Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Danu


__ADS_3

Danu sangat takut kalau Vina kembali marah. Danu baru merasakan bebannya sedikit terangkat saat Vina sudah mau mengangkat panggilan telpon dari dirinya dan membalas pesan chat dari dirinya. Makanya Danu sangat menjaga perasaan Vina. Segala hal yang Vina katakan karena kejadian yang lalu, tidak digubris dan ditanggapi oleh Danu. Danu hanya minta maaf saja sebagi jawabannya atau balasan pesan chat tersebut.


Danu merebahkan kembali badannya. Dia melihat masih jam empat pagi. Masih ada dua jam lagi untuk dia menikmati istirahatnya. Nanti jam delapan paling lambat dia sudah harus mulai memeras otak dan tenaga kembali.


Sedangkan di negara Untuk, Vina dan Sari sudah pergi meeting keluar perusahaan. Mereka akan meeting sampai sore.


"Nona Maya, apa masih ada lagi barang barang yang mau datang?" tanya Pak Hans kepada Maya yang sedang duduk memijum jus jeruk miliknya.


"Masih ada Pak Hans. Tadi aku membeli barang barang untuk membuat coffe. Kata pemilik toko, semuanya barang sudah di kirim kemari" ujar Maya menjawab pertanyaan Pak Hans.


Pak Hans kembali ke tempat para karyawan yang sedang duduk sambil melihat salah satu karyawan menulis daftar menu memakai kapur warna putih. Tulisan karyawan itu sangat rapi dan indah. Maya sengaja meminta karyawannya yang bisa menulis dengan indah untuk menulis daftar menu di papan tulis berwarna hitam yang dibelinya di negara I.


Karyawan telah menyelesaikan menulis di dua papan tulis besar. Beberapa karyawan pergi menaruh papan tulis itu di tempat yang terlindung dari panas dan hujan.


Maya yang sudah tidak merasakan letih lagi berjalan keluar kafe. Dia sangat puas dengan penataan kafe dua lantai itu. Maya mengambil ponsel miliknya. Dia mengambil fhoto keadaan kafe dari berbagai sudut pengambilan gambar. Setelah itu Maya mengirimkan hasil jepretannya kepada Ivan, Vina dan Maya.


Vina dan Maya yang baru selesai meeting melihat ponsel milik mereka masing masing. Mereka sangat kaget dengan kemajuan Kafe. Fhoto fhoto yang dikirimkan oleh Maya membuat Vina dan Sari berkeinginan untuk ke kafe sekarang juga, padahal rencananya besok baru mereka berdua akan ke kafe setelah makan siang.


"Kita kesana yuk Vin. Penasaran gue dengan tampilan aslinya. Kalau di fhoto wow banget" ujar Sari yang sangat penasaran dengan keadaan kafe yang sebenarnya, bukan melalui fhoto yang dikirim oleh Maya barusan.


"Yuk. Gue juga penasaran. Tu anak maren nggak mau cerita ke gue. Eeee paginya dia molor sampe gue berangkat kantor nggak bangun bangun. Ntah jam berapa tu anak bangun, gue juga nggak tau" ujar Vina yang menyetujui untuk pergi ke kafe melihat suasana kafe yang sebenarnya.


Sari kemudian menyetir mobil menuju arah kafe. Mereka berdua tidak sabaran lagi untuk melihat dan menyaksikan dan merasakan keadaan kafe yang sebenarnya.


Sedangkan Ivan di negara I sedang serius bekerja mendapatkan notifikasi dari Maya. Ivan membuka pesan chat itu, Ivan melihat sesuatu yang dikirimkan oleh Maya.


'Sayang ini wow. Kafe nya keren banget. Aku pengen ke sana' ujar Ivan membalas pesan chat yang dikirim oleh Maya kepada dirinya.


'Sinilah sayang. Aku pasti sangat senang dan bahagia kalau kamu mau ke sini' Maya membalas pesan chat yang dikirim oleh Ivan.


'Tunggu aku di situ oke' balas pesan chat yang ditulis oleh Ivan.


