Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Pengintaian Danu


__ADS_3

Ivan dan Iwan kemudian bersiap siap untuk pergi ke apartement Ivan. Mereka akan makan siang di sana sesuai dengan ajakan dari Maya saat dia membawakan sarapan untuk Ivan tadi pagi.


Danu melihat Ivan dan Iwan yang sedang bersiap siap dari ruangannya. Dia juga mulai bersiap siap, Danu berencana untuk mengikuti Ivan dan Iwan kemana mereka akan pergi.


"Bang kami keluar dulu" ujar Ivan berkata dari balik pintu ruangan Danu.


"Oke sip. Kalian mau makan siang dimana?" tanya Danu mencoba mencari kejujuran dari mata Ivan.


"Belum tau Bang. Lihat tempat yang kosong nanti aja." ujar Ivan menjawab pertanyaan Danu tentang dimana mereka akan makan siang.


Ivan dan Iwan kemudian pergi meninggalkan ruanga. Danu mengikuti mereka dari belakang.


"Loe nggak bawa mobil Bang?" tanya Ivan saat melihat tidak ada mobil Iwan di dekat motornya.


"Dipake Juan ke Bandara pagi tadi." jawab Iwan.


"Oh. Maafin adek ipar gue yang ngerepotin elo Bang" ujar Ivan yang segan ke Iwan, karena Juan meminjam mobil Iwan satu satunya.


"Santai aja Van. Lagian gue nggak bakalan mati karena nggak ada mobil" ujar Iwan menjawab rasa tidak enak hati Ivan.


Mereka berdua kemudian pergi dari parkiran perusahaan. Mereka tidak mau lama lama di parkiran takut terlihat oleh Danu yang sebentar lagi juga akan turun untuk pergi makan siang.


Danu meminjam motor office boy kantor untuk mengikuti Ivan dan Iwan. Motor yang dikendarai Ivan menuju apartement miliknya. Danu sudah memprediksi kalau Vina dan Maya menginap di apartement Ivan.


Iwan melihat ke belakang, dia berusaha mencari mobil Danu. Tapi Iwan sama sekali tida menemukan mobil Danu diantara mobil yang banyak itu.


"Aman Van, Danu tidak mengikuti kita" ujar Iwan mengabarkan ke Ivan kalau Danu tidak mengikuti mereka sama sekali.


"Syukurlah Bang. Kalau dia mengikuti kita, kita yang akan pusing sendiri" ujar Ivan.


Danu tertawa sendiri melihat kelakuan Iwan yang mencari keberadaan mobilnya. Padahal jarak mereka hanya tiga meter kurang. Danu dapat melihat dengan jelas Iwan yang mencari cari dirinya.


Ivan melajukan motornya menuju apartement, dia sudah tidak sabar ingin makan makanan yang dibuat oleh Maya.


Ivan dan Iwan akhirnya sampai di apartement Ivan. Ivan dan Iwan masuk ke dalam apartement.

__ADS_1


Sedangkan Danu menunggu sampai Ivan dan Iwan menghilang dari pandangannya. Dia kemudian turun dan menuju Resepsionits


"Permisi Nona boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Danu kepada resepsionits yang berdiri di balik sebuah meja panjang.


"Silahkan Tuan, ada apa?" ujar resepsionits dengan ramah menjawab pertanyaan Danu.


"Apakah kamar Tuan Ivan sedang dihuni oleh orang lain?" tanya Danu dengan hati hati.


"Tuan siapanya Tuan Ivan. Kami tidak bisa memberikan info kepada orang lain Tuan." ujar resepsionits menolak menjawab pertanyaan dari Danu.


"Saya bosnya Ivan." jawab Danu menatap resepsionits.


"Jadi, apakah saya bisa mendapatkan informasi tersebut?" tanya Danu kepada resepsionits.


"Sebentar Tuan" ujar resepsionits membaca data yang ada.


" Benar Tuan. Adik Tuan Ivan sekarang yang menunggu kamar selama tiga hari" ujar resepsionits memberitahukan siapa sekarang yang sedang menunggui kamar Ivan.


"Oh baik terimakasih." ujar Danu.


"Sama sama Tuan" jawab resepsionits.


