Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Sarapan


__ADS_3

Mata Vina sedikit tidak mau terpejam. Dia masih ingat dengan kata kata dari Sari tadi. Tapi Vina juga tidak mau lagi terbuai dengan segala sesuatu yang terlihat indah ternyata pahit saat di telan.


Vina perlahan mulai memejamkan matanya. Dia tidak ingin larut dalam pemikirannya sendiri. Vina ingin semuanya berakhir dengan bahagia. Bukan dengan saling menyakiti seperti ini.


Pagi hari kota J diselubungi awak pekat berwarna hitam. Belum lagi angin berhembus dengan sangat kencangnya. Membuat orang orang malas beraktifitas. Vina yang sudah bangun sejak subuh membatalkan niatnya untuk mandi. Dia kembali masuk ke dalam selimut tebal.


Vina kembali memejamkan matanya. Suhu kamar semakin dingin akibat udara kota J yang sedang diselimuti awan hitam dan angin yang sangat kuat. Vina kembali masuk ke alam mimpinya. Dia benar benar ingin bermalas malasan aja di atas kasur. Vina melihat kedua sahabatnya juga masih tertidur. Mereka lebih parah lagi, tidak bangun bangun semenjak kepala mereka, mereka letakkan di atas bantal.


Sedangkan di kamar sebelah, Ivan sudah selesai membuat secangkir teh untuk dirinya dan secangkir kopi untuk Iwan. Dia juga sudah memesan room service untuk mengantarkan menu sarapan pagi langsung ke kamar.


"Bang kopi." ujar Ivan yang takut kopi milik Iwan akan segera dingin.


Iwan dengan sedikit malas terpaksa membuka matanya. Dia melihat asap kopi yang mengebul.


Ivan dan Iwan menikmati minuman pagi mereka dengan cara meniup niup agar segera dingin.


"Bener bener dingin udara Van." ujar Iwan.


"Iya Bang. Gue juga heran kenapa bisa sedingin ini sekarang. Padahal menurut ramalan cuaca, kota J tidak sedang dihinggapi musin hujan." kata Ivan yang sudah melihat ramalan cuaca kota J.


"Gara gara apa kali Van. Perubahan iklim dan efek rumah kaca. Sehingga semua musim berubah tidak menentu." ujar Iwan.


"Bisa jadi Bang." jawab Ivan.


"Apa Vina dan yang lain udah bangun ya?" Iwan teringat dengan tiga wanita yang berada di kamar sebelah.


"Sepertinya belum Bang. Sama tau ajalah dengaN Maya dan Sari, selagi ada kesempatan tidur maka mereka akan lanjut tidur. Apalagi ditunjang dengan hari dingin kayak gini. Apalagi seharian kemaren mereka terlihat sangat kecapekan." jawab Ivan.


Mereka kemudian berbincang bincang ringan. Ivan melihat layar ponselnya yang sama sekali tidak ada pesan atau chat dari Danu.


"Bang Danu ada nelpon kamu Bang?" tanya Ivan.


Iwan melihat ponsel miliknya.


"Nggak ada juga." ujar Iwan yang melihat tidak ada tanda tanda pesan chat yang masuk dari Danu ke ponsel miliknya.


"Mungkin dia kira kita beneran sedang kerja keras." jawab Iwan yang ingat alasan mereka ke kota C urusan pekerjaan.


Ting tong. Bunyi bel kamar yang dipencet seseorang dari luar. Ivan membuka pintu kamar. Dia melihat seorang pelayan membawa troli yang berisi sarapan untuk mereka di atasnya.


Ivan membawa sarapan mereka masuk ke dalam kamar. Ivan meletakkan sarapan itu di atas meja.


"Sarapan Bang." ujar Ivan.


Mereka berdua kemudian sarapan. Ivan memesan dua nasi goreng spesial dan dua gelas jus jeruk panas. Mereka menikmati sarapan itu. Di luar hujan deras masih membasahi bumi. Guntur menyambar dengan keras.


