
" Vina bangun" teriak Maya di telinga sahabatnya yang sedang terlelap tidur sambil memeluk bantal guling.
Vina menutup telinganya karena mendengar teriakan dari Maya yang sangat luar biasa membuat telinga Vina menjadi mendengung.
"Loe liat liatlah, teriak di telinga gue. Budek gue jadinya." ujar Vina protes dengan ulah Maya.
"Sorry kawan. Loe bangunlah lagi, tapi mau pergi ke kota siap sarapan. Hari udah jam enam. Kapan mau sarapan. Kita janjian dengan sopirnya jam setengah delapan." ujar Maya yang sudah tidak sabar lagi ingin berangkat menuju kota.
"Iya bentar, Ibuk udah masak, jadi kita tinggal sarapan aja lagi." ujar Vina.
"Jadi, ibu masak apa?"
"Kayaknya tadi masak nasi goreng." jawab Vina.
"Loe udah mandi?" tanya Vina menatap Maya.
"Udahlah, Sari dan gue udah siap mandi, loe aja yang masih tidur" ujar Maya
"Loe semangat banget mau ke kota?" ujar Vina setengah curiga dengan Maya yang sangat bersemangat untuk pergi ke kota hari ini.
"Semangatlah, gue kan mau beli pernak pernik untuk kafe. Gue udah nggak sabar ingin memilih apa yang gue butuhin." jawab Maya yang terpaksa berbohong kepada Vina.
Maya memang semangat untuk pergi membeli pernak pernik kafe, tetapi selain itu, Maya semangat karena dia sudah mengatakan kepada Ivan untuk datang ke kota J. Dia sangat kangen dan rindu dengan kekasih hatinya itu.
"Cepatlah Vin" ujar Maya mendesak Vina
"Iya iya. Ini udah bangun. Loe nyesek banget coba." ujar Vina yang menggerutu karena di rong rong oleh Maya untuk cepat bangun dan bersiap siap.
Vina kemudian berdiri dari ranjangnya. Dia langsung meraih handuk yang digantungnya di belakang pintu kamar. Vina masuk ke dalam kamar mandi, dia akan membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum sarapan.
Semua anggota keluarga sudah duduk di kursi mereka masing - masing. Mereka hanya tinggal menunggu Vina seorang, setelah Vina selesai bersiap siap, dia langsung duduk di kursi meja makan yang masih kosong. Setelah Vina duduk dan hadir, mereka kemudian sarapan. Sarapan kali ini masih dalam keadaan diam dan sunyi, hanya terdengar suara piring dan sendok yang beradu.
"Jadi, juga kalian ke kota hari ini?" tanya Bapak.
"Jadi Pak, mobil sudah dipesan. Kami berangkat jam setengah delapan." ujar Vina mengatakan kapan mereka akan berangkat menuju kota.
"Kalian harus berhati hati, kalian hanya wanita saja, tidak ada teman laki laki." ujar Bapak.
__ADS_1
"Tenang Bapak, kami akan hati - hati. Pasti akan jaga diri dengan baik baik." ujar Vina.
"Kalian pulang hari ini atau kapan?" tanya Ibu
"Kalau siap hari ini maka akan langsung pulang Buk. Tapi kalau tidak, maka akan pulang besok." jawab Vina.
"Oh baiklah, ingat pesan Bapak tadi, kalian bertiga harus hati hati." ujar Ibu mengingatkan kembali Vina dan kedua sahabatnya pesan dari Bapak.
Tin tin tin. Bunyi klason mobil dari luar pagar.
"Sepertinya itu mobil kalian." ujar Bapak saat melihat sebuah minibus sudah terparkir di depan rumah.
Vina, Maya dan Sari mengambil tas kecil miliknya. Mereka berpamitan dengan Bapak dan Ibu. Setelah berpamitan, ketiga wanita cantik itu masuk ke dalam mobil yang sudah mereka pesan. Sopir menyapa mereka dengan sangat ramah.
'Kami, sudah berangkat. Abang dimana?' isi pesan chat yang dikirim Sari kepada Ivan.
'Siap sarapan, kalian kemana' balas chat Ivan.
'Ke pasar Bringharja.' balas Sari.
Mobil bergerak meninggalkan perkampungan menuju pasar Bringharja. Mereka akan membeli semua pernak pernik kafe sesuai dengan tema kafe yang telah dipilih, yaitu dengan tema tradisi nusantara seperti yang diinginkan oleh Maya.
