
Mobil yang dikemudian oleh Danu, melaju dalam kecepatan lumayan tinggi menuju kantor tempat Frans bekerja. Danu bisa menginjak pedal gas dengan dalam karena mobil melintas sudah lumayan sepi, karena semua orang sedang melakukan aktifitas di tempat mereka masing masing.
"Enak juga ya Dan, bisa menginjak pedal gas dengan begitu dalam." kata Iwan sambil melihat keadaan speedometer mobil yang dikendarai oleh Danu. Speedometer mobil menunjukkan kecepatan mobil berada di angka enam puluh sampai delapan puluh kilo meter per jam. Kecepatan yang lumayan tinggi untuk dikemudikan di pusat kota seperti sekarang ini.
" lumayan juga tuh Danu kecepatan mobil diangka enam puluh sampai delapan puluh kilo meter per jam. jarang jarangnya kita bisa menggunakan kecepatan setinggi itu di pusat kota" kata Iwan sambil melihat sekilas ke arah Danu kemudian dia kembali melihat ke jalanan yang berada di depan mereka.
" makanya gue menggunakan kesempatan ini dengan sangat baik. jarang jarangnya kan bisa ngebut seperti ini di jalanan ibu kota" jawab Danu sambil sedikit menambah kecepatan mobilnya saat dia melihat jalanan yang cukup lengang saat ini.
" wuha lo tambah lagi kecepatannya?" ujar Iwan bertanya kepada Danu saat Iwan merasakan kalau mobil sudah melaju lebih cepat lagi. Apalagi tadi saat Danu menginjak gas lebih dalam Iwan sempat terlempar ke sandaran kursi yang didudukinya saat ini.
" tapi udah gue bilang jarang-jarangnya makanya gue mengambil kesempatan ini" jawab dan mu sambil melirik sekilas ke Iwan.
Padahal alasan sebenarnya Danu adalah dia ingin cepat sampai ke kantor Frans dan mereka bisa langsung mendiskusikan apa yang dirasa oleh Frans sangat penting. Sehingga membuat Frans memaksa Danu untuk pulang ke negara I secepatnya.
" ngebut sih ngebut dan tapi ingat juga kita masih di ibu kota bukan di daerah pinggiran sono yang lo bisa ngebut sesuka hati lo. Apalagi kalau lo jalan malam hari yang sama sekali tidak ada mobil melintas" kata Iwan yang meminta Danu untuk mempertimbangkan kembali kecepatan mobil yang sekarang sedang dikemudikan oleh Danu.
"Haha haha haha, oke oke gue akan kurangi kecepatan laju mobil gue" ujar Danu yang setuju untuk menurunkan kecepatan mobilnya.
Danu memelankan sedikit laju mobilnya. Dia tidak mau membuat Iwan menjadi merasa tidak nyaman saat berada di dalam mobil. Apalagi kalau sampai Iwan muntah maka tidak akan lucu melihat kejadian seperti itu. Iwan tidak akan mau membersihkan sendiri muntahnya maka danu lah yang bekerja membersihkan muntah tersebut. makanya daripada mengambil resiko buruk tersebut dan lebih memilih untuk memelankan laju mobilnya.
Tidak berapa lama berkendara, Danu sudah bisa melihat dari jauh gedung perkantoran tempat para pengacara pengacara terkenal berkantor di sana. Sebuah firma hukum yang dipimpin oleh salah seorang pengacara hebat yang biasanya menjadi pengacara para artis dan para pejabat negara yang terkena kasus.
__ADS_1
Danu membelokkan mobilnya untuk masuk ke dalam parkiran gedung besar tersebut. Danu kemudian memarkir mobilnya di tempat parkiran khusus tamu pengunjung kantor pengacara terkenal itu.
" Ayo turun udah sampai" ujar Danu mengajak Iwan untuk turun dari dalam mobil karena mereka berdua sudah sampai di tempat kerja Frans.
"aisssss sssss lu kira gue anak kecil yang nggak tahu kalau kita udah sampai" kata Iwan menjawab apa yang sudah dikatakan oleh danu sebentar ini kepada dirinya.
