Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Pengurusan 3


__ADS_3

"Bang, menurut Abang, Bang Danu dapat ilham dari mana ya, sampai sampai dia mau ngurus surat cerainya dengan Ranti. Kita aja yang ngomong tiap hari nggak di dengerinnya. Malahan kita juga kan yang nemani dia waktu ngikutin Ranti selingkuh. Ee ee ee sekarang dengan tiba tiba, dia ngajuin perceraian. Kesambet setan apa dia bang" kata Ivan sambil melihat ke langit langit kamarnya. Ivan sebenarnya senang dengan keputusan Danu. Tapi di satu sisi Ivan pengen tahu apa alasan Danu, kok bisa sampai mau mengurus surat perceraian dengan Ranti.


"Kesambet setan Vina kayaknya Van" jawab Iwan sambil menahan tawanya. Iwan sangat yakin kalau Danu mau mengurus perceraiannya karena Vina yang kembali memberikan kesempatan kedua kepada Danu.


"Gue rasa karena Vina sudah memaafkannya Van. Lagian juga udah saatnya Danu membebaskan diri dari Ranti. Kasihan Deli yang harus berpisah dengan Ayahnya. Padahal kita sama tau kan ya, bagaimana Deli begitu dekatnya dengan Danu." jawab Iwan sambil melakukan hal yang sama dengan Ivan.


"Iya juga ya Bang. Untung juga saat itu Ranti ngelabrak Vina ke rumahnya. Kalau nggak tentu Danu nggak akan merasa kehilangan Vina. Sekarang akhirnya Danu bisa terlepas dari jeratan Ranti" ujar Ivan setuju dengan pendapat Iwan. Ivan juga yakin kalau Vina lah menjadi faktor utama Danu ingin bercerai dengan Ranti.


"Kalau gitu, kita pulang besok aja Bang. Biar masalah ini cepat selesai. Kasihan gue kalau Danu harus berlama lama dengan masalahnya ini" kata Ivan yang semangat akan membantu Danu mencari kembali semua bukti bukti perselingkuhan Ranti dengan beberapa pria.


"Yup, gue setuju kita pulang besok. Tapi ngomong dulu sama ayah sana. Mana tau Ayah juga mau pulang sekalian bareng kita" kata Iwan meminta Ivan untuk mengatakan kepada Ayah, kalau mereka akan pulang besok ke negara I.


"Oke sip. Gue ke kamar Ayah dulu" ujar Ivan yang langsung bangkit dari tidurnya.


Ivan menuju kamar Ayah. Sedangkan Iwan merapikan pakaiannya ke dalam koper. Kalau diizinkan Ayah, maka mereka akan kembali besok pagi ke negara I.


Vina yang baru pulang dari perusahaan larut malam, duduk di sofa ruang tamu. Dia menenangkan pikirannya di sana terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kamar.


"Bik Ina, apa Maya udah pulang dari kafe?" tanya Vina yang terlihat sangat lelah hari ini.


"Sudah Nona. Nona Maya berada di kamarnya." ujar Bik Ina mengatakan kepada Vina kalau Maya sudah berada di kamar.


"Makasi Bik" ucap Vina.


Vina bangkit dari duduknya. Dia benar benar lelah hari ini. Vina kemudian berjalan menuju kamarnya yang terletak di lantai dua rumah itu. Vina berjalan sambil memegang anak tangga, kepalanya sedikit terasa pusing, karena seharian ini Vina memaksa dirinya untuk melihat ke layar laptop seharian penuh.


Tok tok tok, Vina mengetuk pintu kamar Maya. Maya yang baru saja selesai membasuh wajahnya menatap ke arah Vina saat dia membuka pintu kamarnya


"Loe baru pulang?" tanya Maya saat melihat Vina yang masih memakai pakaian yang dipakainya tadi pagi.


"Gue habis menyiapkan semua laporan pekerjaan gue May. Ini baru siap." kata Vina sambil bersandar ke dinding kamarnya.


"Oh ya loe besok ke pasar subuh?" lanjut Vina bertanya kepada Maya.


"Rencananya sih iya. Besok mau ke pasar subuh. Emang kenapa Vin?" ujar Maya yang tumben tumben nya Vina menanyakan apakah dia akan ke pasar subuh atau tidak besok.


"Gue ikut ya. Tapi loe bangunin gue. Takutnya gue nggak kebangun terus gagal ikut ke pasar pagi sama loe" kata Vina yang tumben tumben nya minta ikut ke pasar pagi.


"Yakin loe mau ikut? Nggak takut capek loe nanti?" tanya Maya yang ingin memastikan kalau Vina beneran mau ikut ke pasar pagi.


