Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Proyek


__ADS_3

"Rina, nanti temanin saya ya. Kita akan lihat pembangun kafe." ujar Maya kepada Rina.


"Oke Nona. Saya akan siap siap dulu." jawab Rina yang semangat untuk pergi dengan Maya. Rina sangat menyukai Maya karena Maya walaupun dia Nona di rumah utama ini tetapi gayanya tetaplah seperti orang biasa.


Maya dan Rina bersiap siap untuk menuju tempat kafe milik Vina dan Maya akan dibangun. Maya akan turun langsung dalam mengawasi pembangunan kafe tersebut. Pak Hans yang diminta Vina untuk mengantar Maya dan Rina sudah stanbay di parkiran rumah utama.


Maya dan Rina yang telah selesai bersiap siap berjalan menuju mobil. Mereka tidak ingin Pak Hans menunggu lama. Maya duduk di kursi penumpang sedangkan Rina di kursi sebelah Pak Hans.


"Siap meluncur Nona?" tanya Pak Hans yang memang tau Maya tidak sombong.


"Meluncur Pak Hans. Aku nggak mau pas aku sampai di sana tu para tukang belum bekerja." ujar Maya


"Hahahahaha siap Nona Maya. Saya akan gaskan dia dengan cepat." jawab Pak Hans yang akan selalu melawak saat pergi dengan Maya.


"Oke Pak Hans. Gaskan dia." jawab Maya.


Pak Hans kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Maya dan Rina sangat menyukai mobil sport yang disesuaikan dengan kapasitas dan fungsinya.


" Keren Pak Hans. Nanti kita tambah satu lagi yang tenaganya di atas ini." ujar Maya sambil tersenyum.


Berhubung Pak Hans melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, Maya sampai dengan cepat di proyek pembangunan kafe mereka.


Maya dan Rina turun dari dalam mobil. Maya memakai topi miliknya. Maya mulai memberikan beberapa instruksi kepada kepala proyek yang bekerja di sana.


Maya membentangkna gambar yang sudah di revisi oleh Vina. Maya menjelaskan semuanya dengan gamblang dan mudah dimengerti oleh kepala proyek.


Rina terus merekam semuanya secara sembunyi sembunyi dari Maya. Setelah dirasa semua bukti sudah di dapatkan, Rina mengirimkan bukti tersebut kepada Sari.


'Serius itu Maya, Rin?' bunyi pesan chat Sari


'Serius Nona. Nona Maya ternyata wow. Sama wownya dengan Nona Vina.' balas Rina membalas chat Sari.


'Tolong awasi terus Rin. Jangan sampai terjadi sesuatu kepada Maya, loe taukan gimana marahnya Abang kalau tau Maya kenapa kenapa' balasan chat dari Sari.


'Siap Nona' jawab Rina.


Rina terus memperhatikan gerak gerik Maya. Dia sama sekali tidak melepaskan pandangan matanya dari Maya. Rina sangat fokus dengan perhatiannya.


"Loe dari tadi meratiin gue terus Rin. Ada apa?" tanya Maya yang tau Rina dari tadi memperhatikan dirinya.


"Nggak ada kenapa kenapa. Cuma nggak nyangka aja, orang rumahan seperti Nona bisa menjelaskan semuanya dengan lancar dan tidak bertele tele." ujar Rina mengatakan kekagumannya kepada Maya.


"Hahahahahaha. Aku tidak mau terikat Rin, makanya nggak mau kerja kantoran. Lagian Aku tidak punya ijazah yang cukup untuk dijadikan referensi kerja kantoran." jawab Maya sambil memperhatikan semua tukang bekerja sesuai dengan arahan dari kepala proyek.


"Berapa lama pembangunannya Nona?" tanya Rina lagi. Rina sangat senang bercerita dengan Maya.


"Menurut rencana sampai selesai selama sebulan paling lama. Jadi awal bulan besok kita udah bisa jualan di sini. Aku udah tidak sabar untuk memasak kembali." ujar Maya membayangkan kesibukannya satu bulan lagi.


"Hahahahahaha. Nona sepertinya semangat sekali." ujar Rina menggoda Maya.


"Sangat senang. Aku paling senang masak dan sangat lebih senang lagi saat orang orang menikmati makanan buatan ku." ujar Maya sambil tersenym tulus.


'Tuan muda anda tidak salah memilih ratu untuk di rumah besar.' ujar Rina dalam hatinya.

__ADS_1


Rina terus melihat ke arah Maya dengan tatapan kekaguman.


"Udahlah natapnya biasa aja kale. Aku juga manusia biasa" ujar Maya kepada Rina.


