Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Jebakan Iwan


__ADS_3

Danu dan Iwan yang sedang sibuk membuat maket untuk digunakan sebagai alat presentasi besok, menjadi kaget saat mendengar pintu yang di buka dengan sangat keras dari luar.


Sontak Danu dan Iwan melihat siapa yang masuk. Ternyata mereka melihat Ranti masuk dengan seorang pria yang diyakini oleh Danu dan Iwan sebagai selingkuhan Ranti.


Ranti dengan kasar menarik krah kemeja Danu. Danu dan Iwan kaget melihat kelakuan Ranti yang bar bar itu.


"Apa apaan ini. Lepasin krah baju gue" teriak Danu sambil menyentak tangan Ranti dengan sangat kuat.


Pria yang dikira sebagai selingkuhan terbaru Ranti maju ke depan Danu. Dia memegang krah baju Danu.


Iwan yang melihat langsung menarik krah baju pria itu.


"Kalian berdua kalau tidak bisa sopan silahkan keluar dari ruangan ini. Atau perlu saya panggilkan satpam untuk mengusir kalian dari ruangan ini" ujar Iwan berteriak keras kepada Ranti dan juga laki laki itu.


"Hay, Anda siapa. Bawahan tidak tau diri. Berani beraninya Anda mengancam saya" ujar Ranti sambil menunjuk Iwan dengan tangan kirinya.


"Anda memang direktur Nona Ranti, tapi di perusahaan Anda. Ini bukan perusahaan Anda, jadi anda harus menghormati kami di sini" balas Iwan tidak kalah sengitnya dengan Ranti.


"Atau Anda sendiri lupa atau bahkan tidak tau bagaimana cara menghormati orang?" lanjut Iwan.


"Makanya otak jangan ke ************ muluk Nona. Otak itu dipakai untuk mikir" ujar Iwan yang sudah sangat muak dengan kepongahan dari seorang Ranti.


Plak sebuah tamparan mendarat di pipi Iwan. Iwan tersenyum kepada Ranti.


Ranti heran melihat Iwan tersenyum itu.


"Hay kenapa Anda tersenyum? Bangga Anda di tampar oleh perempuan seperti saya?" tanya Ranti kepada Iwan.


"Hah? Bangga di tampar wanita yang hobby selingkuh seperti Anda? Mimpi kali bray" jawab Iwan.


"Biarin gue suka selingkuh, tanda gue laku, dari pada Anda sampe sekarang masih sendiri. Tanda nggak laku" jawab Ranti.


"Oo oo oo, jadi Anda mengakui kalau Anda memang selingkuh?" tanya Iwan yang terus memancing Ranti.

__ADS_1


"Jelaslah. Dari awal menikah gue udah selingkuh. Ngapain loe? Kawan loe aja yang ogeb, masih mempertahankan pernikahan dengan gue. Dia ini takut miskin makanya, mau gue selingkuhin terus" ujar Ranti yang kepancing umpan dari Iwan.


"Terus kenapa loe masih nikah sama dia?" tanya Iwan lagi.


"Karena kalau gue sempat buuuiinting sama selingkuhan gue, gue masih ada suami. Gue tinggal bilang aja kalau itu adalah anak dia." ujar Ranti.


Jawaban dari Ranti membuat Danu menjadi kaget luar biasa. Wanita di depannya ini beneran wanita ular yang nggak bisa di prediksi jalan pikirannya.


"Anak loe gimana?" tanya Iwan lagi.


"Dia sudah berada di tangan yang tepat. Jadi, gue nggak perlu cemas lagi" ujar Ranti.


Danu sudah mengangkat tangannya, tetapi di tahan oleh Iwan. Iwan tidak ingin Danu melakukan tindakan kekerasan kepada Ranti. Bagaimanapun juga, status Ranti masih sebagai istri syah Danu. Danu bisa dituntut kekerasan dalam rumah tangga nanti. Iwan tidak mau hal itu sampai terjadi.


"Terus, sekarang ngapain loe ke sini?" tanya Iwan mewakili Danu.


"Oh hampir aja gue lupa tujuan gue ke sini." ujar Ranti yang sekarang melihat ke arah Danu.


"Gue mau ngomong sama loe." ujar Ranti menunjuk ke arah Danu.


"Ya elo mau siapa lagi, dia?" tunjuk Ranti kepada Iwan.