'Gaya kamu sayang. Oh ya, aku grand opening kafe hari senen, aku antusias banget sayang. Tapi aku ragu, apakah kafe aku akan ramai atau tidak' tulis Maya mengirim pesan chat kepada Ivan.


'Sayang, dulu kamu selalu mengatakan kepada aku, di mana ada niat di situ ada keberhasilan' balas chat dari Ivan yang berisi pembakar semangat untuk Maya supaya tidak pesimis menghadapi pertempuran di kafe miliknya.


'Aku lanjut kerja dulu ya. Rencana mau lembur dua hari ini' Ivan memberitahukan kepada Maya kalau dia memang ada lembur dua hari.


'Kok? Dikejar target sayang?' tanya Maya yang sebenarnya paling tidak suka mendengar Ivan yang harus lembur mengerjakan tugas kantornya.


'Iya sayang, aku di kjar target, makanya harus lembur' balas Ivan.


'Oh ya udah. Terpenting jangan lupa makan dan beristirahat. Aku nggak mau kamu sakit, aku jauh' ujar Maya mengirim balasan kepada Ivan.


'Aman itu sayang' balas Ivan yang juga tidak mau membuat Maya terlalu mencemaskan dirinya.


Maya kemudian berjalan menuju bagian outdoor kafe. Tetapi langkahnya terhenti saat mendengar suara mobil masuk ke dalam area kafe. Maya melihat ke arah mobil tersebut, tetapi dia sama sekali tidak mengenal mobil yang datang.


"Siapa coba" ujar Maya masih menatap mobil yang masuk ke dalam area kafe.


"Erik, tolong bilang orang yang datang itu, kalau kafe kita belum buka sekarang, tapi buka hari senen" ujar Maya meminta Erik untuk mengatakan kepada pengunjung itu kalau kafe sama sekali belum buka.


Erik berjalan menuju mobil. Tetapi Vina dan Sari sudah duluan turun dari dalam mobil. Maya melihat siapa yang datang dan berusaha menahan tawanya. Maya sama sekali tidak menahan Erik untuk tidak menyuruh Vina dan Sari kembali pulang.


"Maaf Nona, kafe kami baru buka senen. Silahkan datang kembali senen Nona" ujar Erik kepada Vina dan Sari.


Vina dan Sari melihat Maya yang sudah menahan tawanya itu.


"Maya" teriak Vina dengan keras.


"Hahahahaha. Siapa suruh datang nggak ngasih kabar. Gue kira tamu kan akhirnya" ujar Maya membela diri atas perlakuan dia kepada Vina dan Sari.


Maya kemudian menuju tempat Vina dan Sari berdiri.


"Erik, mereka juga bos kamu, silahkan kenalan dengan mereka berdua" ujar Maya meminta Erik untuk berkenalan dengan Vina dan Sari.


"Maafkan saya Nona. Perkenalkan nama saya Erik." ujar Erik memperkenalkan dirinya.


"Saya Vina, yang satu itu lagi Sari" ujar Vina menyebutkan namanya dan nama Sari.


"Saya pamit dulu Nona" ujar Erik yang kembali lagi masuk ke dalam kafe. Para karyawan di dalam di tambah dengan Pak Hans sedang menyusun piring dan yang lainnya di kafe tambah lagi dengan barang barang dan alat alat masak yang baru datang, membuat suasana dapur terlihat ramai dan acak acakan kembali.


"Emang udah selesai meeting Vina, Sari?" tanya Maya kepada kedua sahabatnya itu. Maya mengetahui kalau Vina dan Sari ada meeting di luar dari Pak Hans yang berencana akan mengantarkan ke dua wanita itu pergi meeting.


"Baru siap pas loe ngirim fhoto fhoto kafe. Jadi, kami penasaran makanya datang kemari. Pengen nengok aslinya." ujar Sari yang matanya sudah kemana mana melihat kafe yang sangat keren itu. Kafe yang disukai oleh anak muda.


Sari kemudian mengeluarkan ponsel miliknya. Dia akan merekam dan mengambil gambar gambar kafe. Sari berencana untuk bikin konten kafe Maya sebelum di buka senen.