"Hahahahahaha. Nggak bisa Nona. Aku benar benar kagum sama Nona." jawab Rina sambil mengangkat dua jempol miliknya.


"Hahahahahahahaha. Serah kamulah yang penting jangan sering sering nengok aku kayak gitu." kata Maya yang risih di tatap Rina dengan tatapan kayak begitu.


"Nggak kok Nona, tenang aja." jawab Rina sambil tersenyum.


Maya kembali melanjutkan.aktifitasnya. hari ini pekerjaan tukang meratakan tanah dan menggali fondasi. Rencana Maya kafe akan dibuat dua tingkat. Dengan yang di atas memakai kayu sebagai bahan utamanya dan ditutup dengan jendela kaca yang bisa dibuka tutup. Pemakaian jendela seperti itu di sesuaikan dengan musim yang srdang terjadi di negara U.


"Nona, Mr Bram sudah datang. Apa kita bisa memulai rapatnya?" tanya Sari sambil berdiri di depan pintu ruangan Vina.


"Oke Sar. Saya juga sudah siap." jawab Vina.


Vina mengambil ponsel miliknya. Hari ini dia akan meeting kedua dengan perusahaan A.


"Selamat siang Mr Bram. Maaf terpaksa menunggu saya. Tadi saya ada keperluan sedikit." ujar Vina sambil menjabat tangan Mr Bram.


"Tidak apa apa Nona. Saya sangat paham bagaimana sibuknya menjadi salah satu pimpinan dari perusahaan CT Grub." jawab Mr Bram yang memang mengetahui bagaimana sibuknya perusahaan CT Grub.


Mr Bram menatap Vina dengan tatapan sejuta makna. Sari yang melihat menjadi emosi.


'Dia calon kakak ipar gue goblok' ujar Sari dari dalam hatinya.


"Oke baiklah bisa kita mulai meetingnya Mr Bram?" tanya Sari kepada Mr Bram yang terlihat masih menatap Vina.


Sari mengedipkan matanya memberikan kode kepada Vina. Sari sangat tau Vina risih dengan tindakan Mr Bram. Makanya tadi Sari mengambil keputusan di saat yang tepat.


"Baiklah Mr Bram, kita akan mulai mempresentasikan pekerjaan yang telah kami selesaikan. Semoga Mr Bram puas dengan hasil kerja seluruh karyawan kami." ujar Sari membuka acara meeting.


Mr Bram terlihat agak sedikit kesal saat yang membuka acara adalah Sari bukan Vina. Tetapi Mr Bram berusaha menekan rasa kesalnya itu. Dia tidak ingin terlihat tidak profesional.


Seorang karyawan Vina maju mempresentasikan hasil kerja di proyek tersebut. Mereka menjelaskan dengan sangat detail. Tak satupun terlewatkan. Semua itu bisa terjadi karena sebelum presentasi Vina sudah membaca hasil laporan mereka dan meminta mereka memperbaiki di bagian bagian tertentu.


"Apa ada pertanyaan atau yang perlu di rombak Mr Bram?" tanya Sari kepada Mr Bram saat karyawan CT Grub menyelesaikan presentasinya.


Mr Bram terlihat berpikir. Dia sama sekali tidak menemukan hal yang aneh dalam pembangunan proyek. Malahan CT Grub menampilkan proses kerja mereka. Suatu hal yang tidak pernah dilakukan oleh perusahaan manapun saat Perusahaan A bekerjasama dengan perusahaan lain.


"Saya rasa tidak ada yang perlu saya komplenkan lagi Nona Vina. Semuanya sudah tergambar dengan jelas. Saya luar biasa puas dan suka dengan cara kerja perusahaan Nona." ujar Mr Bram yang sama sekali tidak berkata kepada Sari.


"Oke kalau begitu. Kami undur diri untuk kembali ke perusahaan. Semoga kelanjutan dari proyek ini tetap berjalan seperti ini. Terimakasih Nona Vina atas semuanya." ujar Mr Bram.


Vina yang sebenarnya kesal terpaksa juga bersikap profesional.


"Sama sama Mr Bram. Saya yakinkan kerjasama ini akan berjalan lancar. Hasil dari kerjasama ini akan terlihat sama dengan rancangan yang saya buat." kata Vina meyakinkan Mr Bram.


"Saya percaya akan hal itu." jawab Mr Bram.


Sari yang sudah bosan melihat tingkah Mr Bram berjalan ke arah pintu ruangan meeting. Dia membuka pintu tersebut dengan lebar. Mr Bram yang memang sudah ada niat untuk pulang tidak merasa tersinggung dengan kelakuan Sari.


