
Jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan sudah berbagai usaha dilakukan Danu untuk melunakkan hati Vina yang terlalu keras untuk mengubah Vjna kembali seperti dulu. Tapi tak satupun usaha Danu yang membuahkan hasil. Vina masih tetap dengan sikap biasanya saja. Kalau tidak Danu yang mengajaknya berbicara maka Vina akan diam saja. Vina akan mulai berbicara dengan Danu, apabila ada pekerjaan yang mengharuskan Vina melakukan koordinasi dengan Danu, selagi masih bisa diwakilkan ke Iwan atau Ifan, Vina masih memilih untuk diwakilkan mereka.
"Kenapa lemburnya harus sekarang coba. Mana Iwan dan Ifan nggaknada lagi. Kenapa harus lembur dengan orang itu" kata Vina sambil menatap jengkel ke arah pekerjaannya yang belum selesai.
"Nyesel banget gue tadi mau ngegosip lama di pantry. Jadi ginikan hasilnya." lanjut Vina masih dengan rasa penyesalannya.
"Kerjakan saja. Setelah siap kamu boleh pulang. Jangan ngedumel tidak berguna" ucap Danu yang dari tadi mendengar semua keluh kesah Vina sambil tersenyum.
"Mampus gue. Tu orang denger lagi apa yang gue omongin" ucap Vina menyesal.
Vina kembali mengerjakan pekerjaannya yang tidak selesai itu. Vina harus menyelesaikan pekerjaannya hari ini juga, walaupun harus sampai tengah malam.
"Kasian Vina. Tapi kalau dibolehkan pulang dan aku mengerjakan tugasnya, aku tidak bisa menatapnya lebih lama." ucap Danu yang dari tadi memperhatikan Vina yang serius mengerjakan pekerjaaannya. Danu masihbberkutat dengan pikirannya. Satu sisi Danu merasa kasian dengan Vina yang harus lembur sendirian tanpa Iwan ataupun Ifan. Satu sisi lain Danu sangat senang Vina lembur, jadi dia bisa menatap Vina lebih lama sendirian
"Ah biarkan saja. Siapa suruh dia ngegosip tadi siang dipantry" ucap Danu. Danu kembali membaca pekerjaannya yang belum selesai.
Danu sebenarnya hari ini tidak ada keperluan untuk lembur. Jam pulang kantor tadi dia sudah mengambil tasnya untuk pulang ke rumah. Tetapi dia melihat Vina masih bekerja. Danu kembali masuk ke ruangannya, setelah menunggu satu jam Danu masih melihat Vina bekerja. Akhirnya demi menikmati waktu berdua mereka yang jarang terjadi Danu memutuskan untuk lembur saja menemani Vina.
"Perasaan Pak Danu tidak ada jadwal lembur hari ini. Tetapi kenapa dia lembur ya?" ucap Vina di dalam hatinya, ia masih melihat Danu berada di ruangannya sambil melihat lihat isi ponselnya.
"Atau jangan janagn dia menemani aku lembur lagi." Vina mulai tersipu dengan apa yang dipikirkannya.
"Ah biarkan sajalah. Terpenting sekarang aku tidak sendirian lembur. Jadi aman ada teman" lanjut Vina sambil kembali mengerjakan pekerjaannya. Vina sangat serius bekerja, dia tidak ingin berlama lama lembur.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa" teriak Vina dengan kesalnya.
"Ada apa Vin?" ucap Danu sambil berlari ke arah meja Vina.
Vina ternyata sudah menggigil karena takut. Vina yang merasakan ada kehadiran seseorang di dekatnya langsung memeluk Danu. Danu yang terkejut dengan serangan cepat Vina hanya bisa pasrah saat Vina memeluknya dengan sangat erat. Vina terlihat sangan takut dengan keadaan gelap. Vina seperti ada trauma dengan keadaan gelap gulita.
"Ya Tuhan, lamakanlah mati lampu ini" ucap Danu di dalam hantinya.
Vina masih terus memeluk Danu. Vina tidak ingin melepaskan pelukannya. Vina sangat takut akan gelap. Semua kejadian masa lalu membuat dia trauma dengan kegelapan.
"Vin, tenang Vin. Kamu tidak sendirian di sini. Ada aku Vin" Danu mencoba menenangkan Vina yang masih ketakutan.
__ADS_1
"Jangan tinggalkan aku. Aku takut gelap" kata Vina sambil lebih menenggelamkan kepalanya di badan Danu.
"Tidak aku tidak akan meninggalkan kamu" ucap Danu sambil mengusap rambut Vina.
Vina berusaha menentramkan hatinya, dia berusaha mengusir rasa takut yang menjalari dirinya. Setengah jam kemudian Vina sudah mulai tenang. Pelukannya ke Danu sudah tidak sekuat tadi lagi. Danu sebenarnya sudah lelah berdiri, tapi Danu takut untuk melepaskan pelukan Vina. Danu takut Vina kembali histeris.