Sari melakukan konten di kafe milik Maya dan Vina serta ada juga saham Sari walaupun hanya sedikit. Maya dan Vina membiarkan saja Sari melakukan konten di kafe itu, bagi mereka dengan Sari mengambil konten di kafe, maka kafe aka menjadi lebih terkenal karena subscriber Sari yang sudah luar biasa banyak itu.


Vina dan Maya tidak mengikuti Sari yang berjalan kemana mana sambil merekam sendiri semua aktifitasnya. Vina dan Maya lebih memilih masuk ke dalam kafe dan melihat karyawan yang sedang bekerja menyusun semua semua barang barang yang harus diletakkan di dapur dan bagian bar tempat membuat kopi dan minuman.


"Hay semua kenalin ini owner kalian yang lain namanya Vina" ujar Maya memperkenalkan Vina kepada karyawan laki laki yang lain.


"Yang itu namanya Derik dan yang ini Hendri. Hendri menjadi kepala karyawan di sini Vin. Karena, dia memiliki pengalaman kerja yang cukup di beberapa kafe di daerah sini" ujar Maya menjelaskan kepada Vina tentang karyawan karyawan kafe mereka.

__ADS_1


"Apa nggak ada karyawan perempuannya May?" tanya Vina saat melihat yang ada di kafe adalah karyawan pria saja.


"Adalah, tapi belum datang. Mereka akan datang minggu. Lagian gue juga ngajak Rina untuk membantu gue masak di sini. Nggak apa apa kan Vin?" tanya Maya kepada Vina yang berkeinginann untuk membawa Rina bekerja di kafe mereka.


"Nggak apa apa. Lagian kerjaan di rumah juga dikit. Mending Rina bantu bantu di sini" ujar Vina yang setuju dengan ide Maya.


Setelah melihat area dapur dan bagian dalam kafe. Vina dan Maya menuju bagian rooftop kafe. Vina melihat pemandangan yang sangat menjanjikan diberikan oleh kafe mereka saat malam hari.


"Ini pasti keren kalau malam May. Apalagi loe nambahin lampu lampu di sini. Gue yakin anak muda sini akan sangat senang berada di kafe kita saat malam hari" ujar Vina memuji kepandaian Maya dalam mendekor kafe.


Setelah puas di bagian rooftop mereka kemudian kembali turun dan menuju kafe bagian outdoor. Dimana pada bagian ini di letakkan meja berkaki rendah dan bantal bantal besar dengan batu batu putih sebagai alasnya. Ada juga meja kecil dengan karpet bulu tebal sebagai alasnya.


Keindahan kafe makin semarak dengan ornamen ornamen yang didatangkan langsung dari negara I. Belum lagi lukisan lukisan yang di pasang di dinding. Kafe mereka benar benar terlihat sangat kekinian.


"Itu rak rak untuk apa May?" tanya Vina saat melihat masih ada rak rak kosong.


"Itu akan gue tarok buku buku yang menggambarkan negara kita Vin. Jadi, siapa yang sudah membaca buku itu tertarik untuk pergi ke negara kita" ujar Maya yang juga mempromosikan negaranya melalui buku kepada warga negara U.


"Itu tanah yang lapang sedikit itu untuk apa?" tanya Vina yang melihat ada sedikit kawasan yang tidak terdapat meja dan kursi kursi di sana.


"Oooo itu untuk penampilan live music dan juga untuk tempat nobar. Sengaja gue tarok di situ agar pengunjung yang di dalam juga bisa melihat yang tampil." ujar Maya menjelaskan kepada Vina.


Vina dan Maya kemudian duduk di bantal bantal besar yang berada di bawah pohon yang cukup membuat orang yang duduk di bawahnya terlindungi panas matahari.


"Loe bener bener mendesain semuanya dengan maksimal dan keren May. Gue yakin kafe kita akan ramai nanti saat dibuka." uajr Vina memuji hasil karya Maya.


