Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
restoran


__ADS_3

Setelah mengobrol cukup lama, mereka bertiga kemudian kembali ke kantor. Mereka akan lembur mengerjakan gambar proyek yang diminta oleh calon perusahaan yang akan bekerjasama dengan perusahaan mereka.


Sedangkan Vina dan yang lainnya masih dalam penerbangan. Mereka akan transit dua jam lagi. Sekarang ketiga wanita itu sedang tidur, menikmati istirahat mereka. Mereka akan mengalami perpindahan jam yang sangat terasa nantinya. Berangkat dari negara I pagi. Sampai di negara U hari sudah siang tetapi di tanggal yang berbeda.


Dalam pesawat, Vina, Maya dan Sari terbangun karena guncangan keras yang terjadi pada pesawat yang mereka tumpangi.


Maya memandang Vina dan Dari, mereka berdua kompak mengangkat bahunya.


"Kepada para penumpang dan kru kabin untuk dapat memakai sabuk pengaman karena pesawat akan menerobos awan yang lumayan tebal dan akan terjadi turbelensi yang cukup kuat."


Terdengar suara Jero meminta para penumpang dan kru pesawat untuk memakai seatbelt mereka dan duduk dengan tenang.


Vina, Maya dan Sari mulai berdoa di dalam hati mereka masing masing. Mereka mulai duduk dengan tenang.


"Kalian tenang aja, Juan pasti bisa membereskan masalah ini" ujar Sari menyemangati kedua sahabatnya yang mulai merasa takut itu.


Maya mengambil ponselnya.


"Maya jangan, kita harus meminimalisir pemakaian ponsel. Kalau mau ngasih tahu Ivan nanti aja. Lagian kalau sekarang kita kasih tau gue yakin, Ivan pasti akan panik." ujar Sari mencegak Maya untuk menghubungi Ivan.


"Bener Mau, nanti saja saat kita udah mendarat kamu memberi kabar kepada Ivan. Jangan buat cemas mereka. Cukup kita aja" kata Vina yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Sari tadi.


Maya berpikir sejenak. Memang benar apa yang dikatakan oleh Vina dan Sari, dia tidak boleh membuat panik Ivan saat ini. Apalagi Ivan sedang bekerja.


Pesawat yang mereka tumpangi sudah mulai memasuki awan tersebut. Juan sama sekali tidak ada pilihan lain selain menembus awan tersebut. Pesawat mulai mengalami guncangan, Juan dan Jero berusaha dengan sekuat tenaga mengendalikan pesawat.


Sedangkan di belakang Vina, Maya dan Sari serta dua orang pramugari tidak henti hentinya berdoa. Mereka meminta keselamatan kepada Tuhan pemilik alam semesta.


Selama sepuluh menit pesawat berada di dalam kondisi mencekam seperti itu, selama itu pula Vina dan yang lainnya mencoba menenangkan pikiran mereka. Sepuluh menit terlama dalam hidup mereka bertiga.


"Kepada para penumpang dan kru kabin silahkan untuk melepaskan seatbelt masing masing. Kita telah berhasil lepas dari suasana mencekam itu." ujar Juan memberitahukan kepada para penumpang dan kru kabin untuk bisa bernapas lega.


"Alhamdulillah" ujar Vina dan kedua sahabatnya serta dua orang kru kabin.


"Akhirnya usai sudah pengalaman pahit ini" ujar Maya yang memang baru kali ini merasakan naik pesawat dalam suasana mencekam seperti itu.


"Loe pernah ngerasain yang lebih para Sar?" tanya Maya kepada Sari yang berada tepat di belakangnya.


"Pernah, malahan lampu pesawatnya sampai padam, terus masker oksigen turun. Tapi waktu itu aku tidak naik pesawat pribadi, melainkan pesawat komersil. Waduh suasana sangat luar biasa panik. Semenjak itulah Ayah melarang gue kemana mana naik pesawat komersil." ujar Sari bercerita pengalaman mengerikannya yang lain saat dia naik pesawat.


"Kalau gue dalam posisi elo neh ya Sar, gue nggak bisa ngebayangin bagaimana gue harus mengendalikannya. Satu hal yang pasti, gue akan sangat panik nggak terkira." ujar Maya yang memang sangat jarang naik pesawat. Sekalinya naik pesawat langsung ke negara U.

__ADS_1


Juan keluar dari ruangan cockpit. Dia menuju Vina dan yang lainnya.


"Bagaimana keadaan kalian?" tanya Juan sambil duduk di dekat Sari kekasihnya.


"Kami atau Sari?" tanya Maya mulai usil.


"Kalau wanita satu ini udah tau, dia tidak akan panik karena pernah mencoba yang lebih parah dari pada tadi. Aku nanyak kondisi kalian berdua yang baru kali ini mengalami situasi seperti tadi" ujar Juan yang sangat yakin kekasihnya dalam kondisi baik baik saja.


Sari tersenyum mendengar jawaban Juan. Juan sangat percaya dengan Sari untuk bisa mengkondisikan dirinya dan pikirannya menghadapi situasi seperti tadi.


"Kami berdua bener bener wow. Untung aja tadi Sar meyakinkan kami berdua, kalau Pilot Juan akan membawa kami dengan selamat" ujar Vina menjawab pertanyaan Juan.


"Jadi, kamu yakin sangat dengan aku sayang?" tanya Juan kepada Sari kekasihnya yang meyakinkan kedua sahabatnya kalau dia akan membawa mereka keluar dari permasalahan yang sedang dihadapi.


