
Iwan, loe suruh Ivan ke sini. Kita harus minta penjelasan kenapa Ivan sampai melakukan hal ini." ujar Danu yang melihat kehebohan di dunia maya karena postingan Ivan di akun gosip ternama.
Iwan meraih ponselnya, dia menghubungi Ivan. Ivan yang sedang serius mendesain sebuah bangunan saat melihat panggilan masuk dari Iwan menghentikan aktifitasnya. Dia menerima panggilan tersebut terlebih dahulu.
"Hallo Bang. Pasti Abang berdua akan bertanya kenapa gue sampai harus share video itu kan. Selesai jam kerja gue ke rumah sakit bang. Gue ceritain semuanya." ujar Ivan.
Danu dan Iwan yang mendengar apa yang dikatakan oleh Ivan langsung tercengang. Dia tidak menyangka kalau Ivan akan mengetahui apa yang akan dikatakan oleh Iwan.
"Oke Van. Loe ditunggu di rumah sakit. Kalau perlu jam tiga loe tutup aja kantor lagi. Pasang aja sedang dinas luar. Masalah selesai." ujar Iwan.
"Oke Bang. Kalau perlu sebelum makan siang gue udah balik."
Iwan memutuskan panggilan telponnya dengan Ivan.
"Anak satu itu memang bener bener. Gue yakin sejam lagi dia sampe di sini. Itu nggak akan gue raguin lagi." ujar Iwan yang sudah paham bagaimana tabiat dan kelakuan Ivan.
Mereka berdua kembali masuk ke dalam kamar rawat Vina. Vina terlihat sudah kembali beristirahat, begitu juga dengan Maya yang sudah tertidur disisi ranjang Vina. Mereka berdua kembali keluar dari ruangan. Danu dan Iwan memilih duduk di kursi yang ada di depan kamar Vina.
Iwan mengeluarkan ponselnya. Dia mulai permainan game yang pakai chip. Permainan yang sedang trending sekarang ini. Danu melihat Iwan yang memplototi ponselnya.
"Loe main apa Wan?"
"Main dominos. Tetapi pakai chip." ujar Iwan yang tidak mengalihkan pandangannya dari ponsel.
"Perasaan loe dari tadi cuma duduk doang. Nggak ada main." ujar Danu balik bertanya.
"Mainnya ya gini. Kita hanya tinggal tengok doang."
"Enaknya dimana?" ujar Danu yang gagal paham dengan permainan Iwan.
"Enaknya pas kita dapat koin banyak. Nanti koinnya bisa di jual. Satu b aja bisa di jual enam puluh lima ribu kan lumayan tu." jawab Iwan.
"Emang loe udah pernah jual berapa?"
__ADS_1
Iwan garuk garuk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Brlum pernah jual, malahan beli yang banyak. Gur nggak hoki mainnya." jawab Iwan sambil tersenyum kuda.
"Dasar loe." ujar Danu.
Saat Iwan sibuk main chip sedangkan Danu sibuk melihat lihat berita bisnis. Pria yang bernama Ivan telah memakirkan motornya di tempat parkir khusus pengunjung rumah sakit. Dia kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sakit. Semua mata memandang ke arah Ivan apalagi mata perawat rumah sakit. Ivan memang sangatlah tampan. Ivan yang sudah terbiasa dipandang seperti itu bersikap santai saja. Dia tidak memerdulikan tatapan mereka.
Ivan sampai juga di depan ruangan rawat Vina, dia melihat Danu dan Iwan yang sibuk dengan ponsel mereka masing masing. Ivan hanya bisa geleng geleng kepala melihat kelakuan kedua makhluk tersebut.
"Woy, abang berdua ne memang kebangetan. Duduk berdua tetapi sibuk dengan benda mati sendiri sendiri." ujar Ivan sambil mengambil ponsel ke dua rekan kerjanya itu.
"Woy gue sedang main itu. Nggak gue bagi chip baru tau rasa loe." ujar Iwan yang emosi permainannya diganggu oleh Ivan.
Ivan yang mendengar ancaman chip langsung memberikan kembali ponsel Iwan. Ivan memilih mengembalikan ponsel daripada tidak bisa main chip.
"Wan simpan dulu chip chip loe. Kita bahas yang tadi viral." ujar Danu memerintah Ivan agar menyimpan ponselnya.
Iwan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana kembali. Dia tidak ingin Danu marah karena mengabaikan perintahnya.