Danu kemudian berjalan keluar dari apartement. Danu akan menunggu Ivan dan Iwan keluar dari apartement di parkiran. Danu benar benar ingin berbicara dengan Vina. Apapun akan dilakukan oleh Danu untuk dapat bertemu dengan Vina.


Setelah menunggu selama dua jam, akhirnya Ivan keluar berdua dengan Maya. Danu dapat melihat Ivan dan Maya keluar dari dalam apartement.


"Satu baru yang keluar, tinggal Iwan dan Sari serta pacarnya. Saat mereka bertiga sudah pergi dari apartement Ivan, gue akan masuk ke sana menemui Vina." ujar Danu menyusun siasat nya.


Maya melihat Danu duduk di atas sepeda motor. Dia melihat sekali lagi untuk memastikan penglihatannya. Setelah yakin kalau itu memang Danu, barulah Maya memberitahukan kepada Ivan kalau dia melihat Danu.


"Sayang itu Danu." ujar Maya menunjuk ke arah Danu yang sedang duduk di atas sebuah sepeda motor.


Ivan melihat ke arah yang ditunjuk oleh Maya. Ivan melihat Danu yang memang sedang duduk di atas sepeda motor.


Ivan mengeluarkan ponselnya, dia mengetik sebuah pesan untuk Iwan.

__ADS_1


'Jangan tinggalkan Vina sendirian. Ada Danu diparkiran' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Ivan.


'Oke' ujar Iwan membalas pesan chat dari Ivan.


"Pantesan aja tadi Bang Iwan tidak melihat mobil Danu. Ternyata dia pergi dengan motor office boy. Niat banget dianya mengikuti kami" ujar Ivan kepada Maya.


"Biarin ajalah sayang, nggak urusan kita lagi." ujar Maya memeluk Ivan dari belakang.


"Sekarang berangkat. Kita akan jalan jalan dengan motor sampai malam" ujar Maya dengan sangat semangat.


Maya harus memanfaatkan moment hari ini untuk bermain dengan Ivan. Besok mereka akan berangkat ke negara U. Mereka akan lama lagi bertemu sampai tidak tahu kapan akan kembali bertemu.


Ivan menghidupkan motornya. Ivan pergi dari apartement. Sedangkan Danu tetap menunggu di parkiran. Iwan memberitahukan kepada Sari dan Juan kalau ada Danu di parkiran.


Mereka bertiga kemudian sepakat untuk tidak pergi dari apartement walaupun sebenarnya mereka ada kegiatan masing masing.


Danu terus saja menunggu yang lain untuk turun dari apartement Ivan. Tetapi sayangnya mereka masih belum juga menampakkan dirinya. Danu yang lelah akhirnya menyerah, dia lebih memilih untuk pergi dari situ. Danu kembali menuju kantor.


"Sepertinya mereka sudah mengetahui kalau gue berada di sini" ujar Danu.


Motor dikemudikan Danu dalam kecepatan sedang. Seandainya Danu lebih bersabar lagi, dia akan dapat melihat Vina yang turun bersama dengan Iwan dan yang lain.


Vina dan yang lain akan pergi ke mall. Vina sendiri yang minta karena dia merasa bosan di apartement terus.


"Loe yakin mau ke mall?" ujar Sari saat mereka sudah berada di mobil Iwan.


"Yakin. Capek gue di apartement terus." jawab Vina.


"Kalau ketemu sama Danu gimana?" tanya Sari.


"Biarin aja. Gue nggak ngaruh lagi. Lari terus bikin gue capek" ujar Vina menjawab pertanyaan Sari.


"Gue setuju Vin. Ngapain juga loe ngarem di apartement. kalau ketemu ya ketemu aja. Sapa aja seperti anggap teman. Dunia nggak berakhir kok Vin hanya karena bertemu dengan Danu" ujar Iwan memberikan semangat kepada Vina.


"setuju bang" jawab Vina

__ADS_1


Vina sekarang sudah yakin dengan dirinya, kalau dia bisa menentramkan hatinya saat bertemu dengan Danu di luaran sana. Vina tidak ingin selalu dihantui rasa takut bertemu dengan Danu. Dia ingin merasakan kebebasan. Dia tidak mau terus di bawah bayang bayang takut bertemu dengan Danu.


__ADS_2