" mana tahu lo nggak tahu kan Ya makanya gue ajak daripada lu sendirian di dalam mobil nanti" jawab danu yang nggak mau kalah dari wan karena Iwan selalu menjawab apa yang dikatakan oleh Danu dengan ciri khas dan gayanya sendiri.
"Hem Serah lo" Jawa Iwan sambil keluar dari dalam mobil
Danu dan Iwan kemudian berjalan bersama menuju ruangan tempat bekerja keras yang terletak di lantai lima gedung pencakar langit tersebut.
"Danu" ujar Iwan memanggil Danu yang berjalan di sebelahnya saat ini
Bugh. sebuah pukulan mendarat di lengan kekar danu. pukulan itu berasal dari Iwan yang ke sama dengan jawaban yang diberikan oleh danur kepada dirinya saat dia memanggil kamu dengan nada serius ingin mengatakan sesuatu hal yang dirasa Iwan penting tetapi sebenarnya tidaklah penting
"aw, lo kenapa mukul gue?" Ustad Danu bertanya kepada Iwan sambil memegang lengannya yang sakit karena dipukul dengan kuat oleh Iwan
"Untung mash gue pukul. Kalau gue potong gimana" ujar Iwan yang setengah gedek dengan sikap dan cara Danu kepada dirinya.
Mereka kemudian hampir ribut di tengah tengah perjalanan dari parkiran menuju gedung pengacara itu. Tetapi untung saja mereka berberdua sama sama sadar kalau mereka sudah besar dan tidak akan mungkin menjadi tontonan orang ramai.
__ADS_1
"Wan di pikir pikir kalau kita ribut di sini malu juga ya wan. Udahlah nggak usah ribut. Capek gue" ujar Danu meminta Iwan untuk tidak ribut lagi dengan dirinya.
"Gue juga setuju Dan. Nggak mungkin kita ribut berdua di jalan ini. Bisa bisa kita di usir mereka" ujar Iwan sambil menunjuk ke arah satpam yang sebenarnya sudah dari tadi memerhatikan kelakuan mereka berdua.
"haha haha haha haha sepertinya mereka habis melihat kita Wan" kata Danu saat melihat ketika satpam itu melihat ke arah mereka berdua.
" sepertinya memang begitu dan Ayo kita jalan lebih cepat lagi" kata Iwan yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Danu
Iwan tadi sempat melihat ke arah ketiga satpam yang berdiri di pos mereka. ketika satpam itu menatap lekat ke arah Iwan dan Danu yang dari tadi terlihat merebutkan sesuatu hal.
" sepertinya ketika satpam itu tidak percaya kalau kita adalah klien dari pengacara-pengacara hebat yang ada di sini" lanjut Iwan saat mereka sudah berada di lobby kantor pengacara Kondang tersebut
" sepertinya memang begitu Wan. Tetapi menurut gue terserah mereka aja, gue nggak akan ambil pusing. mereka mau menganggap kita berdua ini pengemis kek, mau dia menganggap kita berdua ini Gelandangan. Terserah kepada mereka gue nggak mau tahu" ujar Danu sambil melihat ke arah Iwan.
" Permisi mbak kami sudah ada janji dengan Pak Frans Apakah Pak prasnya sudah ada di ruangannya Mbak?" voucher Danu bertanya kepada kedua resepsionis yang sekarang sedang berdiri di balik meja resepsionisnya tersebut
" Oh itu anak kelasnya ada kok tuan tuan berdua silakan aja langsung menuju ke ruangan Tuan Frans. Tuan Frans sudah menunggu Tuan Danu di ruangannya" gejala sejenis mempersilahkan Danu dan Iwan untuk menuju ruangan tempat Frans berada sekarang ini.
" Terima kasih Mbak cantik" ujar Ivan memuji kecantikan kedua resepsionis gedung pengacara tersebut
kedua resepsionis itu hanya bisa membalas ucapan Iwan dengan senyuman manis di bibir mereka. mereka berdua sudah terbiasa dipuji oleh para tamu-tamu yang datang ke gedung tersebut untuk bertemu dengan semua pengacara yang kantornya berada di lantai 2 sampai lantai 9 gedung pencakar langit itu.
__ADS_1
Danu dan Iwan kemudian masuk ke dalam lift yang ada di sana mereka berdua akan menuju ke ruangan Frans yang terletak di lantai 5 gedung tersebut