"Tumben kali ginset kantor tidak hidup" kata Danu dalam hati.
Tiba tiba ada cahaya senter dari luar ruangan. Danu yang akan membukakan pintu ditahan oleh Vina.
"Jangan pergi. Aku takut"
"Ada orang di luar Vin. Mana tau dia bisa meminjamkan kita lampu atau lilin"
"Masuk aja pak. Pintu ruangan tidak di kunci" ucap Danu.
Danu melepaskan pelukannya dari Vina. Tapi Vina menolak karena rasa takutnya masih ada.
"Bentar Vin ada orang. Nanti ada salah paham"
Vina melepaskan pelukannya dengan terpaksa. Dia meletakkan kepalanya di atas meja komputer dan memicingkan matanya. Vina takut kalau dia membuka mata akan melihat hal yang membangkitkan kembali rasa traumanya.
" Iya. Pas kami akan pulang ternyata lampu padam. Vina sangat takut dengan suasana gelap." ucap Danu menjelaskan kepada satpam.
"Sepertinya akan lama mati lampu Pak Danu. Trafo diseberang jalan meledak. Sedangkan ginset kita ternyata rusak" ucap satpam.
"Kalau begitu bisa Bapak memberikan kami penerangan ke bawah. Saya akan mengantar Vina pulang."
"Baik Pak Danu saya akan antarkan ke bawah."
Danu kembali kemeja tempat Vina bekerja. Danu melihat Vina yang sudah menggigil karena ketakutan dan rasa tidak nyamannya.
"Vin, ayuk pulang."
"Tapi pekerjaan saya belum selesai Pak." kata Vina sambil ketakutan.
__ADS_1
" Besok aja lanjutkan. Besok meetingnya jam makan siang."
Vina mengumpulkan semua barang barangnya. Danu masuk keruangannya untuk mengambil tas. Vina berdiri menunggu Danu. Vina takut berjalan sendirian ke depan pintu ruangan.
Danu menggandeng tangan Vina menuju pintu ruangan kantor. Disana satpam sudah menunggu mereka berdua dengan sebuah senter besar. Vina yang dihmgandeng Danu hanya pasrah saja. Hanya Danu seorang yang bisa membantunya keluar dari ruangan yang luar biasa gelap ini.
Mereka bertiga berjalan keluar beriringan. Vina terus saja menggengem tangan Danu. Danu sangat sennag dengan perlakuan Vina terhadap dirinya.
Setelah melalui perjalanan dengan bantuan senter, mereka sampai juga di lobby kantor. Danu hendak melepaskan tangan Vina. Dia bermaksud mau mengambil mobil yang terletak diujung parkiran.
"Vin aku mau ngembil mobil di parkiran" ucap Danu kepada Vina yang menolak melepaskan genggaman tangan Danu.
"Aku ikut" kata Vina sambil tetap.menggenggam tangan Danu.
Danu akhirnya mengajak Vina untuk mengambil mobil yang terparkir di ujung parkiran kantor. Danu membuka kunci mobilnya, kemudian membawa Vina untuk masuk dan duduk dikursi depan sebelah supir. Danu kemudian melajukan mobilnya menuju jalanan.
"Huf. Akhirnya" kata Vina dengan menghembuskan nafasnya dengan sangat kuat.
" Jadi kamu takut gelap Vin?"
Vina menggangguk. " Sangat takut" ucapnya.
Vina kemudian menunduk teringat semua kejadian di kantor saat lampu padam tadi. Vina menjadi tidak nyaman. Danu yang tau ketidak nyamanan Vina hanya diam saja. Dia tidak tau akan berbuat dan mengatakan apa kepada Vina.
"Pak, maafkan saya karena tadi menyusahkan bapak saat lampu padam" ucap Vina sambil menunduk.
" Tidak masalah Vin. Seharusnya aku yang minta maaf sama kamu, selama ini telag bersikap tidak adil sama kamu" kata Danu sambil menatap kearah Vina.
" Tidak ada yang harus bapak mintak maaf kepada saya. Harusnya saya yang minta maaf ke bapak, karena sudah tidak adil kepada Bapak." ucap Vina sambil menatap Danu.
"Gini aja Vin, kalau ini diperdebatkan tidak akan ada ujungnya. Kita sama sama kembali seperti dulu lagi aja. Bukan seperti sekarang yang sam sama tidak nyaman dengan perlakuan kita. Gimana?"
"Setuju pak. Saya juga sudah lelah pura pura cuek ke Bapak." ucap Vina dengan tersipu.
Tak terasa mereka sudah sampai di depan kontrakan Vina. Vina kemudian turun dari mobil Danu.
__ADS_1
"Makasi Pak. Hati hati di jalan" ucap Vina sambil melambaykan tangan.
Danu tersenyum kepada Vina. Danu melajukan mobilnya kembali untuk pulang ke rumah. Danu tidak pedulu istrinya ada atau tidak di rumah. Bagi Danu keadaanbya sama saja.