
Pagi harinya semua orang sudah berkumpul di lobby hotel HS. Mereka semua akan berangkat ke Bandara. Vina dan Sari sudah melakukan chekout hotel. Semua barang barang akan diletakkan saja di atas pesawat. Ivan juga sudah menghubungi anak cabang perusahaan di kota P untuk menyediakan mobil yang akan dipakainya menuju Kab. Pes.
Vina dan Sari menunggu kedatangan Ivan dan Iwan di lobby hotel.
'Udah di depan lobby.' bunyi pesan chat yang dikirim Ivan kepada Vina.
Sari, Ivan udah di lobby. Ayuk jalan" ujar Vina sambil menyeret koper miliknya dan juga milik Maya.
Vina dan Sari kemudian masuk ke dalam mobil yang di supiri oleh sopir Ayah. Iwan duduk di depan. Sedangkan Ivan duduk di belajmkang Iwan.
"Gimana cara izin tadi Bang?" tanya Vina yang penasaran dengan keterangan izin yang diberikan Ivan kepada CEO dan Manager.
"Bilang aja ada perlu perjalanan ke kota P." jawab Ivan.
"Oh." jawab Vina.
Ivan dan Iwan sebenarnya tidak ada sama sekali izin kepads Danu. Ivan hanya menceritakan masalah maburnya Maya kepada Ayah.
Ayah yang pada waktu itu mendengar cerita dari Ivan langsung naik darah. Ayah memaki maki Ivan dengan kata kata yang Ivan sendiri tidak yakin Ayahnya akan bisa berkata seperti itu. Ivan saat kejadian itu menatap Ayah lama. Ayah hanya mengatakan bawa menantu saya pulang, kalau tidak jangan harap kamu akan saya akui menjadi anak saya.
Perkataan Ayah yabg seperti itulah yang membuat Ivan semakin semangat mencari Maya. Ivan tidak mau terbuang dari rumahnya.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju bandara. Mereka akan melakukan penerbangan jam delapan. Mereka harus chekin sebelum jam delapan. Jam di dashboard mobil sudah menulis angka tujuh empat lima. Hanya tinggal lima belas menit lagi. Makanya sopir menekan pedal gasnya. Sopir tidak mau terlambat sampai di bandara.
Tepat pukul delapan kurang lima, mobil berhenti di depan Bandara. Mereka berempat kemudian turun dan langsung melakukan chekin. Setelah itu mereka menuju ruang tunggu khusus pengguna jet pribadi.
Juan sudah menyiapkan privat jet tersebut sejak subuh karena mereka semua akan pergi dari ibu kota jam delapan. Penerbangan yang cukup pagi untuk Juan.
"Tuan dan Nona silahkan bersiap siap untuk naik ke atas pesawat." ujar pramugari yang akan mengantarkan Vina dan yang lainnya menuju pesawat yang telah menunggu mereka semua.
Vina dan yang lainnya mengambil tas milik mereka masing masing. Setelah itu mereka mengikuti pramugari menuju pesawat. Vina menatap lama bandara. Dia berharap sahabatnya yang dicarinya itu berteriak memanggil namanya. Tapi harapan tinggal harapan. Maya sama sekali tidak ada muncul di bandara.
Semua penumpang pesawat sudah duduk di tempatnya masing masing. Vina masih juga menatap keluar jendela. Masih mengharapkan hal yang sama akan datang menghampiri mereka.
Pesawat bergerak meninggalkan landasan pacu setelah mendapatkan perintah untuk terbang dari ATC bandara. Juan perlahan menerbangkan pesawat. Dia sangat bagus mengerjakan pekerjaannya itu.
Setelah terbang mengudara dengan tenang, pramugari datang menyiapkan sarapan yang tadi sempat dibeli mereka di bandara atas perintah Juan. Pramugari menghidangkan panecake dan puding serta minuman panas yang tersaji dalam gelas sekali pakai.
Penerbangan yang memakan waktu satu setengah jam itu telah berakhir. Pesawat sudah mendarat dengan sempurna di bandara kota P. Semua penumpang sudah turun dan sedang menunggu barang barang milik mereka.