"Beneran May. Gue besok nggak kantor. Gue pengen rehat dari rutinitas kantor dulu"


Vina memastikan kepada Maya kalau dia beneran mau ikut ke pasar pagi besok. Vina sudah lama tidak menghirup udara pagi. Vina ingin merasakan udara pagi di negara U.


"Oke. Besok gue bangunin elo" ujar Maya yang sudah paham kalau Vina dalam keadaan lelah menghadapi rutinitas kantor.


"Makasi Maya cantik. Aku bobok dulu ya. Kamu juga bobok cantik sana." kata Vina sambil berbalik membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


"Semenjak dan semenjak dia menjadi semenjak" ujar Maya sambil geleng geleng kepala melihat kelakuan Vina yang semakin ke sini semakin bahagia.


"Danu dan Deli membawa dampak positif untuk sahabat gue. Gue ikut senang, walaupun gue sempat membenci Danu" kata Maya sambil menatap ke pintu kamar Vina yang sudah tertutup rapat.


Maya kemudian masuk ke dalam kamarnya. Dia juga akan beristirahat. Besok subuh dia harus berangkat ke pasar subuh. Rutinitas wajib yang harus dijalani oleh Maya setiap harinya. Tetapi tidak membuat Maya menjadi bosan, karena Maya menikmati setiap proses yang diberikan Tuhan kepada dirinya.


Ivan yang selesai mengobrol dengan Ayah kembali ke kamar. Dia sudah mengatakan kepada Iwan kalau besok mereka akan pulang pagi. Ayah juga akan ikut pulang ke negara I. Ayah mau membiarkan Danu mengurus semua yang menyangkut dengan perceraian antara dirinya dengan Ranti.


Ivan kemudian mengambil ponsel miliknya. Dia harus memberitahukan kepada Maya, kalau dia tidak bisa mengantar Maya besok ke pasar pagi.


Ivan memencet nomor ponsel Maya. Dia menunggu sampai Maya mengangkat telponnya. Maya yang sebenarnya sudah sangat mengantuk, mencoba meraih ponselnya yang sedang di charger itu. Dia melihat ternyata Ivan yang menghubunginya.


"hallo sayang, ada apa?" tanya Maya saat dia baru saja mengangkat panggilan dari Ivan.


"Sayang, maaf sebelumnya ya. Besok aku nggak bisa nemanin kamu ke pasar pagi lagi" ujar Ivan memulai ceritanya kepada Maya.


"Hah? Kenapa! Kamu sakit?" tanya Maya bertubi tubi kepada Ivan. Maya takut kalau Ivan mendadak sakit.


"Nggak sayang, aku sehat sehat aja kok. Cuma besok aku harus kembali ke negara I." kata Ivan mengatakan alasan kenapa dia besok tidak bisa mengantar Maya ke pasar pagi.


"Tapi seminggu ini baru hari kamis." ujar Maya melihat kalender di ponselnya.


"Ada kerjaan yang nggak bisa aku tinggalin lagi sayang. Ayah juga pulang besok pagi" kata Ivan kepada Maya.


"Oh Oke sayang, nggak apa apa. Besok berangkat jam berapa?" tanya Maya yang berharap masih bisa mengantarkan Ivan ke bandara.


"Jam sebelas sayang. Kami akan terbang jam sebelas. Kenapa?" tanya Ivan yang sebenarnya sedih untuk berpisah dengan Maya.


"Kamu tunggu aku di kafe aja. Nanti di jemput ke sana." kata Ivan memberikan solusi.


"Oke aku tunggu di kafe. Biar nanti yang belanja Vina dan Rina" ujar Maya sambil menatap langit langit kamarnya karena bersedih Ivan tidak bisa lama lama di negara U.


"Loh Vina emang nggak ke perusahaan besok?" tanya Ivan yang heran kok bisa Vina besok ke pasar pagi dengan Rina.


"Nggak. Katanya dia besok libur. Vina aja baru pulang jam sepuluh tadi" ujar Maya memberitahukan kalau Vina lembur semalam.


"Oo oo oo. Ya udah. Besok kamu langsung ke kafe aja. Biar Vina yang belanja dengan Rina. Kamu jangan lupa ngasih catatan ke Vina. Takutnya nanti Vina nggak tau lagi apa yang mau dibelinya" ujar Ivan mengingatkan Maya untuk menulis apa saja yang harus dibeli Vina di pasar.


"Siap sayang, aku buat dulu catatannya ya. Kamu mending beresin koper dulu, dari pada ada yang ketinggalan jadi susah nanti" kata Maya meminta Ivan untuk merapikan semua pakaiannya ke dalam koper.


Maya kemudian mencatat semua bahan bahan yang harus dibeli oleh Vina dan Rina di pasar pagi. Maya akan memberikan kepada Vina besok pagi saja sesaat sebelum Vina pergi dengan Rina.


