Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Galau Danu


__ADS_3

Danu melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang menuju dangau tangah sawah tempat mereka akan makan siang. Danu yang sudah memesan tempat dan menu apa yang akan mereka makan di sana nanti merasa tidak perlu khawatir lagi tidak kebagian tempat di sana.


"Loe udah reservasi?" ujar Frans bertanya kepada Danu.


"Udah, gue udah reservasi, kita berdua tinggal duduk tenang di sana dan menikmati makan siang itu dengan nyaman" ujar Danu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Frans kepada dirinya.


"Oh baiklah, pantesan loe bawa mobil santai" ujar Frans nyeletuk dengan santainya.


"Bawa mobil pelan bukan gara gara sudah reservasi. Loe nggak nengok jalan ramai kayak gini" kata Danu menjawab perkataan dari Frans.


"Gue kira gara gara sudah reservasi" ujar Frans lagi dengan santainya.


Danu mengendarai mobilnya dengan fokus dan penuh konsentrasi. Hal ini membuat Frans sedikit tertawa melihat bagaimana gaya Danu saat mengemudikan mobil. Danu yang sadar diketawai oleh Frans mencoba untuk bersikap cuek dan acuh seperti tidak ada terjadi apapun.


Setelah mengemudikan mobil selama lebih kurang setengah jam perjalanan karena macet beberapa kali, mobil yang dikemudikan oleh Danu berbelok masuk ke dalam perkarangan restoran yang sangat sangat bernuansa tradisional.


"Turun Frans" ujar Danu mengajak Frans untuk turun dari dalam mobil.


Mereka kemudian berjalan menuju dangau tangah sawah tempat mereka akan makan siang.


"Dan katanya dangau tangah sawah, ini namanya dangau tangah kolam ikan" ujar Frans protes kepada Danu atas penamaan nama tempat makan yang sekarang mereka kunjungi.


"Loe jangan banyak komen, emang ada nampak di sini sawah? Jangan ngadi ngadi" ujar Danu sambil mendudukkan pantatnya di lantai papan dangau tempat mereka duduk.


Para pelayan datang menghidangkan pesanan menu makan siang yang di pesan oleh Danu sejak tadi sebelum mereka menuju tempat tersebut. Hidangan itu masih panas dan sangat cocok di makan saat sekarang ini.


"Wow, iga bakar saos pedas manis. Gue suka" ujar Frans saat melihat menu makanan favorit dirinya terhidang di meja makan.


"Emang udah lama banget loe nggak makan ini?" tanya Danu saat melihat ekspresi Frans yang bersorak kegirangan saat melihat menu iga bakar saos padang yang tersaji di depan mereka saat ini.


"Udah lama banget. Gue nggak boleh makan ini kalau sama istri gue. Bisa di gantung nggak pake tali gue nanti" ujar Frans menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Danu kepada dirinya.

__ADS_1


"Hah? Kalau gitu nanti loe bisa dimarahi sama orang rumah loe Frans" ujar Danu dengan nada menyesal karena sudah memesan makanan yang sama sekali tidak boleh disantap oleh Frans.


"Nggak masalah santai aja" ujar Frans sambil mengambil iga bakar yang terhidang di depannya saat ini.


"Gue kalau loe kena marah, gue nggak akan tanggung jawab ya. Gue udah larang elo untuk makan itu" ujar Danu yang takut menjadi orang yang disalahkan oleh istri Frans karena Frans menikmati makan siang dengan menu iga bakar.


Frans menggeleng, dia sudah sibuk dengan menu favoritnya yang sudah sangat lama tidak dinikmati oleh Frans lagi. Menu yang ternyata sudah sangat lama ditunggu tunggu oleh Frans kapan dia bisa menikmati menu itu lagi.


Danu yang melihat bagaimana layaknya Frans menikmati menu iga bakar saos padang itu hanya bisa geleng geleng kepala saja. Dia tidak menyangka kalau Frans akan makan dengan sangat lahap dan sampai kalap seperti itu.


Dalam sekejap mata semua menu iga bakar yang berjumlah tiga porsi karena Frans sampai nambah dua kali itu sudah berpindah ke dalam perut Frans.


"Ini bener bener lezat" ujar Frans sambil mengusap mulutnya dengan serbet.


"Ini baru makan siang terlezat." lanjut Frans berkata dan diakhiri dengan sendawa yang lumayan besar bunyinya.