"Semoga ajalah Vin. Dengan tampilan kafe dan rasa masakan kita, para pengunjung tertarik untuk datang" ujar Maya dengan sangat antusias.


"Vin, loe pulang dengan Maya dan Pak Hans ya. Gue harus jemput Juan ke bandara." ujar Sari sambil tergesa gesa.


"Oke. Loe hati hati ya" ujar Vina menjawab perkataan Sari.


"Jadi, mereka tinggal serumah Vin?" tanya Maya kepada Vina.


"Yup. Tapi biarkan saja. Kita tidak boleh mencampuri urusan orang lain tanpa diminta" ujar Vina kepada Maya. Vina mengingatkan Maya kalau setiap orang memiliki privasi masing masing yang tidak harus dibagi dengan sahabat sekalipun.


Maya mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Vina. Maya juga tidak berminat untuk ikut campur urusan pribadi Sari.


"Pulang yuk capek gue" ujar Vina mengajak Maya untuk pulang.


"Oke. Gue bilang yang lain dulu. Sekalian ke Pak Hans" ujar Maya.


Maya kembali masuk ke dalam kafe. Dia memberitahukan kepada karyawannya kalau dia akan pulang. Pak Hans pun sudah menuju mobil. Vina dan Maya masuk ke dalam mobil. Mobil melaju menuju rumah. Vina dan Maya tertidur sepanjang perjalanan pulang. Mereka benar benar lelah dua hari ini.


Vina dan Maya menuju kamar masing masing. Mereka akan membersihkan badan dan menukar pakaian dengan pakaian bersih. Setelah tiu barulah mereka berdua akan turun ke lantai satu rumah untuk menikmati makan malam. Sehabis makan malam Vina dan Sari berencana untuk beristirahat. Mereka benar benar lelah.


Danu yang terlihat sangat bahagia keluar dari dalam ruangannya menuju tempat Ivan dan Iwan yang sedang bekerja. Danu keluar ruangan sambil bersiul siul, suatu hal yang sudah lama tidak dilakukan oleh Danu. Semenjak Vina pergi dari hidupnya.


"Makan siang keluar yuk. Gue yang traktir" ujar Danu dengan nada bahagia yang tidak bisa disembunyikan oleh dirinya saat ini.


"Loe kelihatan sangat bahagia Bang? Apa yang terjadi?" tanya Ivan yang melihat bintang bintang kebahagiaan berpendar dari wajah Danu.


"Iya Dan. Gue setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ivan. Loe terlihat sangat bahagia sekali. Apa yang terjadi? Penasaran gue jadinya" ujar Iwan yang juga dapat melihat dengan jelas kebahagiaan yang sedang didapati oleh Danu.


"Loe menang lotre Bang?" ujar Ivan menebak dasar kebahagiaan Danu yang tidak bisa disembunyikan lagi oleh Danu dari kedua sahabatnya sekaligus rekan kerjanya itu.


"Intinya sekarang gue sedang bahagia. Nanti gue ceritain. Kalian udah makan atau belum?" tanya Danu sekali lagi kepada kedua rekan kerjanya itu.


"Belumlah. Dari tadi nih ya yang ditengok cuma laptop kertas laptop kertas. Belum ada nengok nasi dan lauknya" ujar Ivan yang selalu mendramatisir keadaan sepuya terlihat sempurna.


"Pinter banget loe ngomong. Padahal snack loe aja tu berserakan di meja" ujar Danu menunjuk bungkus snack yang dimakan Ivan dari tadi saat dia baru mulai kerja.


"Beda Bang. Nasi dan snack. Orang negara kita kalau belum makan nasi itu namanya belum makan" ujar Ivan menjawab perkataan Danu.


Sangat jarang antara Danu dan Iwan bisa menang melawan Ivan saat berdebat. Apalagi debat ngasal seperti saat sekarang ini. Maka sudah bisa dipastikan Ivan pemenangnya.


"Udah debatnya atau masih mau lanjut Van?" tanya Iwan kepada Ivan.


"Kalau masih, loe lanjut sendiri aja. Sedangkan gue dan Danu pergi duluan ya. Kami lapar" ujar Iwan sambil pergi keluar dari dalam ruangan.


