Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Vina Masak Sarapan


__ADS_3

"Kafe gimana?" tanya Vina yang ingat Maya seharian ke kafe.


"Besok bahas. Ngantuk" ujar Maya dengan suara keras kepada Vina. Maya benar benar sudah mengantuk dan sangat lelah hari ini, dia membutuhkan istirahat yang cukup untuk kembali beraktifitas besok di kafe.


Maya sudah berjalan masuk kembali ke rumah. Vina akhirnya mengikuti dari belakang. Mereka masuk ke dalam kamar masing masing untuk beristirahat malam. Besok pagi mereka akan beraktifitas lagi seperti biasa.


...****************...


Tepat pukul tiga dini hari waktu negara U, giliran Maya yang dibangunkan oleh Ivan subuh subuh. Dering suara ponsel yang telah berkali kali berbunyi membangunkan Maya dari tidur lelapnya. Dia melihat ternyata Ivan yang sudah menghubunginya berkali kali. Tapi itulah beda Maya dengan Vina, Maya tidak akan mengangkat panggilan itu karena dia benar benar butuh istirahat.


"Tenang sayang, besok baru akan aku balas dengan pesan chat. Aku mengantuk dan capek berat. Kamu nggak ngerasain gimana capeknya aku sekarang" ujar Maya menjawab panggilan telpon dari Ivan tanpa mengangkat panggilan itu.


Maya kembali memejamkan matanya, tetapi sebelumnya dia sudah menonaktifkan nada dering ponselnya. Maya benar benar tidak ingin diganggu jam tidurnya oleh siapapun. Bahkan untuk membuat sarapan pun Maya enggan hari ini.


Vina yang terbangun karena bunyi alarm ponselnya, langsung membasuh wajahnya ke wastefel yang ada di depan pintu kamar mandi. Vina melihat ponselnya yang juga ternyata telah dinonaktifkan nada dering nya tadi malam. Ternyata pada layar ponsel terlihat sepuluh kali panggilan tak terjawab dari Danu serta ada lima belas pesan chat.


"Is gigih kali ne orang untuk nelpon sama ngirim pesan chat" ujar Vina menggerutu melihat layar ponsel miliknya.


Vina membuka pesan chat itu satu persatu, isinya semua intinya sama, yaitu menanyakan Vina sedang ngapain dan apa sudah tidur sehingga tidak menjawab panggilan telpon dari Danu.


'Bukan nggak mau angkat, tapi capek habis kerja, ini sedang istirahat' bunyi balasan pesan yang dikirim oleh Vina kepada Danu.


Vina tidak ingin dikatakan oleh Danu sengaja menghindar dari Danu. Kenapa Vina berbuat seperti itu, karena dia sudah berjanji akan memberikan Danu kesempatan kedua. Apalagi kemaren Danu juga sudah mengatakan akan menemui Ranti dan mengajukan gugatan perceraian. Jadi, Danu sudah berhak untuk memanfaatkan kesempatan kedua itu.


Setelah mengirimkan pesan chat tersebut, Vina keluar dari kamarnya. Dia melihat lampu kamar Maya yang masih mati.


"Kayaknya tu anak bener bener lelah bekerja kemaren di kafe. Aku akan tanyakan Pak Hand, ngapain aja dia kemaren di kafe." ujar Vina sambil berbicara pelan di depan pintu kamar Maya yang masih tertutup rapat dan tidak ada tanda tanda orang sudah bangun dari dalam kamar itu


Vina kemudian turun ke lantai bawah rumahnya. Dia berencana untuk memasak sarapan hari ini. Dia telah lama sekali tidak memasak, jadi, kali ini dia akan melepaskan rasa rindu memasaknya.


"Bikin apa ya?" ujar Vina saat dia melihat isi almari pendingin.


Vina terlihat berpikir sambil melihat lihat isi kulkasnya itu. Isi kulkas yang masih sangat penuh karena Bik Ima baru selesai berbelanja mingguan ke pasar.