Setelah selesai mencatat apa apa saja yang harus dibeli, Maya melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda gara gara telpon dari Ivan. Sedangkan Ivan juga sama, dia juga tertidur di kamar, semua pakaian sudah dimasukkan ke dalam koper miliknya.


Sedangkan di negara I. Danu yang baru saja sampai di rumah langsung duduk di sofa ruang tamu. Bibik yang melihat Tuannya sedang duduk dengan pose seperti itu datang mendekati Danu dengan membawa segelas jus jeruk peras.


"Ini Tuan, jus jeruknya. Sekalian dengan puding jeruknya." ujar Bibik sambil menaruh jus jeruk dan puding jeruk ke atas meja.

__ADS_1


"Makasi Bik" ujar Danu.


Danu mengambil ponsel miliknya. Sehari ini hanya pas pagi hari saja Vina mengirim pesan chat kepada Danu.


"Kayaknya kamu kecapekan dan sibuk banget sayang. Makanya kamu nggak sempat mengirim pesan ke aku" kata Danu kembali memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku jas.


"Mending kasih tau Papi dulu."


Danu baru ingat belum memberitahukan kepada kedua orang tuanya kalau dia akan menggugat cerai Ranti. Danu menekan nomor ponsel milik Papi. Dia menunggu beberapa saat.


"Hallo Dan, ada apa?" tanya Papi saat Papi baru mengangkat panggilan telpon dari Danu.


"Ini Pi, ada yang mau Danu kasih tau kepada Papi dan Mami" ujar Danu


"Apa nak? Papi cari Mami bentar ya. Biar kami berdua langsung denger beritanya dari kamu" kata Papi.


Papi kemudian berjalan masuk ke dalam rumah mencari Mami. Ternyata Mami sedang sibuk di dapur memasak makanan yang akan dihidangkan untuk makan malam.


"Mami, sini bentar, Danu mau ngomong" ujar Papi meminta Mami untuk mendekat ke arahnya.


"Hallo Dan, ini Mami udah sama Papi. Apa yang mau kamu omongin nak?" tanya Mami sambil memandang Papi


Papi mengangkat bahunya. Papi tidak tau apa yang akan diceritakan oleh Danu kepada mereka berdua.


"Mami, Papi, Danu tadi sudah bertemu dengan Frans. Danu sudah menceritakan tentang masalah pernikahan Danu kepada Frans." ujar Danu memulai ceritanya kepada Papi dan Mami.


"Danu sudah meminta kepada Frans untuk membantu Danu menggugat cerai Ranti" kata Danu.


Papi dan Mami tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Danu. Mereka berdua sangat bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh Danu.


"Danu, kami berdua senang kamu akhirnya mengambil langkah itu. Papi dan Mami sangat mendukung sayang." ujar Mami menjawab perkataan dari Danu tadi.


"Papi dan Mami doakan saja ya, semoga keputusan yang aku ambil ini adalah keputusan yang paling tepat. Aku udah nggak sanggup lagi menjalani pernikahan seperti ini"


"Walaupun ini keputusan sudah telat aku ambil, tapi biarlah telat dari pada aku menyesal di akhir" ujar Danu.


Danu sangat senang kedua orang tuanya mendukung semua keputusan yang diambil oleh Danu.


"Papi, Mami gimana dengan Deli, apa dia udah sehat? Maaf aku nggak pulang lagi hari ini" ujar Danu yang ingat dengan anak semata wayangnya yang sedang sakit ditinggalkan waktu itu.


"Udah sembuh kayaknya. Tu sekarang dia sedang main di taman belakang. Kamu urus aja itu dulu, Deli biar kami yang jaga seperti biasa" ujar Mami yang ingin Danu fokus dengan urusan perceraiannya.


"Bener Dan, kamu fokus aja dengan perceraian kamu. Deli jangan dicemasin, kami berdua akan merawat dia dengan sangat baik" papi menambahkan pesan untuk Danu.


"Makasi Pi, Mi. Danu istirahat bentar ya" ujar Danu yang merasa badannya sangat lelah hari ini.


"Baik Nak. Jaga kesehatan, kalau kamu ragu dengan langkah selanjutnya, kamu bisa minta saran dari paman kamu" kata Papi mengingatkan Danu untuk minta tolong kepada adiknya yang sekarang menjadi presiden direktur di perusahaan.

__ADS_1


"Sip Papi. Kalau aku kebentur akan minta tolong Paman" kata Danu


Danu mengakhiri telponnya dengan Papi. Dia kemudian menghabiskan jus jeruknya dan membawa puding ke kamar. Dia akan istirahat sebentar sebelum melihat CCTV beberapa bulan ke belakang. Danu harus mengambil rekaman yang memperlihatkan kelakuan Ranti saat di rumah.


__ADS_2