"Terimakasih Nona Sari, maaf sudah membuat Nona Sari repot untuk membukakan saya pintu." ujar Mr Bram.

__ADS_1


"Tidak apa apa Mr Bram. Terimakasih kembali atas kerjasama kita ini." ujar Sari berusaha menampilkan senyum terbaiknya.


Mr Bram dan Asistennya berjalan pergi meninggalkan gedung perusahaan CT Grub.


"Kalian keren. Saya senang dengan cara kerja kalian." ujar Vina memberikan selamat dan pujian kepada karyawan mereka yang telah sukses mempresentasikan hasil kerja proyek yang baru berjalan dua puluh lima persen.


"Kami bisa juga berkat bimbingan Nona Vina. Kami mengucapkan terimakasih kepada Nona." ujar salah satu karyawan.


"Iti sudah kewajiban saya membimbing karyawan saya. Kalau ada yang ragu silahkan bertanya. Pintu ruangan saya terbuka lebar untuk hal itu." ujar Vina.


"Terimakasih Nona, kami permisi kembali ke ruangan dulu." ujar salah satu karyawab.


Semua karyawan kembali menuju ruangan mereka. Hari ini mereka telah sukses berbuat sesuatu yang membanggakan bagi perusahaan.


Vina dan Sari juga kembali ke ruangan Vina. Mereka akan mendiskusikan beberapa hal. Salah satunya pembangunan mall yang akan langsung menjadi mega proyek perusahaan CT Grub. Email perintah pembangunan itu datang langsung dari CEO perusahaan kepada Sari.


"Nona Vina tadi ada email masuk dari CEO. Tuan CEO meminta kita untuk membangun sebuah mall." ujar Sari memberitahukan permasalahan email yang dikirimkan oleh CEO.


Sari memberikan email yang dikirim oleh CEO pagi tadi. Vina membaca dan memahami dokumen tersebut.


"Sari, dimana mau di bangun mallnya? Saya perlu melihat terlebih dahulu luas tanah tersebut." ujar Vina.


"Mari kita pergi. Tapi ada satu permintaan CEO khusus kepada Nona Vina." ujar Sari yang baru ingat dengan pesan CEO.


"Apa itu?" tanya Vina penasaran.


"Tuan CEO meminta Nona Vinalah yang membuat desain mall tersebut." ujar Sari menyampaikan pesan dari CEO.


"Oke Sari. Saya setuju. Mari kita lihat luas tanah dan model tanahnya. Saya akan buat desain mall tersebut." ujar Vina yang sangat bersemangat. Dia sangat suka dipercaya untuk mendesain sebuah bangunan mall. Apalagi ini langsung permintaan dari pemilik perusahaan.


"Tapi Sari, mobil tidak ada. Pak Hans saya minta tadi untuk mengantarkan Maya ke tempat pembangunan kafe." ujar Vina yang teringat dengan mobil yang dipakai Maya.


"Tenang aja Nona. Kita pakai mobil saya saja." jawab Sari.


Mereka berdua kemudian pergi menuju lahan untuk pembangunan Mall. Sepanjang perjalanan yang terlihat adalah bangunan bangunan menjulang tinggi. Tidak beberapa lama berkendara mobil yang dikemudikan oleh Sari berhenti tepat di depan sebuah lahan kosong yang sangat luas. Vina dan Sari turun dari mobil.


"Ini dia tanahnya Nona Vina. Diperkirakan ada empat ribu meter. Tanah ini meluas di belakang" ujar Sari sambil memperlihatkan luas tanah yang akan dibangun mall tersebut.


Tanah yang begitu luas. Vina sudah membayangkan apa yang akan dilakukannya dengan tanah seluas itu.


"Rencana CEO berapa lantai Sar?" ujar Vina mengingat berapa lantai yang akan mereka bangun.


"Kemaren perintah CEO adalah lima lantai. Setiap lantai memiliki fungsi sendiri sendiri. Pembagiannya tergantung Nona Vina." ujar Sari memberitahukan pesan dari CEO.


"Oke Sar. Saya akan buat desainnya. Besok pas selesai kita akan diskusikan bertiga." ujar Vina.


"Bertiga?" Sari mentap Vina.


"Ya. Maya satu lagi. Dia sangat pintar untuk melihat lihat baik buruknya sebuah desain bangunan." ujar Vina memberitahukan satu hal yang istimewa dari Maya.


"Sip"


Vina dan Sari kembali naik ke atas mobil. Mereka akan bergerak menuju rumah Vina. Hari ini mereka memilih untuk pulang cepat. Vina berencana mau memasak menu makan malam untuk Maya. Vina sangat yakin Maya akan terlalu lelah bekerja.

__ADS_1


__ADS_2