"Nasi uduk ajalah, setelah itu bikin telur dadar, ayam bumbu sama terakhir mie goreng" ujar Vina yang telah menemukan akan memasak apa hari ini untuk sarapan mereka hari ini.

__ADS_1


Vina mengeluarkan semua bumbu bumbu yang dibutuhkan untuk membuat nasi uduk dan juga yang lainnya.


Vina mengupas semua bumbu bumbu, setelah itu memisahkan mana yang untuk nasi duduk, telur dadar, ayam bumbu dan juga mie goreng.


Setelah memisahkan semua bumbu, Vina mengulek bumbu untuk memasak nasi uduk. Setelah itu Vina memasak nasi uduk. Tersebut kedalam rice cooker. Dia tidak mungkin memakai kompor untuk memasak nasi uduk.


Saat nasi uduk dimasak, Vina merebus ayam lengkap dengan bumbunya. Sambil menunggu ayam selsai, Vina merebus air hangat untuk merendam mie. Vina memakai semua kompor yang ada di sana.


Makanan pertama yang selesai di masak Vina adalah telur dadar. Vina memasak telur dadar dari kota Padang. Telur dadar yang padat dan banyak memakai rempah rempah.


Vina kemudian memasak mie goreng, selain itu dia juga menggoreng ayam bumbu yang telah didinginkan.


Rina yang baru selesai menyiram tanaman di taman belakang rumah langsung menuju dapur. Rina penasaran siapa yang sedang memasak dan tercium aroma sangat wangi itu.


"Eh Nona Vina. Saya kira Nona Maya tadi" ujar Rina yang kaget melihat siapa yang sedang memasak di dapur.


"Maya masih tidur Rin. Jadi, saya sekarang yang masak sarapan" ujar Vina yang telah menyelesaikan memasak mie goreng.


Hanya tinggal ayam goreng satu kali goreng lagi. Vina melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Rina sudah mengambil sapu untuk menyapu rumah.


Vina kemudian membuat sepoci teh hangat hijau untuk dirinya dan Maya. Mereka memang selalu meminun teh hijau kalau sarapan mengandung kalori yang sangat tinggi seperti sekarang ini.


Setelah meyakinkan kalau semua menu untuk sarapan telah selesai dieksekusi oleh Vina. Vina kemudian menghidangkan di atas meja makan. Kali ini mereka akan makan di sana. Tidak di meja mini bar lagi, seperti sarapan kemaren pagi.


Vina kembali menuju kamarnya, dia akan membersihkan badannya terlebih dahulu dan akan langsung bersiap siap untuk berangkat kerja. Saat melewati kamar Maya, Vina masih mendapati pintu kamar dan lampu kamar yang masih belum menyala.


"Berarti ini anak bener bener lelah, tuh dia masih belum juga beranjak dari kasurnya." ujar Vina saat menyaksikan keadaan kamar Maya yang masih sama kayak tadi saat Vina mau pergi memasak sarapan.


Vina kemudian masuk ke dalam kamarnya.. Vina melakukan semua rutinitasnya sebagai perempuan. Vina membersihkan dirinya dan juga telah memakai pakaian kerjanya. Hari ini karena ada meeting penting, jadinya Vina memakai pakaian kantor formal. Kemeja putih, blazer dan rok span di bawah lutut. Tidak lupa ula Vina merias wajahnya dengan riasan natural. Untuk rambut Vina mengikat setengah rambutnya dan membuat rambut tersebut menjadi ikal. Vina benar benar tampil cantik dan maksimal hari ini. Penunjang penampilannya yang sudah wow itu, Vina memakai high heels tinggi tujuh senti berwarna crem.


Vina telah selesai berias dan sudah siap untuk berangkat ke perusahaan. Sedangkan hal sebaliknya terjadi kepada Maya. Maya masih larut dalam tidurnya, dia benar benar malas untuk bangun. Badannya capek capek semua. Makanya Maya tidak juga bangun dari atas ranjang empuknya itu.


Setelah memastikan kalau dirinya sudah tampil oke, Vina keluar dari kamar. Dia menyempatkan diri untuk melihat keadaan kamar Maya. Tetapi ternyata masih sama.