"Loe bener bener ya Frans. Bener bener menikmati makan siang loe kali ini kelihatannya" ujar Danu yang dapat melihat bagaimana bahagianya Frans saat menikmati begitu banyaknya menu iga bakar saos padang yang berpindah ke dalam perut Frans.


Frans yang mendengar nada serius dari cara berbicara Danu kembali mengarahkan perhatian dan keseriusannya kepada apa yang akan dibicarakan oleh Danu saat ini.


"Apa? Kelihatannya serius sekali" ujar Frans mengomentari cara berbicara Danu kepada dirinya.


"Lumayan serius Frans." jawab Danu.


Danu membetulkan posisi duduknya. Danu sedikit agak tegang dengan apa yang akan ditanyakan oleh dirinya kepada Frans. Frans melihat hal itu dengan sangat nyata. Danu bener terlihat seperti orang yang takut akan sesuatu yang sedang ada di dalam pikirannya.


"Apa yang loe takutkan Dan?" ujar Frans. "Gue melihat loe dalam keadaan takut saat ini. Ada apa?" ujar Frans bertanya kepada Danu yang memang terlihat sangat jelas sedang dalam keadaan takut


"Gue sedikit agak nggak paham dengan keadaan ini. Apa yang terjadi di sini sebenarnya." ujar Danu menjelaskan kepada Frans.


"Nggak ngertinya di bagian mananya?" lanjut Frans bertanya kepada Danu.

__ADS_1


Danu terdiam sesaat. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakan olehnya kepada Frans. Dia benar benar tidak mengerti dengan keadaan yang sedang terjadi saat ini. Benar benar tidak mengerti.


"Kok loe diam. Ada apa?" ujar Frans kembali bertanya kepada Danu.


"Gue kok rada rada tidak yakin kalau Ranti akan mau bercerai dengan gue Frans" ujar Danu mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.


"Maksud loe?" ujar Frans yang tidak mengerti kenapa Danu bisa mengatakan hal itu kepada dirinya.


"Ya. Ntah kenapa pikiran gue ke satu kemungkinan itu saja beberapa hari ini. Kemungkinan kemungkinan yang mengarah kepada satu pemikiran yaitu Ranti tidak akan dengan mudahnya mau bercerai dari gue" ujar Danu yang mengatakan pada akhirnya apa yang ada di dalam pikirannya itu


Frans menatap ke arah Danu. Frans sangat kaget mendengar Danu mengatakan hal itu.


"Loe kenapa? Kenapa pemikiran itu sampe datang menghantui elo?" ujar Frans bertanya kepada Danu.


"Itulah gue nggak tau, gue juga nggak ngerti kok pemikiran gue sampe ke sana" ujar Danu yang memang tidak mengerti kenapa dia bisa sampai berpikiran ke sana.


"Itu pemikiran loe aja Dan. Gue sangat yakin tu orang pasti sangat ingin bercerai dari elo. Biar dia bebas seperti burung" ujar Frans menjawab keragu ragunan Danu dalam kasusnya kali ini.


"Loe yakin ke gue deh. Loe akan cerai dengan dia. Sekarang yang paling penting bulatkan tekad loe. Yakinkan diri loe kalau perceraian itu pasti akan terjadi. Udah itu yang penting. Semua proses akan kita lalui." ujar Frans meyakinkan sahabatnya itu.


Danu melihat ke arah Frans. Dia memang sangat membutuhkan itu. Danu membutuhkan penekanan dari Frans. Danu tidak mau terjebak di dalam pemikirannya sendiri. Danu harus keluar dari pemikiran jeleknya itu.


Danu terdiam, Frans membiarkan Danu dalam diamnya. Frans hanya bisa meyakinkan Danu kalau dirinya tidak akan membiarkan Danu sendirian. Dia pasti akan menolong Danu keluar dari dalam permasalahannya yang sangat pelik ini.


"Udah lah loe bawa santai aja. Nanti kita habis sini karoke dulu aja. Kita bikin asik aja" ujar Frans menawarkan sesuatu yang sudah jarang mereka lakukan.


"Bener bawa Iwan dan Ivan sekalian" ujar Danu dengan sangat bersemangat untuk membawa dua sahabatnya yang sedang ditinggal di ruangan sambil mengerjakan pekerjaan yang nggak ada habis habisnya.


"Setuju, loe telpon. Kita tempat biasa aja. Tempat waktu kuliah dulu" ujar Frans menawarkan tempat kepada Danu.


"Setuju" ujar Danu.

__ADS_1


__ADS_2