"Yup, sama yakinnya dengan kamu ke aku sayang. Kamu juga sangat yakin kalau aku tadi bisa mengatasi pikiran aku" ujar Sari memuji Juan yang sangat percaya kepada dirinya.


Dua orang pramugari keluar dari kabin bagian belakang. Mereka membawa troli yang berisi minuman dan juga makanan kecil.


"Kapten Juan mau apa?" tanya salah seorang pramugari.


"Teh saja dua, terus pai dua." ujar Juan yang akan membawa bekal itu untuk dirinya dan Jeri.


"Aku kembali dulu ya sayang. Nanti kita akan makan siang di bandara UEA." kata Juan kepada Sari.


"Bukan makan siang sepertinya sayang, tapi udah mau sore tepatnya di sana." ujar Sari mengkoreksi perkataan Juan.


"Bener juga." jawab Juan sambil garuk garuk kepalanya yang tidak gatal. Perbedaan jam yang sangat terasa membuat Juan kehilangan orientasi waktu.


Juan kembali ke ruangan cockpit.


"Nona mau minum apa?" tanya pramugari kepada Vina.


Vina meminta air mineral dan brownis. Sedangkan Vina dan Maya sama sama mengambil jus jeruk dingin dan pai buah yang terlihat sangat lezat itu


Setelah mengantarkan snack ringan sehabis mengalami turbelensi berat, pramugari kembali ke belakang. Mereka akan makan di bagian dapur pesawat.


Sedangkan di perusahaan, Ivan mulai merasakan perasaan tidak enak di hatinya, Ivan begitu gelisah, hal ini terlihat sangat jelas oleh Iwan yang berada tepat di depan mejanya.


"Kenapa loe? Dari tadi grasa grusu aja" ujar Iwan yang akhirnya memutuskan bertanya kepada Ivan.


"Perasan gue nggak enak Bang dari tadi. Pikiran gue ke Maya aja. Seperti ada sesuatu dalam penerbangannya kali ini" ujar Ivan mengatakan apa yang membuat dia tidak tenang hari ini.

__ADS_1


"Loe tenang aja, kalau ada masalah dalam penerbangan pasti Maya atau ndak Sari akan menghubungi elo. Perasaan elo aja itu" ujar Iwan kepad Ivan.


Iwan tidak mau Ivan terlalu memikirkan semuanya. Iwan takut nanti Ivan tidak konsentrasi bekerja.


"Bener juga loe Bang. Kalau ada apa apa tentu Maya udah ngabarin gue Bang. Ini dia tenang aja, berarti mereka baik baik saja itu. Pikiran gue ternyata yang tidak baik" ujar Ivan setelah menganalisa apa yang dikatakan oleh Iwan.


Ivan kemudian kembali konsentrasi bekerja. Iwan yang melihat Ivan sudah kembali tenang, juga melanjutkan pekerjaan nya. Tepat saat Ivan sedang membuat sebuah desain bangunan, ponsel miliknya berdering menandakan ada notifikasi pesan yang masuk.


'Sayang bisa VC?' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Maya.


'Bisa' jawab Ivan.


Maya langsung melakukan video call dengan Ivan, saat mereka baru saja landing dengan sempurna di landasan bandara Negara UEA. Ivan mengangkat panggilan video dari Maya itu.


"Kamu udah dimana sayang?" tanya Ivan saat panggilan mereka tersambung.


"Ini baru aja mendarat sayang. Kami rencana mau cari makan sore di bandara" ujar Maya sambil memperlihatkan keadaan bandara kepada Ivan melalui kamera ponselnya.


"Kamu masih di kantor sayang?" tanya Maya saat melihat keadaan di ruangan yang sudah bisa Maya menghafalnya.


"Iya sayang, ngapain cepat cepat pulang. Aku juga nggak bisa ketemu kamu" ujar Ivan mulai ngegobal.


"Udah sayang, jangan ngegombal terus. Nggak capek" ujar Maya sambil tersenyum kepada Ivan.


"Sayang, nanti aku hubungin lagi saat udah di restoran ya. Malu aku, semua orang meluhat ke arah aku aja" ujar Maya saat melihat ke sekitarnya, semua orang memperhatikan dia dari tadi.


"Oke sayang, nanti sampai di restoran kamu harus menghubungi aku" ujar Ivan menekankan permintaannya kepada Maya.


"Aaaa siap big boss" jawab Maya tersenyum melihat ulah Ivan


Ivan meletakkan ponseknya di atas meja kerja. Dia akan menunggu Maya kembali menghubungi nya nanti saat mereka udah sampai di restoran.


"Jadi, mereka sudah sampai mana Van?" tanya Danu kepada Ivan yang baru saja menerima telpon dari Maya.


"Transit Bang" jawab Ivan.


"Ooo" ujar Danu menanggapi jawaban singkat dari Ivan.


Mereka kemudian melanjutkan pekerjaannya masing masing. Danu, Ivan dan Iwan melanjutkan pekerjaan mereka. Mereka akan lembur sampai malam. Mereka akan melanjutkan pekerjaan mereka kembali. proyek kerjasama begitu banyak yang akan mereka kerjakan.


Desain desain proyek kerjasama sedang mereka buat. Mereka harus kerja lembur sekarang untuk menyiapkan semua desain desain yang akan dipresentasikan.

__ADS_1


__ADS_2