
Silahkan naik ke atas mobil Nona Nona. Mobil sudah menunggu di teras lobby" ujar resepsionist memberitahukan kalau mobil sudah menunggu mereka di teras lobby.
Vina dan kedua sahabatnya masuk ke dalam mobil. Mereka akan menuju bandara untuk terbang ke negara U. Perjalanan hotel menuju bandara sama sekali tidak ada hambatan. Perjalanan selama empat puluh lima menit itu telah tuntas dilakukan. Vina, Maya dan Sari kemudian menarik koper mereka untuk masuk ke dalam ruang tunggu pengguna pesawat pribadi.
"Maya" terdengar suara teriakan memanggil nama Maya.
Maya, Vina dan Sari menatap ke sumber suara. Mereka bertiga melihat Ivan setengah berlari mengejar Maya.
"Haduh untung saja nggak telat" ujar Ivan saat melihat Maya dan kedua sahabatnya aka masuk ke dalam pintu keberangkatan.
"Ada apa sayang?" tanya Maya kepad Ivan sambil tersenyum.
"Peluk aku" ujar Ivan manja kepada Maya.
Maya memeluk Ivan dengan sangat erat. Ivan membalas pelukan Maya.
"Hay sayang ada apa?" ujar Maya yang melihat Ivan tidak juga melepaskan pelukannya.
"Nggak ada apa apa sayang. Aku cuma pengen meluk aja, karena kita akan lama lagi berjumpa." ujar Ivan.
Maya membiarkan saja Ivan memeluk dirinya. Sari dan Vina hanya bisa geleng geleng kepala lihat tingkah absudr sepasang kekasih itu.
Saat mereka berdua sedang menatap ke arah Maya, sebuah suara terdengar memanggil nama Vina. Vina dan Sari menatap ke sumber suara ternyata di sana berdiri Danu.
"Danu?" ujar Vina kaget karena Danu mendadak berada di depan dirinya.
"Bang Danu?" ujar Sari dengan pelan.
"Vina, bisa aku berbicara sebentar?" tanya Danu menatap berharap kepada Vina agar Vina mau berbicara dengan dirinya.
Vina mengangguk.
"Bicaralah" ujar Vina sambil menatap Danu.
Danu berjalan mendekat ke arah Vina.
"Stop di situ saja" ujar Vina saat melihat Danu yang hampir dekat dengan dirinya.
Ivan dan Maya yang melihat Danu datang, langsung melepaskan pelukan mereka. Mereka ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh Danu kepada Vina.
"Vina, aku kali ini berbicara dengan kamu, disaksikan oleh sahabat sahabat kita berdua. Aku Danu Atmaja berjanji akan menyelesaikan permasalahan aku dengan Ranti." ujar Danu memulai perkataannya.
__ADS_1
"Jadi Vina. Untuk saat ini kamu boleh pergi kemanapun menenangkan diri, karena aku tidak bisa mencegah kamu. Tapi, aku pastikan saat aku sudah menyelesaikan semua urusan aku dengan wanita itu, aku akan mencari kamu kembali." Lanjut Danu berkata kepada Vina.
Ivan dan yang lainnya hanya bisa menjadi pendengar setia. Mereka sama sekali tidak menyela pembicaraan antara Danu dengan Vina.
"Satu lagi yang paling penting Vina. Aku Danu Atmaja akan selalu mencintai kamu, walaupun kamu membenci aku. Aku akan menyelesaikan semua permasalahan yang ada. Setelah itu aku akan membawa kamu kembali pulang ke negara ini" ujar Danu sambil menatap Vina.
"Cinta tidak pernah salah Vina. Tapi yang salah adalah waktu dan aku yang belum bisa mengambil sikap. Tetapi hari ini aku sudah menentukan apa yang harus aku lakukan" ujar Danu melanjutkan pembicaraannya.
Vina menatap nanar ke arah Danu. Ingin rasanya di berteriak kalau dia masih mencintai Danu. Tapi, dia tidak mungkin melakukan itu sekarang. Akhirnya Vina memberikan Danu sebuah senyuman manisnya.
"Lakukan dan ambil kesempatan kedua ini. Aku memberikan kamu kesempatan kedua. Tapi, datang dan ambillah saat kamu sudah sendiri. Aku tidak mau dikatakan pelakor lagi" ujar Vina menjawab semua perkataan Danu.
Vina berpikir dia tidak boleh egois dengan tidak memberikan Danu kesempatan setelah semua yang terjadi dalam hidup mereka berdua. Apalagi Vina sudah tau semuanya. Jadi, Vina merasa tidak adil, kalau dia tidak memberikan kesempatan kepada Danu untuk menyelesaikan semua masalahnya.
"Makasi Vina, aku berjanji akan datang menjemput kamu saat semua permasalahan aku dengan Ranti selesai." ujar Danu bahagia mendengar apa yang diucapkan oleh Vina.
Danu akhirnya memiliki kesempatan kedua itu. Dia benar benar mengucapkan terimakasih kepada Pamannya yang telah memberikan masukan tadi pagi kepada Danu, saat Danu datang dalam keadaan galau dari rumah kedua orang tuanya.
FLASHBACK
Danu yang berkendara dari jam empat shubuh, sudah berada di ruangan Pamannya. Padahal Paman sama sekali belum datang. Dia masih menikmati sarapan dengan kedua anaknya dan juga calon menantunya.