"Gue sekarang jadi yakin Van, kalau Vina pingsan waktu itu bener bener karena ulah Ranti. Lihat aja kemaren, kita seramai itu, dia tetap memaki Vina dengan sangat kasar. Apalagi saat kita tidak ada di tempat kejadian." ujar Iwan.


"Ya Bang. Gue jadi semakin yakin kalau memang Ranti penyebab Vina pingsan kemaren." kata Ivan yang mengingat semua kejadian yang menimpa Vina, kejadian yang mengakibatkan Vina harus masuk rumah sakit.


Selesai makan Ivan dan Iwan bergantian membersihkan badan. Mereka berdua menunggu panggilan dari kamar sebelah yang terlihat masih mati suri di jarum jam tangan yang sudah menunjukkan pukul sebelas pagi.

__ADS_1


"Tetangga kita tidur atau mati Van. Jam segini belum juga bangun" Iwan berkata sambil memainkan game di ponsel miliknya.


"Kelihatan masih tidur Bang. Kalau ndak udah ribut mereka itu." jawab Ivan yang tau tabiat dua orang dari mereka bertiga.


Saat Ivan dan Iwan asik bermain ponsel. Sebuah ketukan terdengar dari luar. Ivan membuka pintu kamar. Terlihat Maya dan Sari berdiri di depan pintu kamar mereka.


"Ada apa?" tanya Ivan menatap kedua wanita yang sama sama penting dalam hidupnya berdiri di depan dia dalam kondisi sama sekali belum mandi.


"Sayang udah pesan sarapan?" ujar Maya dengan wajah bantalnya.


"Udah." jawab Ivan dengan entengnya.


"Nggak mesanin buat kami bertiga?" tanya Maya kembali.


"Lupa." jawab Ivan.


"Oh ya lah." ujar Maya.


"Yuk Sar. Dia aja lupa mesanin makanan kita. Gue juga yakin kalau dia lupa nama gue." ujar Maya yang langsung berbalik dan masuk ke dalam kamar mereka.


Ivan menatap kedua wanita itu sedang marah besar karena tidak dipesankan sarapan. Ivan kembali masuk kedalam kamar. Dia menghubungi bagian restoran hotel, Ivan melakukan pemesanan makanan untuk kamar sebelah.


Sedangkan di kamar sebelah. Maya sedang ngamuk ngamuk.


"Katanya cinta. Pas urusan perut cinta luntur di makan cacing. Dasar pria otak kurang." ujar Maya memaki Ivan di depan Sari.


"Kalau bisa gue jitak kepalanya tadi gue jitak dia." lanjut Maya.


"Ada apa lagi dia Sar?" tanya Vina yang melihat Maya sudah berada di dalam selimut. Maya selalu seperti itu. Saat dia kesal, maka dia akan langsung masuk ke dalam selimut. Dia tidak akan keluar keluar lagi dari dalam selimut sampai rasa kesalnya itu hilang.


"Tadi kami ke kamar sebalah. Maya laper. Dia tanya ke Ivan udah sarapan atau belum. Jawab Ivan udah. Eeee tu anak langsung ngamuk ngamuk." ujar Sari menceritakan apa yang terjadi kepada Vina.


"Hahahahaha. Dia memang gitu Sar. Saat orang yang dicintainya mendadak tidak memperhatikan dia, wah dia akan langsung ngamuk kayak kuda. Makanya kadang gue juga heran sama tu anak. Ntah terbuat dari apa perasaannya." ujar Vina yang hanya bisa geleng geleng kepala karena tingkah aneh Maya.


Sedangkan Ivan yang merasa bersalah kepada Maya, menambah pesanan berupa cake coklat dari sebuah rumah coklat ternama di kota J. Dia juga menambah tulisan dengan coklat putih berbunyi "Maafkan Aku Sayang."


Sebuah bel berbunyi di kamar sebelah.


"Kamu ada manggil seseorang ke sini Sar?" tanya Vina yang merasa dia tidak ada meminta seseorang untuk datang ke kamarnya.


"Ndak." jawab Sari.