"Gue nggak ada urusan sama dia. Urusan gue ke sini adalah sama elo. Nggak sama dia atau yang lainnya" ujar Ranti dengan nada tinggi kepada Danu.


"Silahkan duduk. Kita bicara di sofa saja" ujar Danu mengajak Ranti untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Ada apa?" tanya Danu yang sudah tau Ranti mau mengatakan apa kepada dirinya.


"Jangan sok tidak tau. Loe pasti tau kenapa gue datang ke sini sambil membawa surat ini" ujar Ranti sambil melemparkan surat yang di bawanya ke atas meja.


Danu melihat surat tersebut, ternyata sesuai dengan prediksinya. Iwan juga melihat surat itu. Dia tersenyum melihat surat apa yang dilemparkan oleh Ranti ke atas meja.


"Kenapa kaget?" tanya Ranti kepada Danu.

__ADS_1


"Nggak biasa aja. Kenapa harus kaget, gue yang ngurus juga ke pengadilan. Gerak cepat juga tu pengadilan" ujar Danu dengan wajah dibuat sepolos polosnya.


Iwan yang menyaksikan wajah Danu hanya bisa menatap Danu dan menggeleng geleng kan kepalanya. Iwan tidak menyangka Danu akan mengatakan hal itu kepada Ranti.


"Terus kenapa loe harus ke sini. Loe tinggal tanda tangan aja dan menunggu panggilan selanjutnya dari pengadilan" ujar Danu sambil menyilangkan kakinya.


Danu duduk dengan santainya di sofa. Dia sama sekali tidak takut dengan Ranti dan yang dikira Danu dan Iwan adalah selingkuhan terbaru Ranti ternyata tidak, pria yang bersama Ranti adalah bodyguard Ranti yang baru.


"Gue nggak mau tanda tangan surat ini. Gue nggak akan mau loe ceraikan." ujar Ranti menggebu gebu.


"Loe udah janji ke bokap untuk terus bersama gue. Jadi, loe nggak bisa menceraikan gue secara sepihak" ujar Ranti kepada Danu.


"Terserah elo mau apa. Yang jelas gue udah tidak sanggup lagi menjalin rumah tangga dengan elo lagi" ujar Danu menjawab semua pernyataan menggebu gebu dari Ranti dengan jawaban santai yang berkelas.


"Pasti gara gara wanita sialan itu. Makanya sekarang loe berani minta cerai ke gue. Gue akan buat hidup wanita itu tidak tenang" ujar Ranti mengeluarkan ancaman dari mulutnya.


"Wow Anda hebat sekali Nona. Bisa mengancam orang. Apa Anda tidak takut dilaporkan Nona kepihak yang berwajib karena sudah berani mengancam keselamatan seseorang" ujar Iwan yang duduk di kursi belakang Danu.


"Loe diam. Gue nggak ada urusan sama loe" ujar Ranti menunjuk Iwan dengan tangan kirinya.


Danu menurunkan tangan Ranti.


"Jangan pernah mengancam karyawan dan sahabat gue. Elo sekarang di kantor gue, bukan di kantor atau perusahaan elo" ujar Danu dengan nada dan intonas yang sangat jelas bernada marah.


"Jaga sikap loe. Dari tadi gue berusaha menahan diri untuk tidak kasar. Karena gue masih memandang loe sebagai wanita." lanjut Danu dengan murka.


"Jangan pernah menguji kesabaran gue terlalu lewat batas. Gue bisa melakukan apa yang nggak akan pernah loe bayangkan bisa gue lakukan" uajr Danu yang sudah muak dengan gaya Ranti.


Ranti hanya tersenyum smirk saja. Ranti sama sekali tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Danu. Bagi Ranti yang penting, dia bisa membuat Danu mencabut gugatan perceraian itu. Misi Ranti ke sini adalah untuk itu, bukan untuk ribut dengan Iwan atau dengan Danu tentang permasalahan lainnya.


'Gue harus sabar' ujar Ranti dalam dirinya.


'Gue nggak boleh terpengaruh oleh perkataan Iwan' lanjut Ranti dalam otaknya.

__ADS_1


Ranti kemudian menatap Danu kembali. Dia akan konsentrasi dengan apa tujuannya datang ke kantor Danu. Ranti akan mengabaikan hal lainnya.


__ADS_2