"Jadi, kalau loe berdua pergi gue debat sama tembok gitu?" tanya Ivan kepada mereka berdua yang telah berjalan meninggalkan ruangan.


"Sama angin juga boleh Van" jawab Iwan dari luar.


"Sarap loe Bang" sambar Ivan secepat kilat.


Ivan mengambil ponselnya. Dia nggak mau makan siang sendirian. Ivan mengejar Iwan dan Danu yang telah jalan terlebih dahulu.


"Makan dimana Bang?" tanya Ivan kepada Danu dan Iwan.


"Nasi kapau" jawab Danu yang memang sangat ingin menikmati makanan asli daerah sumbar itu.


Danu ingin menikmati makan enak dan porsi besar. Makanya, Danu memilih untuk makan nasi kapau.


Mereka bertiga masuk ke dalam mobil Danu. Iwan duduk di bangku sebelah sopir. Sedangkan Ivan membuka pintu belakang. Danu hanya geleng geleng kepala saja melihat kelakuan dua staffnya yang menjadikan dirinya sopir mereka.

__ADS_1


Danu kemudian duduk di kursi pengemudi. Dia menatap ke arah Ivan dan Iwan yang telah duduk dengan santainya.


"Kalian beneran lah ya berdua. Makan gue yang bayar, eeee sekarang bawa mobil gue lagi. Jadi loe berdua numpang perei aja gitu?" ujar Danu kepada kedua staffnya yang cengengesan mendengar apa yang dikatakan oleh Danu.


"Sekali sekali Bang" jawab Ivan dari belakang.


"Hem" balas Danu menjawab apa yang dikatakan oleh Ivan.


Danu memilih untuk tidak melayani obrolan Ivan, karena tipe Ivan kalau dilayani akan ngobrol terus.


"Wan, loe inget ndak waktu pertama kali Ivan datang ke perusahaan?" tanya Danu kepada Iwan tentang kedatangan Ivan untuk w prtama kalinya.


"Ingetla Dan. Nggak bakal gue lupa. Dia datang dengan wajah lugunya. Ngomong ala kadarnya. Bener bener hemat. Eeee ternyata dan ternyata sekarang dia seperti petasan yang nggak akan berhenti berbunyi kalau belum habis bahan" ujar Iwan menjawab pertanyaan Danu dengan jawaban yang panjang.


"Alah Bang, harusnya loe bersyukur gue ada. Kan jadinya perselingkuhan istri loe gue yang ngungkapin. Walaupun ya sampe sekarang masalah itu nggak juga kelar" balas Ivan dari belakang, memukul telak Danu.


"Hahahahahaha. Balasan loe keren Van. Gue nggak nyangka itu lu jadikan serangan balik ke Danu" ujar Iwan yang sekarang tidak jelas di posisi siapa.


"Kami males sama loe wan" ujar Ivan dan Danu kompak.


Iwan menutup telinganya. Kedua orang ini berniat membuat dia menjadi budeg karena berteriak tepat di telinga Iwan.


Mobil berbelok masuk ke parkiran sebuah rumah makan yang bernama Warung Kapau. Danu memarkir mobilnya tepat di depan warung tersebut. Mereka bertiga kemukemudian keluar dari dalam mobil. Mereka masuk ke dalam warung nasi Kapau.


"Ka makan jo apo da?" ujar pelayan di warung itu dengan bahasa minang yang masih bisa dimengerti oleh para tamu yang datang.


Mereka sengaja tidak memakai bahasa negara I karena ingin melestarikan dan memperkenalkan bahasa daerah mereka.


"Tambunsu ciek da" ujar Danu yang memang sedang ingin makan usus sapi yang di alamnya di isi tahu dan telur.


"Dendeng masiak da" ujar Iwan.


"Awak, gulai babek da jo tunjang" ujar Ivan yang memilih makan dengan dua sambal.


"Ado tambahan da, karupuak jangek baku ah bagai?" ujar pelayan.


"Yup duo piring da" ujar Danu.