Presiden direktur yang baru sampai di perusahaan, langsung masuk ke dalam lift yang akan mengantarkan dirinya langsung ke lantai paling atas. Paman kemudian keluar dari dalam lift. Dia melihat sekretarisnya belum datang. Paman langsung masuk ke dalam ruangan kerjanya. Ternyata di sana sudah ada Danu.
"Lah tumben Dan, sudah di ruangan Paman pagi pagi. Ada apa?" ujar Paman sambil duduk di sofa seberang Danu duduk.
"Paman, aku butuh solusi dari Paman." ujar Danu.
"Apa ceritakan" ujar Paman meminta Danu untuk menceritakan apa yang terjadi.
Danu kemudian menceritakan semua kejadian kemaren. Termasuk saat Deli dan kedua orang tuanya meminta dia berpisah dengan Ranti. Paman menyimak tanpa menyela sedikitpun kalimat kalimat yang dikeluarkan oleh Danu dari mulutnya.
"Itulah yang terjadi Paman. Sekarang menurut Paman aku harus bagaimana?" tanya Danu kepada Presiden direktur sekaligus Paman kandungnya itu.
Paman menatap Danu lama. Dia pengen melihat apakah ini sudah benar benar terniat oleh Danu, atau hanya keinginan sementara saja saat dia sedang emosi.
"Paman mau tanya sama kamu, apakah ini benar benar sudah datang dari dalam diri kamu, atau hanya ego sesaat saja?" ujar Paman bertanya dan menginginkan kepastian dari Danu.
"Sudah dari dalam diri saya Paman" jawab Danu dengan nada pasti dan serius.
"Baiklah kalau memang sudah dari dalam diri kamu. Menurut Paman, kamu habiskan saja hubungan kamu dengan Ranti. Nanti sekitar jam dua belas pergilah ke bandara, atau saat kamu melihat Ivan pergi, makan ikutilah dia" uajr Paman kepada Danu.
__ADS_1
"Kenapa harus ke bandara dan ikutin Ivan, Paman?" tanya Danu yang masih belum mengerti dengan maksud Paman meminta dia ke bandara.
"Karena Vina dan yang lainnya akan pergi meninggalkan negara ini, nanti siang" ujar Paman memberitahukan perihal keberangkatan Vina yang akan meninggalkan negara I.
"Baik Paman, nanti saat Ivan pergi, aku akan mengikutinya." ujar Danu.
"Kamu harus yakinkan Vina untuk memberikan kamu kesempatan kedua. Tapi jangan pernah katakan kesempatan kedua. Katakan kalau kamu akan selalu mencintainya. Yakinkan dia. Semoga Vina memaafkan kamu" ujar Paman.
"Setelah Vina memberikan jawabannya. Maka kamu akan tahu harus berbuat apa." lanjut Paman.
Danu kembali menuju ruangannya, dia bersikap biasa saja. Tepat saat Ivan pergi, Danu juga ikut pergi meninggalkan kantor. Dia mengikuti Ivan menuju bandara.
Ternyata yang dikatakan oleh Pamannya memang benar. Vina dan yang lainnya sedang bersiap siap meninggalkan negara ini.
BANDARA.
"Vina, Maya, kata Juan kita harus masuk ke dalam melakukan chek in" kamar Sari memberitahukan pesan dari Juan kepada Vina dan Maya.
"Oke Sar" jawab Vina.
"Vina, boleh aku menghubungi kamu?" tanya Danu.
"Maaf Bang. Selesaikan dulu masalah kamu, baru setelah itu selesaikan dengan aku. Aku pamit dulu. Semoga kali ini kamu tidak mengecewakan aku lagi. Aku memberi maaf hanya sekali tidak dua kali" ujar Vina berpesan kepada Danu.
Maya kembali memeluk Ivan. Dia sangat berat meninggalkan Ivan sendirian di sini. Tetapi, dia juga tidak ada kerjaan di sini, dengan berat hati akhirnya Maya melepaskan pelukannya dan mengikuti Vina dan Sari yang suda berjalan lebih dahulu.
Vina, Maya dan Sari melakukan chek in. Setelah itu mereka langsung diminta untuk masuk ke dalam pesawat karena sebentar lagi mereka akan take off menuju negara U dan transit sebentar di negara UEA.
Vina dan yang lain sudah berada di dalam pesawat. Juan sudah memberikan penjelasan bagaimana keadaan selama penerbangan. Pramugari juga sudah melaksanakan pekerjaan mereka. Pesawat akan siap meninggalkan negara I.
"Semangat Bang. Semoga kesempatan kedua ini loe gunain sebaik baiknya" ujar Ivan sambil menepuk pundak Danu.
"Makasi Van. Gue akan mempergunakan sebaik baiknya" jawab Danu.
"Balik ke kantor atau makan siang dulu?" tanya Danu.
"Makan siang dulu lah Bang. Laper." jawab Ivan.
Mereka berdua kemudian pergi dari bandara menuju kafe tempat mereka biasa makan siang. Ivan sudah menghubungi Iwan untuk menyusul mereka kesana. Mereka akan makan siang bertiga setelah dua minggu tidak makan bersama.
Pesawat yang ditumpangi Vina, Sari dan Maya telah lepas landas. Mereka sekarang sudah mengudara untuk menuju negara U. Pekerjaan dan semua semuanya telah menunggu mereka di sana.
__ADS_1