistas perut Sari yang luar biasa banyak itu.
"Laper tambah doyan makanya jadi berkali kali lipat" jawab Sari sambil tersenyum.
"Hem serah loe. Pinter kali ngeles." jawab Vina sambil memukul pundak Sari.
"Bang Iwan bentar, perasaan ada yang anehlah." ujar Vina.
"Apa yang aneh?" tanya Iwan menatap ke pakaiannya yang dirasa nggak ada yang aneh.
"Ada. Tadi katanyakan ada kegiatan meeting di sini. Kok nggak bawa laptop?" ujar Vina yang melihat tak satupun dari mereka membawa laptop.
"Oooo..... Tadi hanya sekedar menghadiri. Belum presentasi. Presentasinya dua hari lagi." jawab Iwan asal comot alasan saja.
"Oh. Oke." ujar Vina masih curiga dengan gelagat dua pemuda yang berada di depan dia saat sekarang.
'Curiga' ujar Ivan dengan menggerakkan mulutnya tanpa suara kepada Iwan. Iwan mengangguk. Mereka berdua yakin kalau Vina sudah curiga.
Mereka berlima akhirnya meninggalkan tempat penjual jenang itu. Mereka akan membeli semua kebutuhan untuk kafe milik Maya.
"May, mau beli apa dulu?" ujar Vina.
"Kita cari tempat makanann dulu Vin. Baru pernak perniknya." jawab Maya.
Mereka kemudian masuk ke dalam pasar. Sensasi terbaru baru Sari yang sama sekali tidak pernah masuk ke dalam pasar selama ini. Sari menatap ke sekelilingnya, dia takjub dengan keadaan di sekitarnya.
Saat mereka melewati toko pakaian. Sari mendadak berhenti, membuat mereka yang berada di belakangnya hampir tersungkur.
"Loe berenti ngomong dong." ujar Maya protes.
"Gue mau baju itu. Kelihatannya asik di bawa ke pantai." ujar Sari menunjuk baju daster motif batik yang tergantung.
"Hah? Ke pantai? Nggak salah loe?" ujar Maya menatap Sari dengan tatapan pleace deh bro.
"Ia ke pantai. Emang salah gue?" tanya Sari
"Salah berat. Itu baju di pakai emak emak untuk masak di dapur, bukan untuk ke pantai." ujar Maya sambil geleng geleng kepala.
Teman bulenya ini bener bener ajaib.
__ADS_1
"Nah sama orang sini untuk masak. Sama gue untuk ke pantai. Ya suka suka guelah. Gue yang makai, gue yang beli." ujar Sari yang nggak mau dibantah.
"Udah udah capek ribut muluk. Kamu pilih aja Sar, mana yang mau. Bisa kok di bawa ke pantai." ujar Vina menengahi keributan Maya dan Sari yang nggak kunjung usai.
Sari yang dibantu oleh Vina akhirnya membeli enam helai daster sebatas lutut. Sari sangat senang saat mendapatkan daster yang dia suka.
"Yiha, besok kita ke pantai. Gue akan pakai ini." ujar Sari dengan semangat.
Maya yang melihat hanya bisa pasrah saja. Dia tidak mengerti dengan pola pikir orang bule seperti Sari.
Mereka melanjutkan perjalanan masuk ke dalam pasar yang sangat luar biasa besar itu.
"May, itu tokonya." ujar Vina saat melihat mereka sudah sampai di toko yang menjual perlengkapan makan tradisional.
Maya melangkah dengan semangat. Di dalam kepalanya sudah tergambar apa apa saja yang akan mereka beli.
"Loe norak dek." ujar Ivan kepada Sari berbisik.
"Hahahaha. Bajunya cantik, makanya beli. Kiranya disini untuk daster." ujar Sari sambil tersenyum menahan tawanya.
"Dasar oon, makanya searcing dulu sebelum pengen."
"Oke oke Abang. Kamu cocok sama Maya, sama sama bawel."
"Hahahahaha. Bawel gini tetap kakak kamu juga PA." ujar Ivan.
"Ye" ujar Sari yang nggak tau lagi mau balas apa ke Ivan.
Sari kemudian menyusul Vina dan Maya ke dalam toko. Dia juga ingin ikut memilih pernak pernik lucu untuk alat makan di kafe mereka.
Maya melihat piring yang diperlihatkan Sari. Piring yang terbuat dari anyaman bambu berbentuk segi enam.