"Yah" ujar Maya yang membuat Vina dan Sari melihat ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Sari.
"Ponsel gue ketinggalan" ujar Maya dengan wajah sangat panik.
"Ooooo. Gue kira apa yang tinggal. Kalau ponsel biar ajalah tinggal. Nggak ngaruh juga." ujar Vina.
Maya terdiam mendengar jawaban Vina. Dia sangat kesal dengan dirinya sendiri. Bisa - bisanya dia meninggalkan ponsel pada saat penting seperti sekarang. Kalau tidak ada ponsel bagaimana cara dia akan bertemu dengan Ivan. Meminjam ponsel milik Sari, malah tidak akan mungkin, karena Maya sama sekali tidak hafal nomor Ivan. Mood Maya langsung turun drastis saat sadar ponselnya ketinggalan di kamar.
Tidak beberapa lama, mereka bertiga sudah sampai di pasar yang mereka tuju. Vina dan kedua sahabatnya turun dari mobil. Mobil sengaja tidak dipesan Vina untuk seharian, mereka belum tau akan pulang sekarang atau pulang besok. Semuanya tergantung kepada apakah pernak pernik yang dibeli Maya sudah semua atau belum.
"Kita langsung cari pernak pernik, atau mau makan jenang dulu?" tanya Vina yang sebenarnya perutnya masih lapar. Tadi dia hanya makan sedikit saat sarapan.
"Cari jenang dulu aja." jawab Maya.
__ADS_1
Sari sangat bersyukur karena Maya meminta untuk mencari jenang, jadi dia bisa langsung mengshare lokasi mereka sekarang kepada Ivan yang sudah berangkat dari hotel tempat dia menginap. Ivan menerima sebuah notifikasi, dia melihat Sari sudah mengirimkan dimana posisi mereka sekarang.
"Bang, mereka di dekat dekat sini, mereka sedang makan Jenang yang sedang viral di sosial media." ujar Ivan memberitahukan kepada Iwan dimana posisi Vina dan kedua sahabatnya.
"Oke, kita pura pura pengen pergi makan jenang aja." ujar Ivan.
Ivan dan Iwan kemudian berjalan menuju lokasi yang dibagikan oleh Sari. Mereka akan menuju tempat penjual jenang yang sedang viral itu.
Ivan dan Iwan masuk ke dalam sebuah warung tenda sederhana yang menjual jenang yang sangat enak itu. Vina yang pertama melihat Ivan dan Iwan langsung kaget. Dia membuang wajahnya berharap tidak terlihat oleh dua orang pria itu. Tetapi sayangnya, dua pria yang dihindari oleh dirinya sudah melihat mereka bertiga dari tadi.
"Vina" ujar Iwan pura pura kaget saat menyapa Vina.
"Bang Iwan" ujar Vina sambil melirik ke belakang Iwan dan Ivan.
Ivan dan Iwan paham dengan apa yang dicari oleh Vina ke belakang mereka.
"Tenang, dia tidak ada. Dia di ibu kota" ujar Iwan yang paham.
Vina menghembuskan nafasnya. Dia lega ternyata Danu tidak ada di daerah ini.
"Silahkan duduk Bang. Sudah pesan atau belum?" tanya Vina
"Sudah Vin" jawab Iwan.
"Hay kenapa diam menung aja?" tanya Ivan kepada kekasihnya yang wajahnya tekuk sepuluh itu.
"Ponsel ketinggalan, jadi aku kira nggak bisa ketemu kamu." ujar Maya.
"Hahahahahahaha, sayang sayang, mana ada. Aku pasti tau kamu dimana. Jadi jangan meragukan aku lagi sayang." ujar Ivan sambil mengacak rambut Vina.
"Bukan meragukan kamu sayang, aku kesal aja, masak ponsel aku bisa tinggal." ujar Maya masih dengan memajukan mulutnya.
"Gimana kalau kita beli ponsel baru aja?" ujar Ivan membujuk kekasihnya yang sedang cemberut dan kesal itu.
"Oh Tidak sayang. Biar ajalah. Sekarang yang terpenting kamu sudah ada di sini. Aku bahagia ada kamu di sini." ujar Maya sambil memeluk pinggang Ivan.
Tak berapa lama pesanan mereka akhirnya datang. Mereka memakan jenang yang ternyata memang sangat enak itu, makanya jenang itu menjadi begitu viralnya dikalangan pengguna sosial media.
__ADS_1