"Jadi gini Bang. Tu cewek nggak tau diri datang ke kantor. Dia masuk kayak orang yang punya kantor. Bos aja masuk ketuk pintu dan baca salam. Eeeeee tu cewek masuk kayak banteng aja. Main seruduk doang." ujar Ivan menahan emosinya.
Ivan kemudian menceritakan semua kejadian kepada Danu dan Iwan. Mereka yang mendengar apa yang dikatakan oleh Ivan juga marah melihat sikap dan perilaku Ranti yang datang dengan memakai emosi itu.
"Bener bener tu cewek. Bikin emosi aja. Loe harus buat perhitungan dengan dia Dan. Biar dia nggak ngelunjak." kata Iwan mengompori Danu.
"Gue setuju bang. Loe bertindak aja lagi. Gue yakin pasti ada apa apa nya dia berbuat seperti itu. Gue takut kalau tujuannya nanti adalah Vina." Ivan menambahi apa yang dikatakan oleh Iwan.
"Loe memang harus bertindak Dan. Nggak mungkin dibiarin aja seperti ini." lanjut Iwan.
Danu terlihat berpikir sesaat. Dia tidak tau harus berbuat seperti apa. Dia takut Vina kenapa napa nantinya saat dia melabarak atau marah marah ke Ranti.
"Dan, loe jangan kelamaan mikir. Gue takut nantinya semuanya terlambat. Sehingga loe nyesel nggak berujung nanti" lanjut Iwan berusaha mendorong Danu agar cepat mengambil keputusan.
__ADS_1
"Baiklah gue akan bertemu dengan tu perempuan. Dia sudah berani masuk ke dalam ranah pekerjaan gue dengan cara membabi buta dan tidak sopan." ujar Danu.
Iwan dan Ivan menatap dengan penuh dukungan kepada Danu.
"Itu bari Danu. Kemaren kemaran Deni." ujar Ivan sambil menahan untuk tidak tertawa.
"Dasar loe. Emang gue perempuan." jawab Iwan.
"Perempuan banget sih nggak bang. Dikit iya, loe lempem kemaren kemaren ne" ujar Ivan kembali mempertegas maksudnya mengatakan kalau Danu sempat bernama Deni.
Maya yang mendengar suara berisik dari luar kamar Vina berjalan dan membuka pintu ruangan. Dia melihat ketiga pria tersebut sedang asik bermain ponsel masing masing.
"Pasti chip lagi." ujar Maya sambil tersenyum melihat tiga makhluk tampan ciptaan tuhan itu.
Setelah memastikan siapa yang ribut di luar ruangan, Maya kembali masuk ke kamar Vina. Vina masih setia dengan tidurnya itu.
Danu yang merasa sudah terlalu lama tidak melihat wajah cantik Vina kembali masuk ke dalam kamar. Matanya masih di sambut dengan pemandangan Vina yang masih tertidur dengan nyaman. Danu melihat jam tangan mewahnya pilihan Vina saat mereka pergi ke mall awal jadian dulu. Ternyata jarum jam sudah berada di angka empat. berarti Vuna sudah tidur selama enam jam.
Danu berjalan mendekati Vina. Dia berusaha membangunkan Vina yang masih dalam keadaan tertidur.
"Vin vina. Sayang ayo bangun kamu udah tidur terlalu lama. Saatnya makan obat sayang." ucap Danu yang teringat Vina sama sekali belum meminum obatnya.
Vina menggeliat dengan manja. Saat melihat Danu di depan matanya, pria yang sangat dikangeninya saat ini, pria yang sangat dibutuhkannya. Vina mengakat kedua tangannya dan mengalungkan tangan itu di leher Danu. Dia membawa Danu ke dalam pelukannya. Dia begitu membutuhkan pelukan dari Danu. Pelukan hangat seorang kekasih yang bisa menjaga dirinya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Danu yang melihat Vina berubah menjadi manja. Tidak biasanya Vina seperti ini.
...****************...
ADA APA YANG TERJADI DENGAN VINA????
KAKAK KAKAK MAAF AKU SUDAH LAMA TIDAK UP. BUKAN MAKSUDKU, TETAPI AKU SEDANG AKAN MENYELESAIKAN NOVELKU YANG SATU LAGI.
"KESETIAAN SEORANG ISTRI"
__ADS_1
MAMPIR YUK KAKAK SAYANG