Vina menunjuk Maya dengan dagunya.


"Dia juga nggak." jawab Sari yang tau pasti kalau Maya juga tidak menghubungi seseorang dari tadi.


Roomboy kembali memencet bel pintu. Vina berjalan ke arah pintu. Dia juga penasaran siapa yang datang. Vina tidak mau repot mengintip melalui kaca kecil yang ada di pintu. Dia akan langsung menghadapi siapa orang yang datang.


Vina membuka pintu lebar lebar. Ternyata yang berdiri di depan adalah roomboy yang membawa makanan.


"Maaf ini dengan kamar Nona Maya?" tanya roomboy.

__ADS_1


"Benar. Nona Maya sedang tidur. Kenapa?" tanya Vina.


"Kami diminta oleh Tuan Ivan untuk mengantarkan makanan kepada Nona Maya dan juga kedua sahabatnya." ujar Ivan kemudian.


"Oh baiklah. Silahkan bawa ke dalam." ujar Vina.


Roomboy masuk ke dalam kamar. Sari menatap Vina.


"Permintaan maaf." ujar Vina mengatakan siapa yang telah memesan makanan untuk mereka.


Roomboy menata makanan di atas meja yang ada. Setelah itu mereka pamit keluar dan akan mengambil kembali semua peralatan makan di siang hari saat kamar akan dibersihkan.


"Maya. May. Maya." ujar Vina membangunkan Maya yang masih berusaha untuk tidur.


"May, itu ada permintaan maaf dari seseorang untuk loe. Kalau loe nggak mau. Gue sama sari yang akan habiskan." ujar Vina mencoba menggoyahkan keinginan Maya untuk tidur.


Maya tetap tak bergeming. Dia masih saja pura pura tidur. Vina yang kesal memberi kode kapada Sari untuk membangunkan Maya dengan cara kekerasan. Maya mereka tarik dan langsung terbangun dari tidurnya.


"Maksa banget." ujar Maya.


"Tuh makanan. Tapi loe laper." ujar Vina sambil tersenyum.


"Siapa yang pesan?" tanya Maya lagi.


"Permintaan maaf dari kekasih elo." kini giliran Sari yang menjawab pertanyaan Maya.


"Oooo. Akhirnya dia kembali mencintaiku." ujar Maya dengan sok polosnya.


Vina meraih bantal dan menimpuk wajah Maya dengan bantal itu.


"Jijik dengernya." ujar Vina dengan kesal.


"Hahahahahahaha." biarin aja.


Mereka akhirnya sarapan dengan menu makanann yang dipesankan oleh Ivan. Saat mereka sarapan itu pintu bel berbunyi sekali lagi.


"Loe buka sana." ujar Vina.


Maya dengan malas berdiri dari duduknya. Dia membuka pintu kamar. Ternyata di depan pintu telah berdiri pria yang tadi sempat membuat dia kesal. Pria itu menutup wajahnya dengan buket boneka, sedangkan sebelah tangannya lagi memegang kue coklat.


"Maafkan aku sayang." ujar Ivan.


Maya mengambil buket boneka dan juga kue coklat. Dia menatap Ivan dan menjulurkan lidahnya.


"Pria dilarang masuk kamar wanita. Sana balik kamar." ujar Maya.


Maya kemudian menutup pintu kamar tepat di depan hidung Ivan. Ivan hanya bisa geleng geleng kepala saja melihat tingkah Maya. Sedangkan Maya berdiri di balik pintu dan mencium berkali kali buket bonekanya.


Sari yang melihat merekam kejadian tersebut. Sari yakin Ivan sedang menerka nerka reaksi Maya bagaimana saat ini.


Sari kemudian mengirim video itu kepada Ivan. Ivan yang melihat sebuah pesan video masuk ke dalam ponselnya, melihat isi pesan itu. Betapa kagetnya Ivan saat melihat tingkah lucu Maya.

__ADS_1


"Maya maya gengsi pula tadi tuh. Padahal ternyata ekstrim." ujar Ivan.


__ADS_2