"Dimana mobil?" tanya Ivan menghubungi bawahannya yang diminta menyiapkan mobil untuk keberangkatan mereka ke kab. Pes.
"Sudah di parkiran Tuan. Tinggal tunggu perintah dari Tuan untuk mobil menuju lobby." ujar bawahan Ivan menjawab.
"Oke. Nanti saya sudah di lobby saya hubungin lagi." ujar Ivan berkata ke bawahannya.
"Bagaimana dengan mobil Van?" tanya Iwan saat Ivan duduk di sebelahnya.
"Sudah aman Bang. Mereka sudah diparkiran. Tinggal kita sampai lobby nanti di telpon lagi." ujar Ivan memberitahukan kepada Iwan.
__ADS_1
"Oh baiklah." jawab Iwan.
Mereka kemudian menerima semua koper yang diantarkan pramugari. Koper yang telah selesai diperiksa oleh pihak bandara. Mereka semua kemudian berjalan menuju lobby. Ivan menghubungi anak buahnya untuk menuju lobby bandara penerbangan pribadi.
"Mana Juan Sar?" tanya Vina yang tidak melihat Juan berada di antara mereka.
"Juan sedang bertukar pakaian." jawab Sari.
Ivan memang tidak pernah lama memakai pakaian pilotnya itu. Dia akan selalu menukarnya cepat kalau mereka akan keluar dari bandara. Tak lama kemudian Juan datang.
"Maaf telat. Tadi ganti custom dulu." ujar Juan yang memang sudah ganti gaya.
Mobil perusahaan juga sudah menanti mereka di lobby. Vina dan yang lainnya masuk ke dalam mobil. Mobil bergerak meninggalkan bandara menuju kab. Pes. Daerah yang dikatakan oleh Vina, Maya akan pergi ke sana.
Sedangkan di kota P. Maya yang sudah bersiap siap keluar dari kamarnya. Dia menuju meja makan. Dian sudah berada di sana, serta menu sarapan yang dimasak oleh Dian.
"Sarapan dulu May, baru berangkat." ujar Dian sambil mengambilkan sarapan untuk Maya.
"Gue nyesel ke sini Yan." ujar Maya dengan wajah sedih.
"Kenapa? Loe nggak suka ketemu gue?" tanya Dian dengan wajah kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Maya.
"Nggak bukan gitu. Gue segan sama loe. Loe udah traktir gue pakaian. Sekarang masakin gue sarapan. Gimana gue nggak segan Yan." ujar Maya dengan sangat sungkan.
"Santai aja May. Gue aja nggak mempermasalahkan itupun." ujar Dian.
"Oke sip." jawab Maya yang tau Dian berusaha membuat dia untuk tidak merasa bersalah.
Mereka berdua kemudian sarapan. Obrolan ringan menemani sarapan mereka. Tiba tiba sebuah notifikasi masuk ke ponsel Maya. Maya melihat notifikasi itu.
"Kayaknya gue batal ke kab. Pes Yan." ujar Maya sesaat sesudah melihat ponsel miliknya.
"Kenapa?" Dian menjadi heran.
"Bukannya tadi malam loe masih semangat mau ke sana. Kenapa sekarang berubah?" tanya Dian sambil menatap Maya.
"Hehehehehe. Mereka udah tau gue mau ke kab. Pes." jawab Maya sambil tertawa.
"Kok?" ujar Dian tidak mengerti.
"Ya. Loe tau Vina kan ya. Daya ingatnya tinggi. Gue pernah ngomong sama dia kalau gue ada duit, gue akan pergi ke kab. Pes. Mungkin dia ingat itu kali. Makanya sekarang mereka udah di kota P." jawab Maya memberitahukan keberadaan Vina dan yang lainnya.
"Oh. Jadi mereka udah di sini. Cepat juga ya May." ujar Dian.