"Lucu Sar. Ambil selusin gih." ujar Maya yang memang sangat suka dengan model piring yang dipilih oleh Sari.
Mereka melanjutkan pencarian untuk semua barang barang yang dibutuhkan. Ivan dan Iwan membantu mereka memilih pernak pernik yang dibutuhkan untuk kafe milik tiga wanita cantik itu yang akan dikelola oleh Maya.
"Vin, setelah beli dimana mau diletakan?" tanya Iwan yang menatap barang barang yang mereka pilih ternyata sudah terlalu banyak.
Vina terlihat berpikir, apa yang dikatakan oleh Iwan benar juga, setelah mereka membeli semua barang barang itu, nanti mau diletakkan dimana, mereka belum mempunyai tempat untuk menginap.
"Bener juga ya Bang. Kami belum memesan kamar untuk menginap lagi." ujar Vina.
Ivan mendengar percapakan antara Vina dan Iwan.
"Gimana kalau nginap di hotel tempat kami menginap aja Vin?" ujar Ivan menawarkan solusi.
"Tu harus ke sana dulu bang?" ujar Vina.
"Nggak perlu, aku member di sana. Jadi, bisa aku pesankan lewat aplikasi saja." ujar Ivan.
"Oh oke. Sip. Makasi Bang."
Vina kemudian pergi menyusul Maya dan Sari.
"Pinter ya loe." ujar Iwan menggoda Ivan.
__ADS_1
"Hahahahaha. Kapan lagi bang." jawab Ivan.
Mereka kembali melanjutkan belanja. Tak terasa hari sudah petang, Maya berhasil menghabiskan uang yang luar biasa di satu toko itu. Barang yang di beli mereka bertiga di kemas dalam sepuluh kardus besar.
"Ini gimana mau di bawa ke hotel. Kena marah kita nanti." ujar Ivan melihat barang hasil belanjaan ketiga wanita cantik itu.
"Terus gimana?" tanya Maya dengan setengah panik.
"Nona bertiga nginap di hotel?" tanya pemilik toko.
"Iya Pak. Kami tidak mungkin membawa barang sebanyak ini ke hotel." jawab Maya dengan nada sedih.
"Tarok di sini dulu Nona, besok saat Nona mau pulang baru Nona ambil. Kalau perlu Nona bisa memakai mobil toko kami untuk membawa barang barang Nona ke rumah." ujar pemilik toko.
"Benar begitu Pak?" tanya Maya.
"Bener Nona. Nona sudah belanja banyak di toko kami. Jadi, sudah kewajiban kami memberikan pelayanan yang luar biasa terbaik untuk Nona." kata pemilik toko.
"Baik Pak, terimakasih. Kami akan kembali lagi ke sini besok siang." ujar Maya.
Vina dan sahabat sahabatnya pergi meninggalkan toko tempat mereka belanja tadi.
"Sekarang kemana lagi?" tanya Ivan.
"Makan rawon sayang. Aku lapar." ujar Maya.
Mereka memesan taksi online menuju tempat penjual rawon yang ternama itu. Sang sopir yang sudah tau tujuan mereka, langsung menekan pedal gas.
"Anda semua tidak salah memilih tempat untuk makan rawon. Di sana sangat terkenal dengan rasa rawonnya yang benar benar lezat." ujar sopir taksi online.
Tidak memerlukan waktu lama, mereka akhirnya sampai juga di tempat penjual rawon yang dituju.
"Wah ramenya." ujar Sari dengan wajah cemberut.
"Sabar Sar. Mereka juga lapar." kata Vina.
"Padahal bukan hari liburkan ya. Kok bisa rame gini." ujar Sari.
"Masuk dulu aja, mana tau di bagian belakang masih ada kursi."
Mereka kemudian masuk ke salam warung penjual rawon. Ternyata apa yang dikatakan oleh Iwan memang benar. Di dalam masih banyak kursi kosong yang masih belum terisi.
Mereka berlima memilih untuk duduk di sebuah saung lesehan di pinggir kali. Pemandangan yang indah tersaji di depan mata mereka. Mereka bener bener bahagia dengan semua ini.
"Vin, boleh Abang bertanya?" kata Iwan yang sudah tidak sabaran.
"Boleh Bang. Ada apa?" tanya Vina lagi.
.....................................
Kakak kakak silahkan mampir ke novel
My Affair
Suamiku Bukan Milikku.
__ADS_1
Aku butuh dukungan kakak di sana. Terimakasih banyak kakak.