Danu, Ivan dan Iwan kemudian memilih duduk di tempat yang pemandangannya cukup bagus yaitu jalan raya. Mereka menunggu pesanan datang. Seorang pelayan datang mendekati mereka bertiga.


"Ka pasan minum apo da?" ujar pelayan kepada mereka bertiga.


"Teh es tigo" jawab Danu.


Pelayan kemudian kembali ke tempat dia bekerja. Pelayan membuatkan tiga gelas es teh yang dipesan oleh Danu.


Makanan yang dipesan oleh Danu, Ivan dan Iwan akhirnya datang. Begitu juga dengan tiga gelas es teh. Mereka bertiga kemudian menyantap makanan itu dengan lahap.


"Enak Bang dari pada di tempat biasa. Ini bisa jadi rekomendasi makan siang kita" ujar Ivan yang merasakan kalau rasa masakan di sini sangat enak.


"Porsinya porsi kuli banget. Tengok aja tuh segunung" ujar Iwan.


"Segunung tapi kering loe bikin Bang" ujar Ivan menyindir Iwan.


"Laper mana enak lagi. Jadi sayang untuk dibuang." kata Iwan kepada Ivan.


"Jadi, dia masih belum tau Vin, kalau kita beda negara dengan dia?" tanya Maya kepada Vina.


"Nggak. Menurut dia kita pindah kota aja. Bukan pindah negara" jawab Vina sambil memotong motong telur dadar untuk nasi goreng.


"Yah masih tetap ogeb dia ampe sekarang. Gue kira dia udah pinter" ujar Maya yang baru tau kalau Danu masih belum mengetahui Vina dengan Danu sudah berbeda negara.


" Gimana lagi. Do'ain aja dia tau sendiri, bukan tau dari orang lain" ujar Vina.


Vina berkeinginan kalau Danu mengetahui keberadaannya di mana dengan mencari sendiri bukan diberitahukan oleh orang lain. Vina ingin melihat bagaimana cara Danu menemukannya.


"Ini misal ya Vin. Danu bercerai dengan Ranti. Terus dia berhasil menemukan kamu dan juga berhasil meyakinkan kamu kalau dia sangat mencintai kamu. Apa yang kamu lakukan?" tanya Maya sambil melirik sekilas ke arah Vina.


"Yah tergantung" ujar Vina menjawab.


"Ya nggak bisa tergantung lah Vin. Elo kan udah ngasih dia kesempatan kedua. Berarti dia memanfaatkan kesempatan kedua yang loe berikan dengan begitu baik. Jadi, bagaimanapun juga, elo harus menerima dia kembali" ujar Maya kepada Vina.


Maya mengingatkan Vina dengan janji Vina yang memberikan Danu kesempatan kedua.


"Emang loe setuju kalau gue balikan lagi dengan Danu?" tanya Vina kepada sahabat terbaiknya itu.


"Setuju aja kalau dia nggak kayak dulu lagi. Maksudnya ya, statusnya udah jelas, semua semuanya udah jelas. Pasti gue setuju kalau elo nerima dia kembali" kata Maya dengan nada serius.


"Ah gue seneng. Kalau loe udah mau nerima dia. Karena Bapak dan Ibuk nggak tau permasalah antara gue sama dia. Dalam keluarga kita, hanya elo yang mengetahui permasalahan antara gue dengan Danu" ujar Vina kepada Maya.


"Denger ya Vin. Gue akan mendukung semuanya. Semua yang terbaik untuk elo. Karena kebahagiaan elo adalah kebahagiaan gue" ujar Maya.


Vina memeluk Maya. Dia sangat senang memiliki sahabat dan adik seperti Maya. Orang yang selalu mendukung Vina disaat kondisi Vina seperti apapun.


Mereka berdua akhirnya selesai memasak sarapan. Vina dan Maya kemudian menuju kamar mereka kembali. Vina akan bersiap siap menuju kantor, sedangkan Maya akan menuju kafe. Mereka akan kembali sibuk dengan rutinitas masing masing.

__ADS_1


__ADS_2