"Maya Maya, udah dibilang jangan terlalu lelah. Eee malah makin lelah parah" ujar Vina menggerutu di depan kamar Maya. Ingin rasanya Vina mengetuk pintu kamar itu, tetapi diurungkan nya niatnya kembali saat melihat bagaimana lelahnya Maya semalam. Apalagi Maya masih menyempatkan diri untuk memasak menu makan malam mereka saat pulang dari kafe.

__ADS_1


Vina kemudian menuju meja makan. Dia akan sarapan sendirian hari ini. Vina kemudian mengisi piringnya dengan nasi uduk dan pelengkapnya yang lain. Setelah itu, Vina menyantap sarapannya dalam kesendirian. Vina menyelesaikan sarapannya dalam waktu yang sangat singkat.


"Ternyata makan sendirian sama sekali tidak enak." ujar Vina sambil menatap meja makan yang besar tapi hanya ada dia sendirian duduk di sana. Vina merasa hal itu adalah suatu yang aneh. Makanya hal itu membuat selera makan Vina menjadi hilang


Vina mengambil semua barang barangnya. Dia kemudian berjalan menuju teras. Pak Hans sudah berdiri di dekat mobil dan sudah membukakan pintu mobil untuk Vina.


"Silahkan masuk Nona" ujar Pak Hans kepada Vina.


"Terimakasih Pak Hans" ujar Vina.


Vina kemudian masuk ke dalam mobil. Pak Hans kemudian menutup pintu mobil Vina. Pak Hans berlari menuju kursi sopir. Pak Hans melakukan mobil menuju perusahaan tempat Vina bekerja.


"Pak Hans, boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Vina kepada Pak Hans yang sedang fokus menyetir mobil.


"Boleh Nona. Sepengetahuan saya akan saya jawab kepada Nona. Tapi kalau saya tidak tahu maka maaf, saya akan mengatakan saya tidak tahu jawabannya" ujar Pak Hans memperbolehkan Vina untuk menanyakan hal apapun kepada dirinya. Pak Hans akan menjawab semua pertanyaan dari Vina.


"Pak Hans, apakah kemaren Maya bekerja terlalu keras di kafe?" tanya Vina kepada Pak Hans.


Pak Hans terlihat berpikir. Dia berusaha mengingat apa saja yang dilakukan oleh Maya sehari kemaren di kafe.


"Pak Hans, kenapa diam?" tanya Vina kepada Pak Hans.


"Sebentar Nona, saya berusaha mengingat apa saja yang dilakukan Nona Maya kemaren di kafe" ujar Pak Hans kepada Vina.


"Nona, kemaren Nona Maya memang sangat luar biasa sibuk. Nona Maya juga membantu para karyawan untuk mengangkat kursi kursi yang baru dibelinya dan meletakkan kursi kursi itu di tempatnya" ujar Pak Hans menceritakan apa saja kesibukan Maya kemaren, sehingga membuat Maya tidak juga bangun sampai Vina berangkat ke kantor.


"Terimakasih atas infonya Pak Hans" ujar Vina yang sudah tidak akan bertanya lagi. Vina sudah tau penyebab Maya masih tidur sampe sekarang.


Tak terasa mereka telah sampai di depan lobby perusahaan. Vina bersiap siap untuk turun dari dalam mobil.


"Pak Hans langsung pulang saja. Mana tau Maya juga mau pergi ke kafe hari ini. Saya tidak mau dia naik kendaraan umum Pak Hans" uajr Vina meminta Pak Hans untuk kembali pulang ke rumah.


"Siap Nona. Kalau nanti Nona mau pulang hubungi saya saja" ujar Pak Hans.


"Oke Pak" jawab Vina.

__ADS_1


Vina kemudian masuk ke dalam perusahaan tempat dia bekerja. Sedangkan Pak Hans kembali menyetir mobil menuju rumah. Dia akan mengantarkan Maya ke kafe kalau Maya memang mau pergi ke kafe. Kalau tidak, maka Pak Hans akan kembali ke perusahaan tempat Vina bekerja.


__ADS_2