"Yupi. Emang ada sisa tiket penerbangan pagi, gue rasa penuh selalu May" ujar Dian yang kalau akan terbang subuh akan memesan tiket dua hari sebelum berangkat.
"Sari sahabat Vina memiliki privat jet. Makanya gampang bagi mereka mau pergi kapan saja." ujar Maya memberitahukan kepada Dian pakai apa mereka datang ke kota P.
"Kalau privat jet mah gampang." jawab Dian.
__ADS_1
"Jadi, sekarang loe mau kemana? Jadi juga ke kab. Pes?" tanya Dian.
"Ogah. Batal healing gue. Gue ke kota B aja lah. Loe ikut gue?" tanya Maya lagi sambil menatap Dian.
"Ogah. Dimana mana orang healing sendirian. Bukan berdua. Apalagi ini orang healing karena percintaan. Istilahnya ni ya kepahitan sebuah cinta." ujar Dian mengejek Maya.
"Hahahaha. Kepahitan sebuah cinta. Kayak judul novel aja tuh." kata Maya menjawab perkataan Dian.
"Udah sana pergu, keburu siang nanti. Lie nginao di hotek HS ya. Hotelnya keren." ujar Dian berkata kepada Maya memberitahukan recomended hotel yang keren di kota B.
"Rencana." ujar Maya sambil mengambil tas dan sebuah koper kecil yang dikasih Dian untuk tempat pakaiannya.
"Loe yakin neh ngasih gue pinjaman mobil? Kalau bmnabrak gimana? Gue nggak punya banyak duit untuk memperbaiki mobil loe." ujar Maya sambil berseloroh.
"Tenang aja loe. Kalau dia nabrak lie nggak usah pusing. Asuransinya hidup. Lagian emang loe mau bunuh diri, pake nabrak segala." ujar Dian sambil geleng geleng kepala mendengar apa yang dikatakan oleh Maya.
"Rencana. Hahahaha" jawab Maya sambil tertawa.
"Gesrek. Kalau mau bunuh diri bukan nabrakin mobil. Tapi sono lie berdiri di rel kereta. Gue yakin loe cepat berpindah tempat." jawab Dian memberikan ide kepada Maya.
"Keren tuh ide. Hahahahahaha" Maya tertawa sendiri mendengar ide yang diberikan oleh Dian.
"Udahlah sana pergi lagi." ujar Dian.
"Gue perginya seminggu paling lama mobil gue balikin. Ponsel gue matiin ya." ujar Maya.
Maya kemudian mematikan ponsel miliknya.
"Kalau ada kejadian nanti gue akan hubungin elo. Tenang aja." ujar Maya yang melihat Dian akan protes karena Maya mematikan ponsel miliknya.
Dian mengantarkan Maya menuju mobil. Maya kemudian memanaskan mobil sebentar.
"Gue pergi ya." ujar Maya sambil masuk ke dalam mobil.
"Neh bekal untuk dijalan. Ada roti, potongan buah dan minum." ujar Dian memberikan kepada Maya bekal untuk diperjalanan.
"Makasi Mak. Loe mirip almarhum emak gue. Kemana mana gue pergi selalu dibekalin." ujar Maya kepada Dian.
"Bacot loe banyak May." ujar Dian.
"Dah Dian. Gue jalan dulu. Hati hati di rumah." ujar Maya.
Dian melambaikan tangannya. Dia berdoa semoga Maya sehat pergi dan pulang serta bisa menentramkan hatinya yang sedikit kacau itu.
"Semoga loe bisa berdamai dengan rasa cinta yang loe miliki May." ujar Dian menatap mobil yang telah menghilang di telan tikungan jalan.
Dian kembali masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan Maya memakai teknologi yang ada di mobil Dian, dia menuju kota B. Kota yang sangat banyak objek wisatanya. Maya akan mengunjungi semua tempat.
Maya yang menuju kota B. Sedangkan Ivan dan yang lainnya menuju kab. Pes. Dua daerag yang tidak akan bertemu ujungnya. Satu daerah pesisir pantai sedangkan yang satu lagi daerah perbukitan.
__ADS_1